
Perceraian Barra dan Cindy berjalan begitu saja. Keduanya sama-sama sepakat untuk bercerai hingga perceraian mereka mudah untuk di putuskan. Meski perceraian ini di sayangkan oleh kedua orang tua Barra, namun keduanya tidak bisa berbuat apapun untuk membuat Barra dan Cindy mempertahankan pernikahan mereka.
Baik Mom Sonya maupun Dad Hendra, mereka enggan memaksakan ataupun terlalu ikut campur dengan keputusan mereka. Mungkin memang jodoh Barra dan Cindy hanya sampai disini.
Cindy memutuskan untuk menetap di LN setelah resmi bercerai dari Barra. Dia kembali hidup bersama kedua orangtuanya dan menjalani hidupnya dengan berkarir.
Dia sempat berpamitan dan minta maaf pada kedua orang tua Barra, Cindy juga menemui Yuna untuk meminta maaf padanya.
Walaupun kini Yun sudah bahagia, tapi dulu Yuna pernah merasakan sakit akibat perbuatannya.
Tentu saja kabar perceraian Barra dan Cindy membuat Yuna prihatin dan merasa sedih dengan akhir rumah tangga mereka yang tidak bisa diselamatkan. Yuna pikir setelah dia mundur, Barra dan Cindy bisa menjalani rumah tangga mereka dengan bahagia seperti dulu. Tapi nyatanya cinta yang terlihat begitu besar dari keduanya tak cukup kuat untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Terlepas dari semua hal menyakitkan yang pernah mereka alami, kini ketiganya sudah hidup lebih baik. Terutama Yuna yang sudah merasakan kebahagiaan sejak berpisah dengan Barra, kini hidupnya juga jauh lebih baik setelah menjalani pernikahan dengan Chandra.
Kesendirian juga membuat Barra kini terlihat lebih baik, beban yang dulu terlihat dari sorot matanya, kini semakin berkurang. Barra mulai mencoba berdamai dengan keadaan dan kesendiriannya saat ini. Fokus pada twins untuk selalu ada di samping mereka dan membahagiakan mereka.
Perasaannya terhadap Yuna juga sudah bisa dikendalikan meski cinta itu masih ada dalam hatinya. Dia lebih bisa menjaga sikap dan jarak pada Yuna, tidak lagi menunjukkan perasaannya secara terang-terangan lewat kontak fisik dan perhatian yang dulu masih sering dia berikan pada Yuna.
Kini tepat 1 tahun berlalu paska perceraiannya dengan Cindy. Hidup sendiri nyatanya tak sesulit yang dia bayangkan. Fokusnya saat ini hanya pada perusahaan dan kedua anaknya yang sudah mulai sekolah sejak 2 bulan lalu.
Tak jarang Barra menjemput anak-anak dan setelah itu akan mengajaknya jalan-jalan sebelum akhirnya di bawa pulang ke rumah Yuna.
Seperti saat ini, Barra sedang mengajak twins pergi ke pusat perbelanjaan dan mengajak mereka bermain di playground. Tentunya Barra sudah meminta ijin lebih dulu pada Yuna sebelum membawa mereka pergi.
"Papa, Ara mau makan." Rengeknya setelah menghampiri Barra.
"Ara lapar.?" Tanya Barra sembari mengusap pucuk kepala putrinya. Gadis kecil berusia 4 tahun itu mengangguk cepat.
"Kalau begitu panggilkan Kakak Zie, kita pergi restoran sekarang." Pinta Barra. Ara mengangguk patuh dan langsung memanggil Zie untuk berhenti bermain.
Ketiganya langsung pergi ke salah satu restoran yang di minta oleh Ara.
"Papa,, ada Papi Andra,," Kenzie mengarahkan jari telunjuknya kesalahan satu meja yang ada di sana.
Barra reflek mengikuti arah jari telunjuk putranya.
Dia sedikit terkejut melihat Chandra tengah duduk satu meja dengan seorang wanita. Terlihat sedang serius mengobrol.
"Ara mau ke Papi,,," Ara yang melihat Chandra bergegas lari ke arahnya tanpa bisa di cegah oleh Barra yang tadi masih melamun.
"Papi,,," Seri Ara. Gadis kecil itu berdiri di samping Chandra.
"Sayang, kamu disini.? Sama siapa.?" Chandra langsung mengangkat Kinara dan mendudukannya di pangkuan karna Kinara merentangkan kedua tangannya, meminta untuk gendong.
"Papa dan Kak Zie,," Jawab Ara sembari menunjuk ke arah dua laki-laki yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ini anak istri Pak Chandra.? Sudah besar sekali." Ujar wanita itu sembari mencubit gemas pipi Kinara.
"Hallo cantik,," Sapanya.
"Dia anakku." Ucap Chandra tegas.
Raut wajah wanita itu seketika berubah, terlihat tidak enak hati pada Chandra karna salah bicara.
"Ara,, ayo sini sayang." Ajak Barra begitu menghampiri putrinya.
Chandra menatap Barra dengan tatapan datar.
"Tidak apa, aku sudah selesai." Ucapnya pada Barra.
"Ara mau makan di sini sama Papi.?" Tawar Chandra. Ara langsung menganggukan kepalanya.
"Githa, kamu boleh kembali ke kantor sekarang." Chandra menyuruh wanita yang ada di hadapannya untuk beranjak dari resto.
"Baik Pak, saya permisi." Dia bergegas pergi dari sana.
"Kalian bisa makan disini." Ucap Chandra pada Barra tanpa menatap ke arahnya.
"Kakak Zie ayo duduk di sini." Chandra menarik kursi agar Kenzie duduk di sebelahnya. Bocah laki-laki itu menurut, tapi menarik tangan Barra dan mengajaknya untuk duduk juga.
"Papa ayo duduk,,," Seru Kenzie. Barra terlihat enggan untuk bergabung dengan Chandra, tapi pada akhirnya tidak bisa menolak permintaan kedua anaknya.
Chandra yang sudah makan, hanya diam dan memperhatikan twins yang sedang lahap menyantap makanannya.
Begitu juga dengan Barra, dia tidak bicara apapun dengan Chandra, hanya fokus pada kedua anaknya.
"Kamu masih mencintai Yuna.?" Tiba-tiba Chandra melontarkan pertanyaan yang membuat Barra menatap kaget. Chandra tidak pernah menanyakan hal ini sebelumya, tapi seolah sudah tau perasaannya terhadap Yuna dengan menyematkan kata 'masih' di dalamnya.
"Kenapa mengajukan pertanyaan konyol seperti itu." Barra menyangkal, dia juga tidak mungkin mengatakan hal yang sejujurnya pada Chandra.
Chandra tersenyum santai.
"Selagi Yuna masih bahagia bersamaku, jangan pernah berfikir untuk mendapatkannya kembali." Ujarnya.
"Aku tau kamu mencurigai ku selama ini, berusaha mencari informasi untuk mencari celah apa yang selama ini kamu curigai." Chandra menuturkannya dengan nada bicara yang santai, padahal dia sedang membongkar rahasia Barra yang sejak lama sudah dia ketahui. Diam-diam Barra menyuruh seseorang untuk mengawasi setiap gerak geriknya, Barra seakan berharap jika Chandra memiliki niat buruk pada Yuna agar hal itu bisa dijadikan bukti untuk memisahkan mereka.
"Aku lebih dulu memiliki perasaan pada Yuna, jauh sebelum kamu memiliki perasaan padanya."
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kebahagiaan Yuna, karna aku akan membahagiakannya selama masih ada disampingnya." Tutur Chandra dengan sorot mata tajam. Dia ingin Barra berhenti mengharapkan Yuna.
...*****...
Barra mengajak anak-anak pulang setelah selesai makan. Sementara itu, Chandra kembali ke kantor.
Sepanjang perjalanan Barra terus diam dan memikirkan ucapan Chandra. Ada rasa sakit saat mendengar semua penuturnya, tidak rela Chandra memiliki Yuna untuk selamanya, namun di sisi lain Barra memikirkan kebahagiaan Yuna.
Dia senang melihat Yuna sangat bahagia sejak bersama dengan Chandra. Hal yang dulu tidak pernah bisa dia berikan untuk Yuna.
Meski dulu Yuna pernah tertawa bahagia, namun seperti ada luka yang terpendam di balik tawanya.
"Mama,,,," Ara dan Zie berlari memasuki rumah, menghampiri Yuna yang tengah bermain dengan Brian di ruang keluarga.
"Anak-anak Mama sudah pulang,," Yuna merentangkan kedua tangannya, menyambut twins yang menghambur kepelukannya.
Dari kejauhan Barra mengulas senyum tipis. Entah kenapa dia membayangkan jika saat ini sedang pulang sebagai suami Yuna, bukan sebagai mantan suaminya.
Hatinya tiba-tiba menghangat, merasakan kebahagiaan meski hanya sekedar khayalan.
Mungkinkah akan ada harapan suatu saat khayalan akan berubah menjadi kenyataan.?