Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 128


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil. Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Baik Barra ataupun Yuna, keduanya sedang disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing. Kejadian tadi tentu saja membuat perasaan menjadi gelisah, walaupun tak ada penyatuan tapi tetap saja sangat memalukan bagi Yuna maupun Barra.


Sampai detik ini Yuna bahkan tak berani menatap wajah Barra. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela. Memangnya siapa yang masih bisa bersikap biasa setelah melakukan hal memalukan di kamar mandi tadi.


Yuna jadi geli sendiri mengingat hal itu, bagaimana dia menerima sentuhan tangan Barra di daerah intinya. Bahkan dia menikmati hal itu, Barra tentu saja bisa melihat bagaimana Yuna menikmatinya.


Itu yang membuat Yuna tak berani menatap Barra.


"Aku tidak bermaksud apapun, maaf jika membuatmu tidak nyaman." Barra mulai membuka suara. Meski tau itu bukan sepenuhnya kesalahannya, tapi semua ini juga bukan keinginan Yuna meski Yuna sendiri menerima sentuhannya.


Yuna menoleh sekilas, lalu meluruskan pandangan karna Barra menatapnya.


"Tidak, aku yang salah." Sahut Yuna lirih. Terdengar sedih sekaligus malu.


"Aku tak menginginkan hal itu, tapi tidak bisa menahannya," Yuna menundukkan kepala. Yuna memikirkan tanggapan Barra tentang hal ini, entah apa yang akan dipikirkan oleh Barra tentangnya. Yuna tentu saja tidak mau Barra menganggap dirinya wanita yang haus akan sentuhan laki-laki setelah sekian lama menjanda.


"Aku benar-benar minta maaf." Ucap Yuna dengan segala penyesalan dan rasa bersalah. Kalau saja dia bisa menahannya, tentu saja dia akan menolak saat Barra mendorongnya masuk kedalam kamar mandi. Dia bahkan masih merasa bingung sampai detik ini.


"Sudah lupakan saja, anggap itu tidak pernah terjadi."


"Tidak apa, aku bisa mengerti." Ucap Barra hati-hati, dia takut menyinggung perasaan Yuna.


"Terimakasih."


Setelah mengantarkan Yuna pulang, Barra langsung tancap gas untuk kembali ke apartemennya. Saat ini pasti Sisil dan anak-anak sudah kembali ke apartemen setelah lebih dari 1 jam sengaja meninggalkan dia dan Yuna berduaan di apartemen.


Barra tak pernah berfikir Sisil akan merencanakan semua ini dengan mengajak twins dan Brian.


Barra berharap Sisil tidak memberitahukan rencananya pada anak-anak. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal dewasa seperti itu, apalagi kalau sampai mengenal obat perangsang.


Duduk di ruangan tamu, Barra menunggu mereka yang ternyata masih belum kembali sampai saat ini. Sepertinya Sisil memang menginginkan penyatuan itu terjadi sampai memberikan waktu hampir 2 jam dengan membawa anak-anak pergi.


...*****...


"Kalian berdua, ikut ke ruang kerjaku sekarang.!" Seru Barra tegas. Tatapan matanya sangat tajam sejak Sisil masuk ke dalam apartemen bersama. Nicho dan anak-anak.


"Ada apa Oppa.? Dimana kak Yuna.?"


Melihat Sisil yang masih bersikap santai seolah tidak tau apapun, Barra menjadi semakin geram pada adik perempuannya itu. Bisa-bisanya masih bisa berpura-pura setelah mencampurkan obat itu padanya dan Yuna.


"Jangan banyak tanya, ikut saja.!" Ketus Barra. Dia bisa bicara seperti itu karna tidak ada anak-anak di sana. Dia sudah menyuruh mereka pergi ke ruang keluarga dan menahan Sisil bersama Nicho di ruang tamu.


"Iya Oppa." Jawab Sisil lirih. Dia dan Nicho lalu mengikuti langkah Barra menuju ruang kerjanya.


Barra mengunci pintu, menyuruh Nicho dan Sisil untuk duduk di sofa.


"Kalian sudah keterlaluan.!!" Bentak Barra dengan emosi yang meluap. Dia tidak akan seperti ini jika apa yang dilakukan Sisil dan Nicho masih wajar.


Jika Sisil ingin membiarkan dia dan Yuna berduaan di apartemen supaya bisa semakin dekat, itu tak akan jadi masalah untuk Barra. Dia justru akan senang jika diberi kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Yuna. Tapi rupanya Sisil memiliki rencana licik di dalamnya.


"Keterlaluan bagaimana Oppa.?" Sisil masih saja pura-pura.


"Tidak usah pura-pura.! Kakak tau kamu mencampurkan obat perangsang dan sengaja meninggalkan kami berdua di sini.!" Seru Barra.


"Kenapa kalian bisa punya ide gila seperti itu.!"


"Kamu pikir hal itu tidak akan membuat Yuna marah dan membenci Kakak.!" Bentaknya. Sisil sampai memberingsut, mendekap lengan Nicho karna ketakutan. Dia tidak pernah melihat Barra semarah ini padanya sampai membentaknya berulang kali..


"Kak, tolong pelan kan suaranya." Pinta Nicho. Tentu saja dia tidak tega melihat istrinya ketakutan seperti itu.


"Jangan memarahinya, marahi aku saja." Ujarnya.


Barra tersenyum kecut, tak habis pikir keduanya sekongkol melakukan hal ini.


Barra bisa menebak kalau Sisil yang sudah merencanakan semua ini. Namun dia juga kecewa pada Nicho karna mendukung rencananya.


"Kamu bukan anak kecil Nicho.! Tentu saja tau apa efek yang akan di timbulkan jika meminumnya.!"


"Kenapa tidak berfikir panjang.!"


"Bagaimana kalau hal itu terjadi.? Bisa saja Yuna akan semakin membenciku dan menjauh."


"Kamu hanya akan membuat anak-anak kecewa pada Yuna nantinya karna tidak mau berhubungan baik dengan Papa mereka.!"


Barra mengeluarkan semua kekesalan dan amarahnya di depan Sisil dan Nicho. Keduanya terlihat menunduk, terutama Sisil yang sudah meneteskan air matanya dengan raut wajah bersalah.


"Maaf Oppa, aku tidak bermaksud seperti itu." Ucap Sisil.


"Sudah, tenanglah,,," Nicho menghapus air mata istrinya dan memberikan usapan lembut di punggungnya.


"Aku minta maaf Kak, tidak seharusnya aku mendukung Sisil untuk menyatukan kalian berdua."


"Istriku hanya kasihan pada Kakaknya, sepanjang malam selalu memikirkan perasaannya dan tidak tega membiarkan dalam kesendirian selama bertahun-tahun."


"Memikirkan perasaan ketiga ponakannya yang menginginkan kedua orang tuanya bersatu."


Terang Nicho dengan suara tegas.


"Mulai hari ini aku janji tidak akan mengijinkan Sisil untuk ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan pribadi kalian."


"Kalau memang Kak Yuna marah pada Kak Barra, kami akan mengakuinya depan Kak Yuna dan minta maaf padanya." Ujarnya lagi. Nicho lalu mengajak Sisil untuk beranjak dengan merangkul bahunya.


"Ayo pulang." Ajaknya pada Sisil.


"Sekali lagi kami minta maaf."


Nicho lalu bergegas mengajak Sisil keluar dari ruang kerja Barra. Sisil bahkan tidak mengatakan apapun lagi dan tidak berani menatap Barra. Dia tentu saja sudah menyadari kesalahannya dan menyesal karna membuat Barra jadi kecewa padanya.


Barra hanya diam saja, membiarkan keduanya keluar dari ruang kerjanya.


Dia tau Sisil sangat mendukungnya untuk kembali bersatu dengan Yuna. Sangat paham jika Sisil peduli dan sayang pada twins serta Brian sampai berusaha untuk mengabulkan keinginan mereka. Namun Sisil telah menempuh cara yang salah, cara yang bisa saja membuat hubungannya dengan Yuna akan memburuk.


Barra menarik nafas dalam, dia lalu beranjak dari ruang kerjanya dan menghampiri anak-anak yang masih berada di ruang keluarga. Sisil dan Nicho sudah tidak ada lagi di sana.


"Papa, kenapa tadi Aunty menangis.?"


"Apa Papa memarahi Aunty.?" Tanya Kinara.


"Apa kalian bekerja sama dengan Aunty Sisil.?" Cecar Barra.


"Kalian tau apa yang di rencanakan Aunty kalian.?" Barra menatap serius pada anak-anak.


"Aunty hanya menyuruh kita untuk mengajak Mama kesini." Jawab Kenzie.


"Jangan marahi Aunty, Papa."


"Kami yang minta bantuan Aunty untuk mendekatkan Papa dan Mama." Tutur Kinara.


Barra hanya bisa menghela nafas mendengar penuturan anak-anaknya. Setidaknya mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Sisil.


"Apa Mama marah.?" Tanya Brian.


"Tidak, Mama tidak marah." Jawab Barra.