
"Prokkk,, Prookk,, prookkk,,"
Suara tepuk tangan menyambut kedatangan Yuna dan Barra yang baru masuk kedalam roku.
Kehadiran banyak orang di dalam ruko membuat Yuna terkejut sekaligus bingung.
Mama Rena tengah tertunduk dengan berderai air mata. Sementara itu, Nitha dan Farah terlihat sedang menenangkan Mama Rena dengan duduk disampingnya.
Ada Cindy dan wanita paruh baya yang langsu berdiri saat Yuna dan Barra masuk kedalam. Wanita paruh baya itu juga yang sudah bertepuk tangan dan tersenyum sinis ke arah Yuna dan Barra.
"Bagaimana dengan liburan kalian di Paris.? Apa menyenangkan.?" Tanyanya dengan nada sinis dan menyindir.
"Mam,," Cindy mencegah lengan Eva saat akan mendekati Yuna dan Barra.
"Lepas.! Mami harus menyadarkan kegilaan mereka berdua.!" Serunya sembari menepis tangan Cindy.
"Mas, ada apa ini.?" Tanya Yuna lirih. Dia meminta kejelasan pada Barra, tapi Barra hanya menggelengkan kepala karna dia sendir tidak tau kenapa semua ini bisa terjadi. Karna setau Barra, orang tua Cindy tidak tau tentang pernikahan keduanya dengan Yuna.
"Dasar jal-l*ng.! Bagaimana bisa kamu menikah dengan laki-laki yang sudah beristri.!" Cibir Eva.
"Mam.!!" Tegur Barra dan Cindy bersamaan.
"Cukup.!! Jangan menghina putri saya lagi.!" Mama Rena beranjak dari duduknya, berdiri di depan Evan dengan sorot mata tajam. Sudah cukup Eva menghina Yuna habis - habisan sebelum Yuna dan Barra kembali.
"Putrimu memang pantas untuk di hina.! Kau dengar itu.?!" Sahutnya.
"Apa yang Mami katakan,!" Barra langsung maju.
Yuna memberikan isyarat pada Nitha dan Farah untuk membawa Kenzie dan Kinara keluar.
Setelah Nitha dan Farah mengambil baby twins dari gendongan Yuna dan Barra, keduanya langsung keluar dari ruko.
"Lihat Cindy, laki-laki breng-s*k ini lebih membela jal-l*ng itu sampai berani membentak Mami." Eva tersenyum kecut dengan tatapan tajam.
"Maaf, anda menyebut saya apa.?!" Tanya Yuna. Dia melangkah maju, sengaja mendekat pada Eva.
"Jal-l*ng,! Aku menyebutmu Jal-l*ng. Kau dengar itu.?" Jawabnya. Eva semakin puas menghina Yuna.
"Wanita yang menggoda suami orang lain, mengeruk hartanya. Sebutan itu sangat pantas untuk wanita sepertimu.!"
Yuna mengepalkan kedua tangannya. Ucapan Eva sama sekali tidak berdasar. Yuna tidak pernah menggoda Barra agar menikahinya. Dia juga tidak pernah mengeruk harta Barra sepeserpun. Bahkan sudah mengembalikan semua uang yang pernah diberikan oleh Barra padanya.
"Mama keluar saja, Yuna bisa menghadapi ini sendiri." Bisik Yuna begitu berdiri di samping Mama Rena. Dia tidak mau Mama Rena semakin sedih mendengar putrinya dihina.
Awalnya Mama Rena menolak, tapi tatapan Yuna yang memohon membuat Mama Rena akhirnya keluar dari sana.
"Apa ibumu juga muak dengan ulahmu yang menjijikkan seperti ini.?" Eva tak kehabisan kata untuk terus menyudutkan Yuna. Amarahnya sudah memuncak, tidak bisa lagi di tahan.
Orang tua mana yang akan diam saja jika rumah tangga putrinya kedatangan orang ketiga yang merusak kebahagiaan putrinya.
"Sebenarnya siapa yang menjijikkan disini.?" Seru Yuna sinis.
"Bukankah lebih menjijikkan mulut Anda yang berkata kotor." Sindirnya.
"Kau.!!"
"Plaakk.!"
"Mam.! Hentikan,,!!" Barra mencekal pergelangan tangan Eva yang baru saja menampar Yuna.
Cindy hanya bisa berteriak dan menangis saat Eva menampar Yuna.
Yuna memegangi pipinya yang terasa panas. Dia tersenyum kecut dengan sorot mata penuh kebencian.
"Dia tidak bersalah disini.! Berhenti buntuk meyalahkannya." Pinta Barra.
Dia menoleh kebelakang untuk memastikan kondisi Yuna.
"Maaf,," Ucap Barra penuh sesal. Dia berusaha menyentuh pipi Yuna yang memerah.
"Kenapa harus Mas Barra yang minta maaf," Yuna tersenyum tipis sembari memegang tangan Barra yang akan menyentuh pipinya.
"Kalian berdua benar-benar menjijikkan.!" Geram Eva. Dia semakin kesal melihat interaksi Yuna pada Barra. Seolah tidak merasa bersalah menggenggam dan menatap Barta begitu intens di depan dia dan Cindy.
"Saya menyesal sudah menikahkan Cindy dengan laki-laki sepertimu.!"
"Bagaimana bisa kamu menikahi wanita lain hanya untuk mendapatkan keturunan.!"
"Ketidak sempurnaan putriku tidak seharusnya di jadikan alasan untuk menyakitinya." Eva menatap Barra penuh amarah. Menantu yang dulu sangat dia banggakan itu, kini begitu menjijikkan.
"Mam, sudah aku bilang ini bukan keinginan Barra atau Yuna. Aku yang sudah menyuruh Barra menikah lagi." Entah sudah berapa kali Cindy mengatakan hal itu pada Eva, tapi Eva tidak pernah mau percaya. Dia berfikir kalau Cindy hanya sedang membela Barra agar tidak di salahkan.
"Sebaiknya kamu diam saja."
"Kamu terlalu mencintai laki-laki breng-s*k itu sampai berusaha untuk menutupi kesalahnya.!" Bentak Eva.
"Selama 1 minggu kalian bersenang di Paris, membuat putriku begitu menyedihkan.!"
"Bagaimana bisa kamu melakukan semua ini pada putriku.?!" Eva mendorong dan memukul Barra.
"Mam, aku tidak mau cerai dari Barra." Ucap Cindy.
"Sudah aku bilang, aku tidak keberatan memiliki madu."
"Anda dengar sendiri bukan.? Mba Cindy bisa menerimaku dengan baik." Kata Yuna dengan seulas senyum.
"Dia rela berbagi kebahagiaan dengan wanita lain, putri Anda memiliki hati yang sangat baik. Tapi kenapa Anda,,,
"Tutup mulutmu Jal-l*ng.?!" Bentak Eva.
Yuna hanya tersenyum tipis.
"Sebaiknya Mas Barra dan Mba Cindy selesaikan masalah ini di tempat lain saja, aku dan anak-anak harus istirahat." Yuna menatap Cindy dan Barra bergantian.
"Maaf Yuna, aku tidak bermaksud membuat keributan disini."
"Kami akan pulang." Ucap Cindy tulus. Dia merasa sangat bersalah pada Yuna atas perlakuan Mami nya. Padahal Semua ini bukan keinginan Yuna, tapi Eva melimpahkan keslahan pada Yuna hingga menyebutnya jal-l*ng.
"Tidak perlu di bicarakan di tempat lain, ayo pulang.!" Eva menggandeng tangan Cindy.
"Mami akan mendaftarkan gugatan perceraian kamu dan Barra di pengadilan." Serunya dengan menatap sinis ke arah Barra.
"Tidak Mam, aku tidak akan menceraikan Cindy.!" Tegas Barra.
"Kalau begitu tinggalkan jal-l*ng ini dan anak-anak mu.!" Pinta Eva. Barra langsung diam, dia tidak bisa meninggalkan mereka.
"Mam, jangan memberikan pilihan sulit pada Barra." Tegur Cindy.
"Bagaimana bisa Mami menyuruh Barra untuk meninggalkan anak-anaknya." Cindy tidak setuju dengan permintaan Eva. Menurutnya sangat kejam jika harus menjadikan anak sebagai pilihan.
"Baiklah, tinggalkan saja wanita ini dan bawa kedua anaknya. Biar Cindy dan kamu yang merawatnya.!"
Lagi-lagi Eva memberikan pilihan yang tidak akan pernah bisa di lakukan oleh Barra. Dia tidak akan tega mengambil baby twins dari tangan Barra.
"Aku tidak bisa melakukannya." Sahut Barra tegas.
Eva berdecak kesal.
"Kamu lihat sendiri Cindy.! Suamimu lebih memilih jal-l*ng itu dan anak-anaknya.!"
"Ayo pulang.! Mami akan mengurus perceraian kalian.!" Eva menarik paksa tangan Cindy dan mengajaknya pergi dari sana.
"Mam, jangan seperti ini aku mohon." Pinta Barra. Namun Eva tidak merespon.
"Aku tidak akan menceraikan Cindy.!" Teriaknya.
"Pulanglah, selesaikan masalah Mas Barra dan Mba Cindy." Ucap Yuna lirih. Dia beranjak dari hadapan Barra, bergegas menaiki tangga dan masuk kedalam kamar.
Barra mengusap kasar wajahnya. Dia keluar dan bicara pada Mama Rena serta meminta maaf atas kekacauan yang terjadi.
"Saya harus pergi menyelesaikan semua ini, tolong titip Yuna dan anak-anak. Saya akan kembali lagi nanti." Ucap Barra.
"Tolong lepaskan Yuna saja, biarkan Yuna bahagia." Pinta Mama Rena.
"Saya tidak bisa melakukannya." Ujar Barra lemah.
Dia benar-benar belum siap untuk berpisah dengan Yuna.
"Maaf, saya harus pergi dulu."
Barra mendekati stroller, Kenzie dan Kinara sedang pulas tertidur. Dia mencium kedua anaknya bergantian dan bergegas pergi untuk menyusul Cindy.
...****...
"Jal-l*ng.?" Gumam Yuna. Dia tersenyum sinis dalam pantulan cermin. Menatap wajahnya sendiri dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara marah, sedih dan benci.
"Sepertinya dia tidak tau arti jal-l*ng yang sesungguhnya." Yuna kembali tersenyum kecut.
"Yuna sayang,,,!! Kamu di dalam nak.?!" Teriakan Mama Rena di luar kamar terdengar panik.
Yuna menyeka air matanya dan bergegas keluar.
"Mah, dimana Kenzie dan Ara.?" Tanya Yuna setelah membuka pintu.
Mama Rena langsung memeluk erat putrinya.
"Semua ini gara-gara Mama, kamu harus menderita dan dihina." Tangis Mama Rena pecah.
Sebagai seorang ibu, hatinya hancur tak tersisa mendengar putrinya di hina.
Yuna di bersarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, di didik dengan sangat baik, tapi orang lain menghina putrinya tanpa mau tau kebenarannya.
"Mama jangan nangis, Yuna baik-baik saja. Yang terpenting kita berempat masih bersama." Yuna mengusap lembut punggung Mama Rena. Mencoba untuk menenangkan Mama Rena di tengah-tengah hatinya yang sebenarnya hancur.
...****...
...Udah pada vote belum.? Vote dulu yaðŸ¤...