
"Kita ke apartemen sebentar, aku harus mengambil laptop dan baju untuk ke kantor nanti siang." Ujar Barra sembari menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana. Dia baru saja mendapatkan telfon dari asisten pribadinya jika ada rapat mendadak yang harus di hadiri oleh Barra pukul 1 siang nanti.
"Bukannya tadi bilang tidak ke kantor.?" Tanya Yuna.
"Ada rapat mendadak." Kata Barra sembari melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah twins dan Brian.
Yuna lalu mengangguk pelan, dia menurut saja untuk pergi ke apartemen Barra.
Kali ini suasana di dalam mobil cukup hening, berbanding terbalik ketika ada twins dan Brian.
Yuna dan Barra saling diam, fokus menyetir dan Yuna mengarahkan pandangan ke luar jendela.
Keheningan itu berlangsung sampai mereka sampai di basemen apartemen. Yuna beranjak turun begitu Barra selesai memarkirkan mobilnya. Keduanya berjalan beriringan.
“Kenapa masih dingin padaku,?" Ucap Barra, tiba-tiba meraih tangan Yuna dan menggandengnya.
Yuna diam saja sembari melirik tangannya dalam genggaman Barra.
"Bukankah sejak dulu aku seperti ini." Sahut Yuna.
"Mas Barra saja yang lebih banyak bicara sekarang, jadi terkesan aku yang dingin."
"Dulu tidak seperti ini." Tutur Yuna.
Tidak banyak komunikasi antara dia dan Barra saat menikah dulu. Barra hanya berbicara hal-hal yang penting saja, terakhir jadi lebih perhatian dan banyak bicara saat twins lahir.
Seperti sedang berusaha untuk meraih perhatiannya karna saat itu dia ingin meminta cerai dari Barra.
"Aku selalu merasa menyesal dan bersalah jika membahas masa lalu." Ucap Barra lirih. Tatapan matanya juga berubah sendu. Kesalahannya terhadap Yuna seakan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. Sampai saat ini sulit untuk memaafkan diri sendiri atas apa yang dirasakan oleh Yuna akibat kesalahannya.
"Aku ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu, setidaknya beri aku kesempatan untuk memperbaikinya dan membuat kamu bahagia,," Barra menatap lekat, sorot matanya dalam penuh cinta dan permohonan. Dia benar-benar tulus untuk menebus kesalahannya terhadap Yuna.
"Aku tidak akan menutup diri." Jawab Yuna.
"Sudah aku katakan semuanya butuh proses, tak semudah membalikkan telapak tangan." Katanya dengan nada bicara yang tenang.
"Aku mengerti, hanya saja tidak ada kemajuan sejak awal."
"Kamu masih membentengi diri dengan cinta di masa lalu." Kata Barra. Nyatanya dia bisa merasakan jika Yuna membentengi hatinya terhadap Barra. Rasa cinta yang besar terhadap Chandra, membuat Yuna sulit untuk melihat keberadaannya.
"Baru 1 minggu, bagaimana bisa secepat itu." Ujar Yuna. Barra terlalu cepat memintanya untuk membuka hati, sedangkan dia sendiri sedang berperang dengan hatinya karna memaksa untuk menerima olah lain masuk di saat hatinya hanya di penuhi satu nama.
Yuna bukan membentengi hati seperti yang dikatakan oleh Barra. Karna memang sangat sulit dan menyiksa diri.
Barra mungkin tidak akan mengerti bagaimana rasanya di tinggal untuk selama-lamanya oleh orang yang dia cintai.
Barra menarik dalam, dia lalu mengangguk pelan.
Mungkin memang harus perlahan mendapatkan hati Yuna.
Keduanya sudah masuk ke dalam apartemen, Barra menghentikan langkah di ruang keluarga.
"Aku mau mandi dulu,," Ucap Barra.
"Tunggu saja disini." Katanya sembari meletakkan sebelah tangannya di pipi Yuna serta mengusapnya pelan. Yuna mengangguk dan mengulas senyum tipis.
"Atau mau ikut ke kamar mandi.?" Goda Barra.
"Aku sudah mandi." Jawab Yuna. Jawabannya membuat Barra tertegun, secara tidak langsung mengatakan kalau Yuna tidak keberatan untuk ikut ke kamar mandi. Sayang dia sudah mandi.
"Cepat jangan lama-lama, aku juga harus ke kantor sebentar." Yuna mendorong pelan bahu Barra agar beranjak karna sejak tadi malah bengong.
"Sudah sana mandi." Usir Yuna, dia terlihat enggan untuk menjawabnya.
"Jawab dulu pertanyaanku,,," Barra tak mau beranjak sebelum Yuna memastikan ucapannya.
"Hemm,,," Yuna hanya berdehem sembari mengangguk, dia lalu duduk di sofa dan merogoh tas untuk mengambil ponsel.
Barra mengulas senyum tertahan setelah Yuna mengiyakan ucapannya.
"Kalau begitu nanti sore jangan mandi sebelum aku pulang." Pinta Barra dan pergi begitu saja ke kamar mandi.
Yuna tampak bengong mendengar permintaan Barra, tapi tak mengatakan apapun dan hanya menatap kepergiannya.
...*****...
Sejak siang setelah pulang dari kantor, Yuna memindahkan beberapa barang dan baju miliknya dari kamar lama ke kamar yang dia tempati bersama Barra saat ini.
Tak ada alasan lain kenapa dia memilih untuk menempati kamar baru, selain karna menjadi perasaan Barra. Walaupun belum ada hati untuknya, tapi Yuna tak sekejam itu untuk mengajak Barra tidur di kamar yang memiliki banyak kenangan bersama Chandra. Di tambah ada foto-foto milik Chandra yang terpasang di dinding dan belum sempat dia simpan.
Yuna mondar-mandir di dalam kamar, sesekali melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore lewat. Harusnya dia sudah mandi sekarang, tapi memikirkan ucapan Barra tadi pagi yang menyuruhnya agar tidak mandi sebelum Barra pulang.
"Lama sekali,,," Gumam Yuna. Dia lalu beranjak dari sofa menuju pintu untuk keluar dari kamar. Lama-lama bosan karna sejak 3 jam yang lalu sudah berada di dalam kamar untuk memindahkan barang dan merapikannya.
Bersamaan dengan membuka pintu, saat itu juga Barra tampak akan masuk ke dalam kamar. Keduanya lalu saling menatap dalam diam.
"Mau kemana.?" Tanya Barra. Dia melangkah maju dan Yuna langsung melangkah mundur. Beberapa kali Barra melakukan itu sampai dia berada di dalam kamar dan menutup pintu serta menguncinya.
"Aku pikir Mas Barra masih lama." Jawab Yuna.
"Jadi kamu menungguku.? Kamu belum mandi bukan.?" Raut wajah Barra berubah semangat. Dia bahkan sudah ingin buru-buru pulang walaupun masih ada masalah yang belum terselesaikan di kantor.
Yuna menjawab dengan anggukan kepala, dia tampak sudah siap untuk memenuhi keinginan Barra yang memintanya mandi bersama.
Terlepas seperti apa kegiatan di dalam kamar mandi nanti, Yuna juga siap untuk melakukannya sesuai kemauan Barra.
Setelah meletakkan tas kerja dan melepaskan sepatu serta jasnya, Barra langsung menarik Yuna ke dalam kamar mandi dengan menggandeng tangannya.
Tak ada penolakan apapun, Yuna pasrah saja mengikuti langkah Barra. Setelah menutup pintu kamar mandi, Barra membuka kran air untuk mengisi bathtub. Dia lalu berdiri di depan Yuna dan mulai melucuti kain yang melekat di tubuh istrinya itu.
Rupanya Yuna tak tinggal diam begitu saja, dia juga membantu Barra melepaskan kemejanya, membuka satu persatu kancing kemeja Barra dari atas hingga bawah. Namun dia membiarkan Barra untuk melepaskan celananya sendiri.
Tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benang. Barra menuntun Yuna agar masuk kedalam bathtub yang baru terisi air setengahnya.
“Kamu tak pernah berubah,," Ucap Barra. Jemarinya dengan lembut mengusap bagian punggung putih Yuna hingga lengannya.
Barra mulai mengagumi apa yang ada dalam diri Yuna sejak menaruh perasaan padanya dulu. Jika dulu dial awal,pernikahan tak tertarik sedikitpun dengan tubuh Yuna, kini dia tergila-gila dengan apa yang ada di depan matanya.
"Masih indah seperti dulu,," Ujarnya lagi.
Punggung Yuna tampak menegang saat tangan Barra menyusup dari belakang dan menangkup salah satu buah kenyal miliknya.
"Jangan merayuku," Kata Yuna.
"Ini pujian sayang,," Bisik Barra tepat di belakang telinga Yuna.
"Euhhgg,,," Des- sahan tertahan keluar dari bibir manis Yuna. Rasa nikmat mulai menjalar saat Barra menyapukan lidahnya di belakang telinga dan meremas kedua benda kenyal miliknya.
Barra tak menyangka Yuna akan bereaksi secepat itu. Tubuh Yuna merespon setiap sentuhan yang dia berikan padanya. Hal itu tentu saja membuat Barra semakin bersemangat untuk menyentuh setiap lekuk tubuh Yuna, memberikan rangsangan di setiap titik sensitifnya.
"Biarkan aku mendengar suara indahmu,," Bisikan Barra. Dia meminta Yuna agar tidak menahan desahannya. Suara itu terlalu indah untuk di lewatkan, justru akan membuatnya semakin bersemangat memberikan kepuasan pada Yuna.