Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 104


21++


Yuna pasrah saja saat Chandra membawanya ke kamar mandi dan menurunkannya di bawah shower. Laki-laki itu langsung memberikan serangan pada Yuna dengan melu - m*t kasar bibir sensual itu. Kedua tangannya sedang berusaha menyingkirkan semua kain yang melekat di tubuh Yuna.


"Mas,," Yuna menahan lengan Chandra karna jemarinya sudah masuk ke bawah sana.


"Harus dibuat basah lebih dulu." Bisiknya di telinga Yuna, lalu mengabsen setiap inci leher jenjang Yuna sambil terus menggerakkan tangannya.


Nafas Yuna tersenggal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat ulah Chandra yang setelalu panas. Tubuhnya bahkan sudah dibuat polos entah sejak kapan.


Chandra menghentikan kegiatannya untuk menyingkirkan baju di tubuhnya sendiri. Melemparkannya sembarang arah dan kembali menerkam Yuna.


Bibir sensual itu selalu menjadi bulan-bulanan Chandra. Juga kedua aset kembar Yuna yang menantang tak luput dari serangannya.


Sambil terus meny - s*p bibir Yuna dan memainkan benda menantang itu, Chandra menyalakan shower.


Guyuran air membuat suasana justru semakin panas. Yuna tak berkutik di bawah serangan Chandra. Laki-laki itu telah membuat Yuna melayang tinggi hingga tidak bisa berfikir jernih.


Hanya suara des -sa-h*n yang keluar dari bibirnya. Sesekali meremas rambut Chandra atau mencengkram punggung lebar Chandra yang berorot itu. Saat tak lagi menahan sesuatu yang bergejolak. Memberikan rasa yang luar biasa dan sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


"Bilang padaku kalau sakit, aku sulit mengendalikan diri." Tutur Chandra dengan berbisik di telinga Yuna.


Dia mengarahkan Yuna untuk membelakanginya. setelah Yuna mengangguk pelan.


Yuna sudah menjerit lebih dulu saat Chandraencoba untuk mendorongnya masuk.


"Sakit,,," Yuna merintih dengan kening yang berkerut dan menggigit bibir bawahnya.


Sejak awal dia tidak berani menatap benda itu yang terasa sangat besar.


"Kalau begitu di ranjang saja." Chandra mematikan shower, mengambil 2 handuk untuk mengeringkan tubuh Yuna dan dia sendiri. Setelah itu menggendong Yuna ke ranjang.


Butuh waktu lama untuk melakukan penyatuan karna Yuna terus merintih kesakitan berulang kali. Chandra jadi harus ekstra sabar untuk melakukannya agar tidak membuat Yuna terluka.


Berbeda dengan dulu, dia sama sekali tidak pernah memikirkan lawan mainnya. Wanita-wanita yang dulu dia bayar untuk menghangatkan ranjangnya, selalu dibuat merintih kesakitan.


Chandra mempercepat geraknnya saat Yuna mulai rileks dan menikmati permainan. Dia tidak memberikan jeda pada Yuna untuk berhenti men -de-s*h.


Keringat sudah bercucuran ditubuh keduanya. Yuna sudah mencapai ******* untuk pertama kali sejak 20 menit yang lalu.


Kini Yuna sudah tidak bisa menahannya lagi, sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya terasa akan meledak.


"Mas aku,,,


"Tahan sebentar lagi,," Potong Chandra cepat. Gerakan Chandra semakin tidak terkendali. Sedikit kasar namun justru memberikan rasa berbeda untuk Yuna.


Erangan panjang keluar dari mulut keduanya. Mereka sama-sama melayang tinggi merasakan kenikmatan yang menjalar diseluruh tubuh.


"I love you,,," Bisik Chandra sembari mendekap erat tubuh Yuna.


"Twins harus segera punya adik." Ucapnya lagi. Chandra lalu menyingkir dari atas tubuh Yuna dan berbaring di sampingnya.


Dengan nafas yang masih tersenggal, Yuna menatap Chandra. Dia terlihat ingin protes dengan keinginan Chandra. Pasalnya usia twins baru genap 2 tahun, tapi sudah ingin menghadirkan adik untuk mereka.


"Jangan menundanya, aku juga ingin segera memiliki anak." Tutur Chandra. Dia seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran Yuna saat wanita itu menatapnya.


"Usia twins akan genap 3 tahun jika adiknya lahir, jaraknya tidak terlalu dekat kan.?" Tanya Chandra.


"Aku juga tidak mau melihat kamu kelelahan dengan mengurus 3 orang anak kecil sekaligus. Ada baby sitter yang bisa membantu merawat dan mengurus mereka nanti." Satu kecupan mendarat di kening Yuna. Chandra terlihat tidak main-main dengan ucapannya. Dia benar-benar menginginkan memiliki anak secepat mungkin.


"Maaf,,," Ucap Yuna. Dia jadi merasa bersalah karna sempat berfikir untuk menolak keinginan Chandra.


"Tidak apa,," Chandra mengusap lembut pipi Yuna, merapikan anak rambut dari wajah cantik itu.


...****...


Barra menggendong Kinara dan mendekapnya erat. Selama 3 hari tidur bersama anak-anak dan menghabiskan waktu bersama mereka, seperti menjadi bekal untuk Barra yang akan meninggalkan mereka dalam waktu yang tidak sebentar.


Puas menciumi dan bercengkrama dengan Kinara, Barra beralih menggendong Kenzie. Dia juga melakukan hal yang sama pada putranya itu.


"Hati-hati Oppa,,," Sisil memeluk Barra yang sedang menggendong Kenzie. Doa terlihat sedih melepas kepergian kakaknya yang akan menetap sementara waktu di Singapura. Mungkin karna dia tau seperti kondisi kakaknya saat ini. Dia sedih bukan karna jauh dari kakaknya, tapi karna mengkhawatirkan perasaannya.


Barra menepuk-nepuk pelan punggung Sisil.


"Kakak titip Kenzie dan Kinara. Setidaknya sering-sering datang menemui mereka." Pesannya pada Sisil. Adiknya itu mengangguk paham.


Barra meletakkan Kenzie beralih pamit pada kedua orang tuanya.


"Fokus saja pada tujuan kamu saat ini, jagan mengkhan anak-anak. Mom akan menjaga mereka,"


"Salam untuk Cindy, semoga cepat sembuh."


Mom Sonya memeluk putranya. Dia memang prihatin dengan permasalahan yang menimpa Barra, tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk membebaskan Barra dari permasalahan itu.


"Makasih Mom,,,"


"Jangan jadi laki-laki lemah.! Hadapi dan bertanggungjawab atas apa yang sudah kamu lakukan."


"Kamu sudah mempertahankan Cindy, jadi hiduplah dengan baik seperti sebelumnya dan fokus membesarkan anak-anak bersama."


Dad Hendra menepuk pundak putranya. Dia menaruh harapan pada putranya agar bisa hidup bahagia lagi seperti dulu.


"Aku mengerti Dad."


Barra tertunduk lesu. Semua yang terjadi dalam hodupnya masih sulit untuk di mengerti.


...*****...


Barra membuka pintu ruang VIP di salah satu rumah sakit Singapura. Dia memegang buket bunga di tangannya.


"Sayang,,," Suara lembut Cindy menyambut kedatangan Barra. Matanya berbinar melihat kedatangan suaminya yang hampir 2 minggu tidak ada di sampingnya.


Barra mengukir senyum lebar, berjalan cepat menghampiri wanitanya. Sudah terlalu lama dia meninggalkan Cindy seorang diri di rumah sakit.


"Aku rindu,," Ungkap Barra. Dia langsung mendekap erat tubuh Cindy yang baru saja turun dari ranjang.


"Aku pikir kamu akan membiarkanku lama sendirian disini." Suara Cindy terdengar sendu. Dia membalas pelukan Barra, mendekapnya erat seakan tidak ingin melepaskannya.


Setiap hari hanya memikirkan dan menunggu Barra, berharap akan segera datang di hadapannya.


"Mana mungkin aku melakukannya." Barra melepaskan pelukannya, mendaratkan kecupan di kening dan bibir Cindy.


"Bunga ini sangat cantik, jadi aku pikir harus membawakannya untukmu." Barra menyodorkan buket bunga itu pada Cindy.


"Makasih." Cindy kembali memeluk Barra.


"Kamu harus sembuh, jangan sampai bunga itu mengalahkan kecantikanmu." Ujar Barra.


Cindy tersenyum dan mengangguk dalam dekapan Barra. Tentu saja dia ingin segera sembuh agar biasa menjalani kehidupan dengan normal seperti biasanya.


Keberadaan Barra disisinya, serta semangat dan cinta yang diberikan Barra untuknya, menjadi obat paling ampuh untuk melawan sakit yang ia derita.


"Kamu belum makan.?" Tanya Barra sembari menatap makanan yang masih utuh di atas meja.


Cindy mengangguk.


"Kamu harus makan tepat waktu, sini aku suapi." Barra mengandeng tangan Cindy dan membawanya duduk di sofa. Dia lalu menyuapi Cindy dengan penuh kelembutan.