Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 63


Yuna meminta Mama Rena dan Nitha untuk tetap berjalan, dia seperti enggan menghiraukan keberadaan Barra. Berjalan melewati Barra tanpa melirik sedikitpun ke arahnya.


"Yuna,," Barra mencekal pergelangan tangan Yuna, menggenggamnya. Tatapan mata Barra selalu teduh padanya, bahkan masih terlihat mengkhawatirkan keadaan Yuna.


Barra tau semua yang terjadi tidak mudah untuk Yuna.


Yuna menoleh, menatap datar laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya.Tatapan yang sejak 4 hari lalu telah berubah. Yuna sudah menunjukkan perasaan yang sebenarnya terhadap Barra. Dia enggan berpura-pura lagi mencintai laki-laki itu.


Meski dia juga sangat berterimakasih pada Barra karna telah membantu operasi dan semua permasalahan finansialnya.


Kini urusan dia dan Barra sudah usai, dia hanya menganggap Barra sebagai orang lain dan ayah dari anaknya.


"Biar aku antar kamu pulang,," Ucap Barra.


"Nggak perlu, terimakasih." Jawab Yuna sembari melepaskan tangan Barra dari pergelangan tangannya.


"Aku ingin melihat baby boy sebentar, setelah itu Mas Barra bisa membawanya pulang." Tuturnya.


"Dimana Mba Cindy.? Apa dia sedang di ruangan baby boy.?" Yuna menekankan kalimatnya.


"Dia di rumah. Baby boy akan ikut kamu, aku tidak akan membawanya." Ujar Barra. Yuna hanya memberikan respon dengan mengerutkan dahi.


Merasa heran karna tiba-tiba Cindy membiarkan bay boy ikut bersamanya. Padahal sejak 1 bulan lalu terus mengirimkan pesan, seolah menerornya agar tidak berubah pikiran dan tetap memberikan baby boy.


"Mba Cindy berubah pikiran lagi.? Kenapa kalian begitu mudah berubah pikiran, apa susah mencari pendirian.?" Sindir Yuna sinis. Dua pasangan itu benar-benar membuat Yuna selalu geleng-geleng kepala. Ucapannya tidak konsisten, mudah berubah-ubah. Barra sebagai laki-laki juga terlihat tidak memiliki pendirian.


"Aku yang melarangnya untuk membawa baby boy." Sahut Barra.


"Kamu yang lebih berhak atasnya."


"Sekarang aku antar kalian pulang." Barra kembali menggandeng tangan Yuna.


"Mba Cindy sangat menginginkannya, bawa saja."


"Sekarang biarkan aku melihatnya sebelum pulang." Yuna menepis tangan Barra, kemudian berlalu dari sana.


"Nak Nitha, tolong temani Yuna." Pinta Mama Rena. Nitha mengangguk dan bergegas menyusul Yuna.


Mereka meninggalkan Barra dan Mama Rena di sana.


"Mama mohon selesaikan urusan kalian, Yuna hanya ingin hidup tenang."


"Tolong ceraikan Yuna, jangan jadikan Yuna orang ketiga dalam rumah tangga kamu."


"Sudah terlalu banyak penderitaan yang dia alami selama ini."


"Mengenai anak kalian, Mama serahkan pada kalian berdua bagaimana baiknya. Ikut kamu atau Yuna, itu sama saja."


Mama Rena menatap Barra penuh harap. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk kebahagiaan putrinya. Selama ini juga hanya menyusahkan Yuna, membuat Yuna masuk dalam permasalahan ini.


Sudah banyak pengorbanan yang Yuna berikan untuk keluarganya.


"Saya tidak bisa menceraikan Yuna." Barra menundukkan kepalanya. Sungguh dia dilema. Berada dalam pilihan yang sulit. Meski sudah berjanji pada Cindy akan tetap bersamanya, namun melepaskan Yuna bukan hal yang mudah. Dia sudah terlanjur menaruh hati padanya, juga merasa bersalah atas pengorbanan Yuna untuk baby twins.


Namun Barra tidak tau harus berbuat apa agar Yuna mau tetap bertahan bersama, semua ini juga demi babu boy agar mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.


"Jangan egois nak Barra, tidak akan ada wanita yang benar-benar iklhas berbagi suami. Kamu hanya akan melukai perasaan mereka."


"Mama mohon lepaskan Yuna." Pintanya.


"Mempertahankan Yuna hanya akan membuatnya semakin menderita, tolong biarkan dia bahagia dengan pilihannya."


"Pikirkan baik-baik ucapan Mama." Mama Rena lalu bergegas pergi.


Sampai di ruangan baby boy, dia melihat Yuna yang tengah menggendongnya sambil meneteskan air mata. Dia terus menatap wajah baby boy tanpa bicara apapun. Menatapnya lekat seakan tak ingin berhenti menatapnya.


"Aku nggak jahat kan Nith.?" Tanya Yuna tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan baby boy.


"Aku hanya terpaksa menyerahkan anakku, bukan karna putraku tidak berharga."


"Dia segalanya untukku Nit," Yuna mengusap lembut wajah baby boy. Mengusapnya penuh cinta.


Nitha mengalihkan pandangan. Dia tidak sanggup menahan air matanya. Ucapan Yuna dan pemandangan di depannya begitu mengiris hati. Nitha bisa merasakan seperti apa hancurnya perasaan Yuna.


"Nggak ada seorang ibu yang jahat sama anaknya, Yun."


"Mereka mengandungnya, mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anaknya ke dunia, mana mungkin bisa berbuat jahat padanya."


"Kamu hanya mengambil keputusan yang terbaik untuk semuanya, aku bangga padamu."


Nitha mendekap Yuna. Memberikan kekuatan pada sahabatnya meski dia sendiri ikut rapuh melihat kondisi Yuna.


"Kamu bisa tetap melihat dan mengawasi baby boy dia pasti akan bangga memiliki ibu sepertimu." Ucapnya.


...*****...


Setelah puas memandangi dan menggendong baby boy, ketiganya bergegas pergi.


Yuna sudah berpesan pada Mama Rena untuk mengatakan pada Barra agar segera membawa baby boy pulang bersamanya.


Walaupun tadi melihat Barra di depan ruangan putranya, Yuna memilih untuk menghindar.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah ruko berlantai dua. Ruko yang sejak 1 bulan lalu di sewa oleh Yuna. Harus ruko ini di tempati 1 bulan lagi setelah melahirkan baby twins. Tapi Tuhan punya rencana lain, baby twins terlahir lebih cepat.


"Kita mulai dari awal lagi ya Nit,," Ucap Yuna begitu turun dari mobil. Dia tidak memiliki apapun lagi saat ini. Semua tabungannya sudah dia pakai untuk menyewa ruko selama 1 tahun, dan mengembalikan uang Barra yang nilainya lebih dari 300 juta.


Uang mahar dan uang bulanan yang diberikan Barra bahkan masih utuh, jadi Yuna hanya perlu mengembalikan kartu atmnya saja.


Kini hanya sisa produk yang mereka miliki untuk memulai usahanya lagi.


"Jangan khawatir Yun, kita sudah memiliki banyak pelanggan, usaha ini pasti akan kembali besar seperti sebelumnya." Sahut Nitha.


"Mama akan selalu berdoa untuk kesuksesan dan kebahagiaan kamu." Ucap Mama Rena.


"Ayo masuk,," Mama Rena menuntun Yuna masuk ke dalam.


Ruko itu akan di jadikan tempat usaha sekaligus tempat tinggalnya. Ada 2 kamar di lantai atas dan 1 kamar di lantai bawah.


Nitha dan Farah juga akan tinggalkan di sana mungkin untuk sementara waktu sampai keuangan usaha mereka stabil.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu," Mama Rena mendudukkan Yuna di ranjang.


"Makasih Mah,," Yuna hampir meneteskan air matanya lagi, namun Mama Rena memilih segera keluar dari kamar agar tidak ikut menangis.


"Mama kebawah dulu, panggil saja kalau kamu butuh sesuatu." Ucapnya kemudian menutup pintu.


"Dimana Yuna,," Nitha tersentak kaget melihat Barra sudah berada di dalam ruko bersama baby boy yang dia letakan di dalam stroller.


Nitha yang tengah membereskan baju, hanya melongo melihatnya. Entah darimana Barra tau tentang ruko ini, tiba - tiba saja sudah masuk kedalam.


"Tante,,, tante,," Seru Nitha sembari beranjak ke dapur untuk memanggil Mama Rena yang tadi akan memasak.


"Ada apa Nitha.?" Tanya Mama Rena.


"I,,itu,, Mas Barra sama baby boy ada di depan." ucap Yuna gugup.


Keduanya langsung bergegas ke depan, namun Barra dan baby boy sudah tidak ada di sana.


"Kamu salah lihat Nit.?" Tanya Mama Rena.


"Nggak tante, tadi mereka ada disini."


...****...


Barra membuka pintu kamar kedua dengan hati-hati. Tadi sudah membuka pintu pertama tapi tidak menemukan Yuna.


Dia mengulas senyum melihat Yuna yang tengah tertidur.


Barra lalu meletakkan stroller baby boy di samping ranjang Yuna, kemudian beranjak keluar dari kamar.