Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 87


Nitha bergegas turun lebih dulu dan masuk ke dalam ruko. Dia menghindari situasi yang terlihat canggung di antara mantan suami istri itu.


"Makasih,," Ucap Yuna begitu turun dari mobil.


Dia mempersilahkan Barra untuk masuk ke ruko dengan berjalan di depannya.


Begitu sampai di sofa, Yuna menghentikan langkah dan menyuruh Barra untuk menunggu disana.


"Sebentar, aku bawa mereka turun dulu." Kata Yuna sembari beranjak ke lantai atas.


Dia meminta Barra menunggu di bawah karna sudah tidak ada lagi hubungan antara dia dan Barra. Harus ada batasan yang dia buat dengan Barra supaya tidak mengundang komentar dan tanggapan buruk tentangnya.


Barra mengangguk pasrah, dia juga tidak punya hak untuk memaksa naik ke lantai atas.


Dia duduk di sofa, mengedarkan pandangannya ke semua suduk ruko. Baru beberapa hari mengakhiri pernikahannya dengan Yuna, ruko ini sudah terasa berbeda untuknya. Barra benar-benar merasa seperti orang asing yang datang sebagai tamu. Terlebih, ruko ini di sewa oleh Yuna dengan uangnya sendiri. Barra semakin merasa tidak memiliki hak untuk berbuat sesuka hati di ruko ini.


Tak berselang lama, pengasuh dan Mama Rena membawa turun baby twins. Barra yang melihat mantan mertuanya langsung bangun dari duduknya, menyapa ramah dan menciun punggung tangannya.


"Bagaimana kabar Mama,?" Tanya Barra sopan.


"Baik, twins juga sehat." Mama Rena memberikan Kinara pada Barra, sementara itu, Kenzie di letakan di stroller oleh pengasuhnya dan di dekatkan di sisi Barra.


Mama Rena duduk di sofa, dia memperhatikan interaksi Barra dengan twins. Sembari menciumi wajah Kinara, Barra berjongkok di depan stroller dan menyapa Kenzie dengan wajah yang semakin berbinar.


"Paah," Kinara menepuk wajah Barra dengan telapak tangannya yang mungil. Barra menoleh, menatap Kinara dengan mata berkaca-kaca. Dalam kondisi seperti ini, Kinara membuatnya semakin sedih.


"Kenapa sayang.?" Tanya Barra lembut. Kinara malah tertawa dan terus memainkan wajah Barra.


"Kangen sama Papa ya.?" Barra mengusap lembut kepala Kinara, lalu kembali mengalihkan perhatian pada Kenzie yang mulai aktif menggerakkan kaki dan tangan. Mulutnya juga tidak berhenti mengoceh sambil terus menatap wajah Papanya. Kenzie seolah-olah sedang menarik perhatian Barra yang tadi sibuk dengan Kinara.


Mama Rena terlihat menarik nafas dalam, dia tidak tega melihat dua cucunya harus kehilangan banyak waktu dengan Papanya. Tapi disisi lain, Mama Rena sangat setuju dengan keputusan Yuna untuk berpisah. Sekarang, Mama Rena bisa melihat lagi kebahagiaan dari wajah Yuna. Putrinya itu sudah bisa menjalani kehidupan dengan normal seperti biasanya.


****


Yuna baru saia selesai mandi, dia sengaja tidak ikut turun kebawah dan berlama-lama di dalam kamar mandi. Dia hanya ingin menjaga jarak dengan Barra setelah resmi bercerai. Dan memang seharusnya sepetu itu, ada batasan yang harus dia jaga dengan suami orang lain. Yuna tidak mau ada orang yang menghinanya untuk kedua kalinya hanya karna dia masih berdekatan dengan suami orang.


Yuna berani turun setelah keadaan di bawah cukup sepi. Dia tidak lagi mendengar suara seseorang di bawah sana.


Saat menurui tangga terakhir, dia berpapasan dengan Mama Rena yang akan pergi ke lantai atas.


"Mah,, dimana Zie dan Ara.? " Tanya Yuna sembari mengedarkan pandangan ke arah sofa. Tidak ada siapapun disana, termasuk pengasuh dan stroller twins.


"Barra mengajak mereka ke taman belakang." Ujar Mama Rena.


"Tadi Mama suruh Bu Minah menyusul, biar ikut bantu jagain sekalian bawain susu buat mereka." Tuturnya.


Yuna mengangguk paham.


"Ya sudah, aku mau tunggu di luar dulu." Ucap Yuna.


"Mama harapan kamu selalu bahagia." Mama Rena tiba-tiba menatap sendu sembari mengusap lembut lengan putrinya.


"Aku sudah bahagia sekarang Mah," Jawab Yuna cepat. Dia tersenyum lebar pada Mama Rena, senyum yang benar-benar menunjukkan perasaannya saat ini.


"Mama tau itu,, semoga kedepannya akan tetap bahagia seperti ini."


"Mama mau mandi dulu."


Mama Rena menepuk pundak Yuna dan bergegas pergi ke lantai atas.


Yuna mengulas senyum, lalu beranjak ke luar ruko dan duduk di depan.


Baru beberapa menit duduk di depan ruko, sebuah mobil yang Yuna kenali berhenti di depan ruko. Berhenti tepat di samping mobil Barra yang terparkir di sana.


Yuna berdiri dari duduknya, bersamaan dengan pintu mobil yang terbuka dan seseorang yang keluar dari dalam mobil menatap ke arahnya.


"Pak Chandra.?" Sapa Yuna sopan dengan menundukan kepala. Dia menatapnya bingung, tidak tau ada keperluan apa sampai datang menemuinya.


Chandra mengulas senyum tipis, kharismanya sebagai seorang CEO begitu terpancar meski sedang diluar kantor.


"Bagaimana kabarmu.?" Tanya Chandra. Matanya menatap ke dalam ruko, terlihat sedang mengamati kondisinya.


"Baik Pak." Jawab Yuna. Dia kikuk sendiri berhadapan dengan mantan bosnya. Apalagi saat masih bekerja, dia tidak terlalu mengenal dekat meski beberapa kali pergi bersama.


"Kenapa menatap ku seperti itu.?" Chandra tersenyum santai, tanpa di suruh dia langsung duduk di kursi.


"Sa,,saya bingung saja." Sahut Yuna kikuk, dia mengikuti kemana arah Chandra untuk menatapnya.


Laki-laki itu kembali mengulas senyum, senyum tipis yang selalu menyilaukan hati kaum hawa di kantor.


Yuna tidak heran kenapa Chandra begitu di kagumi dan di inginkan oleh banyak wanita di perusahaannya sendiri. Siapa yang tidak akan tertarik dengan laki-laki seperti Chandra. Dia sempurna dan memiliki segalanya.


"Aku pikir kamu akan kembali ke kantor lagi, tapi melihat usaha kamu yang sudah besar seperti ini, sepertinya kamu enggan menginjakkan kaki di kantor lagi." Ucap Chandra dengan nada bicara yang tenang dan santai.


"Iya Pak, lagipula ada anak-anak yang tidak bisa saya tinggalkan terlalu lama." Yuna ikut duduk, namun menjaga jarak dengan Chandra.


"Ah iya benar, kamu punya anak." Chandra tersenyum lebar.


"Aku sampai terkejut melihat kamu membawa anak kembar ke Paris."


"Kamu pernah bilang kali tidak pernah punya pacar, tapi tiba-tiba sudah menikah dan punya anak." Chandra tersenyum heran.


Yuna langsung menunduk malu. Chandra memang tau betul siapa dirinya. Wanita yang tidak pernah mau di dekati oleh laki-laki di perusahaan. Dan selalu menjaga jarak dengan laki-laki.


"Jadi sudah berapa lama kamu menikah.?" Tanya Chandra.


"Setelah mengundurkan diri dari kantor.?" Tebaknya.


Yuna langsung menggelengkan kepala.


"Sebelumnya." Jawab Yuna.


Chandra makin terkejut saja mendengar jawaban Yuna.


"Apa kamu bahagia.?" Pertanyaan Chandra membuat Yuna langsung menatap intens. Dia tidak tau kenapa Chandra melontarkan pertanyaan seperti itu. Seolah ingin tau lebih dalam tentang kehidupan pribadinya.


"Kenapa.?" Tegur Chandra karna Yuna hanya diam saja.


"Harusnya kamu datang padaku waktu itu, tidak perlu sampai mengorbankan hidup dan kebahagiaan kamu."


Chandra menatap heran, dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan Yuna.


Mendengar cerita dari Cindy membuat Chandra geleng-geleng kepala. Kehidupan rumah tangga terlalu rumit dan membingungkan.


"Bagaimana Pak Chandra bisa tau.?" Tanya Yuna penasaran.


"Memangnya apa yang tidak bisa aku ketahui." Chandra menjawab santai.


"Ekhemm,," Suara deheman membuat Yuna dan Chandra menatap bersamaan ke sumber suara.


"Bar,, maaf aku hanya tidak sengaja lewat dan melihat Yuna di sini." Tutur Chandra sembari berdiri dari duduknya. Barra masih diam, menatap Chandra dengan tatapan tajam tak suka.


Rekomendasi novel author baru, Judul Novel "Terjebak Perjodohan". Nama Akun LisNH_