
Barra bergegas menyusul Yuna. Dia memeluk tubuh Yuna dari belakang, mencegah Yuna yang akan naik ke atas ranjang.
"Aku sadar sudah membuat kesalahan karna menyakiti perasaan kamu." Ungkap Barra menyesali.
Yuna mengangkat sudut bibirnya mendengar pengakuan Barra yang menyadari jika perlakuannya telah cukup melukai hati.
Barra terlalu menggampangkan segala hal dengan uang.
"Seharusnya nggak perlu ada perjanjian itu dan aku berbuat adil sama kamu. Karna Cindy mau untuk berbagi." Tuturnya. Yuna kembali mengukir senyum tipis, senyum tidak di lihat oleh Barra memalingkan wajahnya dari Barra yang tangah menempel di bahunya.
"Kamu sudah bersedia untuk bertahan, jadi mulai saat ini biarkan aku bersikap adil pada kalian." Ujar Barra yakin.
Dia terlihat siap untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami yang memiliki 2 orang istri. Beberapa hari terakhir memang berfikir keras untuk menunjukkan sikap yang adil pada keduanya agar tidak ada yang merasa tersakiti atau cemburu karna berat sebelah.
Barra mencoba berusaha untuk berlaku adil pada Cindy dan Yuna. Mungkin hanya satu yang sampai saat ini belum bisa Barra lakukan, yaitu membagi cinta.
Perasaannya terhadap Yuna, tak sebesar perasaannya pada Cindy yang sudah bertahun-tahun mengisi harinya. Meski begitu, Barra bersedia untuk membagi hatinya pada mereka. Dia ingin memulai dari awal dengan Yuna agar bisa memberikan cinta dan perasaan yang serupa.
"Aku mohon lupakan awal yang buruk itu, anggap perjanjian itu nggak pernah ada."
"Mari kita mulai dari awal,," Ajak Barra. Dia memutar tubuh Yuna hingga berhadapan dengannya. Mata tajamnya menatap lekat manik mata Yuna dengan sorot mata dalam. Jelas ada kesungguhan di mata Barra. Laki-laki itu benar-benar tulus dan serius untuk memulai hubungan dari awal.
Yuna diam sejenak, dia mempertimbangkan keinginan Barra yang terlihat tulus dan sungguh-sungguh untuk menjalani pernikahan bersamanya.
Lagipula memang saat ini dia masih menjadi istri Barra meski hanya secara agama. Memang sudah seharusnya dia memberikan apa yang di butuhkan oleh Barra.
"Aku nggak keberatan memulai dari awal, selama ini memang Mas Barra sudah adil, tapi belum adil untuk urusan perasaan dan ranjang." Yuna menatap lekat, tangannya mulai bergerak ke bagian depan tubuh Barra dan berhenti di dadanya.
"Aku nggak akan memaksa Barra soal cinta, karna semua itu memang butuh proses. Tqpi setidaknya Mas Barra juga harus anggap aku sebagai istri, dan sebagai seorang suami harus memiliki perasaan terhadap istrinya." Tangan Yuna mulai bergerak, melepaskan kancing kemeja Barra meski terlihat gugup dan malu.
"Aku akan menjalankan kewajibanku, asal Mas Barra benar-benar melihatku sebagai Yuna, bukan membayangkanku sebagai Mba Cindy." Yuna bicara sambil terus melepaskan kancing kemeja Barra.
Walaupun berusaha fokus dan memahami ucapan Yuna, tapi perlakuan Yuna membuatnya panas dingin. Fokusnya jadi terbagi dan pikirannya mulai terbang kemana-mana.
"Tentu saja,," Jawab Barra. Suaranya mulai kembali serak, matanya kembali di penuhi gairah. Dia meletakkan tangan di tengkuk Yuna dan menariknya lembut untuk mendekat.
Ciuman lembut itu kembali terjadi, namun hanya beberapa detik saja, setelah itu berubah kian menuntut. Lidahnya mengabsen setiap inci rongga mulut Yuna, menyes-sap dan memainkan lidah Yuna. Dia tidak memberikan kesempatan pada Yuna untuk sekedar mengambil nafas.
Sebelah tangannya tak tinggal diam, masuk kembali ke dalam belahan kimono Yuna. Berhenti pada benda favoritnya yang sebelumnya mampu membuat gairah memuncak. Barra memainkannya dengan penuh naf-su. Dia baru menyadari dua bongkahan itu terlalu indah untuk dilewatkan.
Melepaskan pagutan bibirnya, nafas keduanya terdengar memburu. Barra menarik tali kimono Yuna, melepaskan dari bahunya hingga kimono itu jatuh ke lantai begitu saja.
Kini tubuh indah dibalik kimono itu terlihat jelas meski diselimuti lingerie menerawang berwarna dusty. Warna itu membuat Yuna terlihat jauh lebih muda, Barra merasa sedang menyentuh gadis belasan tahun.
Barra menggiring Yuna ke sisi ranjang, dia duduk di sana dan menyuruh Yuna untuk duduk di pangkuannya agar saling berhadapan.
Yuna benar-benar tidak tau apapun, hingga Barra harus menuntun dan mengarahkannya.
"Pelan-pelan,," Ujar Barra saat Yuna akan naik kepangkuannya.
Barra menurunkan kedua tali lingerie di bahu Yuna. Hanya sekali tarikan, keindahan di dalam bisa terlihat seluruhnya.
Yuna mengeluarkan ******* ketika pucuk da-ddanya dilahap oleh Barra dan menyesapnya rakus.
Ini pertama kalinya ******* lolos dari mulut Yuna, dia tidak bisa menahannya karna membuatnya begitu melayang. Benar-benar berbeda, tidak seperti sebelumnya. Yang bahkan tidak merasakan kenikmatan sedikitpun karna 3 bulan itu Barra terkesan mengambil paksa haknya hingga tidak ada rasa.
Barra melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan. Membuat Yuna senyaman mungkin melakukannya dalam kondisinya yang tengah hamil.
...*****...
Memasuki usia kehamilan hampir 6 bulan, perut Yuna semakin terlihat besar. Mama Rena bahkan berkali-kali menanyakannya karna merasa kehamilan putrinya bukan kehamilan tunggal.
Rasa tidak wajar usia kehamilan 6 bulan dengan perut sebesar itu namun hanya ada 1 janin di dalamnya.
Walaupun Mama Rena hanya mengalami 1 kali kehamilan, tapi dia bisa membedakannya.
"Kita pergi dulu Mah,," Pamit Yuna pada Mama Rena yang berada di dapur.
Dia dan Barra akan memeriksakan kandungannya yang rutin melakukan setiap bulannya.
"Hati-hati di jalan, coba nanti suruh dokter USG baik-baik, siapa tau benar cucu Mama ada dua di dalam sini." Ujarnya sembari mengusap perut besar Yuna. Baru 6 bulan tapi seperti kehamilan 8 bulan. Bagaimana Mama Rena tidak menduga-duga.
"Ya ampun, Mama itu ada - ada saja." Yuna mengulas senyum.
"Aku sudah USG setiap bulannya Mah, Mama kan lihat sendiri hasilnya."
"Do'a kan saja supaya kehamilan Yuna baik-baik saja dan babynya sehat sampai lahir nanti."
Yuna meraih tangan Mama Rena dan mencium punggung tangannya.
"Tentu saja, Mama selalu berdo'a untuk anak Mama tanpa di minta." Mama Rena mengusap kepala Yuna. Tidak ada do'a yang lebih penting selain do'a untuk kesehatan dan kebahagiaan putri serta calon cucunya.
Barra hanya mengulas senyum tipis melihat interaksi istri dan Mama mertuanya. Kemudian ikut pamit dan pergi ke rumah sakit.
"Maaf, aku jadi membuat kamu berbohong seperti ini." Barra mengusap perut Yuna dan meliriknya senduk.
Dia tidak tega membuat Yuna melupakan salah satu anaknya di depan semua orang, karna tidak bisa mengatakan bahwa dia sebenarnya mengandung anak kembar.
"Fokus menyetir, Mas Barra sedang membawa 3 nyawa." Yuna melepaskan tangan Barra agar kembali memegang kemudi.
"Jangan pikirkan itu, memang sudah seharusnya begini kan.?" Tutur Yuna dengan nada bicara yang terdengar pasrah.
"Lagipula mereka berdua selamanya akan menjadi anakku walau salah satu dari mereka tidak tinggal bersama ku, karna mereka tetap darah dagingku dan terlahir dari rahimku."
...*****...
Yuna dan Barra tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya saat mengetahui jenis kelamin baby twins. sebenarnya sejak dari bulan lalu ingin mengetahui jenis kelamin mereka, namun mereka malah menutupi jenis kelaminnya menggunakan paha masing-masing.
Tapi kali ini keduanya benar-benar memperlihatkan jenis kelamin mereka. Baby twins berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Yuna dan Barra akan memiliki sepasang anak yang tampan dan cantik.
Keduanya keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang yang berbinar.
"Mereka sangat tampan dan cantik." Gumam Yuna sembari menatap hasil USG baby twins di tangannya.
"Ini baby girl, dan ini baby boy." Yuna menyodorkan foto itu pada Barra. Foto baby girl ada di tangan kanan, dan baby boy di tangan kirinya.
"Mas Barra dan Mba Cindy mau yang mana.?" Tanya Yuna. Dia seperti sedang menawarkan makanan pada Barra dan mempersilahkan Barra untuk memilih sendiri makanan itu sesuai keinginannya. Padahal makanan itu milik Yuna.
Seketika Barra tertegun, dadanya terasa ngilu mendengarnya. Entah kenapa ucapan Yuna begitu mengiris hati. Tak tega rasanya untuk memisahkan seorang anak dari ibunya, meskipun dia dan Yuna akan tetap bersama.