
"Kenapa.?" Yuna menatap heran pada Barra yang sejak tadi diam. Memberikan tatapan dalam namun dengan ekspresi sendu.
Barra meletakkan sendok dan garpu di piringnya. Makanan miliknya belum habis, tapi seperti ingin menyudahi sarapannya.
"Apa keluarga kecil kita dan pernikahan ini tidak berarti untuk kamu.?" Suara Barra terdengar berat. Sangat lirih dan begitu tercekat. Matanya menatap penuh harap. Barra menginginkan sebuah keajaiban yang mungkin akan mengubah hati dan keinginan Yuna untuk tidak bercerai.
Yuna menghela nafas, terlihat jengah membahas hal ini lagi.
"Aku sudah susah payah mengontrol mood ku agar tetap baik. Semua ini aku lakukan demi menuruti keinginan Mas Barra yang mau menciptakan kenangan indah sebelum berpisah."
"Jangan karna aku selalu menurut, Mas Barra jadi terus mendesak ku seperti ini." Keluh Yuna kesal. Namun dia masih bicara dengan nada rendah.
Ekspresi wajahnya jelas menunjukkan kesabaran yang sudah sampai di batas akhir.
"Jangan menjadi orang yang mudah berubah pikiran. Mas Barra sudah sepakat untuk menceraikanku, aku harap Mas Barra akan menepatinya."
"Aku nggak mau mendengar alasan apapun lagi setelah ini."
Yuna meletakkan mangkuk yang sudah kosong, lalu memberikan minum pada Kenzie dan Kinara.
Barra masih diam, terus menatap sendu pada istri dan kedua anaknya.
"Aku pikir setelah melewati liburan bersama, kamu akan mengurungkan niat untuk berpisah." Ucap Barra lirih.
Yuna langsung menoleh dan mengulas senyum smirknya.
"Sepertinya Mas Barra belum mengenalku dengan baik." Yuna menyindir halus.
"Jika Mas Barra berfikir aku akan tetap mempertahankan pernikahan setelah pulang dari Paris, itu salah besar." Seulas senyum tipis tercetak di bibir Yuna.
"Aku bukan Mas Barra atau Mba Cindy yang mudah mengubah keputusan sesuka hati." Yuna menekankan kalimatnya.
"Hari ini bilang iya, besok bilang tidak." Serunya dengan senyum sinis.
Dia mengingat sikap plin-plan Barra dan Cindy sejak awal pernikahannya dengan Barra. Entah sudah berapa kali keduanya berubah pikiran.
Awalnya di minta untuk bertahan menjadi istri kedua, lalu di tengah perjalanan di minta untuk mundur, setelah itu diminta lagi untuk bertahan. Bisa saja nanti akan diminta untuk pergi jika dia masih melanjutkan pernikahan ini.
"Aku tidak siap melepaskan kalian." Barra tertunduk lesu. Dadanya terasa sesak mengingat perpisahan yang akan terjadi dalam hitungan hari.
"Itu namanya resiko." Sahut Yuna tegas.
"Ada sebab ada akibat.!" Yuna menatap tajam.
Barra semakin terlihat sendu, dia sangat menyesali apa telah terjadi dalam hidupnya.
Perkataan Yuna memang benar, mungkin ini harga yang harus dia bayar atas apa yang dia perbuat.
Yuna menarik nafas dalam, mencoba untuk tenang dan tidak terbawa suasana lagi.
"Lagipula perceraian kita hanya akan memutuskan hubungan di antara aku dan Mas Barra, bukan memutuskan hubungan dengan anak-anak."
"Mereka akan tetap menjadi bagian hidup Mas Barra, aku juga nggak akan membatasi Mas Barra bertemu dengan anak-anak." Tutur Yuna. Nada bicara kembali normal.
"Aku mau ke toilet sebentar," Yuna beranjak dari duduk, dia bergegas pergi ke toilet.
Barra menggeser kursinya agar lebih dekat dengan baby twins. Dia tersenyum tipis pada kedua anaknya yang sejak tadi mengoceh dan menatap ke arahnya.
"Kalau kalian sudah bisa bicara, apa saat ini kalian akan membantu Papa untuk membujuk Mama.?" Barra bertanya pada baby twins. Dia sudah putus asa, kehilangan harapan untuk mempertahankan Yuna di sisinya.
Dia pikir liburan ini akan menjadi awal baik untuk hubungan dia dan Yuna, tapi nyatanya Yuna tidak mau mengubah keputusan.
"Kalau Mama dan Papa benar-benar berpisah, tolong jaga Mama kalian, jangan biarkan ada laki-laki yang mendekatinya." Ucap Barra lagi.
Meski terkesan tidak serius karna berbicara dengan bayi, namun ucapannya benar-benar dari hati. Barra memang tidak menginginkan hal itu terjadi.
Rasanya menyakitkan membayangkan Yuna hidup bersama laki-laki lain.
...****...
"Aww,,"
"Sorry," Ucap Yuna sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang hampir terjungkal ke belakang karna bertabrakan dengan seseorang.
Dia jalan buru-buru setelah keluar dari kamar mandi hingga tidak memperhatikan jalanan di depannya.
Dia takut Barra menunggunya karna telalu lama berada di toilet.
Saat menatap sosok yang dia tabrak, Yuna langsung terkejut.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja." Ucap Yuna tak enak hati. Dia terus membungkukkan kepala berulang kali.
"It's ok." Jawabannya singkat.
"Lama tidak melihatmu di kantor, ternyata sudah resign." Chandra mengulas senyum tipis. Senyum yang terkenal sangat mahal karna jarang di tunjukkan pada siapapun.
"Iy,,ya Pak." Yuna menjawab kaku. Dia tidak tau harus bersikap seperti apa pada mantan bosnya.
Dulu dia jarang berinteraksi meski beberapa kali di panggil ke ruangannya untuk membahas pekerjaan.
"So, kamu menetap disini sekarang.?" Chandra terlihat ingin mengetahui kehidupan Yuna setelah keluar dari perusahaannya.
"Tidak Pak,," Yuna menggeleng cepat.
"Saya,,,
"Yuna,,," Barra tiba-tiba datang, menghampiri Yuna sembari mendorong stroller.
"Ayo, kita harus berangkat sekarang." Sebelah tangan Barra menggandeng tangan Yuna. Dia hendak membawa Yuna pergi dari sana.
"Barra.?! Kamu Barra kan.?" Chandra menatap heran. Begitu juga dengan Barra yang langsung menghentikan langkah dan menatap Chandra dengan dahi berkerut. Berusaha untuk mengingat sosok Chandra yang mengenalinya.
"Gue Andra.!" Ucap Chandra sembari menepuk pundak Barra.
"Andra.?" Barra bengong melihat sosok Chandra yang memiliki penampilan 180 derajat dari penampilannya beberapa tahun saat masih kuliah.
Tampang fuckboy tidak lagi terlihat dari laki-laki yang dulu terkenal playboy.
"Lama nggak temu." Ujar Chandra.
"Yuna dan dua anak ini.?" Chandra menatap Yuna dan baby twins bergantian. Walaupun Chandra sudah bisa menebak kalau mereka ada hubungan, tapi Chandra bertanya dengan dengan tatapan bingung lantaran dia tau bahwa Barra sudah lama menikah dengan Cindy.
"Istri dan anakku." Jawab Barra.
Chandra terlihat kaget mendengar jawaban Barra.
"Istri dan anak.? Bukankah kamu dan,,
"Maaf Ndra, kami duluan." Barra memotong ucapan Chandra, dia kembali menggandeng tangan Yuna dan membawanya beranjak dari sana.
"Permisi Pak." Pamit Yuna sopan. Dia bejalan cepat menyeimbangkan langkah Barra.
"Bagaimana kamu bisa mengenalnya.?!" Tanya Barra dengan suara ketus. Dia membayangkan tatapan dan senyuman Chandra pada Yuna. Jelas sekali ada ketertarikan dari sorot matanya.
"Sama Pak Chandra.?" Ujarnya.
"Dia pemilik perusahaan tempat ku bekerja dulu."
Yuna perlahan menarik tangannya dari gandengan Barra.
"Sedekat apa hubungan kalian.?" Barra menatap serius, dia bahkan sampai menghentikan langkah hanya untuk menunggu jawaban dari Yuna.
"Sedekat apa bagaimana.?" Yuna balik bertanya dengan dahi yang berkerut. Dia bingung sendiri dengan pertanyaan Barra. Karna Yuna merasa pertanyaan itu tidak cocok di tanyakan padanya karna antara dia dan Chandra hanya sebatas atasan dan bawahan saja.
"Kalian terlihat sangat dekat." Ucap Barra dengan ekspresi dingin.
"Jadi maksudnya dekat di luar pekerjaan.?" Tanya Yuna lagi. Barra mengangguk tegas.
"Biasa saja, hanya sebatas atasan dan bawahan." Tutur Yuna.
"Kamu yakin.?" Tatapan mata Barra terlihat semakin mengintimidasi.
"Ya ampun, ada apa dengan Mas Barra.? Kenapa seperti sedang mencurigaiku.?" Yuna menatap tak suka. Barra seperti sedang menginterogasi seorang istri yang tertangkap basah memiliki hubungan dengan laki-laki lain.
"Karna aku tau siapa Andra,," Sahut Barra tegas.
"Memangnya seperti apa.? Pak Chandra atasan yang baik."
"Mungkin baik padamu karna ada maunya." Potong Barra cepat. Yuna semakin heran dengan sikap Barra, entah kenapa tiba-tiba sikapnya jadi aneh seperti ini.
"Mana aku tau." Yuna menjawab ketus. Dia mengambil alih stroller dari tangan Barra dan mendorongnya.
"Jadi pergi atau kembali ke kamar.?" Tanya Yuna tenpa menoleh pada Barra.
"Pergi.!" Sahut Barra kesal. Wajahnya terlihat masam. Dia masih saja memikirkan kedekatan Yuna dan Chandra.