
Barra pulang dengan raut wajah lesu, langkah kakinya juga tak setegap biasanya. Seakan tidak ada tenaga lagi yang tersisa.
Usaha untuk membujuk Yuna hanya sia-sia, terlalu besar kebencian dan kekecewaan yang Yuna rasakan padanya.
Barra tak memungkiri, semua kekacauan ini di sebabkan oleh dirinya sendiri. Dia terlalu meremehkan perasaan seorang Ibu. Tidak berfikir panjang saat membuat perjanjian.
Selama ini Yuna hanya pura-pura mau menjalani perannya sebagai istri kedua, ternyata ada bom waktu yang Yuna simpan. Bom waktu yang kini telah meledak.
"Kamu sudah pulang,," Cindy menghampiri Barra yang tengah duduk di ruang tamu dalam keadaan yang begitu kacau. Kehadiran Cindy hanya membuat Barra melirik sekilas. Sorot mata Barra di penuhi penyesalan dan kesedihan yang dalam.
āBagaimana keputusan Yuna.? Dia akan tetap memberikan baby boy pada kita kan.? Dia sudah berjanji padaku." Cindy tempak tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Barra.
Dia takut Yuna akan berubah pikiran setelah baby girl meninggal.
Barra menoleh, menatap dalam istri yang telah bertahun-tahun menjadi bagian dalam hidupnya.
Sungguh sejak dulu Barra tidak pernah menginginkan pernikahannya dengan Cindy akan menjadi seperti ini. Dia selalu membayangkan kehidupan yang bahagia sampai maut memisahkan meski tidak akan ada buah hati di tengah-tengah mereka. Cinta memang buta, Barra tak pernah melihat sedikitpun kekurangan Cindy meski jelas-jelas mengetahuinya. Namun Barra tutup mata, karna dia ingin membuat pernikahannya selalu bahagia.
"Apa baby boy sangat berarti untukmu.?" Tanya Barra dengan tatapan menelisik. Cindy mengangguk cepat tanpa pikir panjang. Tentu saja baby boy sangat berarti untuknya, selama berbulan-bulan sudah menantikan kehadirannya. Rasa sayang padanya bahkan tumbuh begitu saja meski dia baru melihat baby boy.
"Aku menyayanginya, selama ini sudah membayangkan akan menggendong bayi mungil itu." Tutur Cindy dengan mata yang berbinar. Meski bukan terlahir dari rahimnya, namun Cindy berjanji akan merawat dan menyayangi baby boy seperti anak kandungnya sendiri.
"Kalau begitu kamu harus memilih." Ujar Barra dengan raut wajah serius.
"Memilih.?" Cindy menatap bingung.
"Kamu akan pilih baby boy atau aku.?" Tanya Barra. Dia tidak terlihat sedang bercanda, benar-benar serius dan menunggu Cindy untuk menjawabnya.
"Kamu itu bicara apa.? Mana mungkin aku bisa memilih." Cindy menggelengkan kepalanya.
"Karna Yuna juga memberikan pilihan. Dia memintaku untuk memilih antara kamu dan Yuna." Tutur Barra.
"Apa.?!!" Pekik Cindy tak percaya. Dia terkejut sekaligus kesal mendengar penuturan Barra. Tidak menyangka Yuna berani memberikan pilihan seperti itu pada Barra, padahal Yuna telah berjanji padanya.
"Kenapa dia memberikan pilihan gila seperti itu.? Dia sudah berjanji tidak akan merebutmu dariku. Kenapa sekarang ingin memilikimu sepenuhnya.?!" Raut wajah Cindy menahan amarah, tidak menyangka dibalik sikap Yuna yang selama ini selalu menuruti ucapannya, ternyaman ada rencana untuk membuat Barra menjadi miliknya seutuhnya.
"Kamu hanya perlu menjawabnya, siapa yang akan kamu pilih.?" Tanya Barra lagi. Dia ingin tau seberapa besar Cindy menginginkan baby boy.
"Aku tidak mau memilih, kamu dan baby boy akan tetap bersamaku." Jawab Cindy tegas. Sejak awal semuanya sudah di rencanakan seperti ini, Barra dan Yuna sendiri yang membuatnya merasa memiliki baby boy. Terlepas dari meninggalnya baby girl, itu bukan penghalang bagi Yuna untuk membatalkan perjanjian yang sejak awal dia setujui.
"Tapi kamu harus tetap memilih.!" Tegas Barra.
Cindy kembali menggelengkan kepala.
"Kalau begitu aku akan memilih Yuna.!" Seru Barra. Dia beranjak dari duduknya, namun Cindy segera mencekal pergelangan tangannya.
"Kamu tega meninggalkanku dan lebih memilihnya.?" Ucap Cindy dengan suara yang bergetar.
"Dia sempurna, bisa memiliki anak. Itu sebabnya kamu lebih memilihnya.?" Mata Cindy berkaca-kaca.
"Cukup Cindy.!! Jangan mendramatisir dan kembalikan keadaan.!" Bentak Barra.
"Memangnya siapa yang menginginkan semua ini terjadi.?!"
"Kamu yang memaksaku untuk menikah lagi, kenapa sekarang kamu ingin membuat Yuna pergi dan tidak rela melepaskanku untuknya.!"
Barra meluapkan amarahnya, dia sudah lelah menghadapi permasalahan ini.
"Nyatanya aku tidak bisa melihat kamu dimiliki wanita lain, apalagi dia sangat sempurna."
"Aku tidak memiliki anak, sedangkan dia,,," Suara Cindy tercekat. Air matanya tidak bisa dibendung lagi.
"Dia hamil 2 sekaligus, ini tidak adil untukku." Genggaman tangan Cindy mengendur, dia kembali duduk di sofa dengan keadaan yang kacau.
"Bagaimana jika kamu jadi Yuna.! Dia sudah kehilangan baby girl untuk selamanya, lalu kamu akan mengambil baby boy.?!"
"Kenapa kamu jadi seperti ini.?!!" Bara menggoncang kedua bahu Cindy.
"Aku sudah bilang Cindy.! Sejak awal aku sudah bilang bahwa aku mencintaimu dan tidak peduli meski kamu tidak bisa memiliki anak, aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun.! Tapi kenapa kamu harus membuat semua ini terjadi.??!"
"Aku mau menikah lagi karna takut kehilangan kamu.! Kenapa kamu tidak bisa melihat itu.??"
Barra mencengkram kasar rambutnya sendiri.
"Tanpa sadar, kamu yang sudah membuat semua kekacauan ini.!" Tegas Barra. Kalau saja pernikahan dia dan Yuna tidak terjadi, pasti saat ini dia dan Cindy masih tetap sebahagia dulu. Tidak akan ada pertengkaran seperti ini lagi.
"Kamu sendiri yang memilih untuk terluka.!"
"Kalau kamu tidak mau kehilanganku, maka relakan baby boy.!" Pinta Barra.
"Tapi bagaimana dengan kehamilanku.?" Tanya Cindy cemas. Dia sudah terlanjur pura-pura hamil karena keinginan Barra. Ada sedikit penyesalan karna dulu sempat memohon pada Yuna untuk menjadi istri kedua tanpa ada surat perjanjian yang dibuat oleh Barra. Harusnya dia membiarkan Barra dan Yuna tetap terikat kontrak pernikahan, kemungkinan baby boy akan tetap ikut bersamanya.
"Masih ada waktu 1 bulan untuk mencari penggantinya, kita ada mengadopsi."
"Biarkan baby boy dan Yuna hidup tenang."
Barra yakin ini keputusan yang tepat. Yuna sudah terlalu banyak mengalami kesedihan, kini hanya baby boy yang bisa mengobati kesedihan Yuna. Barra tidak akan tega untuk mengambilnya dari tangan Yuna.
"Melepaskan baby boy begitu saja.?" Tanya Cindy. Ada perasaan cemburu karna Yuna bisa hidup bahagia dengan anak kandung Barra. Meski nantinya Barra dan dan Yuna terpisah, pasti akan tetap saling berhubungan karna ada baby boy.
"Ayolah Cindy, semua ini demi kebaikan kita.!" Tegas Barra.
"Yuna sudah mengembalikan semua uang dan fasilitas yang aku berikan, tidak adil jika aku mengambil baby boy."
"Dia juga sedang berduka, baby boy satu-satunya sumber kekuatan untuknya. Aku harap kamu tidak egois." Pinta Barra memohon.
Mungkin memang lebih baik melepaskan Yuna dan baby boy, daripada harus mengambil baby boy dari tangan Yuna.
Namun Barra tidak akan pernah lepas dari tanggungjawabnya.
...*****...
2 hari berlalu, Yuna terlihat jauh lebih tenang lantaran Barra tidak muncul lagi di hadapannya.
Selama 2 hari itu juga, Yuna bisa bebas bertemu dengan baby boy.
Kini Yuna sudah di perbolehkan untuk pulang. Mama Rena dan Nitha sudah membereskan barang-barang Yuna.
"Aku ingin melihat baby boy lagi sebelum pulang." Ucap Yuna. Dia turun dengan hati-hati dari ranjang. Keadaannya sudah pulih, meski harus hati-hati saat berjalan.
Mama Rena dan Nitha mengantar Yuna.
Saat keluar dari ruangan, Yuna melihat Barra berjalan ke arahnya.
Kedatangan Barra seketika membuat raut wajah Yuna berubah. Dia terlihat kesal dengan kehadiran laki-laki itu. Setelah 2 hari tidak mengganggunya, Yuna pikir Barra tidak akan muncul lagi.
...****...
Novel Terjebak Perjodohan , Karya LisNH_
Jangan lupa mampir jugaš„°