Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 134


Barra mengutarakan niatnya untuk menikahi Yuna dalam waktu dekat. Kabar itu di sambut bahagia oleh kedua orang tuanya, begitu juga dengan Sisil.


Dia yang paling histeris dan antusias saat mendengar kabar itu. Antara bahagia dan bingung kenapa tiba-tiba mereka memutuskan untuk menikah secepat itu. Padahal menurut pengamatannya selama ini, Yuna tak kunjung memberikan sinyal untuk kembali bersama .Barra.


"Oppa tidak bercanda kan.?" Tanya Sisil.


"Memangnya sejak kapan aku suka bercanda." Jawab Barra datar.


"Oh ya ampun,, akhirnya setelah belasan tahun Oppa ku yang tampan ini bisa menikahi pujaan hatinya." Seru Sisil, matanya berbinar karna terlalu bahagia. Pernikahan Barra dan Yuna yang dia inginkan selama ini akhirnya akan segera terlaksana. Dia tak perlu lagi memikirkan nasib ketiga ponakannya serta kakak satu-satunya itu. Harapan Sisil tentu saja kebahagiaan menyertai keluarga kecil mereka nantinya.


"Jadi kapan kalian akan menikah.? Mom dan Dad mungkin tidak akan banyak membantu untuk acaranya nanti, tapi yang pasti akan mendampingi kamu dan mendoakan yang terbaik." Tuturnya dengan suara lirih. Mom Sonya tak lagi muda, dia bahkan sudah kesulitan untuk berjalan, begitu juga dengan Dad Hendra yang justru sudah sakit-sakitan.


Dia usianya yang senja, mereka berdua hanya mengharapkan agar bisa melihat putra mereka kembali bahagia setelah bertahun-tahun menyiksa diri sendiri dengan kesendiriannya.


"Minggu depan Mom. Yuna ingin pernikahan kami hanya di hadiri oleh keluarga saja dan tidak mau di tempat umum." Tutur Barra. Dia sudah menentukan untuk kelangsungan pernikahannya 1 minggu lagi, selain untuk memikirkan tempat acara, dia juga ingin memesan gaun untuk Yuna.


"Bagaimana kalau acaranya di Bali saja Oppa.? Kita bisa menyewa resort yang tertutup dan acaranya di halaman resort saja." Ujar Sisil berpendapat. Dia sangat antusias memikirkan acara pernikahan itu. Sudah membayangkan harus seperti apa konsepnya untuk acara pernikahan Barra dan Yuna yang tak lagi muda.


"Jangan ikut campur." Tegur Nicho datar. Sepertinya dia tak mau membuat istrinya kembali bermasalah dengan Barra.


"Maaf,," Ucap Sisil, dia lalu tak berani bersuara lagi setelah di tegur oleh suaminya.


"Dad hanya bisa mendoakan, semoga pernikahan kamu lancar."


"Anak-anak pasti akan bahagia setelah kamu dan Yuna bersatu. Mereka menang membutuhkan orang tua yang lengkap." Tutur Dad Hendra.


"Terimakasih Dad."


"Sepertinya aku akan mengikuti saran Sisil kali ini. Semuanya akan terbang ke Bali minggu depan sekalian liburan bersama." Barra langsung merasa cocok dengan ide yang diberikan oleh Sisil.


Momen bahagia itu sekaligus bisa untuk. berlibur bersama agar kedekatan dan keharmonisan kedua keluarga bisa semakin kuat.


Sisil terlihat senang karna Barra mau menerima saran darinya. Namun dia tak mengatakan apa apapun dan hanya tersenyum saja.


...*****...


Yuna fokus dengan pekerjaannya di depan laptop. Padahal sebentar lagi waktunya jam makan siang, tapi masih menyibukkan diri.


"Yun,,," Panggil Nitha begitu masuk kembali ke dalam ruangan. Tadi dia pamit untuk mengambil makanan di lantai bawah setelah memesannya.


"Kamu makan duluan saja Nit, tanggung nih." Ucap Yuna tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


"Memangnya siapa yang mau ngajakin kamu makan." Jawab Nitha cepat.


"Ada ex husband tuh di depan, dia nyariin kamu." Tuturnya sembari menahan senyum gemas. Mendengar hal itu, Yuna langsung mengangkat wajah untuk menatap Nitha.


"Ya ampun giliran di cariin mantan suami langsung gerak cepat." Seru Nitha sembari menggeleng heran.


"Bukan begitu, tapi dia nggak bilang kalau mau datang." Sangkal Yuna. Bukan masalah gerak cepat, tapi memang bingung dan heran dengan kedatangan Barra yang tiba-tiba.


"Siapa tau mau ngasih surprise, masa iya harus bilang dulu." Jawab Nitha.


"Cepetan keluar gih, takutnya kelamaan nunggu nanti malah di lirik sama karyawan kamu."


"Jaman sekarang tuh banyak gadis-gadis yang doyan sama om-om, katanya lebih mateng dan menantang. Apa lagi kalau om-omnya kayak mantan suami kamu." Tutur Nitha sambil mengulas senyum. Yuna hanya menggeleng heran dan beranjak dari duduknya.


Barra berdiri dari duduknya saat melihat Yuna keluar dari ruangan kerja. Sudut bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyum tipis dengan sejuta rasa di dalamnya. Tatapan mata Barra tak pernah bisa berbohong, selalu ada cinta setiap kali menatap wajah cantik itu.


"Ada apa Mas.?" Tanya Yuna, dia berjalan mendekat ke arah Barra.


"Apa kamu sibuk.?"


"Ya sudah, besok saja aku datang lagi." Barra tak mau memaksakan kehendak di saat Yuna sedang banyak pekerjaan, meskipun kedatangannya kemari untuk kepentingan acara pernikahan mereka.


"Memangnya ada apa.?" Yuna mencegah Barra yang hendak melangkah pergi.


"Kita belum mencari cincin dan fitting baju,," Ucap Barra ragu. Dia merasa terlalu percaya diri mengajak Yuna mencari cincin dan memilih baju pengantin untuk di coba. Sedangkan Yuna terlihat biasa saja menyambut hari pernikahan yang hanya beberapa hari lagi.


Yuna tampak diam sesaat, seperti memikirkan sesuatu.


"Tunggu sebentar, aku mau mengambil tas dan menitipkan pekerjaan pada Nitha." Ucapnya lalu masuk ke dalam ruang kerjanya lagi.


Barra langsung menghembuskan nafas lega, senang karya Yuna tak menolak ajakannya.


Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil. Sudah beberapa menit berlalu tapi masih saling diam.


"Kamu mau makan siang dulu.?" Tawar Barra. Dia baru berani bertanya, padahal sejak tadi sudah ingin menanyakan hal itu.


"Sebaiknya makan dulu, jangan sampai telat makan." Jawab Yuna sembari menatap arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.


"Baiklah." Barra melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan. Setelah makan siang, dia akan mengajak Yuna untuk pergi ke toko perhiasan ternama yang ada di sana.


Seharusnya Barra datang lebih awal, tapi tiba-tiba mengadakan rapat karna ada sedikit kendala di perusahaan.


Tak banyak percakapan yang terjadi saat makan siang bersama. Keduanya sama-sama fokus untuk menyantap makan siang hingga habis.


"Sabtu ini kita terbang ke Bali, acara pernikahannya digelar di sana." Tutur Barra setelah selesai makan.


Yuna tampak mengangguk saja, sejak awal dia memang menyerahkan semuanya pada Barra dan akan menerima apapun keputusannya untuk acara pernikahannya itu.


"Bukan di tempat umum kan.?" Tanya Yuna memastikan.


"Tidak. Aku sudah menyewa resort yang tertutup." Jawab Barra.


Yuna tampak lega mendengarnya.


...****...


"Kamu lebih suka yang mana.?" Tanya Barra setelah pelayanan toko mengeluarkan cincin couple terbaik di toko itu.


"Semuanya bagus, Mas Barra saja yang pilihkan." Kata Yuna. Dia terlihat enggan untuk memilih sendiri.


Melihat hal itu, Barra mengambil cincin yang menurutnya paling cocok untuk Yuna.


"Berikan tanganmu, ini harus di coba dulu." Kata Barra sembari mengulurkan tangannya untuk meminta tangan kiri Yuna.


Wanita itu langsung mengangkat tangannya, menyodorkannya pada Barra tanpa mengatakan apapun.


Barra tersenyum dalam hati, memegang tangan Yuna dan sebelah tangannya lagi siap memasangkan cincin di hari manisnya.


Ini bukan pertama kalinya dia memasangkan cincin di jari wanita, namun rasanya sangat berbeda.


"Cantik, sangat cocok untukmu." Komentarnya begitu cincin disematkan pada jari manis Yuna.


"Ukurannya juga pas." Tambahnya lagi.


Yuna tampak diam sembari menatap cincin yang baru terpasang di jari manisnya.


Sementara itu, Barra mencoba sendiri cincin miliknya. Dia langsung membeli cincin pernikahan itu karna pas di jarinya dan jari Yuna.