
Yuna setuju saja saat di minta oleh Barra untuk menikah secepatnya. Dia menyerahkan sepenuhnya pada Barra untuk mengurus pernikahan mereka. Yuna hanya meminta agar pernikahannya di hadiri oleh keluarga besar saja tanpa mengundang orang lain. Dia juga enggan melangsungkan pernikahan di hotel ataupun gedung lainnya.
Usianya yang tak lagi muda, membuat Yuna enggan untuk menggelar pernikahan mewah. Apalagi ini pernikahan dia yang ketiga.
"Istirahat saja kalau masih pusing, aku keluar dulu." Yuna beranjak dari duduknya, tangannya yang hendak mengambil kotak makan dan gelas di atas nakas, tiba-tiba di genggam oleh Barra.
Laki-laki itu menatap lekat wajah Yuna dari jarak yang cukup dekat.
"Ada apa.?" Tanya Yuna. Dia terlihat santai saja, berbanding terbalik dengan Barra yang dibuat berdebar karna mencium aroma parfum Yuna yang menusuk indera penciumannya.
"Mas.?" Yuna menegur pelan, Barra malah melamun dan tak kunjung mengatakan sesuatu padanya.
"Tidak, aku hanya mau bilang terimakasih." Ucap Barra, dia lalu melepaskan tangan Yuna.
Sebenarnya dia ingin menahan Yuna di kamarnya lebih lama lagi agar bisa berbicara banyak hal, namun Barra tak berani menyatakannya.
"Kamu sudah bilang 5 kali,," Kata Yuna mengingatkan. Sebenarnya Yuna menyadari kalau Barra sedikit grogi berhadapan dengannya, itu sebabnya dia ingin buru-buru keluar dari kamar Barra dan membiarkannya istirahat.
"Sebanyak itu.?" Tanya Barra tak yakin. Seingatnya hanya mengatakan 3 kali, saat Yuna memberi hadiah, selesai menyuapinya, dan terakhir tadi.
"Hemm,," Jawab Yuna sembari menganggukkan kepala. Dia lalu beranjak dari sana setelah mengambil gelas dan kotak makan.
"Kalau butuh sesuatu, panggil saja." Katanya sembari berjalan ke arah pintu keluar.
Barra mengurungkan niat saat akan mengatakan terimakasih, Yuna mungkin akan bosan mendengarnya.
...****...
Saat Yuna melewati ruang keluarga, twins dan Brian kompak menatap ke arahnya. Tatapan mata yang terlihat berbinar penuh arti.
"Sudah selesai Mah nyuapin Papa.?" Tanya Kinara, dia yang paling antusias sejak tadi, pasalnya semua ini adalah rencana yang dia buat untuk membuat kedua orang tuanya berduaan.
"Sudah." Jawab Yuna, dia tak menaruh curiga sedikitpun dengan ketiga anaknya.
"Kalian kenapa malah nonton tv.?"
"Sebenarnya siapa yang mau jengukin Papa.? Kalian atau Mama." Yuna menggeleng heran dengan tingkah ketiga anaknya yang justru asik menonton tv ada ada yang sibuk dengan gadgetnya.
"Papa sudah biasa dijengukin kita Mah," Jawab Kenzie, dia hanya menatap Yuna saat berbicara, setelah itu kembali fokus pada ponselnya.
"Kak Zie benar. Sekarang di jengukin sama Mama, pasti Papa senang." Tutur Kinara dengan senyum lebar.
"Kalau begini kan Papa bakalan cepat sehat lagi,,"
Kinara tersenyum lebar.
"Kalian ini ada-ada saja,,"? Ujar Yuna sembari menggeleng heran, dia lalu beranjak ke dapur untuk mencuci gelas dan kotak makan di sana.
Duduk di depan meja makan, Yuna menginginkan raut wajah anak-anak yang terlihat sangat bahasa dengan kebersamaannya bersama Barra. Terlebih saat ingat dengan percakapan Brian bersama Mama Rena, ada rasa sakit dan bersalah karna melihat mereka berada dalam posisi yang tak pernah mereka harapkan.
Bukan hal mudah kehilangan figur seorang ayah sejak kecil.
Keputusan untuk kembali membina rumah tangga bersama Barra, sudah pasti akan menjadi keputusan yang tepat bagi anak-anak.
Dulu Yuna tak pernah mempertimbangkan hal ini, bahkan tak pernah berfikir untuk memiliki pendamping lagi. Tapi setelah anak-anak mulai menanyakan hal itu secara langsung, Yuna jadi berfikir ulang hingga akhirnya berani mengambil keputusan untuk menikah lagi.
...*****...
Pukul 11 malam apartemen sudah mulai sunyi, anak-anak sudah beranjak dari ruang keluarga dan pindah ke kamar. Kenzie dan Brian tidur di kamar tamu, sedangkan kamar Yuna dan Kinara ada di sebelah kamar Barra. Kamar yang biasa di gunakan saat anak-anak atau keluarganya menginap di apartemen.
Sementara itu, Barra beranjak dari ranjang. Dia bergegas keluar kamar untuk mengambil air hangat.
Kondisinya memang sudah lebih membaik, hanya saja masih sedikit pusing. Mungkin karna akhir-akhir ini terlalu sibuk bekerja sampai mengabaikan kesehatan, kurang istirahat dan jam makannya yang tidak teratur.
Baru sana memegang handle pintu dan ingin membukanya, seseorang dari dalam sudah lebih dulu membuka pintu. Barra reflek mundur beberapa langkah.
"Kamu tidak tidur.?" Tanya Barra.
"Nanti setelah minum." Jawab Yuna, dia lalu menutup pintu kamar.
"Sepertinya Mas Barra sudah sehat." Ujarnya sembari memperhatikan wajah Barra yang terlihat lebih segar dibanding beberapa jam yang lalu.
"Ya, sudah lebih baik." Seulas senyum tipis mengembang di bibir Barra, kondisinya yang membaik tak lepas dari peran Yuna dan anak-anak. Mungkin selain kelelahan dan kurang istirahat, Barra juga kesepian akhir-akhir ini. Jadi begitu mereka datang menjenguknya, kondisinya semakin membaik.
"Syukurlah,," Ucap Yuna.
"Sebaiknya jangan tidur larut malam." Katanya, kemudian pamit pergi ke dapur.
Lagi-lagi Barra mengulas senyum, walaupun menunjukkan ekspresi datar, setidaknya Yuna masih memperhatikan dan perhatian dengan kondisinya.
...****...
Suasana di meja makan sudah ramai dengan beberapa menu yang tersaji di sana. Yuna bangun lebih awal untuk membuat semua itu.
“Ayo makan, kita harus pulang setelah ini." Ucap Yuna pada anak-anak. Mereka harus kembali ke rumah untuk sekolah, sedangkan Yuna harus pergi ke kantor.
"Iya Mah,," Mereka menjawab kompak.
"Ara dan Kak Zie akan pulang ke sini setelah selesai sekolah."
"Boleh kan Mah.?" Tanyanya pada Yuna.
Yuna langsung mengangguk tanpa ragu, lagipula memang sejak dulu dia tak pernah melarang anak-anak untuk bertemu dengan Papanya, begitu juga sebaliknya. Jadi walaupun tidak bersama, mereka tak pernah kekurangan kasih sayang dari Barra. Mungkin dulu tidak begitu karna Barra sangat sibuk, jarang berada di rumah dan beberapa kali pergi ke luar negeri dalam waktu yang lama.
"Besok weekend, kalian boleh menginap kalau mau," Ucap Yuna.
Ara terlihat senang mendengarnya dan langsung berencana untuk menginap lagi. Sedangkan Kenzie hanya akan mampir saja setelah pulang sekolah.
"Kamu tidak mau menginap juga sayang.?" Tanya Yuna pada Brian. Putra bungsunya itu langsung menggelengkan kepala.
"Aku mau ke makam Papi, Mah,," Jawabnya. Suasana tiba-tiba menjadi hening, semua mata tertuju pada Brian yang terlihat sendu. Seperti ada hal menyedihkan yang sedang dia simpan sendiri.
"Baiklah, nanti Mama temani kamu."
"Ayo makan, nanti keburu siang." Ucap Yuna dengan mengembangkan senyum, dia tak mau putranya itu terus terlihat sedih.
"Papa akan antar kalian ke sekolah,," Kata Barra sembari menatap anak-anak. Yuna langsung menoleh, menatap Barra yang duduk di sebelahnya dengan tatapan tak setuju.
"Tidak usah, kondisi Mas Barra baru saja membaik. Sebaiknya istirahat saja." Cegah Yuna.
"Aku sudah sehat,,"
"Baru sehat." Sahut Yuna cepat.
"Tapi aku baik-baik saja." Ujar Barra meyakinkan.
"Itu menurut Mas Barra."
Kinara terlihat menertawakan mereka, hal itu membuat Yuna dan Barra langsung diam, melihat anak-anak yang kompak menatapnya dan Barra.
"Mama dan Papa lucu sekali,, mirip aku dan Kak Zie kalau sedang berdebat." Kata Kinara, dia masih terlihat mengulum senyum.
"Sudah, cepat makan." Ucapan Yuna menyudahi pembicaraan, mereka langsung menyantap sarapannya dan bergegas pulang.