Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 47


Yuna menoleh ke sisi kanan tempat tidurnya. Dia mengukir senyum melihat Barra masih terlelap di sampingnya. Semalaman Barra terlihat mencemaskan keadaan Yuna sampai menyuapinya makan malam, bahkan menolak pulang ke rumah Cindy meski berulang kali Yuna menyuruhnya untuk pulang.


Dari sini bisa dilihat bagaimana perasaan Barra terhadap Yuna. Dia tidak menepati janjinya pada Cindy dan lebih memilih untuk menemani Yuna karna khawatir dengan kondisinya. Padahal Yuna hanya mengatakan pusing, tapi reaksi Barra terlihat berlebihan.


"Mas,," Yuna meletakkan tangannya di dada Barra, sedikit mengusap dan menggoncangnya pelan.


"Sudah pagi,," Ujarnya lirih tepat di telinga Barra.


"Hemm,,," Barra menggeliat. Dia memegang tangan Yuna yang berada di atas dadanya.


"Bangun, bukannya Mas Barra harus pulang.?"


"Mas Barra sudah tinggal disini selama 5 hari, kasian Mba Cindy." Yuna kembali menggerakkan tangannya lantaran Barra tak kunjung membuka mata.


"Iya, aku akan siap-siap." Barra bangun, dia mengusap dan mencium perut Yuna lebih dulu sebelum beranjak dari ranjang.


Yuna hanya mengulas senyum tipis melihat perlakuan lembut Barra pada baby twins di dalam perutnya.


Yuna duduk di sisi ranjang, dia terus memperhatikan Barra yang tengah bersiap pulang ke apartemen.


Sorot matanya semakin dalam, dia beranjak menghampiri Barra yang yang terlihat sudah siap untuk pergi.


"Tolong berikan baju ini untuk Mba Cindy,," Yuna menyodorkan paper bagian berisi baju rancangannya yang dia jual.


"Mba Cindy pasti cocok pakai baju ini karna badannya sangat sempurna." Puji Yuna.


Barra menerima pape bag itu dengan tatapan bingung. Lagi-lagi dia selalu ragu dengan kebaikan Yuna meski terlihat sangat tulus.


"Aku akan berikan padanya." Ucap Barra, sebelah tangannya mengusap perut Yuna.


"Jaga kesehatan kamu, jangan sampai kelelahan. Ingat ada baby twins yang harus kamu jaga." Tuturnya lembut. Yuna mengangguk patuh, seluas senyum manis dia berikan pada suaminya yang akan pulang ke rumah istri pertama.


"Aku ibunya, tentu saja aku akan menjaga mereka lebih dari diriku sendiri."


"Mas Barra nggak usah khawatir." Yuna meraih tangan Barra dan mencium punggung tangannya.


Sejak pulang menemui Cindy, Yuna jadi melakukan kebiasaan itu lagi.


"Kalau begitu aku pergi dulu, hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu." Barra mengusap pucuk kepala Yuna dengan tatapan penuh sayang.


"Hu'um,," Yuna mengangguk patuh.


Dia mengantar Barra dan membukakan pintu kamar untuknya.


Baru beberapa langkah keluar dari kamar, tiba-tiba Yuna memeluknya dari belakang. Mendekap erat tubuh besar Barra.


Hal itu membuat Barra memaku beberapa saat, menatap kedua tangan Yuna yang erat memeluknya seolah enggan melepaskannya pergi.


"Ada apa.?" Tanya Barra lembut, dia berbalik badan menatap Yuna.


Istri keduanya itu menatap dengan sorot mata berkaca-kaca. Dia menggelengkan kepalanya dengan gelengan lemah.


"Aku hanya ingin memeluk Mas Barra, boleh kan.?" Tanya Yuna sendu.


"Kenapa tiba-tiba seperti ini.?" Barra balik bertanya. Dari pada dia menduga-duga dan hanya membuatnya penasaran, lebih baik menanyakan langsung pada Yuna.


"Memangnya aku nggak boleh peluk suamiku sendiri.?" Yuna langsung melepaskan pelukannya, dia mundur dua langkah dari hadapan Barra. Mengalihkan pandangan ke arah lain dan terlihat enggan menatap Barra.


"Bukan begitu. Aku heran saja tiba-tiba kamu memelukku. Sebelumnya kamu,,,


"Sebelumnya aku merasa nggak punya hak atas Mas Barra. Sikap Mas Barra dingin padaku dan hanya menyentuh saat,," Yuna menghentikan ucapannya.


"Sudahlah, lupakan saja."


"Aku janji nggak akan peluk Mas Barra lagi." Yuna beranjak dari hadapan Barra, masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Barra menatap bingung. Nyatanya bertanya pada Yuna hanya semakin membuatnya tidak paham dengan perubahan sikap Yuna. Terkesan manja dan ingin dekat dengannya. Memang tidak salah jika Yuna bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga Yuna juga istrinya dan berhak mendapatkan perlakukan yang sama seperti Cindy.


"Yuna,,,!" Panggil Barra. Dia mengetuk pintu kamar mereka yang ternyata di kunci dari luar.


"Aku mau mandi,!!" Sahut Yuna berteriak.


"Maaf nggak bisa mengantar Mas Barra ke depan.!" Serunya lagi. Setelah itu Yuna tidak lagi menjawab meski Barra terus memanggilnya.


Dengan berat hati Barra meninggalkan rumah dan pulang menemui Cindy. Istri pertamanya itu juga membutuhkannya karna sudah terlalu lama di tinggal.


Melepaskan semua bajunya dan melemparnya ke dalam keranjang baju kotor, Yuna masuk ke dalam bathtub dan berendam air hangat. Dia mencampurkan banyak body shoap ke dalam bathtub.


Cukup lama berendam untuk membersihkan tubuhnya, Yuna beranjak keluar, setelah itu memakai baju dan pergi ke dapur untuk sarapan.


Perutnya terasa lebih lapar dari sebelumnya.


"Pagi Mah,,," Sapa Yuna. Mama Rena yang tengah menata makanan, menoleh ke arah putrinya.


Dia dibuat kaget dengan kondisi perut Yuna. Selama ini baru menyadari kalau putrinya tengah hamil.


Mungkin karna sebelumnya Yuna selalu memakai baju longgar, sedangkan kali ini Yuna memakai dress yang melekat sempurna di tubuhnya hingga memperlihatkan bagian perutnya yang menonjol.


"Yuna,,, kamu sedang hamil nak.?" Tanya dengan mata yang berbinar. Mama Rena langsung menghampiri putrinya dan mengusap perutnya.


"Sudah besar sekali, kenapa nggak bilang sama Mama.?" Ujarnya.


"Kejutan,," Seru Yuna. Dia tersenyum melihat Mama Rena yang antusias dan terlihat bahagia.


"Sudah jalan 13 minggu Mah, Yuna juga baru tau 1 minggu yang lalu." Tuturnya.


"Syukurlah, Mama ikut bahagia atas kehamilan kamu." Mama Rena menarik Yuna dalam dekapan, dia memeluk putrinya dengan perasaan bahagia yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan yang begitu besar menyambut cucu pertamanya.


Yuna memaku, rasa sakit perlahan menghimpit dadanya. Sangat menyakitkan melihat kebahagiaan Mama Rena yang nantinya akan berakhir luka. Entah bagaimana kalau Mama Rena mengetahui semuanya. Akankah masih ada senyum yang terukir di bibirnya ketika dia tau penderitaan putrinya berawal dari sakit yang dia derita.


Mungkin jika waktu itu tiba, Mama Rena akan lebih memilih mengorbankan nyawanya dari pada harus mengorbankan kebahagiaan dan masa depan putrinya.


****


"Wah,, bumil sudah menampakkan diri." Goda Nitha yang baru masuk ke ruang kerjanya. Walaupun dia sudah tau kalau Yuna hamil, tapi sedikit terkejut melihat Yuna memakai dress yang melekat hingga memperlihatkan perut buncitnya.


"Aku pikir kebahagiaan harus di bagi-bagi,," Sahut Yuna dengan senyum lebar. Entah kebahagiaan seperti apa yang di maksud oleh Yuna.


"True.! Memang harus begitu, kabar baik dan bahagia jangan di sembunyikan." Nitha kembali menimpali.


Dia kemudian duduk di meja kerjanya dan mulai sibuk dengan pekerjaan.


"Nit, tolong bantu aku carikan ruko dua lantai. Cari yang strategis dan cukup luas." Ujar Yuna di tengah-tengah kesibukan mereka.


Nitha langsung menoleh, terlihat kaget mendengar perintah Yuna.


"Ruko.? Untuk apa Yun,,?" Tanya Nitha bingung.