
Barra bergegas masuk ke ruangan Yuna begitu sampai di di rumah sakit. Sudah 1 jam lebih meninggalkan Yuna sendirian di sana, khawatir Yuna membutuhkan sesuatu atau ingin pergi ke toilet. Meski tau kalau ada perawat yang akan menjaga dan membantu Yuna, tapi Barra tetap tidak tenang berlama-lama meninggalkan istrinya itu.
Kedatangannya langsung di sambut dengan tatapan tajam penuh kebencian dari Yuna. Wajahnya terlihat memerah, namun masih diam dan tidak memberikan respon apapun saat Barra menghampirinya setelah meletakkan tas baju di atas sofa.
"Yuna,, kamu kenapa.?" Tanya Barra lembut. Dia mengusap pucuk kepala Yuna yang tengah duduk bersender.
Tiba-tiba Yuna mencekal tangan Barra, menyingkirkannya dari kepala dengan gerakan pelan namun genggaman tangannya cukup kuat. Sorot matanya juga semakin tajam.
"Tugasku sudah selesai.! Pergi dan ambilah baby boy untuk Mba Cindy.!" Seru Yuna tegas.
"Mari bercerai.!" Ujarnya penuh penekanan.
Sedikitpun tidak ada keraguan dalam diri Yuna untuk bercerai dari Barra.
"Yuna, apa yang kamu katakan." Tegur Barra.
"Aku nggak akan membawa baby boy, kita juga nggak akan bercerai."
Barra sudah memutuskan untuk tidak mengambil baby boy dari tangan Yuna. Hanya baby boy yang Yuna miliki setelah berjuang melahirkan baby twins. Kejam rasanya jika harus memisahkan Yuna dengan baby dan memberikannya pada Cindy. Sedangkan Cindy tidak merasakan bagaimana perjuangan dan sakitnya Yuna melewati masa-masa itu.
Barra berfikir akan mengadopsi bayi laki-laki yang nantinya akan menjadi anak yang pura-pura terlahir dari rahim Cindy. Itu jauh lebih baik dari pada harus membuat Yuna kehilangan semua anaknya.
Meski rencana itu belum di bicarakan dengan Cindy, tapi Barra yakin Cindy akan menerimanya dengan baik dan bisa memahami keadaan Yuna.
"Kenapa Mas Barra berubah pikiran.?!"
"Mas Barra nggak tega liat aku kehilangan baby twins.?!"
"Aku tau baby girl sudah meninggal, jadi ambil saja baby boy untuk kalian berdua.!"
"Sejak masih di dalam kandungan, baby boy sudah menjadi anak Mba Cindy. Jadi tunggu apa lagi.? Ambillah dan bawa pergi dari sini."
Tutur Yuna berapi-api.
Dia tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Mungkin dia tidak lagi mempunyai hati atau bahkan hatinya telah mati akibat rada sakit yang luar biasa hingga mampu menghancurkan seluruh hatinya.
Itu sebabnya bisa dengan mudah menyerahkan baby boy pada Barra agar segera di berikan untuk Cindy.
Nyatanya kedua manusia itu yang telah menorehkan luka hingga membuat Yuna menjadi dingin dan tidak berperasaan.
"Jadi kamu sudah tau kalau,,,
"Mba Cindy yang bilang padaku." Potong Yuna cepat.
"Cepat bawa pergi baby boy sebelum aku berubah pikiran.!" Teriak Yuna. Dia sudah muak berhadapan dengan Barra dan Cindy. Selama ini menahan diri untuk tetap baik di depan mereka dengan menuruti keinginan mereka. Menjadikan dirinya seperti robot untuk pasangan suami istri yang terlalu egois.
"Aku nggak akan pernah membawa baby boy pergi, dia akan tetap bersama kamu." Barra terus menolak. Mana mungkin dia tega melakukannya itu. Yuna sudah terlalu menderita akibat keegoisannya.
"Terserah.! Yang jelas aku juga nggak akan membawanya."
"Sekarang kita selesaikan saja pernikahan kontrak ini, tidak perlu menunggu 1 tahun. Sekarang saja ceraikan aku.!" Pinta Yuna.
Dia ingin cepat-cepat lepas dari Barra dan tidak ingin berusaha lagi dengan mereka berdua.
"Kenapa kamu berubah pikiran.? Bukankah kamu sudah bersedia untuk membatalkan perjanjian itu.? Kamu sudah setuju untuk tetap menjadi istriku." Barra mengingatkan kembali saat Yuna bersedia untuk tetap menjadi istrinya setelah Cindy memintanya.
Yuna terkekeh. Dia seolah sedang menertawakan Barra yang percaya begitu saja dengan ucapannya.
"Aku,? Berubah pikiran.?" Tanya Yuna dengan senyum smirk.
"Sejak awal perjanjian ini dibuat oleh Mas Barra, tapi lihat sekarang.? Mas Barra sendiri yang membatalkannya." Jelas Yuna. Senyum smirk terus mengembang di bibirnya. Dia tidak habis pikir dengan isi hati dan isi kepala Barra yang menggelikan sebagai laki-laki. Tidak berpendirian.
"Lalu, Mba Cindy yang sejak awal menyuruh Mas Barra untuk menikah lagi. Dia bilang ikhlas membiarkan Mas Barra menikah lagi demi kebahagiaan Mas Barra agar bisa merasakan memiliki anak.!" Yuna tertawa geli setelah mengatakan itu.
"BULSHIT.!!" seru Yuna penuh penekanan.
"Apa Mas Barra ingin tau apa yang sering dikatakan Mba Cindy padaku 1 bulan terakhir.?!!" Ujar Yuna menantang.
"Dia cemburu, dia khawatir kehilangan cinta dan perhatian Mas Barra."
"Berulang kali memintaku untuk melepaskan Mas Barra setelah melahirkan.!"
"Lalu dimana letak ikhlas yang dia maksud.?!"
"Setelah tau akan mendapatkan anakku, dia dengan mudahnya menyuruhku pergi." Yuna tersenyum sinis. Setiap kali membaca pesan yang dikirimkan oleh Cindy, Yuna selalu tertawa sendiri dalam hati sambil membalas pesannya dan mengatakan tidak akan meninggalkan Barra kalau bukan Barra sendiri yang menceraikannya. Padahal Yuna hanya ingin memancing Cindy agar sifat aslinya semakin terlihat.
"Dia pikir dia siapa.?!!" Sinis Yuna.
"Bahkan tanpa dia minta sekalipun, sejak awal memang aku sudah merencanakan untuk berpisah.!"
"Kalian terlalu percaya diri, menganggap aku bisa di gerakan dalam genggaman.!"
Barra yang sejak tadi diam, terlihat begitu tertampar dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Yuna. Dia pikir Yuna benar-benar ingin bertahan sebagai istri keduanya dan bisa hidup berdampingan dengan Cindy. Tapi ternyata tidak semudah yang dia bayangkan.
"Bahkan sebelum aku mengalami semua ini, Mba Cindy sempat mengirimkan pesan padaku. Pesan yang sama yang hampir setiap hari dia kirimkan padaku."
"Dengan tidak tau malunya dia mohon padaku untuk melepaskan Mas Barra. Memangnya siapa yang menginginkan pernikahan ini terjadi.?" Yuna menatap dengan sorot mata jijik. Kedua pasangan itu memang sama saja.
"Sekarang ceraikan aku, mudah untuk melakukannya karna kita hanya menikah secara agama. Mas Barra hanya perlu bilang, Yuna Anindya mulai hari ini kamu bukan istri saya lagi.!" Kata Yuna penuh penekanan. Memberi tau Barra bagaimana cara untuk menceraikan.
"Selesai, semudah itu menceraikanku.!" Ujarnya santai. Namun tidak dengan Barra yang terlihat kecewa dengan Yuna.
"Itu nggak akan pernah terjadi, aku mencintaimu Yuna. Mana mungkin aku menceritakanmu. Kamu juga harus ingat ada baby boy." Barra tetap tidak mau untuk mengakhiri pernikahannya dengan Yuna.
"Hahaha,, Cinta.? Mas Barra mencintai ku.?" Suara tawa Yuna menggema.
"Tapi sayang sekali aku nggak pernah mencintai Mas Barra sedikitpun.!" Tegasnya.
"Sepertinya sandiwaraku selama ini sukses."
"Setidaknya kamu harus memikirkan baby boy." Pinta Barra.
"Memikirkan baby boy.? Bukankah dia anak kamu dan Mba Cindy.?"
"Dia akan di rawat dan di besarkan oleh kedua orang tua yang sangat menginginkannya demi kebahagiaan kalian berdua."
"Keluar.! Aku ingin istirahat."
"Sebentar lagi Mama dan Nitha akan datang, mereka yang akan mengurus semuanya termasuk membatu Mas Barra untuk membawa baby boy pulang ke rumah Mba Cindy."
Yuna berbaring perlahan, lalu membelakangi Barra.
Dia tidak menoleh atau menjawab meski Barra masih terus mengajaknya bicara dan memohon.
...****...
vote nya manaaaa?? 🤪 vote yang banyak dong, 🥰