Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 140


Sinar mentari mulai menyusup dari celah jendela kamar yang hanya di tutup tirai putih yang transparan.


Dua sejoli penunggu kamar masih terlihat pulas setelah merengkuh kenikmatan berulang kali tadi malam. Walaupun tanpa penyatuan, tetap saja mereka mengeluarkan tenaga saat melakukan pelepasan.


Tubuh polos keduanya di balut selimut yang sama. Tanpa ada jarak, saling menempel bahkan Barra memeluk erat tubuh Yuna dari belakang.


Pemandangan romantis dan intim itu harusnya menandakan jika hubungan mereka baik-baik saja dan penuh dengan cinta. Tapi pada kenyataannya, apa yang di lihat oleh mata tak selalu sama dengan realita.


Cahaya matahari itu mulai menyilaukan mata Yuna, dia berbalik badan hingga saling berhadapan dengan Barra untuk menghindari cahaya matahari yang mengenai matanya.


Sepertinya Yuna masih sangat mengantuk dan kelelahan. Dia balas memeluk erat tubuh Barra dalam keadaan mata yang masih terpejam.


Gerakan Yuna yang berbalik badan membuat Barra bangun dari tidurnya. Perlahan membuka lebar-lebar kedua matanya sampai bisa melihat dengan jelas wajah Yuna yang berada tepat di depan wajahnya.


Barra mengulas senyum tipis, pagi ke 5 bersama Yuna terasa sangat indah dan hangat di banding dengan pagi sebelumya.


Apa lagi saat menginginkan kejadian tadi malam. Suatu kemajuan yang signifikan antara dia dan Yuna meski harus menggunakan jalan pintas.


Tapi setidaknya Yuna mau memberikan service atas kemauannya sendiri tanpa adanya paksaan.


"Sudah siang Yuna,, kamu tidak lapar.?" Barra berbicara lirih. Tangannya menelusuri wajah Yuna dengan tatapan mengagumi. Wanita yang belasan tahun dia harapkan, kini sudah bisa dia tatap setiap bangun tidur.


"Eemmm,,," Yuna berdehem malas. Sedikitpun tak membuka mata ataupun menggerakkan badannya.


"Sudah jam 8 lewat,,," Ujar Barra lagi.


"Kamu harus sarapan dulu." Kali ini Barra mengusap pipi Yuna sembari memberikan tepukan kecil untuk membangunkannya.


Perlahan Yuna membuka mata, ekspresinya seketika terlihat mau lu melihat wajah Barra tepat di depannya. Terlebih Barra bertelanjang dada.


Yuna ingat dengan kegiatan tadi malam yang cukup panas walaupun tanpa penyatuan.


Dia terdiam, mulai bertanya pada dirinya sendiri akan perasaannya terhadap Barra. Harusnya dia tak melakukan hal itu, tapi justru menawarkan diri untuk memberikan kepuasan pada Barra.


Mungkinkah dia sudah bisa menerima kehadiran Barra.? Apa mungkin secepat itu.? Yuna benar-benar bingung dan tau jawabannya.


Dalam hatinya saat ini tentu saja belum ada nama Barra. Yang membuat Yuna tak habis pikir, tubuhnya menginginkan sentuhan Barra.


"Kenapa malah bengong.? Ayo mandi." Barra menyingkap selimut yang tadi hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Mata Yuna seketika membulat sempurna melihat tubuh polos Barra.


Rasanya saat malu, padahal tadi malam dia baru saja menjelajahi tubuh yang di penuhi dengan otot-otot itu.


"Ayo Yuna, sudah siang. Aku sudah lapar." Bujuk Barra dengan suara beratnya yang lembut.


"Mau aku gendong ke kamar mandi seperti dulu.?" Tawarnya. Barra menginginkan Yuna dengan malam pertama mereka di pernikahan sebelumnya.


Yuna menggeleng cepat, malu jika harus di gendong oleh Barra. Lagipula usia Barra tak lagi muda seperti dulu, Yuna tak yakin Barra masih kuat menggendongnya.


"Mas Barra mandi duluan saja." Ucap Yuna lirih.


"Terlalu lama jika mandi sendiri-sendiri. Lebih baik mempersingkat waktu." Tutur Barra.


"Lagipula tak ada salahnya mandi bersama."


"Sini biar aku gandong." Barra lebih dulu turun dari ranjang, dia langsung mengangkat tubuh Yuna meski istrinya itu terlihat memberikan penolakan.


Pada akhirnya mereka mandi bersama, namun sama-sama fokus membersihkan diri sendiri.


...*****...


Keduanya di jemput oleh supir dari bandara.


"Kita belum memutuskan akan tinggal di mana." Ucap Barra. Dia melirik Yuna yang duduk di sebelahnya, wanita itu sejak tadi diam saja.


"Apa kami harus pindah.?" Tanya Yuna.


Sejujurnya tidak siap jika harus meninggalkan rumah yang selama belasan tahun dia tempati. Terlalu banyak kenangan indah tercipta di sana.


Di mana anak-anak tumbuh dan besar di rumah itu. Yuna rasa, Brian juga akan keberatan jika harus pindah dari rumah itu. Bahkan mungkin twins pun berat untuk pindah.


"Apartemen kurang besar untuk ditinggali bersama anak-anak. Kita bisa mencari rumah baru kalau kamu mau, atau tetap tinggal di rumah kamu yang sekarang kalau kamu keberatan untuk pindah."


Tutur Barra lembut. Dia juga tak mau memaksakan kehendak. Walaupun memang rumah itu pemberian dari Chandra yang bisa saja akan membuat Yuna terus mengingatnya.


"Sebaiknya pulang dulu ke rumah, kita bicarakan dengan anak-anak nanti,," Kata Yuna, nampak dia juga tak bisa memberikan keputusan. Enggan mengambil keputusan sendiri karna akan tinggal bersama.


...*****...


Mereka sampai dj rumah pukul 10 malam. Anak-anak sudah tertidur, rumah dalam keadaan sepi, hanya ada satu pekerja rumah yang masih menyelesaikan pekerjaan di dapur.


Keduanya naik ke lantai dua. Koper milik mereka sudah di bawa naik oleh penjaga rumah.


Yuna menghentikan langkah di depan pintu kamar yang tak pernah di tempati. Barra ikut berhenti, dia terlihat ragu menatap pintu kamar itu.


"Jangan khawatir, ini bukan kamarku." Ujar Yuna. Sepertinya dia bisa membaca keraguan dari sorot mata Barra. Suaminya itu pasti berfikir jika kamar yang akan merek tempati adalah kamar yang biasa do tempati oleh Yuna dan Chandra dulu.


"Kita tidur disini saja." Ucapnya lagi, Yuna membuka pintu dan mempersilahkan Barra untuk masuk.


Barra menghela nafas lega, rupanya Yuna masih memikirkan perasaannya dengan membawanya ke kamar lain. Tapi bisa saja Yuna Melakukan hal itu bukan untuk menjaga perasaan Barra, mungkin karna tidak mau kamarnya di masuki olehnya karna banyak kenangan bersama Chandra.


Namun Barra tak mau memikirkan hal itu lebih jauh, apalagi bertanya pada Yuna.


...****...


"Mas, bangun,,," Yuna menggoncang pelan lengan Barra. Laki-laki itu masih pulas tertidur dalam keadaan tengkurap. Sejak tadi tidak berani membangunkan Barra karna terlihat kelelahan. Tapi sekarang anak-anak sudah menunggu di meja makan.


"Hemm,, aku mandi dulu,,," perlahan Barra beranjak dari ranjang.


"Kelamaan, anak-anak mau sekolah. Mereka akan telat kalau menunggu Mas Barra mandi,," Tuturnya.


"Cuci muka dan gosok gigi saja, aku tunggu di bawah." Yuna hendak beranjak, tapi tangannya di tahan oleh Barra.


"Disini dulu, kita ke bawah sama-sama." Pinta Barra. Dia menyuruh Yuna untuk duduk di sisi ranjang. Yuna tak memberikan respon apapun tapi menurut dengan ucapan Barra.


Cuppp,,,


Kecupan singkat mendarat di kening Yuna. Barra mengulas senyum lebar setelahnya.


"Morning kiss." Katanya, lalu beranjak pergi ke kamar mandi.


Yuna diam di tempat, tangannya reflek memegang bekas kecupan Barra di keningnya.


...****...


maaf telat up, dri pagi di prjalanan (mudik).


next cuma up 1 kali sehari. 🙏🏻 harap maklum