
"Yuna,,," Panggil Barra lirih. Sejak tadi dia menunggu respon dari Yuna, setidaknya satu atau dua kata dari mulutnya. Tapi Yuna tetap diam.
"Ya,," Yuna menyahut datar.
"Kamu mendengarkanku kan.?" Tanya Barra. Yuna mengangguk pelan. Anggukan kepala yang membuat Barra tersenyum lega. Setidaknya apa yang dia rasakan bisa di ungkapan pada Yuna dan di dengar olehnya. Barra tak berharap apapun lagi selain kata maaf dari Yuna.
Dia enggan memaksa Yuna untuk tetap bersamanya lagi. Karna Barra sadar semua itu tak akan membuat Yuna merasa bahagia.
"View di luar balkon sangat indah, kita bisa melihat menara Eiffel dengan jelas disana."
"Mau melihatnya bersama.?" Ajak Barra. Suaranya penuh harap dan antusias.
"Kamu pasti belum sempat melihat ke balkon kan.?" Tanya Barra lagi.
"Ayo turun, sayang sekali kalau melewatkan malam dan pemandangan yang indah di luar sana." Barra beranjak turun dari ranjang.
Dia meminta Yuna untuk segera bangun dan menikmati pemandangan kota cinta itu dari balkon kamar mereka.
"Tapi aku lelah,," Yuna berusaha menolak. Dia tidak mau terlalu menikmati liburannya bersama Barra. Tujuannya mau berlibur bersama, semata-mata hanya untuk mempercepat proses perceraian dan memberikan kenangan indah pada baby twins saat mereka besar nanti. Dia dan Barra sepakat untuk mengabadikan setiap momen bersama dengan ponsel mereka masing-masing.
"Ada kursi di luar, kamu bisa duduk. Bahkan bisa tidur disana kalau mau. Biar aku temani." Tutur Barra. Dia mengulas senyum tipis.
Usahanya untuk mengajak Yuna tidak sia-sia, Yuna akhirnya mau menuruti permintaan Barra.
Saat pintu balkon di buka, Yuna dibuat bungkam.
Dia kagum dengan pemandangan indah yang ada di depan matanya. Ini pertama kalinya dia melihat menara Eiffel secara langsung.
Benar-benar indah dan cantik.
Yuna melangkah maju, berhenti di pagar pembatas. Meletakkan kedua tangan di sana dengan pandangan lurus ke depan. Langit yang gelap dipadukan dengan gemerlapnya lampu menara Eiffel dan bangunan di sekitarnya, membuat Yuna enggan mengalihkan pandangan.
"Di sini, di tempat ini." Ucap Barra tepat di telinga Yuna. Laki-laki itu memeluk Yuna dari belakang.
"Akan ada sejuta kenangan indah yang akan aku ukir untuk kalian." Suara Barra lirih namun dalam.
"Kamu harus tau bahwa kalian sangat berarti dalam hidupku." Pelukan Barra semakin erat. Dia bahkan meletakkan dagunya di pundak Yuna.
"Aku mungkin gagal menjadi suami yang baik untuk kamu, tapi aku berusaha agar tidak gagal menjadi ayah yang baik."
"Itu sebabnya aku berusaha untuk mempertahankan pernikahan ini. Aku ingin memperbaiki semuanya."
"Tapi aku tidak bisa menahan kamu lebih lama lagi, karna kedua tangan ini tidak mampu lagi memegangimu yang semakin kuat untuk melepaskan diri."
Barra tersenyum tipis. Menutupi kepedihan hatinya dengan senyum palsu.
"It's ok, wanita sebaik dirimu memang berhak bahagia dengan orang yang tepat." Ucapnya pasrah.
Yuna hanya menarik nafas dalam, enggan memikirkan apa yang di ucapkan oleh Barra.
Tidak peduli semanis dan setulus apa rangkaian kalimat yang keluar dari mulut Barra, keputusannya untuk bercerai tidak akan berubah.
Membuat anak bahagia tak selalu dengan utuhnya kedua orang tua dalam 1 rumah. Karna Yuna pernah merasakan hal itu. Dimana kedua orang tua yang lengkap tak menjamin kebahagiaannya.
Tangisan Mama Rena yang diam-diam sering dia lihat, menjadi sakit hati yang berujung dendam pada sang Papa yang selalu membuat Mama Rena menangis.
Jujur saja perasaan dan psikisnya terganggu sekalipun saat itu dia sudah dewasa.
Yuna hanya takut hal itu juga di rasakan oleh kedua anaknya. Dia ingin menghindari hal yang sama dengan apa yang dia rasakan dulu.
Yuna tidak mau kedua anaknya membenci Papanya sendiri. Karna seorang anak akan selalu ingat penyebab sang Mama menangis.
...*****...
"Mas Barra bangun,,," Yuna menggoncang pelan lengan Barra sembari menggendong Kinara yang sedang menangis.
"Mas,, Kenzie dan Kinara menangis,," Ucap Yuna lagi. Dia mengeraskan suaranya agar Barra terbangun.
"Heumm,,," Barra menggeliat, matanya terlihat sulit untuk dibuka.
"Aku bahkan baru tidur,," Gumam Barra. Terdengar mengeluh karna di bangunkan, tapi pada akhirnya beranjak dari ranjang.
"Baru tidur.? Tapi semalam kita tidur jam 10. Sekarang sudah jam 6 lewat." Yuna mengerutkan dahi. Dia memperhatikan Barra yang jalan sempoyongan menghampiri ranjang Kenzie.
"Semalam mereka berdua bangun, aku sudah membuatkan susu untuk mereka tapi malah mengajakku bergadang." Keluh Barra. Dia mengangkat Kenzie dari ranjang.
"Kenapa lagi jagoan Papa.?" Tanyanya pada Kenzie.
"Mereka bangun.? Kenapa Mas Barra nggak bangunin aku.?"
Barra menoleh, berjalan mendekat sembari menggendong Kenzie.
"Kamu terlalu nyenyak," Sahutnya.
"Sini sayang, kita tidur lagi yah,," Barra mendudukkan Kenzie di ranjang. Dia mengambil ponsel miliknya di atas nakas. Membuka aplikasi youtube dan memberikannya pada Kenzie. Bayi 7 bulan itu diberikan gadget agar diam.
Barra lalu berbaring di samping Kenzie dan memejamkan mata. Dia tidak memperhatikan Yuna yang sejak awal melotot tajam saat Barra menyodorkan ponsel pada Kenzie.
"Ya ampun Mas.! Aku menghindari anak-anak dari gadget, tapi Mas Barra seenaknya memberikan gadget pada Kenzie." Protes Yuna geram.
"Tapi sekarang dia diam, kamu lihat itu kan.?" Tanya Barra. Matanya terpejam.
"Tapi Mas,,,
"Sudahlah sayang, lagipula hanya kali ini saja." Seru Barra lembut.
"Sayang.?"
Yuna mengulangi ucapan Barra dalam hati. Sedikit jengkel dan ingin marah mendengarnya.
"Setidaknya aku bisa tidur lagi walaupun 30 menit."
"Setelah ini kita akan jalan-jalan kan. Bagaimana kalau aku pingsan di jalan karna kelelahan dan kurang tidur. Kamu sendiri yang akan repot mengurus 3 bayi." Ujarnya panjang lebar.
Yuna menarik nafas dalam - dalam. Kesabarannya sedang di uji terus oleh Barra.
"Tetap awasi Kenzie, jangan sampai dia jatuh dari ranjang.!" Yuna memperingatkan.
"Aku harus mandi dan memandikan Ara."
"Hemm,," Barra hanya bergumam pelan. Sepertinya dia hampir sampai ke alam mimpi.
...*****...
Mereka sudah bersiap. Meski tadi sempat di warnai drama lagi karna Kenzie sudah hampir jatuh dari ranjang, sedangkan Barra masih terlelap.
Untung saja Yuna datang tepat waktu.
Barra mendorong stroller. Baby twins anteng duduk di stroller karna sebelumnya sudah di beri asi dan biskuit oleh Yuna.
Sementara itu, Yuna berjalan di belakang mereka.
"Sini sayang, jangan jauh-jauh nanti kamu hilang." Goda Barra sembari menarik tangan Yuna agar berjalan di sampingnya. Yuna berdecak kesal. Barra justru tersenyum jahil.
"Mau makan di restoran Asian atau western.?" Tawar Barra.
"Apa saja, aku pemakan segala." Jawab Yuna cuek.
"Oh ya,,?. Tapi kenapa kamu nggak suka makan pisang.?" Tanya Barra.
Yuna langsung menatap serius dengan dahi yang berkerut.
"Kenapa tiba-tiba bahas pisang. Lagipula kata siapa aku nggak suka pisang."
"Itu karna kamu bilang pemakan segala." Tutur Barra.
"Maksudku bukan pisang itu, tapi,,,
"Plakk.!!"
Yuna menabok lengan Barra lantaran kedua mata Barra menatap ke bagian bawah tubuhnya sendiri.
Rupanya pisang tanduk miliknya yang sedang dia bahas.
"Apa penyakit mesum nggak bisa di sembuhin.!" Ketus Yuna. Barra terkekeh geli.
Wajah ketus dan cemberut Yuna menjadi hiburan tersendiri untuknya. Dia mungkin akan mengenang masa-masa singkat yang tak akan terlupakan ini.
Itu sebabnya dia ingin meninggalkan kesan yang indah agar tidak mudah untuk di lupakan. Termasuk untuk Yuna.
...*** Jangan lupa Vote ****...