Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 110


Suara tangis bayi di ruang operasi itu terdengar pecah. Suasana haru bercampur bahagia menyelimuti pasangan suami istri itu. Chandra tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Yuna karna telah menghadirkan seorang putra dalam hidupnya. Putra yang sudah lama dia nantikan kehadirannya.


"Dia tampan sepertimu,," Ucap Yuna sembari mengusap kepala putranya yang tengah di letakan di atas dadanya.


Chandra mengulas senyum, dia juga ikut mengusap baby boy.


"Jadi aku tampan.?" Tanya Chandra dengan nada menggoda. Ini pertama kalinya Yuna mengatakan jika dia tampan. Walaupun Yuna sering kali tertangkap basah sedang memandangi wajahnya, namun pujian itu tak pernah terlontar dari mulut Yuna.


Wajah Yuna merona, dia mengulum senyum sembari menganggukkan kepala untuk membenarkan pertanyaan Chandra.


Senyum Chandra semakin lebar, dia lalu mencium kening Yuna dan mencium kepala baby boy.


Kini keluarga kecilnya semakin lengkap, kebahagiaan yang dia rasakan juga semakin bertambah dengan kehadiran putra kandungnya.


Kini dia memiliki 3 orang anak yang akan mengisi hari-harinya.


...****...


Lebih dari 3 hari di rumah sakit, akhirnya Yuna dan putranya di perbolehkan untuk pulang. Selama berada di rumah sakit, Chandra selalu ada di samping mereka. Dia benar-benar menjadi suami dan ayah yang siaga untuk istri serta putranya.


Kepulangan mereka di sambut oleh banyak orang di rumah. Keluarga Mom Sonya juga ada di sana termasuk Sisil. Mereka tidak sempat menjenguk saat di rumah sakit lantaran siang tadi baru tiba di Jakarta setelah beberapa hari berada di Singapura.


Twins juga menyambut kepulangan Yuna dengan antusias. Mereka terlihat sangat merindukan Yuna setelah beberapa hari tidak bertemu.


Hanya Barra yang tidak ada di sana, bahkan terakhir kali terlihat saat mengantarkan Yuna ke rumah sakit.


Chandra mendorong stroller, membawa putra mereka yang tengah tertidur lelap. Tak lupa menggandeng tangan Yuna sejak turun dari mobil hingga masuk ke dalam rumah.


"Mama,, Papi,," Twins langsung berlari ke arah mereka. Keduanya mendekat pada Yuna dan meminta untuk di gendong.


Melihat hal itu, Chandra langsung bicara lembut pada twins.


"Perut Mama masih sakit sayang, belum bisa gendong kalian." Tutur Chandra.


"Zie sama Ara gendong Papi saja ya." Chandra membungkuk, kemudian menggendong twins sekaligus.


"Selamat atas kelahiran putra kalian." Ucap Mom Sonya sembari berjalan mendekati Yuna.


"Terimakasih banyak Mom,," Yuna tersenyum bahagia atas kebaikan dan kepedulian Mom Sonya padanya meski tidak lagi menjadi menantunya.


"Selamat Kak Yuna, baby boy nya tampan sekali." Seru Sisil. Dia melihat putra Yuna dari jarak dekat, berdiri di depan stroller dan sedikit menundukkan badan.


"Makasih Sil." Balas Yuna.


"Siapa namanya.?"


"Brian,, Brian Chandratama." Jawab Yuna.


"Wah,, nama yang bagus dan keren, sangat cocok dengan wajah tampannya." Puji Sisil lagi.


Semua orang jadi mengerumuni Brian, sedangkan Yuna duduk di sofa bersama Chandra dan twins.


Kebahagiaan yang dirasakan Yuna dan Chandra ikut di rasakan oleh semua orang. Terlebih Mama Rena, tak henti-hentinya mengucapkan syukur dalam hati atas kebahagiaan yang kini menyertai Yuna.


Harapan sebagai seorang ibu kini terkabul, yaitu melihat putrinya bahagia dan selalu tersenyum.


"Zie dan Ara mau lihat adik bayi.?" Tanya Chandra. Keduanya kompak menggelengkan kepala.


"Sayang, itu adik bayi yang ada di perut Mama. Dia sudah lahir," Ujar Yuna menjelaskan.


"Zie sama Ara sudah janji mau sayang adik bayi, jadi harus baik ya sama adik bayi." Tutur Yuna lembut. Keduanya lalu menganggukan kepala.


"Maaf Mas,," Ucap Yuna pada Chandra. Dia tidak enak sendiri melihat penolakan twins.


"Tidak apa sayang, mereka hanya belum terbiasa." Sahut Chandra sembari mengusap tangan Yuna.


...******...


Malam itu suasana di meja makan terasa hampa dan sunyi. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Terkadang saling melirik satu sama lain tanpa terlihat saling pandang.


Rumah tangga yang mereka jalani terbalik 180 derajat dari sebelumnya. Tidak ada kehangatan, tidak ada kebahagiaan dan keromantisan yang dulu selalu menyertai hari-hari mereka.


Hidup tak lagi seindah dan sebahagia dulu.


"Aku ingin mengakhiri pernikahan kita." Ucapan Cindy menghentikan aktifitas Barra. Dia meletakkan sendok dan garpu sembari menatap tajam wajah Cindy.


Perlahan Barra mengukir senyum sinis.


"Kenapa.? Kamu sudah tidak tahan dengan lelucon yang kamu buat sendiri.?!" Ucap Barra penuh penekanan. Semua kekacauan dalam hidupnya terjadi atas permintaan konyol Cindy yang sejak awal tidak dia setujui.


Jika bisa meminta, lebih baik memutar waktu agar tidak ada pernikahan kedua yang pada akhirnya hanya membuatnya terjebak dalam perasaan yang sulit untuk dihilangkan.


"Aku tidak pernah membuat lelucon, semua yang aku lakukan semata-mata hanya untuk kebahagiaan kamu." Sahut Cindy cepat.


Dia hanya berfikir untuk memberikan kebahagiaan pada Barra, tanpa pernah mengira akan seperti ini akhirnya. Yang ada hanya luka dan kepedihan dalam kehidupan rumah tangganya.


"Itu hanya menurutmu saja."


"Kamu tidak pernah mau mendengarkanku, memaksakan kehendak sesuka hati.!" Seru Barra.


"Memangnya kapan aku pernah meminta seorang anak darimu.? Kapan aku pernah memintamu untuk hamil.?!"


"Kamu sendiri yang berasumsi jika kebahagiaanku akan sempurna dengan hadirnya seorang anak."


"Tapi nyatanya semua ini hanya membuat kita hancur.!"


Barra berdiri dan beranjak dari meja makan. Moodnya semakin memburuk karna membahas hal seperti ini.


"Jangan melimpahkan semua kesalahan padaku, semua ini tidak akan terjadi jika kamu tidak membuat surat perjanjian itu." Seru Cindy. Dia berdiri dari duduknya, menatap Barra yang berhenti melangkah.


"Kamu pikir jika aku berkata jujur, banyak wanita yang setuju menikah denganku untuk menjadi istri kedua.?!" Balas Barra dengan tatapan tajam.


"Dimana.? Dimana aku bisa menemukan wanita seperti itu.?" Tanyanya kesal.


"Kalaupun ada, mereka pasti hanya menginginkan uang saja, atau bisa jadi akan menyingkirkanmu." Tegas Barra penuh penekanan.


Jika saja yang dia nikahi saat itu bukan Yuna, pasti sudah sejak lama Cindy akan tersingkir.


Sayangnya Yuna tidak pernah punya niatan untuk memiliki Barra seutuhnya.


Cindy terdiam beberapa saat, dia menarik nafas dalam dengan kedua mata yang terpejam.


"Aku akan mengajukan gugatan cerai, kamu bisa memulai kehidupan baru setelah ini." Ucapnya dengan suara yang tercekat.


Barra terkekeh sinis mendengar penuturan Cindy.


"Kamu pikir memulai kehidupan baru semudah yang kamu ucapkan.?!" Serunya.


"Kamu terlalu menggampangkan kehidupan seseorang tanpa bisa mengerti bagaimana perasaan orang lain.!"


"Lakukan saja semaumu, aku tidak peduli.!" Geram Barra dengan batas kesabaran yang sudah habis.


Barra berlalu begitu saja dan pergi ke kamarnya.


Dia sudah muak dengan sikap Cindy yang hanya bisa mengatur kehidupan seseorang untuk berjalan sesuai apa yang dia inginkan.


Cindy tak pernah bersyukur atas cinta tulus dan kesetiaan yang selama ini dia berikan untuknya.


Cinta tulus yang tak pernah menuntut apapun darinya.


Namun Cindy justru menuntut sesuatu darinya, menjadikannya seperti boneka yang kehidupannya bisa dia atur begitu saja.


Mungkin beberapa waktu lalu Barra masih bersikeras untuk mempertahankan Cindy disisinya, tapi tidak kali ini. Dia akan membiarkan Cindy mengajukan gugatan cerai.


Mungkin memang lebih baik untuk hidup sendiri.