Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 26


Berkali-kali mengubah posisi tidur berharap bisa memejamkan mata, tapi yang ada malah membuat Yuna semakin gelisah dan kedua matanya semakin terbuka lebar. Sejak 3 hari yang lalu terus memikirkan Barra yang tidak pulang ke rumah dan tanpa kabar seperti biasa.


Semenjak membahas hasil tes kehamilan, Barra juga lebih banyak diam. Tidak lagi menanyakan banyak hal tentang usahanya.


Satu hal yang tidak bisa Yuna mengerti, entah kenapa Barra terlihat kecewa sejak saat itu. Raut wajahnya berubah muram, seakan banyak beban yang sedang dia pikirkan.


Yuna semakin kehilangan harapan, dia yakin sampai kapanpun Barra tidak akan pernah menyetujui keinginannya untuk tidak mengakhiri pernikahan.


Lalu apa gunanya memberi tau tentang kehamilannya pada Barra. Lebih baik Barra tidak pernah tau. Lagipula, dalam surat perjanjian itu Barra hanya akan menyentuh Yuna selama 3 bulan.


Seterusnya tidak akan ada kontak fisik apapun.


"Apa aku salah kalau berharap lebih.? Anak ini butuh ayahnya." Yuna memegang perutnya yang masih rata. Ada darah daging Barra di dalam sana. Setelah lahir, anak itu akan butuh sosok ayah dan ibunya. Bagaimana mungkin Yuna tidak berharap agar perceraian itu tidak terjadi.


Yuna turun dari ranjang, dia mengambil ponselnya di atas nakas.


Terus memikirkan Barra hanya membuatnya ingin melihat wajah teduh itu.


Menyalakan ponsel, Yuna membuka galeri untuk melihat foto Barra yang diam-diam dia ambil saat Barra sedang tidur.


Paling tidak, hati dan pikirannya sedikit lebih tenang setelah menatap wajah Barra.


Ini bukan rindu karna cinta, hanya keinginan biasa untuk melihat wajah Barra.


Karna Yuna sangat yakin dia tidak mencintai Barra untuk saat ini.


Beberapa menit menatap foto Barra, kedua mata Yuna perlahan mulai terpejam. Sejak tadi dia tidak bisa tidur bukan karna gelisah memikirkan masalahnya saja, tapi karna ingin melihat wajah Barra.


...****...


"Kamu nggak pulang sayang.?" Tanya Cindy. Dia mengusap punggung Barra yang tengah memeluknya. Sejak tadi sudah bangun, tapi Barra enggan beranjak dari ranjang. Dia malah memeluk Cindy dengan erat dan memejamkan mata kembali.


"Nanti saja." Jawab Barra malas. Dia sudah lelah menjalani dua pernikahan sekaligus. Lelah karna harus membagi waktu, lelah karna tidak bisa selalu bersama Cindy setiap hari.


Yuna memang baik, perlakuan Yuna sama lembutnya dengan Cindy, Yuna bisa memenuhi semua keperluan dan kebutuhannya. Tapi ada hal yang tidak bisa di gantikan oleh Yuna, yaitu soal perasaan. Hidup satu rumahntanpa ada rasa cinta membuat Barra merasa lelah.


"Jangan begitu, ini waktunya kamu bersama dia." Ucap Cindy lembut. Sesak memang menyuruh suaminya sendiri untuk pulang ke rumah madunya, namun sekali lagi Cindy berusaha menghilangkan ego. Dia yang sudah meminta Barra untuk berpoligami, jadi ini adalah konsekuensi yang harus dia jalankan.


"Dia pasti menunggu kamu pulang. Jangan membuatnya merasa di bedakan." Cindy mengusap rambut Barra. Dia tau semua ini tidak mudah untuk Barra, tapi Cindy yakin suatu saat nanti Barra akan merasa bersyukur telah menikah lagi dan mendapatkan keturunan.


"Hmmm,," Gumam Barra pelan. Dia sama sekali enggan menanggapi lebih jauh.


"Kamu harus adil padanya." Tutur Cindy.


"Dia sudah rela menjadi istri kedua, jangan sampai dia tersakiti karna merasa hanya sebagai cadangan."


Cindy benar-benar tulus ingin berbagai suami, berharap rumah tangga Barra dan istri keduanya semanis rumah tangganya dengan Barra.


"Jangan khawatir, dia bisa mengerti."


"Biarkan aku seperti ini, 2 jam lagi aku akan ke sana." Barra terus memeluk Cindy tanpa mau melepaskan pelukannya.


Tidak biasanya Barra bersikap seperti itu, terkesan sangat manja padanya.


"Ya sudah,," Cindy menurut. Dia juga tidak mau terlalu mendesak Barra. Setidaknya Barra sudah jauh lebih adil dalam hal membagi waktu.


...*****...


"Yun,,,!" Seru Nitha. Kali ini dia menepuk bahu Yuna lantaran Yuna tidak kunjung menoleh meski sudah dipanggil sebanyak 3 kali.


Sudah 2 bulan terakhir, Yuna semakin sering melamun. Tubuhnya juga terlihat semakin kurus, padahal nafsu makannya bertambah.


Fokus Yuna juga berkurang, padahal setiap hari kerjaan semakin menumpuk karna usahanya sudah semakin besar.


Mau mengegur Yuna juga tidak mungkin karna dia hanya karyawannya.


Tapi sejujurnya bukan itu yang jadi masalah, Nitha mengkhawatirkan kondisi kesehatan Yuna. Takut jika diam-diam Yuna menyembunyikan penyakit darinya.


"Hah,,? Ada apa Nit.?" Seperti biasa, Yuna akan kebingungan karna sejak tadi memang sibuk melamun.


"Sebenarnya kamu itu kenapa.?" Nitha menatap intens. Dia sudah curiga ada sesuatu yang disembunyikan oleh Yuna. Entah itu masalah kesehatannya, atau masalah rumah tangganya dengan Barra.


"Aku baik-baik aja Nit, belakang susah tidur jadi besoknya nggak fokus." Yuna mengelak. Dia tidak baik-baik saja saat ini. Pikirannya semakin kacau dan harapannya semakin pupus.


Sejak tau bahawa dirinya tengah hamil, Yuna berusaha keras untuk mendapatkan hati Barra, dia semakin baik dalam mengurus dan melayani semua kebutuhan Barra. Tapi sampai 2 bulan berlalu, Barra tak kunjung menaruh hati padanya. Sedikitpun tidak ada perasaan lebih yang terpancar dari matanya.


Barra hanya melihatnya seperti orang asing.


"Jangan dibiasain Yun, itu nggak bagus buat kesehatan kamu. Badan kamu jadi kelihatan kurus begitu, padahal porsi makan kamu lebih banyak dari aku." Nitha beranjak dari duduknya.


"Aku pulang dulu, orderan sudah aku taruh di teras. Paling sebentar lagi di ambil sama kurir."


Nitha pamit pulang sembari menepuk pelan pundak Yuna.


"Oke,,, hati-hati di jalan."


"Makasih banyak Nit."


"Sama-sama." Sahut Nitha, dia keluar dari ruang kerja.


Yuna menghela nafas berat. Sudah terlalu lama dia menyembunyikan kehamilannya pada Barra. Tepatnya sudah 2 bulan sejak dia melakukan tes kehamilan.


Jika dihitung sejak menikah, artinya kehamilan Yuna sudah menginjak bulan ke tiga.


Yuna menyadari perutnya semakin menonjol. Dia bahkan yakin kalau Barra juga merasakan hal itu. Hanya saja Barra tidak tau penyebab perut Yuna yang terlihat membesar.


"Sudah 3 bulan, berarti Mas Barra nggak akan menyentuh aku lagi." Wajah Yuna semakin sendu. Membayangkan tidak akan di sentuh oleh Barra membuatnya sedih. Padahal akhir-akhir ini Yuna merasa lebih baik dan tenang setiap kali disentuh oleh Barra.


Ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


Yang jelas, Yuna merasa bahagia saat Barra menyentuhnya.


"Yuna, itu suami kamu sudah pulang. Kenapa masih disini.?" Mama Rena menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Yuna sampai kaget melihat kedatangan Mama Rena, takut ucapannya tadi didengar oleh sang Mama.


"Oh,, i,,iiya Mah,,," Yuna beranjak dari duduknya dan bergegas keluar. Mama Rena hanya menggelengkan kepalanya melihat Yuna setengah berlari dengan rona bahagia di wajahnya.


Yuna selalu seperti itu setiap kali mendengar Barra pulang. Seolah sangat merindukan suaminya.


Masuk kedalam kamar sembari membawa teh hangat dan kue yang dia beli tadi siang. Yuna menghampiri Barra. Suaminya itu tengah duduk di sofa, dan selalu ada ponsel di tangannya.


"Mas Barra mau mandi.?" Tanya Yuna lembut. Dia meletakkan nampan di atas meja.


Barra menyimpan ponsel begitu melihat kedatangan Yuna.


"Nanti saja, aku masih cape." Barra mengambil teh buatan Yuna dan meneguknya.


Kedua mata Yuna terus menatap wajah Barra. Entah kenapa dia merasa bersemangat setiap kali melihat wajah Barra. Bahkan merasa tenang dan nyaman.


"Sudah 3 bulan, kamu masih belum haid juga.?" Tanya Barra. Dia menatap intens mata Yuna.


Pertanyaan Barra membuat Yuna terkejut. Dia tidak menyangka Barra akan menanyakan hal ini padanya. Padahal selama ini Barra tidak pernah membahasnya.


"A,,,aku,,,"


Yuna seketika gugup. Dia bingung harus memberikan jawaban seperi apa.