Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 97


"Apa.?! Kakak mau menikah.?!" Sisil tersentak kaget melihat undangan pernikahan yang di sodorkan oleh Yuna untuk Mommy Sonya. Matanya membulat sempurna, benar-benar kaget mendengar Yuna akan menikah dengan orang lain.


"Sayang.! Kamu membuat Kevin kaget." Tegur Nicho. Dia langsung mengambil Kevin dari pangkuan Sisil karna tiba-tiba menangis setelah Sisil berteriak.


"Jadi 1 minggu lagi pernikahan kamu.?" Tanya Dad Hendra. Dia yang terlihat lebih santai mendengar kabar pernikahan Yuna di banding dengan Sisil dan Mommy Sonya.


"Iya Dad, bertepatan dengan ulang tahun Zie dan Ara." Tutur Yuna. Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Dia sudah siap membuka lembaran baru meski masih ada luka dalam hatinya.


Setidaknya pernikahan ini bisa membebaskan dia dari sikap Barra yang terlalu ikut campur urusan pribadinya. Dia juga berharap pernikahannya dengan Chandra akan memberikan sedikit kabahagiaan setelah bertahun-tahun dalam kepedihan.


"Baiklah, kami pasti akan datang pernikahan kamu dan ulang tahun cucu-cucu ku."


"Semoga dia pria yang baik dan bertanggungjawab untuk kehidupan kalian kedepan." Ucapnya tulus.


Dad Hendra sangat mendukung keputusan Yuna untuk menikah lagi. Dia berharap mantan menantunya itu bisa hidup bahagia setelah apa yang di lakukan oleh Barra pada Yuna.


Walaupun Barra anak kandungnya, namun sampai detik ini Dad Hendra masih kecewa dengan perbuatan Barra yang akhirnya membuat kedua cucunya jadi korban.


"Kamu sudah yakin dengan pria itu nak.?" Tanya Mom Sonya.


"Apa dia pria yang baik dan sayang pada kalian.? Apa dia bisa menerima cucu-cucu Mommy.?" Ada nada kekhawatiran dalam setiap kata yang terlontar dari bibir Mom Sonya. Dia takut Yuna akan terluka untuk kedua kalinya dan twins juga tidak mendapatkan kasih sayang yang tulus dari sosok Papa sambungnya.


Yuna tersenyum, lalu mengangguk yakin.


"Dia sangat menyanyangi anak-anak Mom,, bahkan selalu datang menemui mereka walaupun aku tidak ada di rumah." Tutur Yuna.


Sangat berbeda dengan Barra yang selalu datang setiap kali dia ada di rumah, seolah sengaja untuk bertemu dengannya juga dan selalu mencari celah untuk bisa membahas urusan pribadi.


Bukan tidak suka Barra datang ke rumah, dia justru senang jika Barra sering menemui anak-anak, tapi waktunya yang membuat Yuna jadi berfikir macam-macam pada Barra.


"Semoga dia pria yang tepat untuk kamu dan Papa sambung yang baik dan bertanggungjawab." Ujar Mom Sonya.


"Mom hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan kamu dan anak-anak."


"Kamu juga berhak menjalani kehidupan dengan semestinya."


Mom Sonya juga tidak punya hak untuk melarang Yuna membuka hati pada pria lain. Yuna masih muda, dia berhak untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang sebenarnya. Tanpa ada hal yang menyakitkan di balik pernikahan itu.


Sebagai wanita yang sudah melahirkan Barra, Mom Sonya tentu saja merasa bersalah pada Yuna. Dia malu atas perbuatan putranya yang memanfaatkan kelemahan Yuna kala itu. Dia mendidik dan menyekolahkan putranya dengan biaya yang tidak main-main, tapi malah melakukan perbuatan yang tidak pantas untuk di lakukan oleh siapapun.


Beruntung Yuna dan Mama Rena masih berbaik hati, tidak membatasi hubungan antara twins dengan keluarganya. Jika saja itu terjadi pada Sisil, Mom Sonya bisa pastikan laki-laki itu tidak akan pernah bisa menemui anak-anaknya lagi.


"Terimakasih Mom, kami pasti akan bahagia," Ucap Yuna.


Sisil terlihat menghela nafas, terlihat berat mendengar kabar pernikahan Yuna dengan pria lain.


Walaupun dia kecewa pada Barra, tapi entah kenapa masih berharap suatu saat Yuna akan kembali pada kakaknya itu.


"Semoga kak Yuna bahagia,," Ujar Sisil.


Yuna tersenyum sembari menganggukan kepala.


...****...


Pagi itu Yuna sudah bersiap untuk pergi ke ruko. Beberapa hari lagi akan menikah, membuatnya jadi gugup walaupun ini bukan pertama kalinya. Tapi membayangkan pernikahannya yang akan digelar secara mewah di hotel bintang 5, tentu saja Yuna nervous lebih dulu membayangkan hal itu.


Tadinya Yuna menolak untuk mengadakan resepsi mewah, dia hanya ingin pernikahan yang sederhana saja. Namun Chandra bersikeras untuk mengadakannya di hotel. Dia bilang, ingin menjadikan pernikahan ini sebagai hari terindah yang tidak akan mudah untuk di lupakan dan berkesan di hati Yuna.


Langkah Yuna terhenti saat baru saja keluar beberapa langkah dari teras. Dia menatap mobil Barra yang berhenti di depan rumah.


Tak berselang lama, laki-laki itu turun dari mobil dengan tatapan tajam.


"Ara dan Zie masih tidur, tunggu di dalam saja." Ucap Yuna memberi tau. Dia lalu beranjak untuk pergi karna harus segera ke ruko.


"Mas.! Kamu mau apa.?!" Pekik Yuna takut. Dia berusaha lepas dari Barra namun Barra terus mendorongnya masuk kedalam mobil.


Barra bergegas masuk dan langsung melakukan mobilnya.


"Kalau mau bicara dirumah saja, nggak perlu membawaku seperti ini.! Cepat berhenti.! Aku mohon berhenti.!!" Teriak Yuna geram.


"Kita harus bicara berdua.!" Sahut Barra tegas. Dia tidak memperdulikan teriakan Yuna dan terus melajukan mobilnya.


"Aku mohon berhenti.!" Pinta Yuna dengan tatapan memelas. Entah kenapa dia merasa ketakutan melihat Barra saat ini. Dia menjadi sosok yang menyeramkan dengan tatapan tajam penuh amarah.


30 menit berlalu, Barra membelokkan mobilnya ke gedung apartemennya.


Tanpa pikir panjang, Yuna diam-diam mengirimkan pesan pada Chandra untuk segera datang ke apartemen Barra. Yuna sudah bisa menebak kalau Barra akan membawanya ke apartemen. Dia pasti berani melakukan itu karna saat ini Cindy tidak ada di sana.


Turun dari mobil, Barra membukakan pintu untuk Yuna dan menggandeng tangannya. Berjalan dengan langkah lebar hingga membuat Yuna seperti terseret.


Yuna hanya bisa mengepalkan tangannya dan menatap Barra dengan penuh kemarahan.


Masuk kedalam apartemen, Barra langsung menguncinya.


"Aku mohon batalkan pernikahan itu." Pintanya. Wajahnya langsung berubah sendu, perlahan mulai menunduk dan berlutut di depan Yuna.


"Jangan menikah dengannya." Ujarnya lagi. Suaranya terdengar putus asa.


"Aku benar-benar mencintaimu, aku tidak bisa melihat kamu menikah dengan siapapun."


Yuna mundur beberapa langkah. Menatap sinis pada Barra yang terus membuatnya terjerat dalam kehidupan yang menyakitkan ini. Barra berbuat semaunya dengan ikut campur urusan pribadi Yuna, sedangkan dia dan Cindy masih bisa hidup bahagia.


"Berhenti untuk egois.!" Seru Yuna.


"Aku sudah mundur, aku tidak mau mengusik kebahagiaan kalian. Tapi kenapa langkahku saja masih di bebani seperi ini.?!" Ucap Yuna geram.


"Aku tidak menginginkan apapun dari kalian, aku hanya ingin bisa bernafas dengan baik tanpa harus merasa sesak.!"


Barra mengangkat wajahnya.


"Aku egois.? Kamu yang egois karna membuat anak-anak berpisah dari kedua orang tuanya." Ujar Barra.


"Cindy bahkan rela berbagi, kenapa aku tidak bisa menerima semua ini.?"


Yuna semakin tersenyum sinis mendengar penuturan Barra.


"Mas Barra semua wanita seperti Mba Cindy.? Lagipula aku tidak bisa munafik.!"


"Pura-pura tegar tapi selalu merasa tersakiti di balik semua ini.!"


"Mas Barra pikir dia tidak main-main saat dulu menyuruhku pergi.?! Dia tidak sanggup kehilangan suami tercintanya. Tidak rela suami tercintanya membagi hati untukku.!" Yuna menatap jengah. Dia benar-benar muak membahas hal ini lagi.


"Kalau memang dia benar-benar rela, tidak mungkin dia akan menunjukan kesedihan di hadapanku. Bicara seolah-olah dia yang paling tersakiti dalam pernikahan ini."


"Sudahlah.!" Seru Yuna kesal.


"Berhenti membuatku muak dengan sikap kalian.! Kita sudah berakhir. Jangan mengusik kebahagiaanku, karna aku juga tidak mengusik kebahagiaan kalian."


"Lagipula kita bisa mengurus dan membesarkan twins sama-sama, mereka tidak akan kekurangan kasih sayang dari aku maupun Mas Barra."


"Dia juga mendapat kasih sayang dan Mama sambungnya dan akan mendapatkan kasih sayang dari Papa kandungnya."


"Aku hanya ingin menjalani hidup dengan semestinya."


Yuna menatap memohon, berharap Barra bisa mengerti keinginannya yang sederhana ini. Hidup tenang tanpa ada permasalahan seperti ini lagi.