Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 35


"Kamu yakin ini nggak akan jadi masalah ke depannya.?" Sejak tadi Cindy masih belum bisa menerima rencana Barra untuk berpura-pura hamil depan semua keluarga besarnya.


Berulang kali Cindy meminta Barra untuk memikirkan ulang rencananya sebelum menelfon Mom Sonya dan memberitahukan kabar kehamilan palsu ini.


"Nggak ada yang tau kalau rahim kamu di angkat, jadi akan aman selama kamu nggak membuat mereka curiga."


"Lagi pula kita hidup jauh dari mereka, aku yakin semuanya akan berjalan dengan baik."


"Tapi sayang, aku nggak bisa bohongin mereka," Cindy menggelengkan kepalanya, kembali menolak rencana Barra yang menurutnya akan beresiko besar nantinya.


"Kamu nggak bisa bohongin mereka, tapi kamu bisa pura-pura jahat dan buruk di depan mereka." Seru Barra. Suaranya sedikit meninggi. Dia mulai kesal karna Cindy tidak mau mendengarkan perintahnya sedangkan dia sudah menuruti keinginan Cindy untuk menikah lagi. Hal tersulit baginya tapi tetap dilakukan demi Cindy.


"Kali ini kamu yang harus mendengarkan ku, turuti keinginan ku." Tegasnya tanpa mau di bantah lagi.


"Tapi bagaimana nasib dia dan anak kamu yang lain.?"


"Kamu nggak kasihan sama mereka.? Kamu menutupi keberadaannya dari keluarga kita."


Cindy tidak mau hanya memikirkan dirinya sendiri dan kebahagiaannya. Dia juga memikirkan madunya yang terlihat tidak di anggap oleh Barra dan tidak di perlakukan dengan adil.


Sekarang Barra malah akan meminta salah satu anak istri keduanya agar di akui sebagai anak dia dan Barra.


Cindy yakin semua ini atas perintah Barra rasanya tidak mungkin kalau madunya yang rela melepaskan salah satu anak itu untuk menjadi anaknya.


"Kenapa harus kasihan.? Aku nggak akan menelantarkan mereka, Cindy." Tutur Barra. Entah harus bagaimana lagi untuk membuat Cindy mau menuruti keinginannya tanpa harus berdebat seperti ini.


"Kamu nggak perlu memikirkan itu, mereka adalah tanggungjawabku."


"Sekarang turuti saja apa yang aku inginkan, tidak ada bantahan.!" Barra menutup perdebatan itu dengan beranjak dari sofa dan pergi ke ruang kerjanya.


Barra menutup pintu dengan kasar. Suara dentumannya bahkan sampai membuat Cindy tersentak kaget. Dia tidak pernah melihat Barra seperti ini sebelumnya. Sikapnya benar-benar mulai berubah, jadi terlihat sulit untuk mengontrol emosi. Padahal sejak dulu tidak pernah marah, apalagi sampai membanting pintu seperti itu.


Cindy sadar, perubahan sikap Barra di awali oleh keinginannya yang menurut Barra merupakan keinginan tergilanya.


Barra sampai berulang kali menyadarkannya saat pertama kali dia mengutarakan keinginannya untuk merelakan Barra menikah lagi.


Menurut Barra, pikirannya mulai tidak waras karna meminta hal konyol itu.


Sekarang Cindy bisa merasakan jika keinginan telah memberikan dampak buruk untuk Barra. Mulai dari emosinya yang mudah terpancing, dan terlihat sering kelelahan karna harus membagi waktunya.


"Maafkan aku. Aku tau semua ini berat untuk di jalani, tapi aku yakin ini yang terbaik untuk kamu." Gumam Cindy lirih. Dia menyeka sudut matanya yang mulai meneteskan air mata.


Sungguh apa yang dia lakukan saat ini hanya demi kebahagiaan Barra. Dia tidak pernah menyesal menyuruh Barra menikah lagi. Bahkan siap untuk hidup berdampingan dengan madunya dan menganggapnya sebagai adik.


...****...


Pagi harinya sebelum Barra berangkat ke kantor, dia menyempatkan untuk menelepon Mommy Sonya dan Daddy Hendra lebih dulu.


Barra ingin cepat - cepat memberikan kabar kehamilan Cindy pada kedua orang tuanya. Sudah lama kedua orang tuanya menginginkan cucu darinya meski tidak berani menuntut.


Kabar ini pasti akan menjadi kabar bahagia untuk mereka setelah lebih dari 4 tahun menunggu.


"Kehamilannya sudah 12 minggu, kamu harus mengingatnya." Ujar Barra pada Cindy. Karna kedua orang tuanya pasti akan menanyakan tentang usia kehamilan Cindy.


"Aku mengerti."


"Tapi bagaimana kalau Mom bertanya apa yang aku rasakan selama hamil.? Aku nggak tau seperti apa yang dirasakan oleh ibu hamil." Cindy menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sakit. Dia iri dengan wanita yang bisa merasakannya seperti apa itu kehamilan.


Sekarang dia harus pura-pura hamil. Itu benar-benar menyakitkan untuknya.


"Dia tidak merasakan apapun, hanya saja nafsu makannya bertambah."


"Mom pasti akan percaya, apa lagi berat badan kamu juga naik sekarang." Jelas Barra.


Cindy mengangguk paham. Setelah itu Barra langsung menghubungi orang tuanya.


"A,,apa.? Cindy hamil.?" Mom Sonya begitu terkejut bercampur bahagia mendengar kabar kehamilan Cindy. Dia sampai tidak bisa berkata-kata. Daddy Hendra sampai mengambil alih ponsel di tangan istrinya.


"Syukurlah, kami senang mendengarnya."


"Selamat atas kehamilan kamu nak, akhirnya kalian akan menjadi orang tua." Ujar Dad Hendra dengan senyum yang merekah. Orang tua mana yang tidak bahagia mendengar kabar kehamilan menantunya setelah lebih dari 4 tahun tak kunjung hamil.


"Kemari, aku ingin bicara dengan Cindy." Mom Sonya mengambil ponsel dari tangan suaminya.


Raut wajah bahagia yang terpancar di wajah Mama mertuanya, membuat Cindy ikut merasa bahagia. Ternyata seperti ini rasanya memberikan kebahagiaan pada kedua orang tuanya.


"Hai Mom,,, apa kalian sehat.?" Sapa Cindy dengan senyum yang mengembang lebar.


"Mom dan Dad sehat. Bagaimana kondisi kamu dan cucu Mom.?"


"Sudah berapa minggu usia kehamilan kamu nak.?" Tanyanya Mommy Sonya antusias.


"Cucu Mom sehat, dia sudah 12 minggu Mom."


Cindy mengulas senyum kaku. Dia merasa bersalah telah membohongi mertuanya


"Sudah 12 minggu.? Kenapa kalian baru mengabari kami.?"


Barra langsung mengambil alih ponsel miliknya dan menjelaskan pada kedua orang tuanya agar mereka tidak curiga.


...*****...


Menahan rindu ternyata sangat menyiksa. Sudah 3 hari tanpa Barra, Yuna begitu menahan diri untuk tidak menghubunginya meski ingin sekedar mendengar dan melihat wajahnya. Dia merasa semakin hari semakin merindukan Barra dan ingin selalu berada di dekatnya. Ini bukan rindu karna perasaan cinta, namun rindu yang Yuna sendiri tidak tau alasannya.


Tadi setelah Nitha pamit pulang, Yuna langsung bergegas ke kamarnya untuk mandi.


Kini sudah hampir 1 jam Yuna mondar-mandir di ruang tamu. Tiba-tiba ingin menyambut kepulangan Barra.


Apalagi Barra sampat mengirimkan pesan padanya 2 jam yang lalu. Barra menanyakan padanya apa yang dia inginkan atau butuhkan saat ini.


Sejujurnya Yuna tidak menginginkan apapun, karna saat ini dia hanya ingin melihat Barra secepatnya. Namun karna ingin menghargai niat baik dan perhatian Barra, Yuna memesan salad buah padanya.


Suara deru mobil yang masuk ke halaman rumah, membuat Yuna langsung bergegas membuka pintu dan keluar menghampiri mobil Barra yang baru saja terparkir. Senyum lebar seketika merekah di bibir Yuna. Entah kenapa rasanya sangat bahagia walaupun baru melihat mobil Barra.


Pintu terbuka, Barra keluar dengan mengulas senyum tipis pada Yuna. Senyum yang biasa dan tatapan datar namun terlihat begitu berarti bagi Yuna saat ini.


Perasaan yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya, membuat kedua mata Yuna berkaca-kaca. Dia benar-benar merindukan Barra namun tidak bisa berbuat apa-apa untuk melepaskan kerinduannya pada suaminya itu.


Yuna ingin menghambur ke pelukan Barra, tapi Yuna merasa canggung karna selama ini Barra juga tidak pernah memeluknya kecuali saat berada di atas ranjang.


Meriah tangan Barra dan mencium punggung tangannya. Hanya itu yang bisa Yuna lakukan. Dia kemudian tersenyum pada Barra, menatap wajah tampan Barra dengan mata berbinar.


"Apa mereka baik-baik saja.?" Tanya Barra sembari mengusap perut Yuna. Barra tidak pernah lupa memberikan perhatian pada baby twins, namun selalu melupakan untuk memberikan perhatian pada Ibu dari calon anaknya.


"Baik,," Sahut Yuna lirih. Dia tidak bersemangat lagi karna Barra sama sekali tidak memperhatikannya.


"Ayo masuk,," Barra merangkul pundak Yuna dan mengajaknya masuk kedalam karna di luar sudah mulai gelap.