Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 66


"Mom, aku mohon kita bicarakan nanti. Kami minta maaf karna semua itu memang benar."


"Tapi saat ini Cindy benar-benar sedang terpukul, bayi yang akan kita adopsi baru saja meninggal." Jelas Barra dengan raut wajah sendu dan nada bicara yang terdengar berat.


"Kalian bisa cek sendiri, bayi itu ada di kamar jenazah dan akan di bawa pulang oleh orang tuanya." Sedikitpun tidak ada kebohongan dalam ucapan Barra. Dia mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, tanpa ada hal yang disembunyikan dari mereka.


Sejak memutuskan untuk tidak mengambil baby boy, Barra dan Cindy memang sepakat untuk mengadopsi anak. Dia mencari ibu hamil yang memang ingin menyerahkan anaknya lantaran kekurangan biaya dan merasa tidak sanggup untuk menghidupi 1 anak lagi. Sedang sudah ada 4 anak yang mereka miliki.


Barra sudah menanggung semua biaya persalinan, juga memberikan sejumlah uang yang nilainya cukup besar untuk mereka agar kedepannya bisa menghidupi ke 4 anak mereka dengan layak. Namun takdir berkata lain, bayi itu meninggal 3 jam setelah dilahirkan karna tiba-tiba kondisinya menurun lantaran banyak menelan air ketuban.


Barra menghubungi Sisil disaat kondisi bayi itu sudah stabil, tapi ternyata kondisinya malah memburuk tak lama setelah dia memberikan kabar kelahiran itu pada keluarganya.


Cindy langsung menangis histeris begitu mendengar kabar meninggalnya bayi itu. Dia sudah sempat melihat bahkan menggendongnya.


Cindy juga menemani proses persalinan itu dengan mata kepalanya sendiri karna penasaran seperti apa dan bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan.


Hatinya tersentuh, Cindy menangis kalau melihat wanita itu melahirkan secara normal dengan mengeluarkan seluruh tenaga yang dimiliki.


Dia mulai mengerti kenapa Barra tidak tega mengambil baby boy dari tangan Yuna. Satu-satunya bayi yang bisa di selamatkan saat itu.


Ternyata memang perjuangan seorang ibu tidak akan cukup jika di gambarkan dengan kata-kata.


Semua orang tertegun, mereka iba melihat Cindy dalam kondisi yang sangat hancur. Terus menangis dalam dekapan Barra dan menyebutkan nama yang mereka yakini sebagai nama calon bayinya yang telah meninggal itu.


Tak berselang lama, pintu ruangan kembali di buka. Laki-laki dan perempuan yang masih terlihat muda itu datang menghampiri Barra dan Cindy.


"Maaf Pak, Bu, kami mau mengembalikan uang ini." Wanita itu menyodorkan amplop tebal berisi uang pada Barra.


"Tapi saya sudah menggunakannya sedikit untuk makan dan membeli keperluan anak-anak." Dengan wajah yang tertunduk sedih serta merasa bersalah, wanita dan suaminya itu tak berani menatap Barra serta Cindy.


"Nanti saya kembalikan kalau sudah ada uangnya." Suaminya ikut menimpali.


Barra menarik nafas dalam, semua ini bukan kehendak dia dan Cindy ataupun mereka. Kematian bayi itu juga sudah pasti menjadi kesedihan mendalam bagi orang tua kandungnya. Hanya saja mereka terlihat lebih ikhlas menerima lantaran sudah sepakat untuk memberikan anak itu pada Cindy.


"Kalian pakai saja uang ini,," Barra tidak mau menerimanya, dia mendorong pelan amplop coklat itu agar di simpan kembali oleh mereka.


"Tapi Pak, bayi kami sudah,,,


"Ini bukan keinginan kalian, jadi pakai saja untuk biaya hidup anak-anak." Tutur Barra.


"Untuk pemakamannya, nanti biar saya yang urus. Kami juga akan ikut setelah kondisi istri saya tenang."


Barra menatap Cindy, tangannya terus mendekap pundaknya sambil mengusap pelan.


Yuna memilih pamit pada Mommy Sonya. Melihat keadaan Cindy yang seperti itu rasanya tidak pantas untuk membahas masalah mereka saat ini. Yuna bisa memahami bagaimana perasaan Cindy, ketenangan yang dia butuhkan sekarang.


"Kami pamit dulu Mom. Mungkin setelah pemakaman selesai, kami akan datang ke apartemen Mas Barra." Pamit Yuna sopan.


Dia tidak mau menghampiri Barra ataupun Cindy, mereka butuh waktu untuk berdua. Dan belum saatnya mereka melihat baby twins, takut permasalahannya akan semakin rumit.


"Hati-hati, biar Nicho yang mengantar kalian sampai ke depan." Mommy Sonya menyuruh menantunya untuk mengantar Yuna dan Mama Rena serta mencarikan taksi untuk mereka.


Barra hanya melirik Yuna sekilas, meski terlihat bingung melihat Yuna menggendong anak perempuan, namun Barra hanya diam saja. Pikirannya sedang kacau lantaran kondisi Cindy yang tak kunjung berhenti menangis.


Selama 1 bulan ini, dia hanya bisa berkomunikasi dengan Mama Rena untuk melihat baby boy lewat ponsel. Karna Yuna tidak pernah mau mengangkat telfonnya atau sekedar membalas pesan darinya. Barra bersyukur karna Mama mertuanya masih berbaik hati memberikan dia kesempatan untuk melihat Kenzie setiap hari.


Berkat Mama Rena juga, Barra jadi tau siapa nama putranya.


...*****...


Sisil dan Mommy ikut menghadiri pemakaman. Mereka juga sempat melihat bayi mungil itu.


Kondisi Cindy yang terus menangis di depan makam itu, membuat Mommy Sonya dan Sisil semakin kasihan padanya. Cindy terlihat lebih kehilangan dari pada orang tua kandung bayi itu.


"Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk memiliki anak angkat,," Ujar Cindy di sela isak tangisnya. Dia sudah menyayangi bayi itu, sama saat dia menyayangi Kenzie. Tapi takdir tetap tidak berpihak padanya.


Tak hanya Kenzie yang gagal dia rawat, bayi itu juga gagal di rawat olehnya karna di ambil kembali oleh penciptanya.


Barra menarik nafas berat. Dia mulai merenungi semua kekacauan dan kesedihan yang terjadi dalam hidupnya. Semua ini merupakan hasil dari apa yang telah ia dan Cindy tanam. Jika tidak ada pembahasan tentang anak ataupun menikah lagi, mungkin tidak akan pernah ada air mata yang tumpah sebanyak ini. Tidak akan ada luka yang sedalam ini.


Mungkin saja pernikahan dia dan Cindy masih baik baik saja hingga detik ini. Karna pada kenyataannya dari pihak keluarga sama sekali tidak ada yang mendesak atau memaksa Cindy untuk cepat-cepat memiliki anak.


Disini Barra dan Cindy juga bersalah karna tidak menceritakan kondisi yang sebenarnya. Mommy Sonya pasti bisa memaklumi kalau pada kenyataannya Cindy memang tidak bisa hamil.


"Maafkan aku, semua ini terjadi karna ketidak sempurnaanku." Cindy menangis sejadi-jadinya.


Dia juga tidak mau memiliki takdir seperti ini, tapi dia bisa apa sebagai manusia biasa?.


"Ceraikan aku saja, kamu bisa hidup bahagia dengan Yuna dan putra kalian." Ujarnya dengan tatapan memohon.


Cindy terlihat sudah ikhlas untuk melepaskan Barra. Dia merasa hanya menjadi sumber masalah dan penghambat kebahagiaan Barra dan keluarganya.


"Kamu itu bicara apa.! Tidak akan ada perceraian.!" Tolak Barra tegas.


"Harus berapa kali aku bilang, aku tidak mempermasalahkan kekurangan kamu." Nada bicara Barra sedikit meninggi. Dia benci dengan kata perceraian.


"Mom,,," Sambil berderai air mata, Cindy meraih tangan Mommy Sonya.


"Maafkan aku, aku yang sudah menyuruh Barra untuk menikah lagi agar memiliki keturunan. Aku pikir kami bisa hidup berdampingan, tapi aku terlalu serakah. Ternyata aku tidak sanggup berbagi."


"Jangan salahkan Barra, salahkan aku saja." Suara Cindy terdengar kacau.


Mommy Sonya ikut meneteskan air mata, begitu juga dengan Sisil. Walaupun mereka berdua kecewa dengan Cindy dan Barra, tapi mereka adalah keluarga dan bagian hidup mereka. Tentu saja mereka akan ikut sedih melihat Cindy terpuruk.


"Sebaiknya kita pulang, nanti sore kita bicarakan dan selesaikan masalah kalian bersama."


"Kita panggil Yuna juga." Ujar Mommy Sonya sembari menghapus air matanya. Dia merangkul pundak Cindy dan membantunya untuk berdiri.


Tatapan mata Cindy terus mengarah pada gundukan tanah kecil yang bertabur bunga. Dia terlihat enggan untuk beranjak dari saja.


"Bryan D. Bagaskara, Mommy bahagia walaupun kebersamaan kita terlalu singkat."


Cindy menarik nafas dalam, mencoba untuk menerima kenyataan ini dengan kebesaran hatinya.