Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 61


Cukup lama Yuna memberikan waktu bagi Barra untuk menentukan pilihan, tapi Barra masih belum mengucapkan sepatah katapun. Dia masih diam, seolah pilihan yang di ajukan oleh Yuna ada pilihan yang paling sulit seumur hidupnya.


"Baiklah, diamnya Mas Barra aku anggap sebagai jawaban." Ucap Yuna tegas.


"Sampai kapanpun cinta itu memang tak pernah ada untukku."


"Aku nggak akan pernah memohon apalagi memaksa Mas Barra untuk meninggalkan Mba Cindy, aku bukan wanita egois yang hanya mementingkan kebahagiaan dan diri sendiri."


"Lagipula aku memang nggak mencintai Mas Barra, jadi untuk apa hidup bersama. Hanya membuang-buang waktu saja." Sinis Yuna.


Sejak semuanya di bongkar oleh Barra, Yuna memang sudah membentengi diri agar tidak memiliki perasaan pada Barra. Dan sampai detik ini dia teguh pada prinsip dan pendiriannya. Secuilpun tidak ada perasaan cinta untuk laki-laki yang telah menjadi ayah untuk anaknya.


Sikap baik yang Yuna tunjukkan di depan Barra selama ini hanya untuk menguji keseriusan dan ketulusan Barra dalam menjalani pernikahan bersamanya. Nyata keseriusan dan ketulusan saja tidak cukup untuk mengatakan bahwa Barra pantas untuk menjadi pendamping hidupnya.


Barra tidak bisa adil, dia belum bisa membagi cintanya dan hanya berat pada Cindy.


Namun Cindy selalu bilang pada Yuna bahwa dia merasa tersisihkan, dia tidak bisa melihat bagaimana ketulusan dan besarnya cinta Barra terhadapnya. Hanya karna Barra perhatian pada Yuna dan terkadang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Yuna, membuat Cindy berfikir akan tersingkir dari kehidupan Barra.


Cindy tidak pernah mau mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh Barra semata-mata karna baby twins. Sebagai bentuk tanggungjawabnya pada baby twins yang membutuhkan kehadiran Barra meski baby twins masih berada dalam kandungan.


"Tapi selama ini kamu nggak keberatan berdampingan dengan Cindy, aku sudah berusaha untuk adil. Aku janji akan memperbaiki semuanya, yang menurut kamu kurang."


Barra mencoba untuk membujuk Yuna, dia tidak bisa melepaskan Yuna dan mengambil baby boy darinya. Meski sejak awal seperti itu tujuannya, tapi kini Barra tidak akan sanggup untuk melakukannya.


Menceraikan Yuna setelah memberikan dua orang anak, lalu mengambil anak yang masih tersisa, bagaimana Barra akan hidup bahagia setelah itu.?


Rasanya hanya akan tumbuh penyesalan dsn rasa bersalah yang tak akan pernah ada akhirnya.


Mungkin seumur hidupnya akan dihantui rasa bersalah.


"Mudah untuk berpura-pura menerima demi mengetahui seperti apa sifat asli kalian.!" Balas Yuna tegas. Dia bukan menerima begitu saja untuk menjadi istri kedua yang di pergunakan untuk menghasilkan anak, selama ini hanya bersandiwara untuk bisa mengetahui ketulusan Cindy dan Barra.


"Nggak akan ada kata adil dalam rumah tangga seperti ini.!" Seru Yuna tegas.


"Kalaupun Mas Barra bisa adil, tetap akan ada hati yang terluka."


2 wanita yang harus berbagi suami, tidak akan ada yang benar-benar bisa ikhlas menerima. Pasti selalu timbul rasa cemburu dan curiga, entah dari satu pihak atau dua-duanya.


Bahkan Cindy yang awalnya selalu bilang ikhlas berbagai, perlahan mulai goyah dan timbul kecurigaan. Lalu muncul keegoisan untuk kembali memiliki Barra seutuhnya.


"Aku nggak akan mengambil baby boy jika kamu mau tetap bersama." Kini Barra ikut memberi pilihan pada Yuna, berharap dengan seperti itu Yuna tidak akan memilih untuk bercerai darinya.


"Tetap bersama untuk menjadi objek ke eogisan kalian berdua.?" Yuna tersenyum kecut. Sampai kapanpun tidak akan pernah berubah pikiran. Terlalu menyedihkan menjadi orang ketiga, tidak ada ketenangan dan kebahagiaan di dalamnya.


"Keputusanku nggak akan pernah berubah."


"Aku harus tetap waras agar bisa melanjutkan hidup dan melihat putraku tumbuh dewasa. Jadi lepas dari Mba Cindy dan Mas Barra adalah keputusan yang tepat untuk membuatku tetap waras.!" Ketus Yuna penuh penekanan.


Dia merasa bahwa tetap berhubungan dengan Barra dan Cindy hanya akan membuatnya tersiksa batin, yang mungkin semakin lama akan semakin mengurangi kadar kewarasan akibat tingkah dan sikap mereka berdua.


Saat ini mungkin lebih baik dia mengalah, membiarkan baby boy berada di asuhan Barra untuk sementara waktu.


Barra menarik nafas dalam, dia seperti kehilangan harapan untuk bisa mempertahankan Yuna.


Karna Yuna memberikan pilihan yang sulit dan tidak mudah bagi Barra untuk melepaskan Cindy. Wanita yang sejak dulu dia cintai dan sudah bertahun-tahun menemani hidupnya.


...*****...


Sore itu Barra pamit pulang, namun Yuna memilih untuk tidak menanggapinya. Berulang kali di ajak bicara, Yuna memalingkan wajah tanpa mau menjawab. Barra benar-benar di abaikan oleh Yuna, keberadaannya enggan untuk di anggap.


Bagi Yun, hubungan dia dan Barra sudah berakhir sekalipun Barra tidak mau mengucapkan talak padanya.


"Aku ingin melihat baby boy Mah, sebelum dia tinggal bersama Mas Barra," Pinta Yuna lirih. Dia menatap Mama Rena yang tengah mengupaskan buah untuknya.


Permintaan Yuna tentu saja membuat Mama Rena menatap sendu, ucapan Yuna mampu mengiris hatinya.


"Sebentar ya, Mama minta tolong dulu sama perawat buat pindahin kamu ke kursi roda." Mama Rena beranjak, dia meletakkan buah dan pisau di atas meja dan beranjak dari sana dengan buru-buru.


Begitu keluar dari ruangan, air matanya langsung menetes. Dia tidak mau menangis lagi di depan Yuna, sedangkan Yuna sudah terlihat tegar dan ikhlas menerima semua yang terjadi.


Mama Rena mendorong kursi roda yang diduduki Yuna. Senyum Yuna mengembang melihat ruang NICU sudah di depan mata, dia tidak sabar ingin melihat wajah baby boy untuk pertama kalinya sejak terlahir ke dunia 2 hari lalu.


Yuna diberi kesempatan untuk masuk ke dalam, matanya berbinar memasuki ruangan itu.


Kursi rodanya berhenti di depan inkubator, bayi mungil di dalamnya sedang menggerakkan kedua tangan dengan mata yang sedikit terbuka.


Perih dan sakit di dada perlahan menyelimuti, bayi mungil yang tak berdosa itu harus menjadi korban dari keegoisan mereka.


"Kamu tampan sekali sayang,," Yuna berusaha meraih tangan putranya. Bayi yang 4 bulan terakhir bergerak gerak dalam perutnya, kini Yuna bisa melihat langsung bagaimana baby boy bergerak.


"Mama harap kamu tubuh menjadi laki-laki bertanggungjawab, maafin Mama sayang,,," Yuna menundukkan wajah. Air matanya mengalir deras. Sungguh dunianya telah runtuh, dia terpuruk dan berada di titik terendah. Tidak ada yang lebih berarti dari apapun selain darah dagingnya. Siapa yang tidak akan hancur seperti Yuna, Dia harus kehilangan baby girl dan kini harus merelakan baby boy untuk orang yang menginginkannya.


...*****...


Novel Terjebak Perjodohan karya author pemula ( LisNH_ ). Jangan lupa mampir yah🥰