Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 41


Barra keluar dari kamar ganti setelah memakai baju. Dahinya berkerut ketika melihat Cindy tengah berdiri di depan pintu dan menatapnya tajam. Selembar kertas yang ada di tangan Cindy menarik perhatian Barra. Kini Barra mengerti kenapa Cindy terlihat sangat marah saat menatapnya.


"Kami bisa jelasin ini.?" Tanya Cindy dengan nada kecewa. Dia mengangkat kertas itu tepat di depan wajah Barra.


Kertas yang dia temukan di dalam tas kerja Barra saat tak sengaja membukanya lantaran ponsel di dalam tas itu terus berdering.


Karna Barra sedang mandi, Cindy berinisiatif untuk mengangkat panggilan yang masuk ke ponsel suaminya. Namun sebelum mengangkat telfon, Cindy lebih dulu melihat kertas yang menurutnya mencurigakan. Benar saja, kertas itu memang mencurigakan sampai membuatnya terkejut dan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Barra.


"Cindy aku,,," Barra hendak merebut kertas itu dari tangan Barra, namun Cindy langsung menjauhkannya.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu tulis disini.?!" Seru Cindy dengan tatapan penuh kecewa.


"Kamu sudah menukar seorang anak dengan uang.! Kenapa kamu bisa berfikir sejahat ini.?!"


"Aku nggak keberatan kamu memiliki 2 istri, agar kamu bisa merasakan bagaimana bahagianya memiliki anak kandung."


"Tapi kamu malah,,,"


Cindy menghentikan perkataannya. Dia menarik nafas dalam. Matanya sudah berkaca-kaca. Tidak menyangka Barra akan bertindak sejauh ini.


"Aku akan jelasin, kita bicarakan baik-baik." Barra menggandeng tangan Cindy dan mengajaknya duduk di sofa.


Keduanya duduk bersebelahan, diam beberapa saat karna sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kamu bilang dia akan memberikan salah satu anak kalian untuk menjadi anakku. Jadi semua itu bohong.?!" Cecar Cindy. Dia menatap Barra penuh dengan kecurigaan.


"Dia nggak hamil kembar kan.? Tapi memang terpaksa harus memberikan anaknya sesuai perjanjian ini.?!" Kertas di tangannya berpindah tangan ke pangkuan Barra. Cindy sedikit kasar meletakkannya.


"Kalau tau akan seperti ini, lebih baik aku yang mengalah."


"Aku pikir kamu nggak akan bertindak sejauh ini. Kamu membuat kebohongan besar."


"Mom dan Dad pasti akan kecewa kalau tau kamu seperti ini."


"Kamu sudah mempermainkan pernikahan, secara tidak langsung telah membelinya agar mau mengandung dan memberikan anaknya pada kamu."


Cindy meluapkan semua kekesalannya pada Barra. Bukan ini yang dia inginkan untuk memberikan kebahagiaan pada Barra.


"Sudah.?!" Tanya Barra dengan wajah yang mulai memerah.


"Sudah selesai menyalahkanku.?!" Bentaknya penuh penekanan.


"Kamu pikir siapa yang membuat ku jadi laki-laki brengsek seperti ini.?" Nada bicara Barra semakin meninggi. Nyatanya bukan Cindy saja yang mereka kecewa dengan semua ini, Barra pun merasakan hal yang sama bahkan lelah menjalani hari-harinya yang semakin penuh dengan masalah. Hidupnya yang selama ini tenang, kini terusik.


"Sejak dulu kamu yang selalu mempermasalahkan soal keturunan, padahal aku nggak pernah menuntut anak dari kamu.!"


"Kamu pikir mudah untuk menjalani 2 pernikahan sekaligus.?!"


"Mungkin aku bisa membagi waktu, perhatian dan tanggungjawab, tapi ada hal yang nggak bisa aku lakukan.! Berbagi ranjang dan hati.!" Tutur Barra dengan emosi yang meluap. Selama ini dia menahannya sendiri, Bergulat dengan hatinya.


"Itu sebabnya aku membuat surat perjanjian itu."


"Dia juga sudah bersedia memberikan salah satu anaknya untuk kita rawat, dan akan membawa pergi salah satu dari mereka." Jelas Barra penuh penekanan.


"Jadi siapa yang harus disalahkan dalam hal ini.? Kamu atau aku.?!" Bentaknya. Barra memegang salinan surat perjanjian itu dan merobeknya.


"Ini kan yang kamu mau.?! Aku akan batalkan perjanjian ini, kita bertiga akan hidup berdampingan sesuai yang kamu minta." Barra meletakkan robekan kertas itu di atas meja, lalu beranjak dari sana dan pergi ke kamar.


Cindy memaku, perlahan rasa bersalah berdatangan sedikit demi sedikit hingga memenuhi hati dan pikirannya. Apa yang di ucapkan oleh Barra memang semuanya benar. Semua ini terjadi atas perbuatannya. Kalau saja tidak memaksa Barra untuk menikah lagi, pasti tidak akan terjadi masalah besar dalam rumah tangganya. Dan tidak akan ada hati wanita lain yang tersakiti.


Kini Cindy mulai sadar bahwa dia sudah egois. Dia sibuk mencari kebahagiaan untuk Barra tanpa memikirkan perasaan wanita yang menjadi madunya.


Cindy beranjak dari sofa, dia ingin menyusul Barra ke kamar dan meminta maaf padanya. Namun belum sempat masuk, Barra sudah keluar dengan setelan jeans dan kaos. Dia memegang ponsel dan kunci mobil di tangannya.


"Aku hanya punya 2 tempat untuk pulang." Jawab Barra datar. Dia beranjak dari hadapan Cindy tanpa mengatakan apapun lagi.


Sorot matanya di penuhi kekecewaan dan terlihat banyak beban yang dia rasakan.


Cindy berjalan cepat menyusul Barra, dia memeluknya dari belakang.


"Maaf,,," Ucap Cindy tulus. Suara bergetar menahan tangis.


"Aku benar-benar minta maaf."


"Bukan inginkan yang aku inginkan, aku hanya ingin kamu bahagia tapi malah membuat kamu terluka."


"Maaf sudah menciptakan kekacauan ini."


"Tapi semuanya sudah terjadi, aku mohon jangan ceraikan dia. Kalian harus tetap bersama. Aku akan senang jika ikut terjadi."


Cindy tidak akan tega membuat wanita lain menjadi seorang janda hanya karna dijadikan alat untuk kebahagiaan rumah tangganya.


"Terlambat." Sahut Barra. Dia melepaskan pelan tangan Cindy yang melingkar di perutnya.


"Dia bersikeras untuk bercerai setelah mengetahui isi perjanjian yang dia tandatangani." Jelas Barra.


Cindy kembali di buat terkejut.


"Jadi sejak awal dia nggak tau isi perjanjian yang kamu buat.?" Tanyanya tak percaya.


"Dia melewatkan membaca 2 poin terakhir."


"Aku pergi.!" Ujar Barra, dia kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari apartemen.


"Pertemukan aku dan dia secepatnya, aku yang akan memohon padanya untuk tetap menjadi istrimu." Seru Cindy. Barra hanya menoleh, menatap datar kemudian keluar dan menutup pintu.


...****...


Barra mengentikan mobilnya di seberang rumah setelah lebih 2 jam berhenti di pinggir taman kota.


Jam baru menunjukkan pukul 9 malam, lampu di dalam rumah terlihat masih menyala, namun Barra enggan masuk ke dalam. Dia kembali bersender pada jok mobil, menyilangkan kedua tangan memejamkan mata.


Mengulangi apa yang tadi dia lakukan di taman kota.


Barra terus merenungi apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Berulang kali memikirkan cara untuk mengambil langkah yang terbaik agar tidak ada lagi yang akan terluka.


Hampir 2 jam berada di dalam mobil dan sempat ketiduran di sana. Barra memutuskan memarkirkan mobilnya di garasi setelah melihat lampu di dalam rumah sudah padam.


Membuka pintu dengan kunci yang selalu dia bawa, Barra langsung naik untuk pergi ke kamar Yuna.


Dia tersenyum samar karna pintu kamar Yuna bisa dibuka dengan mudah.


Masuk kedalam dengan perlahan, Barra berdiri sisi ranjang. Dia hanya bisa menatap wajah polos Yuna dengan perasaan bersalah.


Entah bagaimana bisa dia mengikat Yuna dengan perjanjian yang menyakitkan ini.


"Maafkan aku,," Ucap Barra lirih.


Barra sedikit menunduk, tangannya mengulur dan mengusap lembut perut Yuna dengan perasaan bahagia bercampur sedih.


Baby twins terancam menjadi korban atas permasalahan yang terjadi.


Pada akhirnya semua ini telah menyakiti hati ketiganya, namun masing-masing dari mereka telah mendapatkan keuntungan dari pernikahan itu meski tidak sebanding dengan rasa sakit yang mereka dapatkan.


Barra menarik selimut untuk menutupi tubuh Yuna, setelah itu beranjak keluar kamar dan memilih tidur di kamar sebelah. Dia tidak mau merusak mood Yuna ketika bangun tidur dan melihat dirinya ada di ranjang yang sama.