
Yuna menoleh kebelakang, menatap pintu apartemen Barra dengan sorot mata yang sulit di artikan.
Pertemuannya dengan Cindy ternyata cukup menguras emosi dan menguji kesabarannya.
"Bukankah mereka berdua pasangan yang serasi." Gumam Yuna dengan senyum kecut. Dia segera berlalu dari sana. Pekerjaan di rumah jauh lebih penting untuk di urus dan di pikirkan.
...****...
Barra keluar dari ruang kerjanya karna tidak lagi mendengar suara obrolan di luar. Dia memang sedang fokus menyelesaikan pekerjaannya, namun masih bisa bisa mendengar suara kedua istrinya meski tidak jelas apa yang mereka obrolkan.
"Sayang,, Yuna baru saja keluar, cepat kamu susul dia." Ujar Cindy begitu melihat Barra membuka pintu
"Aku sudah memintanya agar di antar sama kamu tapi dia menolak."
Keadaan Yuna yang tengah hamil membuat Cindy terlihat khawatir membiarkan Yuna pulang sendirian.
"Kenapa nggak bilang dari dari, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kehamilannya." Ucap Barra panik.
"Maaf, aku nggak bisa cegah dia."
"Sebaiknya kamu susul sekarang sebelum jauh,," Cindy mendorong pelan bahu Barra agar bergegas menyusul Yuna.
"Kalau begitu aku antar Yuna pulang dulu, nanti malam aku pulang lagi." Barra pamit pada Cindy. Dia mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya dan beranjak keluar dengan buru-buru.
Pikirannya tidak tenang karna dia belum mengetahui seperti apa reaksi Yuna setelah Cindy membujuknya untuk tetap menjadi bagian dalam hidup mereka.
Sedikit takut Yuna akan semakin kecewa dan akan mempengaruhi kehamilannya.
Barra setengah berlari menuju lift, berharap Yuna belum jauh dari apartemennya.
"Yuna,,,!!" Teriak Barra. Dia menghela nafas lega ketika melihat Yuna berdiri di depan lift. Istri keduanya itu jadi mengurungkan niatnya masuk ke dalam lift. Dia menatap Barra dan menunggu laki-laki itu menghampirinya.
"Mas, ada apa.?" Tanyanya lembut. Kening Barra reflek berkerut. Sikap Yuna tiba-tiba kembali seperti sebelumnya, tidak lagi terlihat ketus dan dingin saat bicara. Tatapan matanya juga tidak lagi di selimuti kekecewaan.
Semudah itukah Cindy membuat Yuna bisa menerima semua ini.?
Hal itu membuat Barra bertanya-tanya.
"Kenapa nggak bilang kalau mau pulang, ayo aku antar." Barra mencoba menggandeng tangan Yuna untuk memastikan. Kalau Yuna menepis tangannya seperti yang biasa di lakukan, itu artinya Yuna masih menaruh kekecewaan padanya.
Diam, Yuna diam sesaat lantaran memperhatikan tangannya yang di genggam oleh Barra. Perlahan sudut bibirnya terangkat. Dia tersenyum tipis dan menatap Barra tanpa berusaha menepis tangannya.
"Nggak usah Mas, aku berani kok pulang sendiri." Tolak Yuna halus.
"Mas Barra disini saja, temani Mba Cindy. Kasian kalau di tinggal lagi, kemarin kan Mas Barra nggak pulang kesini."
Barra membisu, dia benar-benar bingung dengan sikap Yuna. Secepat itu berubah.? Tidak lagi menyinggungnya dengan ucapan sinis.
Bahkan membiarkan begitu saja tangannya di genggam.
"Mas,," Panggil Yuna lembut. Dia mengusap lengan Barra dengan sebelah tangannya.
Lamunan Barra seketika buyar.
"Nggak masalah, aku antar kamu pulang dulu." Ucapnya sedikit gugup
"Justru Cindy juga menyuruhku untuk mengantar kamu pulang, sepertinya dia juga khawatir sama kamu." Barra tersenyum teduh, manis sekali senyumnya. Wanita mana yang akan rela membagi suami seperti Barra. Sepertinya hanya Cindy saja.
"Benarkah Mba Cindy khawatir padaku.?" Tanya Yuna. Barra bisa melihat sorot mata yang berbinar, terlihat senang karna Cindy mengkhawatirkannya.
"Iya,," Jawab Barra cepat.
"Ayo masuk,," Barra menekan tombol lift dan menggandeng Yuna masuk.
"Jadi bagaimana keputusan kamu.?" Tanya Barra hati-hati. Dia takut Yuna akan tersinggung.
"Kamu bersedia kan tetap melanjutkan pernikahan kita.?" Barra menatap cemas. Jantungnya bahkan berdetak kencang. Terasa menegangkan menunggu jawaban dari Yuna.
"Mba Cindy sangat baik, dia juga nggak keberatan aku menjadi madunya. Jadi apa yang harus aku ragukan lagi disini.?" Tutur Yuna tenang.
"Aku bersedia asal Mas Barra bisa adil. Perlakukan aku sama seperti Mas Barra memperlakukan Mba Cindy."
"Bukan hanya adil membagi waktu dan perhatian, tapi Mas Barra juga harus adil dalam membagi cinta."
"Aku juga manusia, perlu diperlakukan dengan perasaan." Yuna mengulas senyum, senyum termanis yang belum pernah dia berikan pada Barra sebelumnya.
Mendengar jawaban Yuna yang melegakan hati dan pikirannya, Barra langsung menarik Yuna dalam dekapan.
"Terimakasih, terimakasih mau bertahan dan memberikan kebahagiaan untukku." Ucap Barra tulus.
Barra tau kalau Yuna memiliki hati yang lembut, sudah pasti Yuna akan mudah luluh.
...*****...
Keduanya sudah berada di dalam mobil. Yuna terlihat santai dan mau memulai obrolan lebih dulu dengan Barra.
"Aku ingin makan es krim lagi yang ada di mall, apa boleh.?" Tanya Yuna. Puppy eyes yang dia perlihatkan pada Barra, membuat Barra menyetujui permintaannya tanpa pikir panjang.
"Tentu saja," Sahut Barra. Tangannya mengulur dan mengusap pucuk kepala Yuna sembari tersenyum.
Barra membelokkan mobilnya ke mall. Dia membelikan es krim untuk Yuna dan menemaninya menghabiskan es krim di sana.
"Apa lagi yang ingin kamu makan.? Atau mau beli sesuatu.?" Tawar Barra.
Yuna langsung menggelengkan kepalanya.
"Kita langsung pulang saja." Pinta Yuna.
Keduanya bergegas pulang, tak lebih dari 1 jam berada di mall.
"Berhenti di sini saja Mas," Ujar Yuna. Dia menyuruh Barra menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Mas Barra kan harus pergi lagi, biar nggak ribet nanti keluarnya, jadi langsung jalan aja." Jelas Yuna.
Tapi sepertinya Barra enggan menuruti perintah Yuna.
"Nggak masalah, aku mau antar kamu sampai ke dalam." Barra membelokkan mobilnya dan berhenti di halaman rumah.
"Tapi Mba Cindy,,,
"Aku sudah bilang akan kembali nanti malam." Potong Barra. Dia keluar dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Yuna.
Begitu masuk kedalam, keadaan rumah sudah sepi. Nitha dan karyawannya sudah pulang karna sudah menjelang malam, begitu juga dengan asisten rumah tangganya. Hanya ada Mama Rena yang sepertinya sedang berada di kamar.
"Aku mau mandi dulu Mas,," Yuna meletakkan tas di atas sofa, setelah itu beranjak ke kamar mandi.
Barra memilih duduk di sofa dan menunggu Yuna.
Yuna berendam air hangat lebih dari 30 menit. Hal itu membuatnya merasa segar dan jauh lebih baik.
Keluar dengan memakai handuk kimono, Yuna santai saja berjalan menuju walk in closet meski ada Barra yang sedang menatap ke arahnya.
"Loh, Mas Barra belum pulang.? Mba Cindy pasti menunggu di rumah." Yuna terlihat kaget melihat Barra masih ada di kamarnya.
"Setelah bicara dengan baby twins, aku akan pulang." Jawab Barra. Yuna mengangguk paham.
"Kalau begitu aku pakai baju dulu."
Selesai mengganti baju dan merapikan rambut serta sedikit memoleskan lipstik di bibirnya, Yuna menghampiri Barra dan duduk di sampingnya.
Barra langsung antusias mengusap perut Yuna fan menyapa kedua anaknya.
"Sedang apa anak-anak Papa.?" Tanya. Dia menundukkan kepala hingga sejajar dengan perut Yuna.
Yuna hanya diam saja, membiarkan Barra berinteraksi dengan baby twins.
Yuna mengantar Barra sampai di teras.
"Aku pergi dulu," Pamitnya setelah puas berinteraksi dengan anak-anaknya.
Barra juga mendaratkan kecupan di kening Yuna hingga membuat Yuna sedikit terkejut.
"Hati-hati di jalan Mas,," Ucap Yuna sembari meraih tangan Barra dan mencium punggung tangannya.
Barra mengangguk, kemudian berjalan ke mobilnya.
"Aaww,,," Pekik Yuna, tangannya terlihat memegangi kepala. Barra yang melihat hal itu segera menutup pintu mobil dan menghampiri Yuna.
"Yuna, kamu kenapa.?" Raut wajah Barra seketika panik.
"Nggak kenapa-napa Mas, cuma pusing saja." Yuna memijat pelipisnya.
"Ayo masuk, aku antar kamu ke kamar. Sebaiknya kamu makan malam dulu." Barra merangkul pinggang Yuna dan mengajaknya masuk.
"Nggak usah Mas, aku baik-baik aja, hanya pusing."
"Mas Barra pulang saja, kasian Mba Cindy sudah menunggu. Nggak usah khawatir, ada Mama disini." Yuna melarang Barra masuk kembali ke dalam rumah.
"Aku nggak akan tenang kalau ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini, ayo masuk." Barra bersikeras membawa Yuna masuk ke dalam. Pada akhirnya lama berada di sana karna harus menyuapi Yuna