Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 106


Siang itu Yuna sedang berada di ruang kerjanya. Sejak menikah dengan Chandra, Yuna membatasi waktu bekerjanya. Selalu pulang ke rumah lebih awal karna Chandra terus mengingatkan Yuna agar tidak kelelahan dan memperbanyak waktu di rumah untuk twins serta dirinya.


Dering ponsel membuat pandangan Yuna beralih dari layar laptopnya. Dia mengambil ponsel yang sejak tadi ada di atas meja. Sudut bibirnya terangkat, melihat nama Chandra yang tertera di layar ponselnya. Laki-laki itu tak pernah lupa menelfonnya setiap hari untuk mengingatkan makan siang.


"Mas,,," Sapa Yuna dengan senyum yang semakin merekah. Chandra berkali-kali lipat lebih tampan dan menggoda dengan setelan jasnya. Entah kenapa dulu Yuna tidak pernah tertarik sedikitpun pada Chandra saat masih bekerja di perusahaannya. Di saat semua teman kerjanya tergila-gila pada Chandra, hanya dia saja yang tidak tertarik. Mungkin karna dulu belum berfikir untuk menjalin hubungan dengan siapapun, jadi tidak memiliki ketertarikan pada lawan jenis.


"Kamu sudah makan.?" Selalu pertanyaan itu yang keluar pertama kali dari mulut Chandra.


Yuna menggeleng ragu, pasalnya dia tau setelah ini Chandra akan bicara panjang lebar padanya.


Yuna hanya bisa mengangguk saja jika sudah seperti itu.


"Makan dulu, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu." Tutur Chandra setelah bicara panjang lebar menasehati Yuna. Meminta Yuna untuk selalu mementingkan kesehatannya.


"Iya, aku akan makan setelah ini." Sahut Yuna.


"Sejak 2 bulan aku belum melihat kamu kedatangan tamu bulanan. Apa Chandra junior sudah hadir di perut kamu.?" Tanya Chandra. Dia menebak sekaligus berharap benihnya berkembang di rahim Yuna. Karna sejak awal dia ingin cepat memiliki anak dari wanita cantik itu.


Yuna terdiam, dia sama sekali tidak menyadari hal itu. Kalau saja Chandra tidak bilang padanya, pasti sampai saat ini belum terpikirkan hal itu.


Memang benar yang dikatakan oleh Chandra, Sudah 2 bulan dia tidak haid, bahkan lebih dari 2 bulan.


"Sayang,,," Tegur Chandra.


"Hah.? i,,iya,,," Lamunan Yuna buyar.


"Jadwal haidku tidak teratur, terkadang memang telat 2 atau 3 bulan." Tutur Yuna.


"Sekarang aku tidak merasakan apapun." Ujarnya lagi. Penjelasan Yuna sedikit membuat Chandra kecewa, terlihat dari sorot matanya. Dia sudah berharap dugaannya benar, tapi Yuna menyangkalnya secara tidak langsung.


"Kalau begitu aku makan dulu, sampai jumpa di rumah." Pamit Yuna.


Chandra mengangguk


"I love you,," Ucapnya sebelum menutup panggilan telfon.


"I love you too." Balas Yuna cepat.


Begitu Chandra mematikan sambungan telfonnya, Yuna bergegas keluar ruang kerjanya dan pamit pada Nitha untuk pulang lebih awal.


"Pengantin baru lama banget angetnya. Udah 2 bulan masih aja ngebet." Goda Nitha.


Yuna langsung menepuk lengan Nitha.


"Sejak kapan pikiran kamu jadi jalan soal begituan." Balas Yuna.


"Buruan nikah, udah kelewat dewasa pikiran kamu." Yuna balas meledek.


"Ini juga lagi nungguin jodoh Yun, kali aja tiba-tiba datang di depan mata." Sahut Nitha sembari terkekeh, dia hanya menjawab asal karna pada kenyataannya belum tertarik memikirkan kehidupan rumah tangga. Mengingat bagaimana kehidupan rumah tangga Yuna yang rumit dan terlalu menyedihkan, dia jadi takut untuk menjalani bahtera rumah tangga.


"Aamiiinnnn,,,," Seru Yuna.


"Semoga cepet-cepet datang jodoh kamu." Ujarnya sembari berlalu.


Dia buru-buru ingin pergi ke apotik karna penasaran. Ingin memastikan dugaan Chandra.


Sejujurnya Yuna sendiri merasa sangat yakin kalau saat ini di rahimnya ada darah daging Chandra. Karna selama ini Yuna tidak pernah telat kedatangan tamu bulanan.


...****...


"Mas,, bisa pulang sekarang.?"


Setelah mengirimkan pesan itu pada Chandra, Yuna langsung mematikan ponselnya. Dia juga menyuruh Mama Rena untuk mematikan ponselnya, begitu juga dengan ponsel pengasuh twins. Yuna juga sudah berpesan pada semua pekerja rumah untuk tidak menjawab telfon dari Chandra.


Dia ingin tau seberapa khawatirnya Chandra setelah mendapatkan pesan itu dan semua ponsel di rumah tidak bisa di hubungi. Walaupun Yuna bisa menebak kalau Chandra akan langsung pulang. Karna selama ini selalu memprioritaskan keluarga kecilnya.


"Yuna,,,!!"


"Sayang,,,!!" Teriak Chandra. Manik matanya diarahkan kesemua sudut ruangan.


"Bu,,,!!" Dia juga mencari keberadaan Mama Rena. Tidak adanya canda tawa twins juga membuatnya semakin cemas.


Chandra bergegas menaiki tangga dalam keadaan berlari, tujuannya saat ini adalah kamar dia dan Yuna.


"Sayang,, kamu di dalam.?!" Serunya sembari membuka pintu kamar yang tidak terkunci.


Chandra menghentikan langkah, nafasnya tersenggal setelah berlari dan juga merasakan kepanikan.


Melihat Yuna tengah duduk disisi ranjang dalam keadaan menangis, membuat pikiran Chandra semakin tidak karuan. Dia langsung menghampiri Yuna dan mendekap erat wanita cantik itu. Yuna juga langsung memeluk Chandra dengan erat.


"Sayang,, ada apa.?! Kemana semua orang.??" Seru Chandra takut.


"Apa mereka baik-baik saja.?" Tanyanya lagi. Dia lalu melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Yuna.


"Kami baik-baik saja.?" Tanyanya dengan tatapan yang begitu cemas.


"Katakan padaku dimana mereka.?"


Yuna tidak menjawab apapun, dia menunjuk sebuah kotak yang ada di atas nakas.


Melihat hal itu, Chandra bergegas mengambilnya. Buru-buru membuka kotak itu dengan gerakan cepat. Yuna terlihat mengulum senyum tanpa di sadari oleh Chandra.


"Apa ini.?" Mata Chandra seketika berbinar melihat alat tes kehamilan dengan garis 2 di dalam kotak itu. Dia mengambilnya dan menunjukkan pada Yuna.


"Sayang,, kamu,,,?"


Yuna langsung menganggukan kepala dengan senyum yang merekah.


Chandra terlihat tidak bisa berkata-kata, air matanya bahkan tumpah. Dia mendekat dan kembali menarik Yuna dalam pelukannya.


"Kenapa harus membuatku takut lebih dulu,," Keluhnya. Chandra sudah berfikir macam-macam karna semua orang tidak ada di rumah, dia takut seseorang telah melakukan sesuatu pada mereka.


"Terimakasih sayang,," Ucapnya sembari mengecup kening Yuna dan mengusap perutnya. Kehadiran seorang anak menang sudah ia tunggu-tunggu.


"Maaf sudah membuat kamu panik." Ucap Yuna. Dia tersenyum sambil menatap lekat wajah Chandra yang terlihat begitu bahagia. Sungguh pemandangan yang sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.


"Jangan lakukan hal seperti ini lagi, kamu benar-benar membuatku takut." Pintanya, dia lalu memagut sekilas bibir Yuna dengan penuh cinta. Chandra mungkin tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Yuna, twins dan Mama Rena.


Chandra berjongkok di depan Yuna, wajahnya sejajar dengan perut Yuna. Satu tangannya merangkul pinggang Yuna, dan sebelah tangannya lagi mengusap perut Yuna dengan lembut.


"Jadi didalam sini ada anakku.?" Gumamnya. Senyumnya semakin terlihat merekah. Kebahagiaan benar-benar menyelimutinya.


"Selamat datang sayang,,," Sapa Chandra. Dia mendaratkan kecupan di perut Yuna. Hal itu membuat Yuna menangis. Tentunya menangis bahagia atas perlakuan manis Chandra padanya.


Reaksi Chandra di luar dugaannya. Ternyata Chandra jauh terlihat senang dan bahagia dari bayangannya.


"Ayo ke dokter, aku tidak sabar ingin melihatnya." Ajak Chandra. Dia begitu antusias dengan kehadiran darah dagingnya di dalam rahim Yuna.


Yuna mengangguk, tapi dia kembali merentangkan tangan untuk menghambur ke pelukan Chandra.


Memiliki Chandra adalah kebahagiaanmu yang tak ternilai, melengkapi kebahagiaannya bersama twins. Yuna berharap kebahagiaan ini tak hanya sementara, tapi selamanya hingga maut memisahkan.


...******...


...Rekomendasi novel "Terjebak Perjodohan"...