Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 124


Acara kelulusan twins dan Kevin berjalan lancar. Semua keluarga sudah memberikan ucapan selama pada mereka yang berhasil mendapatkan nilai tinggi. Bahkan masuk rangking 10 besar, membuat keluarga bangga pada mereka.


Saat ini mereka sedang melakukan sesi foto bersama kedua orang tua dan keluarga di tempat yang sudah di sediakan.


"Mama sama Papa peluk Ara ya,," Pintanya. Dia menatap bergantian pada Yuna dan Barra yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.


Yuna hanya bisa menghela nafas pelan tanpa berani menolak permintaan putrinya di hari yang bersejarah ini. Walaupun Yuna tau permintaan Kinara hanya akal-akalan saja agar bisa membuatnya bersentuhan dengan Barra.


Yuna sudah memeluk Kinara dari samping, tinggal Barra saja yang terlihat bingung melakukannya.


"Papa, ayo buruan." Protes Kinara sembari menarik tangan Barra agar memeluknya.


"Kita masih harus ganti gaya lagi setelah ini." Tuturnya tak sabaran.


Barra menggeleng heran, entah bagaimana ceritanya sifat Kinara sangat mirip dengan Sisil. Tidak ada sisi kalemnya seperti Yuna.


"Maaf,," Ucap Barra pada Yuna, karna begitu mendekap putrinya, tangannya jadi bersentuhan dengan Yuna.


Yuna hanya mengangguk saja.


"Papa jangan terlalu kaku, lebaran masih lama, kenapa harus minta maaf." Celetuk Kinara.


"Ayo senyum,,," Ujarnya antusias sembari menatap ke arah kamera yang sudah siap mengabadikan mereka.


Dia terlihat senang karna berhasil berfoto bersama dengan gaya seperti itu.


"Oke, sekarang Papa sama Mama cium pipi Ara." Pintanya lagi.


Sisil yang tengah duduk tak jauh dari sana, tampak mengulum senyum pada Kinara.


"Kinara, sudah jangan minta yang aneh-aneh. Foto biasa saja seperti ini." Protes Barra. Dia merasa tak enak hati pada Yuna, takut membuat Yuna risih padanya.


"Biarkan saja Mas,," Ujar Yuna. Dia tampak setuju saja dengan permintaan Kinara. Mungkin karna enggan membuat putrinya sedih di hari kelulusannya. Lagipula sesi foto bersama dengan gaya seperti itu belum pernah dilakukan.


Akhirnya keinginan Kinara terpenuhi. Yuna dan Barra juga melakukan sesi foto dengan Kenzie, setelah itu melakukan foto bersama bersama Brian.


Mereka berlima sudah seperti keluarga kecil yang bahagia di layar kamera. Orang lain yang melihatnya pasti mengira kalau mereka keluarga yang utuh.


...****...


"Mah,," Panggil Kinara sembari memeluk Yuna dari belakang. Malam ini dia meminta untuk tidur bersama Yuna setelah pulang makan malam dengan keluarga besar untuk merayakan kelulusan mereka.


"Hemm,,," Yuna hanya berdehem dengan mata yang sudah terpejam.


"Mama tidak mau kembali sama Papa.?" Tanya Kinara hati-hati. Ini pertama kalinya dia membahas hal ini, sebelumnya tidak pernah karna Kinara tau betul bagaimana perasaannya Mamanya.


Tapi kali ini Kinara berharap sang Mama bisa membuka hatinya untuk Barra.


Yuna langsung berbalik badan. Menatap lekat wajah putrinya.


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu.?" Tanyanya heran.


"Ara kasian sama Papa. Mama pasti tau kalau Papa mencintai Mama sampai sekarang." Tutur Ara dengan wajah sendu. Siapa yang tidak kasihan melihat Papa nya hidup seorang diri dan memendam perasaannya selama bertahun-tahun.


Tinggal di apartemen seorang diri, hanya dia, Kenzie ataupun Brian yang terkadang menginap di sana untuk menemani Barra.


"Ara tidak tau bagaimana dulu Mama dan Papa akhirnya bercerai. Tapi kalau memang Papa ada salah sama Mama, Ara harap Mama bisa memaafkan Papa dan mau memulai dari awal." Pintanya.


Yuna tersenyum mendengar ucapan putrinya yang terdengar bijak seperti orang dewasa. Entah bagaimana Ara bisa berbicara seperti itu di usianya yang masih sangat belia.


"Putri Mama sudah dewasa rupanya." Ujar Yuna sembari mengusap pipi Kinara. Dia tersenyum dsn menatap bangga.


"Mama sudah memaafkan Papa kamu, sebelum kamu bisa bicara lancar seperti ini." Ucap Yuna.


Sejak menikah dengan Chandra, Yuna memang sudah memaafkan Barra dan tidak lagi menaruh kebencian padanya. Kebahagiaan yang di berikan oleh Chandra telah memberikan pengaruh besar dalam hidupnya. Dia jadi lebih ikhlas dan bisa hidup berdampingan dengan Barra untuk mengurus twins bersama.


"Mama harap kamu bisa mengerti. Tidak harus saat ini, tapi mungkin nanti setelah kamu berumah tangga."


Menikah 2 kali dan harus merasakan luka yang berbeda, tentu saja membuat Yuna enggan memikirkan untuk menikah lagi ke tiga kalinya.


Saat ini dia hanya ingin fokus membesarkan anak-anak, hidup bahagia bersama ketiga anaknya, menikmati hidup dengan perasaan yang tenang.


"Apa sesulit itu untuk memulai hubungan baru.?" Raut wajah Kinara terlihat penasaran. Dia belum pernah menjalin hubungan, jadi tidak tau bagaimana sulitnya memulai hubungan untuk kesekian kalinya.


"Ara,, terlalu banyak lu,,," Yuna langsung menghentikan ucapannya. Dia tidak mau membuat Kinara takut dengan pernikahan. Enggan memberikan bayang-bayang menakutkan tentang pernikahan.


"kamu terlalu banyak ingin tau isi hati orang tua." Yuna mencubit gemas hidung mancung putrinya.


"Ayo tidur, sudah malam." Yuna mendekap erat putrinya dan menepuk pantat Kinara layaknya menidurkan balita.


"Putrinya Mama cepat sekali besarnya," Gumam Yuna sambil terus menepuk pantat Kinara.


"Bagaimana kalau Papa menikah dengan wanita lain.?" Setelah lama terdiam, Ara kembali mengajukan pertanyaan. Dia belum puas dengan jawaban sang Mama yang terkesan menutupi sesuatu darinya.


"Bukankah itu bagus.? Jadi ada yang mengurus Papa kamu," Sahut Yuna cepat.


Ara langsung diam, sepertinya memang tidak ada harapan untuk membuat mereka bersatu lagi.


...*****...


Siang itu twins dan Brian memaksa Yuna untuk ikut ke apartemen Barra. Hari ini ulang tahun Papa mereka. Ketiganya kompak ingin memberikan surprise pada Barra setelah 2 hari sengaja tidak mau bertemu dan tidak mau menjawab telfonnya.


Dengan di bantu Sisil dan Nicho, mereka bertiga berhasil untuk memberikan surprise pada Barra.


"Apa Mama harus ikut.?" Yuna sedikit protes karna anak-anak seperti mewajibkan dirinya untuk hadir di hari spesial Barra.


"Setidaknya Mama kasih ucapan untuk Papa kami." Ucap Kinara. Hal itu seketika membuat Yuna tak tega menolaknya.


"Baiklah, Mama siap-siap dulu." Yuna beranjak dari ruang kerjanya dan bergegas pergi ke kamar.


Di hari weekend seperti ini, Yuna masih sibuk mengecek perkembangan bisnisnya.


Mereka bertiga kompak bersorak setelah Yuna masuk ke dalam kamar.


Kinara lalu mengambil ponsel dari tasnya, kemudian menghubungi Aunty nya.


"Halo Aunty,,," Sapa Kinara.


"Bagaimana.? Kalian berhasil membujuk Mama kalian untuk ikut.?" Tanyanya penasaran.


"Tentu saja Aunty, Mama mau ikut sama kita." Tutur Kinara dengan senyum lebar.


"Bagus, ponakan Aunty memang pintar." Sisil terlihat mengacungkan jempolnya.


"Kalau begitu Aunty pergi sekarang ke apartemen Papa kalian."


"Siap Aunty.!" Seru Kinara. Dia lalu mematikan sambungan telfonnya dan menyimpan kembali ponselnya di dalam tas.


"Kak Zie, kira-kira apa yang akan di lakukan Aunty untuk membuat Papa dan Mama bersatu lagi.?" Tanya Kinara penasaran. Sampai sekarang Kinara tidak tau rencana apa yang sudah di buat Aunty Sisil untuk membantunya menyatukan keduanya orang tuanya kembali. Sisil hanya memintanya untuk mengajak sang Mama ikut ke apartemen.


"Bagaimana aku bisa tau kalau Aunty tidak mengatakan apapun."


"Kita lihat saja nanti." Jawab Zie.


"Kak, Mama sudah datang." Ucap Brian. Ketiga lalu kompak beranjak dari sofa dan bergegas mengajak Yuna untuk segera keluar rumah.


Brian juga terlihat senang dengan rencana ini, berharap Yuna dan Barra bisa bersatu agar dia memiliki Papa sambung yang baik seperti Barra.