Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 112


Chandra membuka pintu kamar dengan hati-hati. Yuna dan putranya pasti sedang tertidur pulas karna sudah larut malam.


Hari ini pulang terlambat karna pergi ke luar kota untuk mengurus proyek barunya.


Seulas senyum mengembang di bibir Chandra kala melihat Yuna tengah tertidur pulas. Wajah cantiknya saat tertidur selalu menenangkan hati kalau di pandang. Terkadang Chandra tidur larut malam hanya untuk memandangi wajah Yuna yang tengah terlelap.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Chandra menghampiri baby box yang terletak tak jauh dari ranjang mereka. Dia ingin melihat wajah Brian dan menciumnya.


Sejak lahir Brian memang tidur satu kamar dengannya dan Yuna sampai saat ini. Hanya terpisah tempat tidurnya saja.


Di tatapnya lekat wajah Brian. Balita yang hampir berusia 2 tahun itu terasa tumbuh dengan cepat.


Kehadiran Brian telah mengubah kehidupannya.


Kebahagiaan yang dia rasakan terasa lebih nyata.


Chandra bergegas ke kamar mandi setelah mendaratkan kecupan di kening Brian.


Selesai mandi, laki-laki itu berbaring di samping Yuna dan memeluknya dari belakang. Mendekap erat tubuh istrinya dengan perasaan rindu yang menggebu. Seharian penuh jauh dari Yuna, membuat Chandra jadi merindukannya.


Yuna menggeliat. Dia mulai merasakan tubuhnya di dekap erat. Perlahan membuka mata, menatap lengan besar yang melingkar di perutnya kemudian menoleh ke belakang. Dia di sambut dengan senyum Chandra yang melelehkan hati.


"Maaf mengganggu tidurmu,," Ucap Chandra berbisik. Yuna menggelengkan kepala dengan seulas senyum. Dia malah merasa tidak enak pada Chandra lantaran sudah tidur dan tidak menunggunya pulang.


"Pulang jam berapa.?" Tanya Yuna.


"Mau aku buatkan teh.?" Tawarnya lembut.


"Setengah jam yang lalu."


"Tidak usah, sudah larut malam lebih enak minum susu." Jawabnya menggoda dengan kedipan mata.


Yuna mencubit lengan Chandra lantaran selalu mesum jika sudah larut malam.


Chandra terkekeh kecil melihat reaksi Yuna dengan pipi yang terlihat merona. Istrinya itu tampak pasrah saja saat perutnya diusap perlahan dan mulai menjalar kemana-mana.


Pergulatan panas itu berlangsung cukup lama. Chandra kembali mendekap tubuh Yuna dari belakang. Berkali-kali mendaratkan kecupan di pucuk kepala Yuna.


"Aku mencintaimu." Ucap Chandra. Entah sudah berapa kali Chandra melontarkan kalimat manis itu di telinga Yuna dari mulai melakukan kegiatan di atas ranjang sampai kini sudah berakhir.


"Aku tau," Jawab Yuna dengan senyum yang merekah. Dia enggan membalas ucapan Chandra dengan kalimat serupa karna sudah melakukannya berulang kali.


...*****...


Pagi itu Yuna mengantar Chandra dan twins sampai di halaman rumah. Chandra akan berangkat ke kantor sembari mengantarkan twins ke sekolahnya.


Walaupun ada beberapa supir di rumah, Chandra lebih memilih untuk mengantar twins sendiri.


Dia benar-benar menjadi sosok ayah yang baik untuk twins meski mereka bukan darah dagingnya.


Sedikitpun tak pernah membedakan kasih sayangnya antara twins dan Brian. Hal itu yang membuat Yuna semakin mencintai sosok suaminya.


"Bye Mama,,," Seru Twins bersamaan setelah berpamitan pada Yuna. Keduanya langsung masuk kedalam mobil.


"Aku berangkat dulu." Chandra mendaratkan kecupan singkat di kening dan bibir Yuna.


"I love you." Ucapnya. Tangannya selalu mengusap lembut pipi Yuna pada saat mengatakan kalimat itu ketika berpamitan. Tatapan matanya juga selalu dalam penuh cinta.


"I love you too,," Yuna memberanikan diri mencium pipi Chandra.


Laki-laki itu hanya mengulum senyum, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati di jalan sayang,," Seru Yuna pada mereka sembari melambaikan tangan.


Dia terus menatap kepergian mobil Chandra hingga keluar dari halaman rumah.


Hampir 3 tahun merasakan kebahagiaan yang dulu tidak pernah ia dapatkan. Chandra tak pernah memberikan luka sedikitpun di hatinya. Tak pernah membuatnya menangis karna terluka.


Yuna selalu berharap kebahagiaannya akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.


...*****...


"Mam,, mam,," Ucap Brian.


"Iya sayang, pakai bajunya dulu ya. Habis ini Brian makan." Sahut Yuna.


Keduanya sudah berada di ruang makan saat ini, Yuna mulai menyuapi Brian.


"Bu, di depan ada tamu." Salah satu pekerja rumah menghampiri Yuna.


"Siapa Mba.? Papanya twins.?" Tanya Yuna. Biasanya Barra yang selalu datang pagi-pagi ke rumahnya.


"Bukan Bu, dia perempuan."


Yuna mengerutkan kening. Perempuan.? Dia bergumam dalam hati. Rasanya tidak mungkin jika itu Nitha ataupun karyawannya. Karna jika mereka yang datang, pekerja rumah akan langsung mempersilahkan mereka masuk dan mereka sendiri yang akan menghampiri Yuna.


"Sini Den Briannya biar saya yang suapi."


"Nggak papa biar saya saja." Tolak Yuna halus. Dia menggendong Brian sembari membawa makanan milik Brian dan bergegas untuk menemui tamu itu.


"Mau makan dimana Yun.?" Mama Rena yang baru turun dari tangga langsung menghampiri Yuna.


"Nggak Mah, ini mau ke depan sebentar. Katanya ada tamu." Sahut Yuna. Dia kembali melangkahkan kaki, langkahnya terhenti di ambang pintu kalau melihat sosok wanita seksi yang tengah berdiri membelakangi pintu.


"Maaf, mau cari siapa ya.?" Tanya Yuna. Dia membuat wanita itu berbalik badan ke arahnya.


Wanita itu mengulas senyum lebar, membuat Yuna menatap bingung. Sedikitpun tidak mengenali wanita itu.


"Aku Agatha,,," Ucapnya sembari mengulurkan tangan pada Yuna. Dengan ragu, Yuna menyambut uluran tangannya.


"Yuna." Ujar Yuna datar.


"Ada keperluan apa.?" Yuna menatap bingung.


"Apa dia anak Chandra.?" Tanyanya sembari menatap Brian. Dia tak menghiraukan pertanyaan Yuna.


Mengetahui wanita itu mengenal Chandra, seketika pikiran Yuna jadi gelisah. Entah kenapa tiba-tiba ada rasa takut yang menyelimuti.


"Jadi mau mencari Mas Andra.? Dia sudah ke kantor 30 menit yang lalu." Tutur Yuna.


"Tidak, aku bisa menemuinya di kantor jika aku mau." Sahutnya dingin. Jawaban Agatha membuat Yuna sedikit kesal, pikirannya juga semakin kacau. Dia merasa ada hubungan antara Chandra dan wanita itu.


"Kamu tidak menyuruhku masuk.? Ada hal yang harus aku bicarakan." Ucapnya santai.


Yuna menarik nafas dalam, mencoba tenang untuk menghadapi wanita di depannya.


"Silahkan masuk."


"Terima kasih." Wanita itu mengikuti langkah Yuna ke ruang tamu dan langsung duduk di sofa. Manik matanya mengamati kesemua sudut rumah.


"Pasti menyenangkan bukan memiliki suami kaya raya seperti Chandra." Ucapnya dengan nada menyindir. Yuna membulatkan mata, merasa kesal mendengarnya.


"Tentu saja.".Jawab Yuna ketus. Dia duduk di depan wanita itu dan memberikan tatapan tajam pada tamunya yang tidak memiliki sopan santun dalam berbicara.


Agatha terkekeh melihat reaksi Yuna yang terlihat kesal padanya.


"Apa kamu tau hubunganku dengan Chandra.?" Tanyanya santai. Dia mengangkat sebelah kakinya untuk disilangkan.


Yuna diam, dia sudah tidak bisa lagi berfikir jernih. Dalam pikirannya hanya ada hal buruk tentang Chandra dan wanita yang ada di hadapannya. Pertanyaan itu seolah memperkuat jika ada sesuatu di antara mereka.


Pandangan Yuna semakin menerawang. Dia takut kejadian dulu terulang lagi. Takut jika ternyata selama ini Chandra memiliki hubungan dengan wanita lain jauh sebelum menikahinya.


"Aku akan menelfon Mas Andra untuk menyuruhnya kembali ke rumah." Yuna hendak beranjak dari duduknya, namun wanita itu menahan Yuna.


"Kamu harus mendengarkan pengakuanku lebih dulu." Ujarnya.


"Kalau Chandra datang, dia pasti akan pura-pura tidak mengenaliku." Agatha tersenyum penuh arti.