
Yuna bangun lebih awal, setelah mandi dan menyiapkan baju untuk twins, dia membangunkan mereka agar segera mandi.
"Zie, Ara, bangun sayang,," Ucap Yuna sembari mengusap lembut kedua wajah mereka. Twins mengangguk bersamaan dalam keadaan mata yang masih terpejam.
"Ayo mandi, kita harus sarapan bersama setelah ini. Jangan sampai mereka menunggu."
"Iya Mah,," Jawab Zie sembari bangun dari ranjang.
"Kakak mandi duluan ya, Mama mau panggil Adek dulu." Yuna lalu beranjak dari ranjang.
Mama Rena yang sudah mandi lebih dulu, sedang menyiapkan keperluan yang akan mereka bawa selama keluar dari hotel untuk jalan-jalan.
Yuna berdiri di depan pintu kamar Barra dan menekan bell. Tak lama Barra membukakan pintu dan nampak baru saja bangun.
"Aku mau memanggil Brian, dia sudah bangun.?" Tanya Yuna.
"Brian masih tidur."
Barra menoleh ke dalam, melihat Brian yang masih terlelap. Semalam Brian tak kunjung tidur karna terus menangis dan bercerita banyak hal tentang Chandra.
Kepergian Chandra telah menorehkan luka dan duka yang mendalam untuk Brian. Bocah berusia 6 tahun itu memiliki banyak kenangan indah dengan Chandra yang membuatnya sangat merindukan Chandra.
"Bisa tolong bangunkan.? Dia harus mandi sekarang." Pinta Yuna.
"Biarkan saja, dia pasti masih lelah. Semalam dia tidak bisa tidur, terus menangis karna merindukan Papinya."
Penuturan Barra membuat Yuna terdiam seketika. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, tidak tega mendengar Brian menangis karna merindukan Chandra. Yuna tau betul bagaimana rasanya menangisi seseorang yang telah pergi untuk selamanya karna merasa rindu. Rasa sesak dan sakitnya bahkan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Yuna menarik nafas dalam, berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Tidak apa, tolong bangunkan saja." Yuna tetap bersikeras meminta Barra untuk membangunkan Brian.
"Sudah jam 7 lewat, bukannya harus sarapan bersama sebentar lagi.? Aku tidak mau membuat mereka menunggu." Ujarnya.
"Jangan khawatirkan hal itu, aku yang akan bilang pada mereka untuk menunggu."
"Biarkan Brian tidur sebentar lagi, aku yang akan memandikan dan menggantikan baju untuknya."
"Lihatlah, kamu tidak kasian padanya.?"
Barra memberikan ruang pada Yuna agar bisa melihat ke dalam kamar. Menunjukkan Brian yang masih terlelap di atas ranjang.
Yuna melihat sekilas, memang dia tidak tega membangunkan Brian, tapi merasa tidak enak jika harus membuat semua orang menunggunya.
"Tenang saja, mereka pasti akan mengerti." Barra kembali meyakinkan Yuna, dia tau Yuna takut membuat semua orang menunggu.
"Baiklah,, terimakasih sudah membantu menemani dan mengurus Brian." Ucap Yuna tulus. Dia lalu beranjak dari hadapan Barra, namun baru beberapa langkah, Barra menahan tangan Yuna.
"Jangan terlalu larut dalam kesedihan, kamu juga harus bahagia demi anak-anak." Ucap Barra.
"Maaf," Yuna menepis pelan tangan Barra.
"Aku mengerti. Tentu saja aku juga ingin bahagia, tapi tidak semudah yang mereka ucapkan padaku karna mereka tidak merasakannya."
"Aku ke kamar dulu." Yuna bergegas pamit dan kembali ke kamarnya.
Siapa yang tidak ingin bahagia.? Bisa kembali tersenyum lepas seperti dulu dan menjalani hidup dengan bahagia seperti saat Chandra masih berada disisinya.
Tapi jangankan untuk bahagia, tersenyum saja rasanya sangat sulit dan menyakitkan.
Orang lain mungkin mudah memintanya untuk tidak larut dalam kesedihan, karna mereka tidak bisa merasakan bagaimana hancurnya di tinggal pergi orang yang mereka cintai untuk selamanya.
...*****...
Yuna keluar dari kamar bersama twins dan Mama Rena setelah selesai bersiap. Dia kembali mendatangi kamar Barra karna sampai sekarang Brian belum di antar ke kamarnya.
"Pagi Kak Yuna,," Sapa Sisil yang baru saja keluar dari kamarnya. Mereka memang memesan kamar yang saling bersebelahan dan berhadapan.
"Pagi ponakan Aunty. Bagaimana tidur kalian.? Nyenyak tidak.?" Tanyanya pada twins.
Suasana di depan kamar semakin ramai setelah Jeje dan Kenzo juga keluar dari kamar mereka bersama anak-anak.
"Uhh ya ampun, adik ipar pagi-pagi rambutnya sudah basah." Goda Sisil. Dia memperhatikan rambut panjang Jeje yang masih terlihat basah.
"Kalian hot sekali." Godanya lagi.
"Sayang.!" Tegur Nicho. Entah kenapa Sisil suka sekali menggoda Jeje. Nicho tidak akan mempermasalahkan hal itu jika tidak ada orang lain di sana, terutama Kenzo.
"Kak Nicho tidak tau.? Sisil itu sebenernya mau juga," Balas Jeje.
"Semalam gagal ya.? Jangan-jangan dipergoki sama Kevin atau Aileen." Ledeknya.
"Sayang,, kamu dengar itu,," Sisil merengek pada Nicho.
Jeje tertawa puas melihat raut wajah Sisil yang cemberut, sepertinya tebakkannya memang benar.
"Siapa suruh meledekku." Ujar Jeje lagi.
"Sudah jangan diteruskan." Tegur Kenzo tenang. Dia merangkul mesra pinggang Jeje.
Yuna hanya tersenyum tipis mendengarkan perdebatan mereka.
"Itu Mom dan Dad." Sisil menunjuk Mom Sonya dan Daddy Hendra yang baru keluar dari kamar.
"Dimana Barra Oppa dan Brian.? Aku tidak melihat mereka." Tutur Sisil setelah memperhatikan semua orang dan hanya mereka berdua yang tidak ada di sana.
"Mereka masih di kamar, aku akan memanggil mereka." Yuna berjalan ke depan kamar Barra.
"Brian dan Barra Oppa tidur berdua.?" Tiba-tiba Sisil berada di belakang Yuna. Mantan adik iparnya itu terlihat penasaran sampai ingin melihatnya langsung.
"Iya, Brian yang meminta tidur dengan Mas Barra." Jawab Yuna sembari menekan bel.
"Aku senang Brian bisa semakin dekat dengan Oppa. Semoga dengan kedekatan mereka, bisa mengobati kerinduan Brian pada Papinya." Ucap Sisil sendu.
Yuna hanya menoleh lalu tersenyum tipis pada Sisil.
"Oppa ayo buruan, kami sudah lapar." Seru Sisil begitu Barra membuka pintu. Barra cuma melirik sekilas, tidak menanggapi adiknya yang protes. Barra lebih tertarik menatap ke arah Yuna yang tadi terlihat ingin bicara padanya.
"Apa Brian sudah bangun.?" Tanya Yuna.
"Sudah, dia baru selesai mandi. Tunggu sebentar, biar aku bantu pakaikan bajunya." Barra kemudian kembali masuk kedalam kamar dengan membiarkan pintu terbuka lebar.
"Kak Yuna mau masuk.?" Tanya Sisil, dia memperhatikan Yuna yang terlihat ingin menghampiri Brian tapi tidak berani masuk ke dalam kamar Barra.
"Ayo aku temani." Sisil menggandeng tangan Yuna dan mengajaknya masuk ke dalam kamar Barra.
"Makasih." Ucap Yuna. Dia memang tidak berani masuk ke kamar Barra seorang diri sekalipun di dalam ada Brian. Takut semua orang akan berfikir yang tidak-tidak padanya karna masuk ke kamar Barra.
"Mama,,," Seru Brian. Dia tersenyum lebar melihat kedatangan Yuna. Senyum yang jarang Yuna lihat sejak kepergian Chandra.
Sepertinya memang Barra sudah mengurangi sedikit kerinduan Brian pada sosok Chandra.
Yuna ikut tersenyum lebar, berjalan menghampiri Brian yang sudah selesai di pakaikan baju oleh Barra.
"Bilang makasih dulu sama Uncle." Cegah Yuna saat Brian akan berlari ke arahnya. Brian mengangguk patuh dan kembali menghadap Barra.
"Terimakasih Uncle." Ucap Brian sembari memeluk Barra sekilas dan beralih memeluk Yuna.
"Ayo makan Mah, Brian sudah lapar." Ujarnya. Wajah Brian mendongak menatap Yuna, kini Yuna bisa melihat mata sembab putranya.
Yuna langsung berlutut dan mendekap Brian.
"Jagoan Mama pasti kuat." Ujar Yuna dengan mata yang berkaca-kaca. Dia terus mengusap punggung Brian.
Barra terlihat menatap sendu dan ikut hanyut dalam kesedihan Yuna. Begitu juga dengan Sisil yang langsung bisa menangkap arah pembicaraan Yuna.
Semua itu pasti sangat berat untuk Yuna dan Brian.