
Selesai sarapan, Yuna mengantar Barra sampai ke teras. Sebenarnya setelah mengetahui niat jahat Barra, Yuna enggan bersikap layaknya seorang istri pada laki-laki yang tidak punya hati seperti Barra. Namun Yuna harus tetap bersikap seolah semuanya baik-baik saja di depan Mama Rena.
Sejauh ini Yuna juga belum memikirkan alasan apa yang akan dia katakan pada Mama Rena pada saat bercerai dengan Barra. Rasanya tidak mungkin jujur. Seandainya Mama Rena tau bahwa anaknya rela menikah kontrak dan harus menyerahkan darah dagingnya demi uang untuk biaya operasi, pasti Mama Rena akan memilih untuk tidak di operasi saat itu. Menutup mata untuk selama-lamanya jauh lebih baik daripada harus menggadaikan kebahagiaan putrinya. Karna Yuna sudah pasti berhak bahagia dengan laki-laki yang tepat.
"Aku berangkat,,," Barra mengulurkan tangannya pada Yuna, namun uluran tangan Barra hanya di lirik datar oleh Yuna.
"Sebaiknya jangan ada kontak fisik lagi." Pinta Yuna. Secara halus dia menolak untuk mencium tangan Barra.
"Mas Barra juga jangan salah paham, aku mau menyiapkan keperluan dan mengantar Mas Barra karna ada Mama disini." Yuna bicara dengan tenang.
"Hati-hati di jalan,,," Ucapnya sembari berbalik badan untuk masuk ke dalam, namun Yuna mengurungkan niatnya dan kembali menatap Barra.
"Oh iya satu lagi,," Seru Yuna.
"3 minggu lagi jangan lupa datang, itu jadwal periksa bulanan ke dokter. Mas Barra dan istri pasti ingin tau perkembangan mereka kan.?"
"Jadi setiap bulan saja datang menemui mereka."
Yuna menekankan kata mereka, dia tidak lagi menyebut kami karna Yuna merasa tidak butuh untuk di temui oleh Barra.
Barra menarik nafas dalam, dia terlihat bingung harus bagaimana menyikapi Yuna kekecewaan yang dipendam oleh Yuna.
Barra lebih suka Yuna marah padanya, mencaci ataupun memukulnya dari pada harus melihatnya bersikap tenang namun selalu mengucapkan kata-kata yang membuatnya terus merasa bersalah.
"Aku akan datang setelah 3 hari." Ujar Barra sembari mendekat. Tiba-tiba memeluk Yuna begitu saja sembari mengusap perutnya.
"Jangan keras kepala, aku nggak pergi selama itu." Tuturnya.
Yuna hanya diam saja, tidak menolak ataupun membalas pelukan Barra.
"Hubungi aku kalau butuh sesuatu." Ujar Barra sembari melepas pelukannya. Yuna tersenyum kecut mendengar perhatian Barra. Sebelumnya dia tidak pernah bicara seperti itu saat akan pulang ke rumah istri pertamanya.
"Mana mungkin aku akan menganggu waktu kalian." Balas Yuna acuh.
"Pelukan tadi, aku anggap hanya untuk mereka yang ada di dalam perutku."
"Terimakasih sudah menyayangi mereka."
Yuna beranjak masuk tanpa menghiraukan Barra yang terlihat masih ingin bicara padanya.
Barra melangkah gontai ke mobilnya. Seketika terlihat tidak bersemangat. Apa yang telah dia lakukan pada Yuna, telah merubah kepribadian Yuna menjadi dingin. Wanita cantik itu tak lagi lugu.
Dia tau caranya mempertahankan dan menjaga hatinya agar tidak semakin terluka.
Barra tidak menyangka akan sesulit ini menjalankan rencananya. Dia pikir akan mudah mendapatkan anak dari wanita lain dan setelah itu menceraikannya. Tapi kenyataan tidak semudah ekspektasi.
Sulit bagi Barra untuk menghancurkan hati wanita sebaik Yuna.
...*****...
Yuna sedang menata baju yang baru saja di bongkar oleh Nitha dan karyawannya. Dia meletakkan baju-baju itu di rak sesuai dengan tempatnya.
Nitha yang sedang packing orderan awalnya hanga melirik sekilas, tapi kemudian melirik lagi karna perut Yuna menarik perhatiannya. Meski memakai baju yang sedikit longgar, namun saat melakukan gerakan tertentu, perut Yuna jadi terlihat menonjol.
"Aku perhatiin perut kamu makin gede Yun." Komentar Nitha. Yuna reflek menoleh sembari membenarkan bajunya.
"Kamu sedang hamil ya.?" Tanya Nitha penasaran.
"Keliatan banget ya.?" Yuna balik bertanya. Dia tidak punya niat untuk menyangkalnya karna kehamilannya tidak bisa terlalu lama di tutupi, sedangkan perutnya akan semakin membesar.
"Jadi benar kamu hamil.?" Nitha terlihat antusias. Dia bahkan langsung beranjak dan menghampiri Yuna.
"Ya ampun, sudah berapa bulan Yun.? Kenapa Nggak ngasih tau aku.?"
"Tante juga dari kemarin nggak bilang apa-apa." Nitha langsung mengusap perut Yuna.
"Hebat banget kamu bisa nebak." Yuna terkekeh kecil.
"Sudah 12 minggu lebih."
"Mama memang belum tau, lagipula aku juga baru tau 5 hari yang lalu."
"Jangan bilang Mama dulu ya, aku yang akan kasih tau nanti." Tuturnya. Nitha langsung mengangguk paham.
"Kalau gitu kamu jangan terlalu cape, bisa panjang urusannya kalau kamu kecapean. Ngeri kalau kita yang kena marah sama suami kamu." Ujar Nitha. Yuna hanya tersenyum tipis.
"Nggak usah khawatir, aku nggak selemah yang kamu kira. Timbang packing atau beberes aku masih sanggup, asal dibantuin." Yuna terkekeh.
"Sama aja bo'ong itu mah,," Celetuk Nitha.
"Selamat untuk kehamilan pertama kamu, semoga kamu dan babynya sehat." Nitha memeluk Yuna. Dia terlihat bahagia atas kehamilan sahabatnya. Sedangkan Yuna tidak merasa sebahagia Nitha karna kehamilannya telah direncanakan dan dimanfaatkan oleh Barra.
...*****...
"Kamu sudah pulang,," Cindy menyambut kepulangan suaminya dengan senyum lebar, setelah Itu menghambur ke pelukannya.
"Dia sedang hamil, harusnya kamu lebih lama di sana." Ujarnya sembari melepaskan pelukannya.
"Bukannya aku harus adil.?"
"Sudah 4 hari aku di sana. Sekarang waktunya aku bersama kamu." Barra merangkul pinggang Cindy, setelah itu mencium bibinya. Ciuman yang awalnya lembut, kini semakin menuntut dan dalam.
Barra menjatuhkan tas kerjanya di atas sofa, lalu menggiring Cindy ke dalam kamar.
Menghabiskan waktu bersama Cindy di dalam kamar, cukup efektif untuk melupakan sejenak permasalahannya dengan Yuna.
Sejauh ini, Barra belum menemukan cara untuk membuat Yuna tetap bertahan dengannya
"Sayang sudah,," Cindy mendorong dada bidang Barra untuk menjauh. Sudah 2 kali melakukannya namun Barra masih saja berulah. Masih terlihat ingin menerkamnya.
"Sebaiknya kita mandi, sudah sore." Cindy beranjak dari ranjang setelah membalut tubuhnya dengan dress.
"Duluan saja. Aku bisa memakanmu lagi nanti." Barra tersenyum menggoda. Cindy hanya mengulas senyum tipis sembari menggelengkan kepala. Dia bergegas masuk ke kemar mandi.
"Bangun sayang,,," Cindy mengusap lembut pipi Barra. Ternyata Barra ketiduran setelah di tinggal 30 menit di dalam kamar mandi.
"Mandi dulu,," Usapan di pipi Barra sedikit di kencangkan.
"Hemm,,," Barra menggeliat. Bukannya bangun, dia malah menarik tengkuk Cindy hingga wajahnya saling nempel. Barra mendaratkan kecupan singkat di bibir Cindy, setelah itu bangun dan duduk di ranjang.
"Iissh,,,! Kau itu.!" Cindy mencubit dada Barra, kemudian beranjak dari sana.
"Aku mau bikin pasta dulu." Ujarnya sebelum keluar dari kamar.
Barra tersenyum menatap kepergian Cindy, tapi beberapa detik kemudian senyumnya meredup.
Tiba-tiba teringat dengan Yuna yang selama lebih dari 3 bulan hanya menjadi bayangan Cindy untuk bisa mendapatkan keturunan.
Barra mulai menyesali rencana yang dia buat sendiri. Mungkin seharusnya dia memberikan kesempatan pada Yuna untuk membaca ulang surat perjanjian itu. Pasti tidak akan jadi seperti ini akhirnya. Barra di lema, bingung harus berbuat apa.
Dia ingin membuat Yuna tetap bertahan di sisinya, tapi takut akan menyakiti perasaan Cindy. Di lain sisi, Yuna juga tidak mau mempertahankan pernikahan kontrak mereka setelah mengetahui semuanya.
Barra mengusap kasar wajahnya, dia terlihat frustasi menghadapi masalah yang dia ciptakan sendiri.
Hanya hela nafas berat yang keluar dari mulu Barra, dia beranjak dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Sepertinya Barra mulai terjebak dengan pernikahan kontak yang dia buat. Rupanya tidak mudah untuk menjadi jahat hanya untuk kebahagiaannya sendiri.
Lantaran membuat Yuna terluka, Barra jadi tidak tenang meski 1 langkah lagi akan mendapatkan apa yang dia inginkan.