Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 80


Cindy bergegas turun dari ranjang. Bunyi bel membuat Cindy mengurungkan niatnya untuk tidur.


Senyum tipis mulai mengembang di bibirnya, senyum itu sudah lama tidak terlihat sejak 6 hari yang lalu saat Barra pergi ke Paris.


Cindy buru-buru membuka pintu, tidak sabar untuk bertemu dengan laki-laki yang sangat dia rindukan itu.


"Sayang kamu sudah pul,,laang,,," Senyum yang tadinya merekah, seketika meredup saat mengetahui sosok yang ada di balik pintu bukanlah Barra.


"Kamu menunggu Barra.?" Orang itu bertanya dengan senyum smirk di bibirnya.


"Chandra, kamu,,? Bagaimana kamu bisa tau aku tinggal disini.?" Ekspresi wajah sedih Cindy berubah menjadi ekspresi bingung lantaran Chandra tiba-tiba datang ke apartemennya.


Dia memang sempat bertemu Chandra 1 bulan yang lalu secara tidak sengaja di pusat perbelanjaan, tapi hanya sekedar menanyakan kabar dan tidak ada pembahasan tentang tempat tinggal masing-masing.


"Kenapa harus heran.? Aku bisa melakukan apapun selain,,


"Ada apa datang malam-malam begini.?" Potong Cindy. Dia tidak mau mendengar pembahasan itu lagi dari mulut Chandra. Pembahasan yang tidak pernah selesai sejak dulu. Selalu saja dibicarakan oleh Chandra setiap kali bertemu.


Chandra tersnyum santai menanggapi Cindy yang mengalihkan pembicaraan.


"Aku baru saja pulang dari Paris, kebetulan melewati apartemen ini. Jadi aku putuskan untuk menemimu." Tuturnya.


"Paris.?" Tanya Cindy. Tiba-tiba teringat kembali pada Barra. Ini baru hari ke 6, pantas saja bukan Barra yang datang.


"Ya, ada urusan bisnis selama 2 minggu disana."


"Aku tidak sengaja bertemu Barra, dan tiba-tiba ingat denganmu." Chandra tersenyum tipis, dia kemudian menyodorkan paper bag pada Cindy.


"Untukmu." Ucapnya. Dia membawakan parfum ternama dari Paris untuk Cindy.


"Terimakasih." Cindy menerima dengan ekspresi datar, dia justru lebih tertarik dengan cerita Chandra yang menyebut bertemu Barra di Paris. Cindy yakin sebentar lagi Chandra akan banyak bertanya tentang kehidupan pribadinya bersama Barra.


Chandra pasti melihat Barra dan Yuna serta kedua anak mereka.


"Ya, Barra memang sedang berlibur ke Paris." Cindy mengulas senyum yang dipaksakan. Sebenarnya sakit membayangkan Barra berlibur dengan Yuna. Tapi semua itu demi keutuhan rumah tangga mereka.


Cindy tau semu permasalahan rumah tangga Barra dan Yuna, termasuk keputusan Yuna yang ingin tetap bercerai. Itu sebabnya Barra mengajak Yuna dan baby twins berlibur.


Liburan yang bertujuan untuk membuat Yuna membatalkan niatnya.


"Sejak kapan itu terjadi.?" Tanya Chandra dengan tatapan serius.


"Sejak kapan.? Apanya.?" Dahi Cindy berkerut, dia tidak paham dengan pertanyaan Chandra.


"Kamu membiarkan Barra menikah lagi dan memiliki anak dari wanita lain.?" Chandra menatap Cindy tak habis pikir. Dia tidak tau pasti permasalahan apa yang terjadi di dalam rumah tangga Barra dan Cindy, namun dari apa yang dia lihat, Chandra bisa menyimpulkannya sendiri. Melihat Cindy yang sampai saat ini belum memiliki anak, Chandra sangat yakin pernikahan kedua Barra berhubungan soal keturunan. Apalagi dia melihat Barra dan Yuna dengan 2 bayi kembarnya.


"Soal itu.?" Cindy hanya tersenyum tipis.


"Aku tidak akan menceritakan permasalahan ini pada orang lain." Secara halus Cindy tidak mau menjawab rasa penasaran Chandra soal rumah tangganya.


"Bukankah kamu sangat mencintai Barra.?"


"Ya, karna itu semua ini terjadi." Jawab Cindy singkat. Karna rasa cintanya pada Barra, dia rela untuk berbagi dengan wanita lain demi kebahagiaan orang yang dia cintai.


"Berkorban demi orang yang kita cintai.? Begitu maksud kamu.?" Chandra mengulas senyum miris.


"Omong kosong." Serunya dengan tawa kecil.


"Jangan membohongi hati kamu sendiri Cindy, kamu terlalu naif."


"Lihat, kamu begitu terluka." Ucap Chandra. Dia bisa melihat bagaimana keadaan hati Cindy saat ini.


Bahkan hanya membahasnya saja sudah membuat raut wajah Cindy berubah sendu. Sudah pasti dia sangat terluka untuk menjalaninya.


"Aku naif.?" Cindy tersenyum kecut.


"Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan pada orang yang aku cintai." Jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dengan cara mengorbankan kebahagianmu sendiri.?" Seru Chandra cepat.


"Ya, aku bahkan tidak peduli dengan kebahagiaanku sendiri." Sahutnya tegas.


Lagi-lagi Chandra mengulas senyum miris. Cindy terlalu dibutakan oleh cinta hingga melakukan hal di luar batas kemampuannya sendiri.


Chandra bisa melihat bagaimana rapuhnya hati Cindy saat ini.


"Kamu keras kepala. Dengarkan aku,,,,"


Chandra mendekat dan membisikkan sesuatu yang terlihat serius.


...****...


Barra dan Yuna kembali ke hotel setelah pukul 7 malam. Baby twins yang terlelap, di pindahkan dari stroller ke tempat tidurnya.


Dia merogoh ponsel dan membuka aplikasi chat. Deretan pesan dari Cindy 3 jam yang lalu mulai di baca oleh Barra satu persatu.


Sejak keluar dari hotel, Barra memang belum sempat membuka pesan karna ingin fokus menghabiskan waktu bersama Yuna dan kedua anaknya.


Barra kembali menyimpan ponselnya setelah membaca semua pesan dari Cindy. Dia tidak membalasnya karna takut mengganggu istirahat Cindy. Saat ini pukul 3 pagi di sana. Cindy mungkin sedang tidur pulas.


Yuna keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Dia baru saja mencuci wajahnya, menghilangkan sisa make up tipis di wajah putihnya.


"Aku lapar, boleh pesan makan malam sekarang.?" Tanya Yuna sembari menghampiri Barra dan duduk di depannya.


"Nanti aku pesankan. Aku ke kamar mandi dulu." Barra beranjak, dia sengaja berjalan melewati sofa yang di duduki oleh Yuna dan mengusap lembut pucuk kepala Yuna sembari berlalu. Tak lupa melempar senyum teduh padanya.


Yuna hanya merespon dengan senyum tipis.


Dia mengehela nafas berat setelah Barra menghilang dari pandangan matanya.


Yuna sudah mulai lelah, dia ingin cepat-cepat lepas dari statusnya.


Menjadi istri siri sekaligus istri kedua hanya memberikan beban psikis yang berat untuknya.


Dulu dia tidak terlalu terbebani saat belum mengetahui bahwa Barra sudah memiliki istri. Tapi begitu tau ada Cindy, Yuna seperti mengutuk dan membenci dirinya sendiri karna sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain meskipun bukan sepenuhnya kesalahan dia.


Padahal Yuna sangat benci dengan orang kegita. Karna orang ketiga itulah keluarganya jadi hancur. Semua kebahagiaan yang pernah dia dan Mama Rena rasakan tiba-tiba lenyap saat hadirnya orang ketiga.


Bagaimana dulu mencaci dan menghina orang ketiga yang telah menghancurkan keluarga serta harapannya. Dan tak berselang lama dia berada di posisi itu. Menjadi orang ketiga yang begitu menyedihkan. Hadir di tengah-tengah orang yang saling mencintai. Cinta yang begitu besar hingga Yuna merasa tidak terlihat.


Yuna menyeka air matanya yang entah sejak kapan mulai membasahi pipi. Dia beranjak dari duduknya dan menghampiri ranjang baby twins. Berdiri di depan ranjang dan menatap lekat kedua wajah mereka dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafin Mama sayang,," Ucap Yuna lirih.


Hatinya rapuh jika memikirkan tentang anak-anaknya.


"Mama mohon jangan membenci Mama jika suatu saat kalian tau bagaimana kalian hadir ke dunia ini."


Air mata Yuna kembali mengalir deras. Ketakutan terbesarnya saat ini bukan berjuang membesarkan baby twins, tapi takut mereka akan membencinya.


"Yuna,,," Barra menyentuh pundak Yuna.


Kedatangan Barra langsung membuat Yuna menyeka air matanya dan berusaha menyembunyikan wajahnya dari Barra dengan tidak menatap wajah Barra.


"Mas Barra sudah pesan makanannya.?" Tanya Yuna. Dia pura-pura merapikan selimut baby twins dengan menundukkan wajahnya.


"Sudah, ayo ikut aku." Barra merangkul pundak Yuna.


"Mau kemana.? Zie dan Ara sedang tidur." Tanya Yuna bingung.


"Ikut saja." Sahut Barra sembari mengulas senyum. Dia terus menggandeng Yuna dan membawanya ke arah balkon. Begitu pintu di buka, Yuna langsung tertegun melihat pemandangan di depan matanya.


Rupanya Barra sudah menyiapkan diner romatis untuknya.


Dua kursi dan 1 meja tertata rapi dengan hiasan bunga dan lili di atasnya. Makanan dan minuman juga sudah tersaji disana.


1 buket bunga yang indah di letakan di salah satu kursi.


"Kemari,," Ajak Barra. Dia menarik tangan Yuna untuk mendekati meja makan mereka.


Barra mengambil buket bunga itu dan memberikannya pada Yuna.


"Maaf kalau selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu." Ucap Barra dengan rasa sesak di dadanya.


"Aku sengaja menyiapkan semua ini, setidaknya ada kebaikan yang bisa kamu ingat dariku malam ini."


Yuna menerima bunga itu tanpa mengatakan apapun, dia bingung harus bicara apa.


Kemudian Barra merogoh saku celananya, mengambil kotak kecil berwarna merah.


"Anggap saja ini hadiah terakhir dariku selama masih menjadi suami kamu. Karna setelah bercerai nanti, kamu pasti tidak akan mau menerima apapun lagi dariku."


Barra membuka kotak itu, dia mengeluarkan liontin dari dalam kotak.


Maju satu langkah untuk mendekat, Barra mulai memasangkan liontin itu di leher Yuna.


"Cantik,,," Puji Barra dengan senyum tulus.


"Aku harap kamu akan menyimpan liontin ini dan menjaganya dengan baik."


"Terimakasih." Yuna mengukir tulus. Setidaknya dia berusaha untuk menghargai pemberian terakhir dari Barra untuknya.


...****...


Jangan lupa vote🄰