Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 36


"Ini salad yang kamu minta." Barra memberikan paper bag pada Yuna. Ada 4 cup salad buah yang di beli oleh Barra. Selain membelikan untuk Yuna dan Mama mertuanya, Barra juga membeli untuk dirinya sendiri yang tiba-tiba ingin salad buah saat Yuna membalas pesannya.


"Ya ampun, kenapa sebanyak ini Mas.?" Tanya Yuna sembari melihat isi paper bag itu.


"Kita makan bersama nanti, aku mau mandi dulu." Jawab Barra. Dia tersenyum teduh, setelah itu pergi ke lantai atas.


Yuna terdiam, menatap Barra yang tengah menaiki tangga dengan langkah tegap. Barra menang baik, dia bertanggungjawab dan perhatian, bahkan semakin perhatian karna tau ada baby twins di rahim Yuna. Sayangnya, Yuna merasa sangat jauh dengan Barra. Sekalipun sedang berdiri di samping Barra, Yuna merasa seperti ada tembok tebal yang sedang menghalanginya.


Kebaikan Barra memang nyata jika dilihat, namun semu untuk di rasakan.


Dia ada, tapi seperti tidak ada.


Berlebihan menang, ketika Yuna meminta tanggungjawab Barra karna telah membuatnya hamil. Sedangkan pernikahan yang mereka jalani hanya di landasi oleh hitam di atas putih.


Tapi tidak ada salahnya meminta Barra untuk tetap disisinya demi kebahagiaan baby twins kelak.


Yuna bergegas membuatkan teh hangat untuk Barra, dia juga membawa 2 cup salad dan membawanya ke kamar. Yuna ingin mengajak Barra duduk bersama di balkon.


Sejauh ini, dia dan Barra tidak pernah melakukan interaksi yang mengarah pada pendekatan atau pengenalan karakter masing-masing.


Setidaknya interaksi seperti itu bisa membuat dia dan Barra lebih dekat lagi.


Membawa nampan ke balkon kamar dan meletakkannya di meja, Yuna kembali ke kamar untuk menyiapkan baju ganti Barra. Dia meletakkannya di atas sofa yang ada di ruang ganti.


"Kenapa meletakkan tas di bawah." Yuna membungkuk, meraih tas kerja Barra yang diletakkan di lantai.


Tas itu bahkan tidak tertutup. Yuna menggeleng pelan, tidak biasanya Barra menaruh tas sembarangan seperti itu.


"Sedang apa.?" Tiba-tiba Barra sudah berdiri di depan Yuna dan memegang tas miliknya yang hampir di tutup oleh Yuna.


Karna merasa tidak enak, Yuna langsung melepaskan tas itu.


Barra langsung menutup tas miliknya dan menyimpannya di atas lemari.


"Maaf, aku cuma mau tutup tasnya dan menaruhnya di meja. Tadi tas itu ada di lantai,"


"Bukan mau mengambil isi di dalam tas." Tutur Yuna menjelaskan. Dia tidak mau Barra salah paham padanya dan mengira dia akan mengambil sesuatu yang berharga di dalam tas Barra.


"Aku nggak nuduh kamu,," Sahut Barra lembut.


"Lagipula nggak ada yang bisa kamu ambil,," Barra tersenyum santai.


Mendengar jawaban Barra, Yuna langsung terlihat lega. Dia lantas menunjuk baju di atas sofa.


"Bajunya sudah aku siapin."


Yuna menatap Barra dengan tatapan hangat. Dia merasa bahagia bisa menyiapkan keperluan suaminya.


"Makasih."


Barra langsung mengambil mengambil baju itu, kemudian hendak membuka handuk kimono yang menutupi tubuhnya.


"Ehhh,,, kok dibuka." Yuna langsung menutup mata dengan telapak tangannya. Dia kaget melihat Barra yang sudah melepaskan tali handuk itu.


Selama ini Yuna jarang melihat tubuh Barra dalam keadaan terang. Bahkan bisa dihitung dengan jari, dia hanya beberapa kali melihat tubuh bagian atas Barra dalam keadaan lampu menyala.


Karna biasa Barra hanya membuka baju dalam keadaan gelap.


"Aku harus pakai baju." Sahut Barra cuek. Dia sudah membuka handuk bagian atasnya, menyisakan dari pinggang sampai bawah.


"I,,iiya, tapi aku keluar dulu." Ucap Yuna gugup.


"Aku tunggu di balkon, teh dan saladnya sudah aku bawa ke sana."


Yuna bergegas keluar setelah memberi tau Barra. Dia menutup pintu dengan jantung yang bergemuruh.


...****...


Yuna menatap heran pada Barra yang tengah memakan salad dengan lahap. Melihat hal itu membuat kening Yuna mengkerut.


Padahal dia yang meminta salad buah, tapi Barra yang lebih semangat menghabiskan salad itu.


"Ternyata Mas Barra suka salad buah ya.?" Tanya Yuna penasaran. Karna sejak menikah dengan Barra, Yuna tidak pernah melihat Barra memakan salad buah.


"Kalau masih kurang nanti aku ambilkan lagi. Masih ada 2, tadi aku sudah tawarin ke Mama tapi nggak mau. Mama nggak biasa makan salad."


Yuna terus menatap Barra, menunggu Barra memberikan jawaban. Namun Barra fokus melahap salad buah terakhir yang tersisa di tangannya.


"Sudah cukup. Aku nggak terlalu suka, tapi tiba-tiba ingin makan juga." Jelas Barra.


Dia sudah paham kalau keinginannya itu ada kaitannya dengan baby twins yang ada di dalam perut Yuna.


Yuna mengulas senyum. Ternyata Barra juga merasakan apa yang dia rasakan. Tiba-tiba ingin memakan sesuatu yang terlihat di depan mata, yang terlintas di pikiran atau hanya karna mendengar nama makanannya saja.


Mungkin perasaan seperti ini karna efek dari kehamilannya juga.


Sayangnya sampai sejauh ini, Yuna yakin kalau Barra tidak pernah merasakan rindu padanya, apalagi ingin memeluknya.


Karna setelah berhari-hari tidak bertemu tanpa saling mengabari, Barra hanya menunjukkan ekspresi biasa saja saat pulang dan melihatnya.


Kalau memang Barra merindukannya, harusnya Barra akan memeluknya saat bertemu.


...****...


Yuna sedang sibuk membuat sarapan di dapur sejak 30 menit yang lalu.


"Kamu nggak cape tiap hari memasak.?" Tanya Barra, dia baru datang dan langsung berdiri di samping Yuna.


Yuna menoleh, melempar senyum manis pada suaminya yang baru saja bangun.


Dia menjawab dengan gelengan kepala. Hanya memasak untuk 3 orang tentu saja tidak membuat Yuna merasa lelah, karna sejak dulu sudah biasa melakukan pekerjaan rumah.


Yang membuat Yuna lelah adalah menahan rindu yang tak akan pernah terobati.


Orang yang dirindukan tidak pernah peka.


"Nanti aku carikan asisten rumah tangga biar dia yang mengerjakan pekerjaan rumah termasuk memasak. Aku nggak mau kamu kelelahan, itu beresiko untuk kehamilan kamu." Ada kecemasan dalam nada bicara Barra. Tentu dia tidak ingin hal buruk terjadi pada kehamilan Yuna kalau sampai kelelahan.


Yuna hanya menurut saja dengan ucapan Barra. Karna dari suaranya saja sudah di pastikan tidak mau di bantah.


"Selesai memasak langsung mandi dan siap-siap, aku mau mengajak kamu menginap di villa."


Tutur Barra.


Yuna sedikit terkejut mendengar ajakan Barra yang tiba-tiba. Padahal sejak kemarin tidak ada obrolan apapun.


"Tapi hari ini banyak orderan yang harus di kirim."


Yuna tidak bermaksud menolak ajakan Barra, sayangnya orderan yang masuk sejak kemarin sore harus di proses hari ini. Lagipula online shopnya tetap buka di hari sabtu.


"Kamu bisa meminta Nitha untuk menambah orang, jangan dibuat sulit."


"Kita akan tetap pergi nanti. Aku mandi dulu,," Barra beranjak pergi, dia tidak memberikan pilihan untuk Yuna dan mau tidak mau Yuna harus mengikuti keinginannya.


...****...


"Sejuk sekali,,," Yuna menghirup udara pegunungan yang terasa menenangkan.


Dia berdiri di balkon villa yang menghadap hamparan kebun teh sejauh mata memandang.


"Minum dulu,," Barra menyodorkan teh hangat yang dia pesan.


"Makasih Mas,," Yuna menerima teh itu dengan senyum lebar, kemudian meneguknya.


Barra yang berdiri di samping Yuna, terus menatap lekat wajah istri keduanya itu.


Sejujurnya dia membawa Yuna pergi bukan karna ingin mengajaknya jalan-jalan, tapi ada hal penting yang harus dia bicara dengan Yuna. Dan hal itu tidak bisa Barra lakukan di rumah lantaran ada Mama Rena.


"Ayo duduk, ada yang harus aku bicarakan." Barra mengajak Yuna duduk di kursi. Wanita hamil itu menuruti perintah suaminya, duduk di kursi sebelah Barra dan meletakkan cangkir di atas meja.


"Ada apa.?" Yuna menatap penasaran lantaran raut wajah Barra sangat serius dan terlihat memikirkan hal berat.


"Kamu masih ingat dengan 2 poin terakhir pada surat perjanjian yang kamu tanda tangani.?"


"Kamu belum membacanya kan." Tutur Barra pelan.


Yuna mengangguk cepat. Di memang penasaran dengan isi 2 poin itu, namun dia pikir perjanjian itu tak lagi penting karna Barra sendiri yang setuju akan membatalkan perjanjian itu.


"Bukannya Mas Barra setuju untuk membatalkan perjanjian itu.? Kenapa sekarang di bahas.?" Tanya Yuna.


"Aku memang mau membatalkan perjanjian itu, tapi hanya mempertahankan pernikahan seperti yang kamu inginkan."


"Sedangkan 2 poin terakhir harus tetap kamu penuhi."


Barra merogoh kantong jaketnya, kemudian menyodorkan salinan surat perjanjian mereka pada Yuna.


"Aku nggak menerima bentuk protes atau penolakan apapun, surat perjanjian ini di tandatangani oleh kamu dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari siapapun." Jelas Barra.


Yuna menerima kertas itu, jantungnya berdetak kencang setelah mendengar perkataan Barra yang terdengar berat untuk dilakukan.


...****...


udah bab 36, othor boleh minta votenya gak.? ☺


vote novel ini yah🙏, makasih ,,