Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 48


Ya ampun Nitha, sejak kapan kamu harus loading masalah seperti ini." Yuna terkekeh geli. Nitha orang cukup pintar, tapi kali lambat menanggapi keinginannya.


"Tentu saja untuk tempat kerja kita. Semakin lama ruangan ini akan penuh, ruang gerak dan kerja kita pasti jadi terbatas."


"Jadi aku berfikir untuk memindahkannya di ruko, kita juga bisa sambil membuka toko offline kan, jadi pelanggan terdekat bisa langsung datang ke toko." Tutur Yuna menjelaskan.


Dia juga ingin mengembangkan usahanya agar semakin besar. Ruangan satu petak ini tidak akan cukup lagi menampung baju jualannya karna setiap minggu produksi selalu bertambah.


"Wah,, kenapa aku nggak berfikir sejauh itu." Nitha menepuk keningnya sendiri. Dia sadar telat berfikir.


"Aku senang usaha kamu semakin besar, tentu saja aku akan mendukung rencana kamu dan akan mencarikan ruko terbaik." Ujar Nitha antusias.


"Bukan hanya usahaku, tapi usaha kamu juga."


"Makasih sudah mau membantuku membangun usaha kita." Yuna tersenyum tulus. Kesuksesannya saat ini tak lepas dari bantuan Nitha dan doa dari Mama Rena. Yuna juga tidak menampik jika Barra ikut andil didalamnya karna dia yang telah memberikan modal untuk menjalankan usaha ini.


"Jadi mau cari ruko di daerah mana.?"


"Aku akan coba cari dari sekarang." Ujar Nitha antusias.


"Dimana saja asal tempatnya strategis dan bagus, aku nggak buru-buru kok."


"Kalau bisa cari yang mau di jual, biar jadi hak milik."


"Tapi untuk 1 tahun pertama mungkin kita hanya bisa sewa, sambil mengumpulkan uang untuk membelinya." Jelas Yuna. Dia sudah memperhitungkan semuanya dengan matang agar satu persatu keinginannya bisa terwujud.


"Untuk beberapa bulan ke depan, kita masih bisa pakai ruangan ini."


"Paling nunggu sampai pintu nggak bisa dibuka karna kepenuhan barang." Yuna terkekeh kecil. Nitha yang sedang fokus mendengarkan Yuna jadi melempar baju ke arah wanita hamil itu.


"Iissh,, kau ini." Seru Nitha gemas.


"Oke,, oke, perintah bumil akan segera aku laksanakan.!" Ucapnya tegas.


"Oke..!! Fighting.!!" Yuna tertawa bahagia, namun tawa yang mengandung sejuta luka di dalamnya.


Takdir sangat rahasia, tidak clue sebelum akhirnya benar-benar terjadi.


Siapapun tidak ada yang mau berada di posisi sesulit ini. Saat nyawa seseorang yang berarti harus kita selamatkan, namun ada kehidupan yang jauh lebih berarti harus di korbankan.


Mungkin bukan perkara takdir telah digariskan, tapi perkara siapa yang banyak memiliki uang, dialah yang mampu mengubah takdir seseorang bahkan dengan mudahnya bisa mempermainkan takdir.


Semua orang mungkin setuju bahwa uang bukan segalanya, tapi nyatanya uang bisa membuat segalanya terjadi sesuai kehendak kita.


...*****...


Selesai makan malam, Cindy dan Barra menyempatkan mengobrol di ruang keluarga. Layar TV di depannya memperlihatkan film romantis yang sejak beberapa menit lalu di putar.


Cindy menyenderkan Kepala di dada bidang Barra dan memeluknya. Dia seperti anak kecil yang sedang memeluk ayahnya. Sedikit bergelayut dan sesekali memainkan jarinya di dada Barra. Mengukir gambar hati berulang-ulang.


"Geli sayang,," Barra menahan tangan Cindy hingga tidak lagi bergerak-gerak di sana.


"Bukankah kamu suka.?" Tanya Cindy menggoda. Dia tersenyum, memasang wajah manis pada Barra.


"Jangan memulai,," Ucap Barra. Dia tau apa yang diinginkan oleh istrinya, sebuah percintaan panas yang sejak dulu tak pernah luntur meski sudah bertahun-tahun melakukannya.


"Kenapa.? Kamu tidak rindu padaku.?" Cindy menatap dengan sorot mata dalam. Dia berasumsi sendiri bahwa Barra mungkin sudah melakukannya kemarin malam saat tidak kembali setelah mengantar Yuna.


Sedikit sedih dan kecewa karna Barra tidak menepati janjinya untuk pulang, tapi saat Barra menyebutkan alasannya, Cindy mencoba untuk mengerti dan membiarkan Barra menjaga Yuna yang menurut penuturan Barra sedang tidak enak badan.


"Sejak kapan aku tidak rindu padamu." Sahut Barra cepat, dia menangkup kedua pipi Cindy dan me-lu-m*t sekilas bibir istrinya itu.


"Tentu saja aku selalu rindu padamu, setiap saat, setiap waktu." Barra mendorong perlahan kedua bahu Cindy hingga membuat Cindy berbaring di sofa.


Percinta_an panas itu terjadi cukup lama di ruang keluarga. Tak kenal waktu meski hari semakin larut. Entah berapa kali mereka melakukannya. Tak pernah ada kata lelah untuk merasakan kenik-ma-tan itu.


...****...


"Kita makan siang di luar saja." Ucap Barra yang tiba-tiba menghampiri Cindy di dapur dan memeluknya dari belakang.


"Sayang.! Kau itu selalu membuatku kaget." Cindy tersentak, dia hampiri menjatuhkan panci yang sedang di isi air. Barra hanya terkekeh kecil.


"Tapi aku mau membuat pasta,," Cindy menunjukkan bahan-bahan yang sudah disiapkan di atas dapur.


"Pastanya untuk nanti malam saja. Ayo siap-siap, kita ke mall sekarang. Sepertinya kamu juga udah lama nggak beli sesuatu." Barra merangkul Cindy dan mengajaknya ke kamar untuk siapa-siap.


"Sayang, nanti dulu. Aku harus bereskan dan simpan semua itu." Cindy melepaskan diri dan kembali ke dapur untuk menyimpan bahan makanan kedalam lemari pendingin, setelah itu menyusul Barra ke kamar.


"Apa aku harus pakai bantal ini.?" Cindy menatap ragu bantal di tangannya.


"Pakai saja. Jangan sampai nanti bertemu Sisil atau Nicho dan mereka hanya melihat perut rata kamu." Tuturnya khawatir. Kalau sampai terjadi, bisa-bisa mereka akan mencurigai kehamilan Cindy.


"Baiklah,," Cindy menurut, dia memasang bantal di perutnya untuk kehamilan palsu yang dia lakukan.


Begitu selesai, Cindy berdiri di depan cermin besar. Dia berdiri menyamping, menatap tubuhnya dalam pantulan cermin. Dalam posisi seperti itu, dia benar-benar terlihat sedang hamil.


Secara tidak sadar Cindy mengusap perutnya. Dia tidak pernah mau menjalani kehamilan palsu ini, selalu berharap bisa merasakan kehamilan seperti Yuna dan wanita lain.


"Kenapa.?" Barra memeluk Cindy dari belakang. Dia bisa merasakan kesedihan istri pertamanya.


Setelah melihat Yuna hamil, pasti perasaan Cindy semakin sedih.


"Kenapa aku nggak seberuntung mereka,," Ucap Cindy lirih.


"Jangan bicara seperti itu." Tegur Barra.


"Bagaimana bisa kamu merasa tidak beruntung, sedangkan aku merasa sangat beruntung karna memiliki kamu." Ucapnya dengan tatapan dalam. Dia lantas memutar tubuh Cindy, meletakkan sebelah tangan di pipinya.


Tidak ada yang bisa di lakukan oleh Barra selain menguatkan hati Cindy dengan kalimat tulus itu.


"Sudahlah, jangan pikiran hal itu. Bagaimanapun kamu, aku tetap melihatmu sosok wanita yang sempurna." Tutur Barra.


Meski Cindy tidak bisa hamil, hal itu tak pernah membuat Barra berfikir untuk berhenti mencintainya ataupun menganggap Cindy tak sempurna.


Dia tulus mencintai Cindy apa adanya. Bahkan sejak Cindy di nyatakan tidak bisa hamil, bukan perasaannya sendiri yang dia pikirkan, melainkan perasaan Cindy yang saat itu begitu hancur.


...****...


Sementara itu, Yuna sedang berada di mall sejak 3 jam yang lalu. Dia mengajak Nitha dan karyawannya untuk menonton dan makan siang bersama.


Ini pertama kalinya Yuna mengajak mereka pergi. Sebelumnya dia tidak sempat memikirkan untuk hangout bersama lantaran disibukkan dengan bisnisnya yang kian maju.


Kali ini Yuna menyempatkan diri untuk pergi bersama mereka.


"Bumil, kamu nggak cape.?" Tanya Nitha. Dia terus mengkhawatirkan Yuna karna takut Yuna kelelahan.


Tapi yang di khawatirkan justru asik berkeliling dari toko satu ke toko lain. Di tangannya bahkan sudah ada beberapa paper bag berisi baju dinas malam, yang membuat Nitha geleng-geleng kepala saat tau Yuna akan membelinya.


"Tenang aja, aku strong." Sahut Yuna sembari mengangkat sebelah tangannya, menunjukkan otot-otot di lengan yang sama sekali tidak terlihat karna tertutup lemak. Semakin hari berat badannya terlihat bertambah.


"Kalian mau beli apa lagi.?" Tawarnya pada Nitha dan Farah. Keduanya kompak menggelengkan kepala dan mengangkat paper bag yang ada di tangan mereka.


Sudah terlalu banyak Yuna mentraktir mereka, keduanya tidak enak hati kalau masih mau melanjutkan belanja.


"Ya sudah, sebaiknya kita makan siang setelah itu pulang." Ujar Yuna. Dia mengajak keduanya ke restoran.