Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 133


"Nitha, bisa tolong majuin jadwal pertemuan sama investor.?" Ucap Yuna dari meja kerjanya.


Nitha yang sedang fokus pada laptop, beralih menatap Yuna.


"Di majuin jam berapa.?"


"Jam 11 aja. Aku mau pulang jam setengah 2, mau nemenin Brian ke makam." Tuturnya.


"Oke wait. Aku telepon dulu orangnya." Ujar Nitha sembari mengambil telfon di atas mejanya.


"Makasih ya."


Nitha mengangguk sembari mengatakan ok menggunakan tangannya karna sedang fokus menunggu sambungan telfon.


Yuna lalu kembali mengecek laporan bulan ini. Usahanya semakin berkembang pesat, sudah membuka pabrik baru di beberapa kota untuk memproduksi baju rancangannya.


Sementara itu, Yuna hanya sesekali pergi ke perusahaan Chandra jika ada rapat penting saja, atau pada saat perusahaan membutuhkan tanda tangannya.


Dia tak perlu terjun langsung karna orang kepercayaan dan asisten pribadi Chandra sudah menjalankan tugasnya dengan baik.


"Oke Yun, orangnya udah setuju nih meeting nanti siang." Tutur Nitha setelah mematikan sambungan telfonnya.


"Makasih Nit,"


"Your welcome."


"Jadi mau ke makam sama Brian.? Twins nggak ikut.?" Tanya Nitha.


Yuna mengangguk.


"Twins langsung pulang ke rumah Papanya. Papanya habis sakit, jadi aku suruh mereka menginap. Biar ada yang nemenin." Tutur Yuna. Nitha terlihat senyum-senyum mendengarnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum.? Lupa minum obat ya.?" Yuna menatap dengan dahi berkerut. Senyum sahabatnya itu terlihat mencurigakan, sudah bisa di tebak akan ada godaan besar yang keluar dari mulutnya. Nitha tak lagi seperti dulu yang lebih kalem. Semenjak menikah, dia jadi lebih banyak bicara alias cerewet. Hal apa saja selalu dibicarakan.


"Enak aja.! Emangnya aku sakit." Sahut Nitha cepat.


"Kamu tuh yang bikin senyum-senyum, so sweet banget jadi mantan istri. Perhatiannya melebihi ibu kandung." Tuturnya sambil terkekeh kecil. Dia terlihat puas menggoda Yuna, apalagi melihat ekspresi wajah Yuna yang melotot padanya.


"Kamu nggak sekalian nginep.? Masakin buat Papanya anak-anak, atau nyuapin sama mandiin mungkin, barang kali nggak punya tenaga buat mandi sendiri." Seru Nitha, dia semakin puas tertawa. Sedangkan yang di tertawakan langsung melengos dan memilih sibuk dengan pekerjaannya.


"Bercanda Yun, jangan marah." Ucap Nitha, namun dia santai saja karna tau Yuna tak akan marah padanya.


"Nanti jangan heran kalau bonus kamu bulan ini nggak turun." Ujar Yuna datar, dia bahkan tak menatap ke arah Nitha sedikitpun.


Nitha melongo, dia dibuat ketar-ketir dengan ucapannya Yuna. Dia tidak bisa membedakan Yuna benar-benar serius atau hanya sekedar membalas kejahilannya saja.


...*****...


Di antar oleh supir, Yuna menjemput Brian di sekolah dan langsung menuju makam. Dia sudah membeli bunga sebelum menjemput Brian. Dua buket bunga dari istri dan anaknya yang akan menghiasi makam itu.


"Bagaimana sekolah kamu hari ini,,?" Tanya Yuna, dia tak pernah absen untuk bertanya pada anak-anaknya mengenai kegiatan mereka di sekolah.


"Not good Mah,," Jawab Brian lesu.


"Why.?" Yuna menatap lekat wajah Brian yang duduk di sampingnya.


"Papi, Brian ingat Papi." Jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak bisa konsentrasi karna ingat mimpi semalam." Brian mengalihkan pandangan pandangan ke luar jendela, menyembunyikan air matanya dari Yuna.


"Kenapa Brian menangis.? Apa Papa bicara sesuatu di mimpi itu.?" Yuna merangkul pundak putranya, mengusapnya untuk memberikan ketenangan.


Brian kembali menganggukan kepala.


"Bukan cuma kita saja yang kangen sama Papi, Papi juga kangen sama kita." Tutur Brian. Dia langsung menghambur ke pelukan Yuna.


Yuna menarik nafas dalam, dadanya tiba-tiba sesak hingga sulit untuk bernafas. Berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di depan Brian. Sangat menyakitkan menahan air mata disaat dada terasa begitu menghimpit.


"Oh ya.? Itu artinya Papi masih ingat dengan kita dan mau kita mendoakannya." Ucap Yuna lembut. Dia susah payah mengatur nada bicaranya agar tidak tercekat, sedangkan dada terasa semakin sesak.


"Jadi keputusan untuk datang ke makam Papi sudah tepat. Papi pasti senang Brian datang,," Di usapnya lembut pucuk kepala putranya, Yuna mendekapnya erat.


Brian mengangguk dalam dekapan Yuna.


Hal seperti ini yang selalu membuat Yuna merasa sakit. Menahan kerinduan sendiri saja sudah sangat menyiksa, apa lagi melihat Brian yang juga merindukan Chandra. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin untuk melepaskan sesak di dada. Dia tak bisa berbuat apapun selain menenangkan Brian dan menangis sendiri dalam diam. Tak ada yang bisa dilakukan untuk melepaskan kerinduan pada orang yang telah meninggal. Bahkan meski menangis sekalipun, karna hal itu hanya sekedar membuat kita merasa lega untuk sesaat. Tanpa bisa mengobati kerinduan.


Sambil memegang payung dan buket bunga, Yuna dan Brian berjalan menuju makam Chandra. Makan yang sudah dilengkapi dengan gazebo itu sudah terlihat dari kejauhan. Yuna sudah menarik nafas dalam sebelum sampai di sana. Setiap kali datang pasti selalu teringat wajah Chandra saat terakhir kali melihatnya.


Begitu sampai, keduanya duduk bersimpuh di sisi makan yang ditumbuhi rumput hijau tertawa.


Keduanya meletakkan buket bunga bersamaan. Tak ada yang berbicara, Yuna dan Brian sama-sama mengungkapkan perasaannya dengan berbicara sendiri dalam hati. Mereka ingin menjaga perasaan satu sama lain agar tak larut dalam kesedihan saat berada di sana.


Begitu selesai, keduanya mulai memanjatkan do'a.


Waktu tak pernah bisa menghapus kesedihan saat keduanya mengenang Chandra. Terlalu banyak kenangan indah yang begitu membekas.


"Mama akan menikah dengan Papa Barra." Ucap Yuna setelah beberapa saat saling terdiam. Mereka belum juga beranjak meski sudah selesai mendoakan Chandra.


Brian langsung menoleh.


"Apa kamu keberatan.?" Tanya Yuna.


Brian tampak diam, terlihat berfikir keras dan kembali terlihat sendu, seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Mama dengar kamu ingin Mama menikah dengan Papa Barra," Ujar Yuna lagi.


"Selagi kita ada di sini, Mama juga ingin memberi tau Papi kamu." Yuna mengusap nisan Chandra dan menatapnya dengan tatapan menerawang.


"Mama harap, Papi kamu tidak keberatan Mama menikah lagi." Yuna mengulas senyum tipis yang menyayat, dia tak bermaksud mengingkari ucapannya. Semua ini demi anak-anak, dan kebahagiaan mereka jauh lebih penting.


"Brian senang jika Mama menikah, Papa Barra orang yang baik, dia juga sayang sama Brian. Hanya saja,," Brian tak meneruskan ucapannya, dia lalu menatap Yuna sembari tersenyum.


"Papi juga pasti senang kan kalau kita bahagia.?" Katanya. Yuna hanya mengangguk saja, tersenyum bahagia melihat putra bungsunya terlihat senang.


...****...


"Mama merestui kamu menikah lagi dengan Barra, anak-anak memang membutuhkan Papanya."


"Sudah waktunya kamu juga membahagiakan diri sendiri, jangan terus larut dalam kesedihan. Chandra sudah bahagia di sana." Mama Rena mengusap lembut tangan putrinya.


Dia langsung setuju saat Yuna mengatakan akan kembali pada Barra.


"Jalani pernikahan kamu dengan ikhlas agar kamu bahagia, karna kebahagiaan anak-anak juga ditentukan dari kebahagiaan ibunya." Ujarnya menasehati. Yuna mengangguk paham, meski saat ini yang doa prioritaskan hanya kebahagiaan anak-anak.


"Mama akan selalu mendoakan kamu dan anak-anak agar bahagia."


"Makasih Mah,," Yuna memeluk Mama Rena. Setiap ibu pasti akan melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya.