
Barra menyelipkan rambut Yuna di belakang telinga. Sentuhan telapak tangannya terasa lembut menyentuh pipi. Matanya yang tajam, menatap dalam penuh cinta yang mendamba.
Dulu Barra bersikeras dan sangat yakin bahwa dia tidak akan pernah mencintai wanita lain selain Cindy. Dia selalu mengatakan bahwa hatinya hanya milik Cindy.
Namun seiring berjalannya waktu, Barra termakan ucapannya sendiri.
Kebaikan hati Yuna dan ketulusannya mampu menembus hati yang sudah dia bentengi rapat-rapat untuk orang lain.
Yuna berhasil masuk dan menempati sebagian ruang di hatinya.
Hingga ruang itu semakin lebar setelah hadirnya baby twins ke dunia.
Yuna dan Cindy memiliki tempat masing-masing dalam relung hatinya.
Jika ditanya siapa yang paling dia cintai antara Yuna dan Cindy, Barra tidak akan pernah bisa menjawabnya.
Yang jelas, keduanya sama-sama berarti. Sama-sama memberikan kebahagiaan dengan caranya masing-masing.
Hal itu yang pada akhirnya membuat Barra sulit untuk melepaskan salah satu dari mereka.
Namun kali ini terpaksa harus melepaskan Yuna. Ketulusan dan keseriusannya tidak bisa di terima oleh istri yang telah memberikan dia keturunan.
Yuna mungkin terlalu kecewa, atau mungkin tidak bisa menjalani perannya sebagai istri kedua.
Barra hanya bisa pasrah saat ini, mencoba untuk menikmati sisa kebersamaannya dengan Yuna dengan bahagia meski sangat menyanyat hati.
"Aku mencintaimu,," Bisik Barra lembut. Ungkapan cinta yang begitu tulus dan dalam.
Yuna memejamkan mata, meremas erat ujung baju Barra dengan kedua tangannya, saat Barra mulai mendekat dan memagut bibirnya dengan sangat lembut. Gerakan yang sangat pelan, menye-s*p dan melu-m*t bibir atas bawah secara bergantian.
Yuna tidak memberikan reaksi apapun, namun dia juga tidak memberontak lagi.
Udara di dalam kamar mandi mulai terasa panas. Kain yang tadinya melekat di tubuh mereka, kini terlihat berserakan di lantai.
Entah karna terbawa suasana atau karna ingin memberikan haknya yang terakhir kali pada Barra, Yuna terlihat menurut saja. Dia menerima semua sentuhan Barra tanpa ada penolakan.
"Pindah ke ranjang saja." Ujar Barra. Dia menggendong tubuh polos Yuna ke ranjang lantaran kesulitan saat akan melakukan penyatuan.
Terlalu lama tidak melakukannya, membuat milik Yuna terasa semakin sempit. Sulit jika melakukan dalam posisi berdiri.
Barra sudah mengungkung tubuh Yuna. Dia sudah siap untuk mendorong masuk.
"Aku nggak mau hamil lagi.!" Tegas Yuna memperingatkan.
"Aku janji akan di luar." Sahut Barra sembari mengerahkan benda yang sejak tadi siap masuk ke tempatnya.
"Sakit.! Pelan-pelan.!" Yuna menepuk lengan Barra. Rasanya seperti pertama kali melakukannya. Jika pada saat itu Yuna hanya bisa menahan sakit dengan menggigit bibir bawah dan meremas sprei. Kali ini Yuna berani protes dan memukul Barra.
"Ini sudah pelan Yuna,," Sahut Barra.
"Memang harus di dorong biar masuk."
"Tapi sakit,,," Yuna kembali protes.
"Astaga,,," Barra menarik nafas dalam. Kepala bawahnya sudah cenat cenut tapi tak kunjung mendapatkan obatnya.
"Loh, Mas Barra mau apa.?!" Mata Yuna membulat sempurna, dia hampir bangun namun Barra mencegahnya.
"Jangan bangun, harus di buat lebih basah lagi." Barra menahan kedua tangan Yuna, sedangkan kepalanya sudah berada di bawah sana.
"Mas Barra jangan gila,," Suara teguran Yuna sudah bercampur desa-h*n. Barra tidak menghiraukannya, terus bermain hingga dirasa siap untuk di masuki.
Wajah Yuna merona, tidak berani menatap lurus pada Barra.
"Masih sakit.?" Tanya Barra lembut. Yuna hanya menggeleng pelan.
Barra langsung tersenyum lega, dia sudah mulai memacu tubuhnya.
Permainan panas itu berlangsung lama hingga membuat Yuna mencapai *******. Sedangkan Barra sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda.
Padahal sudah 3 kali merubah posisi.
Suara tangis bayi tiba-tiba pecah.
"Mas.! Kenzie bangun,," Yuna langsung panik. Menatap ke arah ranjang baby twins. Untung saja ada pembatas ranjang bayi hingga kegiatan mereka tidak di lihat oleh baby twins.
"Sebentar Yuna, tanggung,," Barra seolah tidak memperdulikan tangisan putranya.
"Tapi Mas, bagaimana kalau Kenzie berdiri. Dia bisa melihatnya,," Yuna berusaha meraih selimut untuk berjaga-jaga jika nanti kepala Kenzie muncul di balik pembatas ranjang.
"Sudah Mas." Pinta Yuna panik.
"Aku bilang hentikan.!" Serunya lagi karna Barra masih memacu dirinya.
"Ya ampun Yuna, tega sekali kamu,," Wajah Barra seketika lesu. Dia terpaksa menghentikan kegiatan itu sebelum merasakan kenik-m*tan.
"Harus aku apakan dia.?" Barra menatap miliknya masih berdiri tegak.
"Buruan Mas Barra tutupi itunya.!" Seru Yuna. Barra masih duduk lesu di atas ranjang.
"Astaga Zie.! Kenapa harus mengacaukan kesenangan Papa." Keluh Barra lirih.
Hela nafas berat keluar dari mulutnya, Barra langsung beranjak dan masuk kedalam kamar mandi. Ujung-ujungnya harus di tuntaskan sendiri.
...****...
"Tolong gantian jagain mereka, aku mau mandi." Pinta Yuna saat Barra berjalan ke arahnya. Dia tidak berani lama-lama menatap Barra karna malu setelah melakukan pergulatan panas tadi.
Pada akhirnya dia yang di puaskan oleh Barra dan Barra yang jadi tersiksa karna berakhir dengan solo karier.
"Sini,," Barra mengambil Kenzie dari gendongan Yuna.
"Tega sekali kamu sama Papa." Ujar Barra dengan wajah masam.
"Papa jadi harus main sendiri di kamar mandi." Keluhnya.
"Mas Barra yang benar saja, masa bicara seperi itu pada Kenzie." Protes Yuna tak habis pikir. Entah bagaimana jalan pikiran Barra. Bisa-bisanya menyalahkan Kenzie yang tidak tau apa-apa.
"Oke,, maaf." Barra beranjak membawa Kenzie ke balkon. Sedangkan Kinara masih pulas tidur.
Yuna menggelengkan kepala dengan sikap Barra, dia lalu pergi untuk mandi.
Baby twins sudah di mandikan, mereka sudah siap untuk pergi ke tempat lain pagi ini. Mendatangi setiap tempat wisata yang ramai di kunjungi oleh wisatawan dan akan membuat kenangan di sana.
"Kita sarapan dulu." Ujar Barra sembari mendorong stroller si kembar. Dia mengajak Yuna dan dua anaknya ke restoran yang ada di hotel itu.
Mereka sudah berada di restoran, makanan yang mereka pesan juga sudah tertata rapi di atas meja.
"Kamu makan duluan saja, pasti lapar kan.?" Ujar Barra. Tatapan matanya membuat Yuna menunduk malu.
"Biar aku yang menyuapi anak-anak." Ujarnya lagi.
Yuna yang malas untuk menanggapi ucapan Barra, memilih menurut saja dan makan lebih dulu.
"Ayo buka mulutnya,, aaaa,,," Mulut Barra ikut terbuka lebar sembari menyendokan makanan ke mulut Kinara.
Bayi cantik itu langsung terkekeh dan membuka mulutnya.
"Pinter anak Papa." Pujinya dengan senyum yang merekah.
"Sekarang giliran kakak Zie,," Barra dengan telaten menyuapi kedua anaknya bergantian.
Yuna mengulas senyum tipis melihat pemandangan itu, dia bahkan sempat mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya. Suatu saat ketika baby twins besar, Yuna mungkin akan menunjukkan vidio dan foto itu pada mereka.
Setidaknya baby twins akan tau kalau Papanya mengurus mereka dengan baik.
"Aku sudah selesai, sini biar aku lanjutin suapin mereka." Yuna mengambil alih mangkuk di hadapan Barra.
"Makasih,," Ucap Barra. Dia kemudian menyantap sarapannya. Sesekali memperhatikan Yuna dan membuang pandangan saat Yuna menoleh ke arahnya.
Pemandangan seperti ini mungkin tidak akan pernah dia lihat lagi setelah berpisah dengan Yuna.
Kebesaran dan moment ini hanya akan menjadi kenangan indah untuknya.
Pasti banyak moment tumbuh kembang baby twins yang akan di lewatkan oleh Barra karna tidak lagi tinggal bersama.
"Aku sudah siapin rumah buat anak-anak, nanti kalian pindah ke rumah itu saja setelah pulang dari Paris." Tutur Barra. Yuna langsung melirik dengan tatapan tidak setuju.
"Di ruko terlalu sempit buat anak-anak, mereka kan butuh ruang gerak yang luas."
"Untuk saat ini mungkin masih ok, tapi nanti kalau Zie sama Ara audah bisa jalan dan lari-lari, pasti akan terasa sempit." Barra mengatakan semua itu dengan nada bicara yang lembut dan halus. Dia tidak mau sampai menyinggung perasaan Yuna. Berharap Yuna mau menerima pemberiannya kali ini.
"Aku lebih nyaman tinggal di ruko, kalaupun nanti terpaksa harus pindah, aku bisa menyewa rumah."
"Mas Barra nggak perlu repot-repot nyiapin rumah." Yuna menolak halus.
"Aku memberikan rumah itu untuk anak-anak, jadi kamu nggak bisa menolak."
"Kebutuhan mereka akan selamanya jadi tanggungjawabku." Sahut Barra.
"Tapi nggak harus rumah, karna sama saja aku menikmati fasilitas dari Mas Barra. Aku nggak mau seperti itu."
"Mas Barra siapkan saja uang untuk biaya sekolah anak-anak sampai mereka kuliah, kalau untuk kebutuhan yang lain, aku akan bekerja keras untuk mereka."
"Aku juga orang tuanya, jadi berhak menanggung kebutuhan mereka."
Sejak awal Yuna memang berniat untuk tidak menerima bantuan apapun lagi dari Barra, sekalipun untuk kebutuhan anak-anak. Yuna ingin mengusahakannya sendiri, membesarkan anak-anak dengan kerja kerasnya.
Kecuali untuk pendidikan anak-anak yang memang tidak murah. Yuna berani menerima itu dari Barra karna dia ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang bagus dengan biaya yang fantastis tentunya.
Raut wajah Barra berubah, terlihat kecewa atas penolakan Yuna. Namun dia tersenyum, berusaha untuk menghargai keputusan Yuna yang tidak mau menerima pemberian darinya.