Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 74


"Jangan teriak, Zie dan Ara sedang tidur." Tegur Yuna begitu sampai di depan pintu kamar mandi.


Pintu itu sedikit terbuka, wajar kalau suara Barra terdengar kencang sampai ke tempat tidur.


Barra mengintip dari balik pintu setelah mendengar suara Yuna. Kepalanya menyembul dari balik pintu dengan tubuh polosnya yang disembunyikan.


"Maaf." Ucap Barra. Dia tidak tau kalau dua anaknya sedang tidur, jadi santai saja berteriak agar Yuna mendengarnya.


"Sebentar aku ambilkan dulu handuknya." Yuna beranjak, sedikitpun tidak menatap Barra meski samar-samar mengetahui kepala Barra menyembul dari balik pintu.


Yuna mengambil 2 handuk besar. Setelah ini dia juga harus mandi agar bisa tidur malam dengan nyenyak.


"Ini handuknya." Yuna menyodorkan handuk ke dalam kamar mandi. Tangannya hanya masuk sedikit karna takut di tarik oleh Barra.


Yuna belajar dari pengalaman, dulu saat dia sedang hamil, Barra pernah melakukan hal itu padanya. Menariknya kedalam kamar mandi dan berakhir dengan kuda-kuda an.


"Mas,,," Panggil Yuna. Dia sedikit mengeraskan suara karna handuk yang dia sodorkan tak kunjung di ambil oleh Barra.


"Ini ambil handuknya." Yuna mulai sedikit kesal, dia jadi yakin kalau Barra akan mengerjainya seperti waktu itu.


"Aku gantung di pegangan pintu ya.!" Ucap Yuna tegas. Dia tidak mau mengambil resiko, daripada harus di tarik ke kamar mandi dan memberikan haknya pada Barra, lebih baik mencari aman.


Yuna benar-benar menggantung handuk itu di pegangan pintu. Entah apa yang sedang di lakukan oleh Barra di dalam sana. Sama sekali tidak ada suara di dalam. Yuna juga takut untuk mengintip.


Dia bergegas dari sana. Namun setelah 2 langkah, dia berhenti karna mendengar suara Barra.


"Makasih," Ucap Barra lirih. Yuna menoleh, dia melihat Barra mengeluarkan tangannya dan mengambil handuk tanpa mengeluarkan kepalanya lagi. Setelah itu menutup pintu.


"Mas Barra baik-baik saja.?" Tanya Yuna penasaran. Dia tidak jadi beranjak, justru kembali mendekat ke arah pintu. Merasa ada yang aneh dengan Barra.


"Aku kedinginan, masuk saja kalau mau memberikan kehangatan." Sahut Barra cepat. Suaranya terdengar lantang dan sedikit menahan tawa, tidak seperti tadi yang terdengar lemah.


Mendengar hal itu, Yuna langsung mencebik kesal.


Dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun.


...****...


Barra kembali dengan pakaian santai. Dia terlihat segar. Begitu juga dengan wajahnya yang tidak lagi kusut saat tadi di siram air hangat oleh Kenzie.


Dia berjalan mendekat ke arah ranjang. Kedua matanya tertuju pada baby twins. Keduanya tidur dengan raut wajah dan posisi yang menggemaskan hingga membuat Barra terus mengukir senyum saat menatap mereka.


"Tolong jaga mereka, aku mau mandi dulu." Yuna beranjak dari ranjang. Sejak tadi menunggu Barra datang sembari menjaga baby twins yang masih terlelap.


"Iya, aku akan menjaga mereka." Sahut Barra. Dia lalu duduk di sisi ranjang, menggantikan Yuna menjaga baby twins.


Yuna keluar dari kamar mandi setelah hampir 30 menit berada di dalam. Dia sudah memakai baju lengkap karna membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


Dia melongo, dia mendapati Barra ikut tertidur di samping Kenzie yang sudah bangun dan duduk menghadap wajah Barra. Bukannya menjaga anak-anak, Barra malah tertidur pulas.


Bahkan tidak bangun saat Kenzie memegangi wajah dan memainkan rambut Barra.


"Ya ampun, kenapa jadi anak yang menjaga Papanya." Yuna menggeleng heran. Dia mendekat dan langsung menggendong Kenzie.


Sedangkan Kinara masih tidur seperti Papanya.


"Kenapa bangun sayang.? Papa bikin tempat tidur kamu jadi sempit ya.?" Tanya Yuna pada putranya.


Dia berjalan ke sofa dan duduk di sana untuk menyusui Kenzie.


Hampir lebih dari 15 menit, Yuna juga tidak bisa menahan kantuknya. Dia ikut tertidur sembari menyusui Kenzie yang sudah kembali memejamkan matanya.


"Yuna,," Suara dan sentuhan lembut di pundaknya membuat Yuna membuka mata perlahan.


"Kenapa tidur sambil duduk seperti ini, ayo pindah ke ranjang."


"Kinara juga sudah aku pindahkan disana." Katanya lagi. Yuna yang sangat mengantuk dan belum sadar sepenuhnya, hanya mengangguk dan menyodorkan Kenzie pada Barra.


"Tolong pindahkan." Pinta Yuna. Dia lalu beranjak dari duduknya setelah Barra menggendong Kenzie.


Barra tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala. Senyum yang terlihat aneh, namun Yuna memilih acuh karna saat ini benar-benar sedang mengantuk dan tidak mau terlalu memperdulikan sikap Barra.


Secepat kilat Yuna sudah berbaring di ranjang. Berbaring menyamping dan memejamkan mata.


Barra menyusul setelah meletakkan Kenzie di tempat tidurnya.


Tanpa ragu naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya di depan Yuna. Bibirnya terus tersenyum lebar sejak tadi.


"Apa sekarang giliran menyusui Papanya.?" Ucap Barra lirih. Suaranya masih bisa di dengar jelas oleh Yuna yang belum kembali ke alam mimpi.


"Jangan bercanda, kita sudah sepakat nggak ada kontak fisik diluar batas." Sahut Yuna.


Selama ini dia dan Barra memang tidak pernah lagi melakukan kontak fisik layaknya suami istri. Jangankan melakukannya, tidur saja tidak pernah satu kamar. Setiap kali jatah Barra menginap di tempat Yuna, dia selalu tidur di luar kamar karna Yuna tidak mau tidur satu kamar dengannya.


"Termasuk menjelang perceraian kita.?" Tanya Ba6 dengan suara lemah.


"Ya, tentu saja.!" Tegas Yuna tanpa ragu. Dia masih memejamkan mata, kalau saja dia melihat bagaimana ekspresi dan sorot mata Barra saat ini, mungkin Yuna akan merasa iba dan kasihan padanya.


"Baiklah, kalau begitu jangan biarkan benda itu menggantung bebas." Ujar Barra setelah beberapa detik merenung.


Seketika Yuna membuka mata, dia hampir saja menjerit karna baru menyadari salah satu asetnya belum dimasukkan kedalam tempatnya setelah tadi memberikan asi pada Kenzie.


"Kenapa Mas Barra nggak bilang dari tadi.!" Protes Yuna kesal. Wajahnya memerah karna malu, dia bahkan langsung berbalik badan membelakangi Barra sembari mengamankan benda kenyal itu.


"Aku pikir kamu sengaja melakukannya karna menyusuiku juga." Sahut Barra enteng. Dia tersenyum gemas. Merasa lucu dengan tingkah Yuna.


Yuna tidak merespon. Dia diam saja dengan mata yang terpejam.


Barra mendekat, menghapus jarak di antara dia dan Yuna.


"Biarkan aku memelukmu, aku janji nggak akan macam-macam." Barra meminta ijin sebelum akhirnya memeluk Yuna dari belakang.


"Sebelum kita berpisah, setidaknya aku punya kenangan yang manis dan indah denganmu." Barra membenamkan wajahnya di ceruk leher Yuna.


Yuna awalnya ingin menolak, tapi pelukan Barra semakin terasa kencang.


"Kamu tau, setiap hari aku di hantui rasa bersalah karna sudah menyeret wanita sebaik dirimu ke dalam pernikahan seperti ini."


"Entah sejak kapan aku jadi pria jahat seperti ini."


Barra tersenyum. Senyum yang penuh luka dan penyesalan di dalamnya.


Menyakiti perasaan Yuna seperti menyakiti dirinya sendiri, bahkan jauh lebih sakit dari luka yang di torehkan pada Yuna.


"Tuhan terlalu baik padaku karna aku masih diberi kesempatan untuk bisa memiliki dua orang anak sekaligus dari rahimmu."


"Kamu dan anak-anak memberikan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan darimana pun."


Barra menarik nafas dalam. Dia menghirup oksigen banyak-banyak karna merasakan dadanya sesak dan terhimpit.


"Terimakasih, aku hanya bisa mengatakan itu padamu." Ucap Barra tulus.


Yuna masih diam, tapi sudah membuka mata sejak Barra meminta ijin untuk memeluknya.


Tatapan mata Yuna datar, dia mendengarkan dan mencerna dengan baik ucapan Barra.


Setiap kata yang keluar dari mulut Barra terdengar tulus. Yuna bisa merasakan hal itu, namun luka di hati membuat Yuna sulit untuk tersentuh dengan ucapan Barra.