Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 120


"Aku datang lagi, sayang,,," Ucap Yuna. Dia menaburkan bunga di atas makam Chandra. Makan yang tak pernah sepi dari bunga-bunga cantik di atasnya. Seharipun tak pernah terlewatkan untuk membawakan bunga ke makan suaminya itu.


"Aku pikir semakin lama rasa cinta ini akan mengikis, hati ini akan mulai ikhlas pada kepergianmu, tapi nyatanya aku salah." Yuna mengukir senyum mengiris hati.


"Aku justru semakin mencintaimu. Semakin berat menganggapmu telah pergi."


Air mata Yuna mulai membasahi pipi. Setiap kali datang ke makam Chandra, dia selalu meninggalkan banyak air mata di sana. Tak kuasa menahan tangis di tengah rasa sakit yang menghimpit hatinya.


"Kenapa begitu menyakitkan merindukan kamu yang telah pergi jauh dan tak akan kembali." Yuna meletakkan sebelah tangan di dadanya, nafasnya terasa berat dan tercekat.


Lebih dari 6 bulan merindukan suaminya yang telah tiada, entah bagaimana cara menghilangkan kerinduan itu.


Dia rindu akan kehadiran Chandra, rindu sentuhan hangatnya, rindu perhatian dan kasih sayangnya. Rindu pada semua yang ada dalam dirinya.


Rindu mendengar Chandra mengungkapkan perasaan padanya.


"Bukan hanya aku saja yang menangis karna rindu padamu."


"Brian bahkan twins, mereka juga masih sering menangis saat merindukanmu."


"Apa yang harus aku lakukan.?" Tanya Yuna putus asa. Dia sampai memeluk batu nisan Chandra, meletakkan kepalanya di sana dan tangisnya semakin pecah.


Yuna bukan tidak mau belajar untuk ikhlas menerima kepergian Chandra, namun hatinya benar-benar belum mampu untuk melakukannya. Di tinggalkan secara mendadak oleh orang yang kita cintai, tidak mudah untuk menerimanya begitu saja.


Tak semudah ucapan mereka yang selalu menyuruhnya untuk ikhlas.


"2 minggu ke dapan aku tidak bisa datang menemuimu, aku akan menemani anak-anak berlibur." Tuturnya. Yuna selalu bicara serius dari hati, menganggap Chandra ada di sana dan sedang mendengarkannya.


"Mas Andra pasti akan merindukanku kan.?"


"Tidak, sepertinya aku yang akan rindu." Yuna bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri dengan mengulas senyum yang begitu menyayat.


Tak ada yang lebih pedih, dari pada kehilangan dirimu.


Cintaku tak mungkin beralih, sampai mati hanya cinta padamu.


...*****...


Suasana riuh terjadi begitu memasuki pesawat. Rombongan yang berjumlah lebih 17 orang itu jadi mendominasi pesawat yang akan membawa mereka terbang ke Paris.


Banyaknya anak-anak membuat para orang tua kewalahan untuk meminta mereka tenang dan diam.


Ketiga anak Yuna dan dua anak Sisil saja selalu ricuh jika bertemu, sekarang di tambah dengan dua anak Jeje. 7 bocah itu jadi tak bisa diam yang terus menyahuti ucapan satu sama lain.


"Zayn,, jangan berisik." Jeje terdengar menegur pelan putranya yang usianya lebih tua dibanding anak-anak itu.


"Kalau Zayn tidak berisik, nanti tidak bisa menarik perhatian Kinara." Celetuk Sisil.


"Prisilla.!" Tegur Barra yang duduk di belakang Sisil bersama Kenzie.


Sedangkan di baris belakang ada Mama Rena dan Kinara. Yuna dan Brian duduk di baris samping Mama Rena. Serta di depannya ada Jeje dan Zayn. Putri keduanya di baris depannya bersama Kenzo.


Niko dan Aileen duduk di depan Sisil. Mom Sonya dan Dad Hendra ada di baris depan Kenzo.


"Oppa, nanti jodohkan saja mereka berdua kalau sudah dewasa." Ujar Sisil lagi. Bukannya berhenti setelah di tegur oleh Barra, justru semakin menjadi.


"Kamu pikir jaman siti nurbaya." Ujar Jeje menanggapi.


Obrolan itu terus berlanjut, sampai Sisil kembali di tegur oleh Barra untuk ke tiga kalinya dan dia baru bisa diam.


Yuna yang mendengar obrolan mereka hanya diam saja, beberapa kali menggelengkan kepala karna heran.


Sudah setengah perjalanan, suasana di pesawat cukup sunyi karna sebagian sedang berada di alam mimpi. Barra menoleh kebelakang, menatap Yuna yang tampak menundukkan kepala ponsel di tangannya. Sesekali senyum tipis terukir di bibir Yuna, tapi beberapa detik kemudian berubah sendu.


Mengetahui Yuna tak pernah melewatkan hari tanpa datang ke makam Chandra, membuat Barra berfikir bahwa Chandra sangat beruntung di cintai begitu besar oleh Yuna.


Yuna mengangkat wajah saat merasa ada sepasang mata yang memperhatikannya. Yuna menatap datar pada sosok Barra yang menatapnya lekat. Hanya beberapa detik menatap Barra, Yuna kembali mengalihkan pandangannya pada layar ponsel.


Dia menatap foto Chandra dengan segala perasaan yang berkecambuk. entah bagaimana caranya lepas dari bayang-bayang Chandra meski hanya sehari saja. Yuna tidak pernah bisa berhenti memikirkannya, setiap saat selalu teringat padanya.


...****...


"Aku mau tidur sama Mama." Ujar Zie.


"Ara juga mau sama Mama." Ara langsung bergeser ke samping Yuna. Kedua bocah itu memilih untuk tidur satu kamar dengan Yuna dan Brian.


"Kalian mau tidur di kamar Mama.? Lalu siapa yang menemani Papa.?" Keluh Barra dengan raut wajah lesu. Kedua anaknya tidak ada yang mau tidur satu kamar dengannya.


Semua orang sudah masuk kedalam kamar masing-masing untuk istirahat karna sampai di hotel pukul 11 malam waktu setempat.


Hanya mereka saja yang masih berada di depan kamar karna twins tidak mau masuk ke kamar Barra.


"Papa sendirian saja." Sahut Zie.


"Zie, jangan begitu." Tegur Yuna pelan.


"Sekarang Zie dan Ara tidur sama Papa dulu, besok malam gantian tidur di kamar Mama." Bujuk Yuna.


Kedua bocah itu kompak menggelengkan kepala.


"Biar Brian saja yang tidur di kamar Uncle,," Ujar Brian menawarkan diri. Sepertinya bocah kecil itu tidak tega melihat Barra tidur sendiri karna kedua kakaknya tidak ada yang mau tidur dengan Papanya.


Yuna langsung menggelengkan kepala.


"Brian sama Mama saja." Yuna enggan mengijinkan Brian tidur dengan Barra.


"Tapi kasihan Uncle tidur sendirian. Brian mau temani Uncle." Pintanya.


"Boleh kan Uncle.?" Brian langsung mendekat ke arah Barra.


Barra mengangguk cepat.


"Tentu saja boleh." Jawabnya sembari merangkul pundak Brian.


"Biarkan Brian tidur denganku."


Melihat Brian yang bersikeras ingin tidur dengan Barra, Yuna tidak lagi melarangnya. Dia mengangguk setuju meski sebenarnya keberatan dengan hal itu.


Mereka kemudian bergegas masuk ke dalam kamar masing-masing. Yuna bersama twins dan Mama Rena, sedangkan Barra hanya berdua dengan Brian.


Setelah mengganti baju dan menggantikan baju Brian, Barra mengajak Brian untuk tidur.


Setelah kepergian Chandra, Brian memang jadi lebih dekat dengan Barra, karna Brian sering ikut saat Barra mengajak twins pergi jalan-jalan.


Keduanya sudah berbaring di atas ranjang, tiba-tiba Brian mendekat ke arah Barra dan memeluknya.


"Brian kangen Papi,," Ucap Brian dengan suara yang bergetar. Barra bahkan yakin kalau bocah laki-laki itu sedang meneteskan air matanya. Dekapan Brian bahkan semakin erat. Isak tangis Brian perlahan mulai terdengar.


Barra menarik nafas dalam, dia merasakan sesak di dadanya melihat Brian yang terlihat sangat merindukan sosok ayahnya. Barra jadi membayangkan jika semua ini terjadi pada putranya. Rasanya terlalu berat bagi anak sekecil Brian untuk di tinggal pergi selamanya oleh orang tuanya.


"Brian boleh peluk Uncle dan tidur setiap hari dengan Uncle, anggap saja ini Papi Brian." Ujar Barra sembari mendekap Brian dan mengusap punggungnya.


Brian mengangguk dalam dekapan Barra. Tangisnya semakin pecah. Brian benar-benar merindukan kehadiran Chandra di sisinnya.