Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 91


Barra kembali mengurungkan niat saat akan masuk ke dalam mobil. Perhatiannya tertuju pada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah. Mobil yang sama seperti beberapa hari lalu terparkir di ruko.


Tatapan mata Barra semakin menajam. Rasa benci yang sudah lama terkubur kini muncul kembali dengan alasan yang serupa.


"Brakkk.!"


Pintu mobil itu di tutup kembali oleh Barra dengan sedikit kasar.


Barra diam di tempat, menunggu si pemilik mobil itu turun dan mendekat padanya.


"Kita ketemu lagi." Chandra tersenyum santai. Dia menghentikan langkah di depan Barra.


"Baru datang atau mau pulang.?" Tanyanya tanpa merasa khawatir sedikitpun, padahal tatapan mata Barra semakin menusuk.


"Nggak usah basa - basi.!" Seru Barra sewot. Chandra terkekeh geli dengan sikap ketus Barra yang tidak berubah seperti dulu.


"Apa yang kamu rencanakan.?!" Tuduh Barra. Nada bicaranya semakin meninggi, penuh penekanan.


Mendapat tuduhan seperti itu, Chandra hanya membulas senyum smirk penuh arti.


"Santai saja Bro,," Chandra meletakkan tangannya di pundak Barra dengan sedikit menepuknya. Namun langsung di tepis kasar oleh Barra.


"Jangan macam-macam dengan Yuna.!" Seru Barra mengancaman. Dia tau betul kenapa Chandra tiba-tiba sering muncul di hadapan Yuna setelah melihatnya di Paris waktu itu.


Barra sangat yakin kalau Chandra sudah merencanakan sesuatu pada Yuna.


Barra merasa kalau Chandra ingin menunjukkan pada Barra bahwa dia bisa mendapatkan Yuna.


Karna Chandra menaruh dendam padanya lantaran cintanya tidak terbalas dan wanita yang dia cintai lebih memilihnya.


Walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, tapi perasaan dendam itu seperti melekat dalam diri Chandra.


Laki-laki itu seperti belum puas jika tidak bisa mengambil sesuatu yang berharga dalam kehidupannya.


Dan Barra berfikir kalau Chandra sengaja mendekati Yuna karna ingin membuat dia hancur dengan cara memiliki Yuna.


"Macam-macam seperti apa maksudmu.?" Chandra tersenyum kecut.


"Bukannya kamu yang sudah macam-macam padanya.?" Dia membalikkan tuduhan Barra.


"Memanfaatkan kelemahan dan ketidak berdayaan orang lain demi mendapatkan kebahagiaan mu sendiri."


"Harusnya saat ini kamu menyusul Cindy, wanita yang sangat mencintai kamu sampai rela melakukan semua ini untukmu."


"Tapi lihat.??" Chandra tersenyum sinis.


"Kamu malah terus menemui Yuna tanpa memikirkan bagaimana keadaan dan kondisi Cindy di sana."


Kedua tangan Barra sudah mengepal sejak tadi. Rasa benci dan amarahnya semakin bertambah saat mendengar Chandra telah mengetahui semua tentang kehidupan rumah tangganya.


"Itu bukan urusanmu.!" Seru Barra mengingatkan.


"Sebaiknya pergi dari sini sebelum aku menghancurkan wajahmu itu.!" Ancam Barra penuh emosi.


Dia tidak rela melihat Yuna di dekati oleh Chandra dengan niat buruk di dalamnya.


Chandra pasti hanya ingin membalas sakit hatinya dengan cara mengambil Yuna.


"Lakukan saja kalau mau melihat Yuna menjauhimu." Tantang Chandra.


"Kau.!" Geram Barra. Dia menahan diri untuk tidak meninju wajah Chandra yang terus membuatnya semakin emosi.


"Pergi dan jangan coba-coba untuk mendekatinya.!"


Chandra terkekeh mendengamendengar alasan yang tidak masuk akal dari Barra.


Tidak ada larangan bagi siapapun untuk dekat asal sama-sama sedang sendiri. Tidak terikat hubungan dengan siapapun.


"Atas dasar apa melarang ku.?" Tanya Chandra.


"Kamu juga harus ingat, Aku sudah mengenal Yuna jauh sebelum kamu bertemu dan menikah dengannya." Chandra menekankan setiap katanya. Dia ingin membuat Barra sadar tentang posisinya saat ini yang sudah tidak punya hak lagi atas Yuna.


"Lalu kenapa baru sekarang muncul dihadapan Yuna setelah lebih dari 1 tahun.!"


"Kamu pasti merencanakan semua ini setelah tau bahwa Yuna menikah denganku."


"Berfikir aku akan hancur jika melihat Yuna bersamamu. Benar begitu rencanamu.?!" Desak Barra.


"Jika benar, maka berhenti saat ini juga.! Jangan pernah berfikir untuk mempermainkannya.!"


Barra menatap tajam. Entah kenapa dia merasa sangat yakin kalau Chandra memiliki rencana seperti itu.


"Mempermainkan Yuna.? Kamu pikir aku laki-laki pengecut sepertimu.?!" Cibir Chandra dengan senyum mengejek.


"Kamu harus tau kalau aku mencintai Yuna, jauh sebelum dia menikah denganmu.!" Tegasnya.


Barra langsung bungkam, namun kedua tangannya mengepal kuat. Ungkapan cinta Chandra pada Yuna membuat darahnya terasa mendidih. Rasanya ingin melayangkan tinjauan pada wajahnya.


"Kau.!" Barra yang tidak bisa mengontrol emosinya, langsung mencengkam kerah kemeja Chandra.


"Mas Barra.! Lepasin.!" Seru Yuna sembari berjalan cepat menghampiri kedua laki-laki itu yang hampir saja berkelahi.


Barra terpaksa menyingkirkan tangannya dari kerah kemeja Chandra, namun terus menatap tajam padanya.


"Urusan kita belum selesai.!" Geram Barra. Dia lalu masuk kedalam mobil dan menutup pintu dengan membantingnya kasar.


Dia pergi begitu saja dengan amarah yang meluap. Bahkan sempat memberikan tatapan kesal pada Yuna.


...****...


Yuna dan Chandra duduk di teras setelah kepergian Barra. Cukup lama mereka saling terdiam setelah Yuna menanyakan kebenaran ucapan yang keluar dari mulut Chandra, tentang perasaannya itu.


Dan pada akhirnya Yuna tidak bisa berkata apapun setelah mendengar kembali ungkapan itu dari bibir Chandra.


Rasanya sulit untuk mempercayai ucapannya, karna saat masih bekerja di perusahaan, Chandra sama sekali tidak menunjukkan tanda bahwa dia memiliki perasaan lebih padanya. Sikapnya biasa saja, tidak ada yang spesial dari perlakuannya.


Namun Chandra terlihat serius saat mengungkapkan perasaannya. Yuna bahkan tidak bisa melihat kebohongan sedikitpun dari sorot mata Chandra yang tadi menatapnya dalam.


"Aku tidak akan memaksa kamu untuk membalasnya sekarang. Aku tau posisi kamu saat ini tidak memungkinkan untuk memulai hubungan yang baru." Setelah lama saling diam, akhirnya Chandra mulai buka suara lagi.


"Aku siap menunggu sampai kamu bisa membuka hati dan membuka lembaran baru bersama." Ucap Chandra dengan tatapan penuh harap.


Yuna kembali membisu. Dia bingung harus mengatakan apa. Saat ini tidak pernah terfikirkan untuk memulai hubungan baru dengan seseorang. Hatinya menolak untuk kembali terluka. Bahkan mungkin sudah tidak ada sisa hati untuk di lukai.


"Maaf Pak, saya tidak pernah berfikir untuk memulai lembaran baru dengan siapapun." Ucap Yuna dengan kepala yang tertunduk sendu.


"Tapi kamu harus mulai memikirkan itu jika tidak mau kehidupan pribadi kamu di campuri oleh Barra."


"Karna selama kamu masih sendiri, Barra akan semakin leluasa masuk dalam kehidupan pribadi kamu karna merasa tidak ada yang menjadi batasan."


"Kamu juga harus ingat bahwa Cindy dan Barra saling mencintai."


"Aku harap kamu akan memikirkan baik-baik ucapanku." Chandra beranjak, kemudian pamit pulang.


Yuna terus menatap kepergian Chandra sampai hilang dari pandangan. Dia mulai memikirkan setiap perkataan Chandra yang memang beralasan.


Kalau Barra tidak merasa punya batasan, Yuna takut akan membuat permasalahan baru lagi dalam hidupnya.


...****...


Sudah 2 minggu Barra tidak pernah datang ke rumah sejak kejadian malam itu. Dia sempat mengirim pesan pada Yuna bahwa dia sedang perhi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.


Selama 2 minggu itu Yuna benar-benar kembali merasakan ketenangan. Merasa punya jalan sendiri untuk melanjutkan hidupnya.


Walaupun sedikit terganggu dengan kehadiran Chandra yang semakin intens, namun Yuna berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap menjaga batasan karna enggan memberikan harapan lebih pada Chandra. Yuna takut akan membuat Chandra kecewa jika nantinya tidak bisa membalas perasaannya.