Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 72


"Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, beri aku kesempatan untuk membahagiakan kalian." Pinta Barra.


"Kesempatan untuk membahagiakan kami.?" Yuna tersenyum kecut. Entah kebahagiaan seperti apa yang di maksud oleh Barra.


Menjalani hidup sebagai istri siri sekaligus istri kedua, bahagia seperti apa yang akan diberikan oleh Barra.?


"Masih banyak cara lain untuk membahagiakan anak-anak, nggak harus dengan mempertahankan rumah tangga yang rumit ini." Ucap Yuna.


Dia bergeser dari hadapan Barra karna tidak nyaman melihat Barra berlutut padanya.


"Aku nggak akan berubah pikiran, keputusanku tetap sama." Tegas Yuna. Dia tetap ingin mengakhiri pernikahannya.


"Aku mohon biarkan aku merasakan kebahagiaan sedikit saja." Suara Yuna terdengar berat. Sudah cukup penderitaan dan permasalahan hidup ini merenggut semua kebahagiaannya. Yuna ingin mencari kebahagiaan itu lagi bersama kedua buah hatinya.


Setidaknya dia akan hidup tenang jika melepas statusnya yang hanya sebagai istri kedua.


Barra mengangkat wajahnya, matanya sudah memerah dan berkaca - kaca.


"Tidak bisakah kamu berbagi dengan Cindy.?" Tanya Barra dengan suara lemah. Dia begitu pasrah dan tidak tau lagi harus bagaimana untuk mempertahankan 2 pernikahan sekaligus.


Cindy dan Yuna sama-sama sudah menempati hatinya. Bukan karna egois ingin mempertahankan keduanya, hanya saja tidak siap untuk melepaskan salah satu dari mereka.


"Mas Barra bercanda.?" Yuna tersenyum sinis.


"Sejak awal aku merasa tidak punya hak atas Mas Barra. Mas Barra hanya milik Mba Cindy, selamanya hanya milik dia. Begitu juga sebaliknya. Jadi apanya yang harus aku bagi untuknya.?"


Yuna menghela nafas berat.


"Jangan menyiksa diri sendiri, aku tau Mas Barra juga sulit menjalani semua ini." Ucap Yuna, dia lalu pergi dari hadapan Barra dan bergegas turun.


Barra mengusap kasar wajahnya. Memang benar apa yang yang dikatakan oleh Yuna. Tak hanya sulit, tapi juga sangat berat untuk di jalani. Dia merasa dalam posisi yang serba salah.


Seandainya tau akan seperti ini akhirnya, dia tidak akan pernah menyetujui permintaan Cindy untuk menikah lagi. Pernikahan keduanya ini hanya menciptakan kehancuran untuk dirinya sendiri dan membuatnya menyakiti perasaan Yuna serta mengorbankan anak-anak yang tidak tau apapun tentang permasalahan rumit ini.


...*****...


Selama 3 hari menginap di ruko, Barra tidak berani tidur di kamar Yuna. Dia memilih untuk tidur di sofa yang berada di lantai yang sama dengan kamar Yuna.


Mama Rena yang melihat hal itu pun memilih untuk bungkam dan tidak ikut campur permasalahan mereka. Bahkan tidak menasehati Yuna seperti biasanya karna Mama Rena sudah tau permasalahan rumah tangga putrinya.


Jadi tidak berkomentar apapun saat Yuna membiarkan Barra tidur di sofa.


Yuna hanya diam saja saat Barra pamit pulang. Justru membuang pandangan agar tidak melihat Barra yang sedang berinteraksi dengan kedua anaknya.


Dia mencium Kenzie dan Ara secara bergantian.


Kedua bayi mungil itu terus tersenyum dengan gerakan tangan dan kaki yang aktif.


"Papa pulang dulu sayang,," Ucap Barra lirih.


Raut wajahnya terlihat sangat bahagia. 3 hari bersama baby twins membuat perasaannya selalu tenang dan bahagia, meski tidak 24 jam bersama karna harus bekerja.


"Jangan buat Mama kalian sedih, cukup Papa saja." Ujarnya lagi. Yuna reflek melirik dengan tatapan tajam, tapi tetap diam karna malas untuk berbicara dengan Barra.


Barra yang melihat tatapan tajam Yuna, pura-pura tidak mengetahuinya dan terus berbicara dengan baby twins.


"Tolong bilang sama Mama, Papa minta maaf." Bisik Barra. Tapi suaranya di perjelas karna sengaja agar Yuna bisa mendengarnya.


"Jangan melakukan hal yang sia-sia, semua itu tidak akan bisa mengubah keputusanku." Yuna bicara tenang.


Ucapan Yuna langsung meredupkan semangat dan keyakinan Barra bahwa suatu saat Yuna akan memilih bertahan.


Tapi dia salah, sejak awal Yuna memang memiliki pendirian yang kuat.


"Titip anak-anak, terimakasih sudah merawat mereka dengan baik." Barra tersenyum tulus sembari beranjak dari ranjang.


"Hubungi aku kalau butuh sesuatu."


Yuna mengangguk pelan tanpa mengatakan apapun. Setidaknya Barra akan cepat-cepat pergi jika perintahnya di setujui.


...*****...


5 bulan berlalu. Kenzie dan Kinara hampir genap berusia 7 bulan. Tumbuh kembangnya sangat baik. Kedua bayi itu semakin menggemaskan dan pintar.


Hubungan Yuna dan Barra masih jalan di tempat. Usaha Barra untuk mendapatkan hati Yuna tak pernah membuahkan hasil. Semua perhatian, waktu dan kasih sayang yang berusaha dia curahkan untuk Yuna hanya sia-sia. Yuna masih teguh pada pendiriannya. Hatinya sudah terkunci rapat-rapat untuk sosok laki-laki bernama Barra.


Meski Yuna tidak lagi meminta cerai darinya, namun sikap dingin Yuna sangat menyiksa dan terus mengganggu pikirannya.


Barra mengetuk pintu kamar Yuna. 30 menit yang lalu Yuna masuk ke dalam kamarnya setelah membuat sarapan.


"Boleh masuk.?" Tanya Barra dengan suara lemah. Dia seperti kehilangan arah dan harapan.


Hidupnya sudah lengkap dengan kehadiran Kenzie dan Kinara, namun setiap hari hanya merasakan kegelisahan. Bahagia namun tidak pernah tenang menjalani hidup.


Tak lama pintu terbuka. Yuna terlihat lebih segar dengan rambut yang masih basah.


"Ada apa.? Sarapannya sudah siap di bawah." Ujar Yuna datar.


"Kita harus bicara berdua." Kata Barra. Dia terlihat kacau dengan tatapan mata yang penuh beban didalamnya.


"Di dalam saja." Pintanya sembari melangkah maju. Yuna mundur, keduanya masuk kedalam kamar.


Duduk di sisi ranjang dengan membuat jarak.


"Bicaralah, aku harus menyuapi anak-anak." Yuna terlihat tidak nyaman berduaan dengan Barra didalam kamar. Baby twins menjadi alasan Yuna agar Barra cepat-cepat bicara.


"Sudah ada Nina dan Mama yang menyuapi mereka." Sahut Barra. Sebelum pergi ke kamar, dia baru saja bercengkrama dengan baby twins yang sedang di urus oleh baby sitter dan Mama Rena.


Barra menatap lekat wajah Yuna.


"Lihat aku," Pinta Barra memohon. Karna sejak tadi Yuna mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Yuna, aku mohon tatap aku kali ini saja." Sekali lagi Barra minta dengan segala kerendahan hati dan rasa bersalahnya terhadap Yuna.


Yuna menarik nafas dalam sebelum menuruti permintaan Barra untuk menatapnya.


Saat pandangan matanya beradu dengan Yuna, Barra mengulas senyum tipis. Matanya seketika berbinar, namun terlihat menyayat hati karna menunjukkan kesedihan yang mendalam.


Barra menarik nafas, terlihat berat dan sesak.


"Apa tidak ada kesempatan untuk pernikahan kita.?" Barra terlihat putus asa. Ini bukan hal yang mudah untuknya. Melepaskan istri dan keduanya anaknya.


"Bukankah aku sudah sering mengatakannya." Ucap Yuna santai. Sejak awal dia sudah yakin untuk berpisah, jadi sedikitpun tidak merasa apapun saat ini.


"Baiklah,," Suara Barra melemah. Pandangan matanya juga meredup. Seluruh kebahagiaannya seolah lenyap.


“Sebelum kita berpisah, aku ingin kita menghabiskan waktu berempat."


"Beri aku kesempatan untuk merasakan kebersamaan yang hangat bersama kalian." Pinta Barra.


"Aku ingin mengajak kalian berlibur, lusa setelah aku pulang dari luar kota." Suara Barra tercekat.


Dia hanya terpaksa melepaskan Yuna karna merasa gagal untuk membuatnya bahagia.


"Apa kamu keberatan.?" Tanya lembut. Barra mengukir senyum tipis yang terlihat di paksakan. Tersenyum dalam keadaan hati yang rapuh, bukan hal yang mudah.


Yuna menggelengkan kepala.


"Jika itu bisa mempercepat proses perceraian kita, aku akan menyetujuinya dengan senang hati." Jawab Yuna tegas.


Mendengar Barra akan menceraikannya, Yuna seperti mendapatkan angin segar. Setelah berbulan terkurung dalam ruangan pengap, akhirnya dia akan keluar dan bebas.


"Terimakasih,," Ucap Barra. Lagi-lagi senyumnya palsu. Dia akan kehilangan 3 orang sekaligus yang sangat berarti dalam hidupnya saat ini.


"Aku harus berangkat sekarang." Barra menatap arloji di pergelangan tangannya, kemudian beranjak.


"Sebaiknya sarapan dulu sebelum pergi." Kata Yuna. Meski bentuk perhatian, namun nada bicara Yuna cukup datar.


"Waktuku tidak banyak, nanti saja kalau sudah sampai di sana." Tolak Barra halus.


Dia berdiri di depan Yuna yang masih duduk di sisi ranjang. Kedua tangannya tiba-tiba memegang kepala Yuna dan mendaratkan kecupan di kening Yuna. Cukup lama, Yuna hanya diam dengan mata yang terpejam.


"Aku mencintaimu,," Ungkap Barra. Dia lalu bergegas keluar dari kamar. Yuna menatap kepergian Barra dengan perasaan yang hampa.