Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 98


Barra beranjak, berdiri sambil terus menatap wajah Yuna. Semakin lama tatapannya berubah tajam.


"Baiklah kalau kamu memang mau menikah dengan laki-laki itu. Tapi setelah ini aku mengajukan hak asuh anak-anak.!" Tegasnya dengan nada mengancam. Barra tidak punya cara lain untuk mencegah Yuna agar membatalkan pernikahan dengan Chandra.


Berharap dengan cara seperti itu, Yuna akan lebih memilih membatalkan pernikahan karna sudah pasti tidak akan bisa kehilangan twins.


"Mas Barra mau mengambil anak-anak dariku.?!" Seru Yuna. Mendengar penuturan Barra yang mengajukan hak asuh anak-anak, justru semakin membuat Yuna menaruh kebencian pada Barra.


"Mereka juga anak-anakku, aku berhak atas mereka."


"Lagipula kamu bisa memiliki anak lagi dengannya." Ujarnya kesal. Barra menahan kekecewaan dalam hatinya. Dia benar-benar tidak rela dam tidak mau melihat Yuna jatuh ke tangan laki-laki lain, terutama Chandra. Tidak peduli seperti apa caranya dia ingin membuat Yuna berfikir ulang tentang pernikahan itu.


Yuna mengepalkan kedua tangannya. Dia kecewa dengan pernyataan terakhir Barra. Seolah-olah mengtakan jika twins seperti barang bisa di gantikan dengan barang baru.


Sekalipun nanti dia dan Chandra memiliki anak, kedudukan dan posisi twins tetap sama bagi Yuna. Mereka berarti, lebih dari dirinya sendiri.


"Pantas saja dulu Mas Barra akan mengambil anak yang terlahir dari rahim ku, ternyata seeprti ini pemikiran Mas Barra.?" Yuna menatap tajam.


"Dengan mudahnya mengatakan aku bisa memiliki anak lagi dengannya." Senyum kecut mengembang di bibir Yuna.


"Mas Barra pikir anak-anak layaknya barang.?!" Seru Yuna.


"Lagipula pernikahan kita tidak terdaftar, Mas Barra nggak akan bisa mengambil anak-anak dari ku.!"


"Apapun bisa aku lakukan Yuna.!" Sahut Barra tegas. Sorot matanya mengtakan jika dia tidak main-main untuk mengambil hak asuh twins.


"Mas Barra benar-benar memuakkan.!" Cibir Yuna tak habis pikir. Selalu saja uang dan kekuasaan membuat seseorang bisa berbuat tanpa akal sehat dan perasaan. Melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Mempermainkan orang yang lemah dan tidak memiliki apa-apa.


"Buka pintunya.!" Pinta Yuna. Dia sudah berdiri di depan pintu, menunggu Barra untuk membukakan pintu yang menggunakan kode akses.


"Jadi kamu memilih untuk tetap menikah dengannya.?!" Tanya Barra.


"Tentu saja. Aku tidak akan membatalkan pernikahanku hanya karna ancaman seperti ini.!" Balas Yuna menantang. Dia sudah terlanjur kesal pada Barra. Jika terlihat lemah dan pasrah, maka Barra akan tertawa bahagia di atas penderitaannya.


"Sekalipun harus kehilangan anak-anak.?!" Tanyanya sekali lagi.


"Mas Barra sendiri yang bilang padaku kalau aku bisa memiliki anak lagi dengan Mas Chandra." Jawab Yuna penuh penekanan.


"Bawa saja anak-anak jika itu bisa membuat Mas Barra puas karna berhasil menghancurkanku.!"


"Memang itu kan yang Mas Barra inginkan.? Menikahku untuk mendapatkan anak.!"


Barra menggelengkan kepalanya, dia takut sendiri melihat tatapan penuh kebencian dari sorot mata Yuna.


"Jangan menikahnya, aku mohon,,," Barra mendekat dan langsung memeluk Yuna.


"Aku tidak bisa melepaskan kamu untuk siapapun."


Yuna memberontak, tapi pelukan Barra semakin erat.


"Lepas.! Jangan sepeti ini.!" Yuna memukul dada Barra.


"Kamu benar-benar gila Mas.!" Pekik Yuna kesal.


"Ya, aku memang gila.! Kamu mau lihat bagaimana kegilaanku.?" Tanya Barra sembari melepaskan pelukannya, dia tersenyum penuh arti menatap lekat wajah Yuna.


"Apa dia akan mempertahankanmu jika ada darah daging ku didalam rahimmu.?" Tanyanya dengan senyum kemenangan. Barra seolah mendapatkan cara yang paling tepat untuk membuat Chandra melepaskan Yuna suatu saat nanti.


"Jangan macam-macam.! Kalau Mas Barra sampai melakukan ini, aku pastikan Mas Barra tidak akan bisa melihat twins lagi.!" Ancam Yuna. Dia memberingsut mundur untuk menghindari Barra yang terus mendekat.


"Kamu tidak akan bisa melakukan itu padaku." Sahut Barra santai.


Wajah Yuna semakin pucat, dia tidak tau bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari Barra dalam keadaan pintu yang terkunci.


"Sebelum aku melakukannya, lebih baik hubungi dia dan batalkan pernikahan kalian."


Barra memberikan pilihan untuk Yuna. Dibalik itu semua, sejujurnya Barra tidak tega untuk membuat Yuna ketakutan seperti ini. Tapi pikirannya sudah buntu, dia tidak punya cara lain untuk membuat Yuna kembali padanya lagi.


Jawab itu membuat Barra tidak punya pilihan lain dan langsung menggendong tubuh Yuna.


"Jangan salahkan aku kalau aku melakukannya." Tutur Barra.


Yuna sudah menangis dan terus memberontak dalam gendongan Barra. Umpatan kasar bahkan terus keluar dari mulutnya untuk laki-laki yang pernah menjadi suaminya itu. Yuna tak habis pikir dengan Barra.


"Braakkk.!!!"


Pintu kamar terbuka hanya dengan sekali tendang.


Barra langsung menyingkir dari atas tubuh Yuna.


Menatap tajam pada sosok laki-laki yang menggagalkan rencananya.


"Mas,," Mata Yuna berbinar melihat Chandra datang di waktu yang tepat. Turun dari ranjang dan bergegas sembunyi di balik tubuh Chandra.


"Baj*ng*n..!!" Seru Chandra sembari berjalan mendekati Barra.


Satu tinjuan melayang di wajah Barra hingga tersungkur di lantai.


"Seperti ini caramu memperlakukan ibu dari anak-anakmu.?!!" Bentak Chandra dengan tatapan jijik. Dia baru sadar jika ada yang lebih menjijikan daripada sifatnya beberapa tahun silam.


Chandra mengakui dulu dia bukan pria baik-baik, tapi tidak pernah berbuat hal semenjijikan itu pada perempuan.


Barra bangun, tangannya mengusap sudut bibirnya yang sedikit terluka.


"Lalu harus bagaimana.? Aku hanya tidak mau Yuna jatuh ke tangan laki-laki seperti mu.!" Barra berjalan mendekat.


"Tidak perlu pura-pura baik di depannya, aku tau kamu hanya ingin menjadikan dia sebagai alat balas dendam karna kamu tau Yuna dan anak-anak adalah kelemahanku saat ini." Barra menatap tajam.


Dia sudah bisa menebak apa yang direncanakan oleh Chandra. Dulu Chandra belum puas membuatnya terpuruk karna tidak berhasil merebut Cindy darinya.


Sekarang ada Yuna dan twins yang juga sangat berarti dalam hidupnya saat ini, sudah pasti Chandra akan mengambilnya untuk membuatnya merasakan sakit dan kehancuran.


"Sayang sekali aku bukan Andra yang dulu kamu kenal." Jawab Chandra santai.


"Bagaimana mungkin aku menjadikan wanita secantik dan sebaik Yuna hanya sebagai alat balas dendam.!"


"Apa kau ingin tau.? Aku sangat mencintainya.!" Tegas Chandra.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya lagi.!" Ucapnya penuh penekan.


Dia lalu menggandeng tangan Yuna dan mengajaknya pergi dari sana.


Chandra bernafas lega karna datang tepat waktu. Untung saja di meminta bantuan petugas keamanan untuk membongkar pintu apartemen Barra.


"Hey,,, sudah jangan menangis,," Chandra mengusap air mata di pipi Yuna yang terus menetes sejak keluar dari apartemen Barra.


Yuna langsung menghambur ke pelukan Chandra dan tangisnya pecah. Perlakuan Barra semakin membuat Yuna merasa semakin rendah.


Mendapat pelukan yang tidak terduga, Chandra sempat memaku. Ini pertama kalinya Yuna memeluknya.


"Kamu akan aman bersamaku." Ucap Chandra. Dia membalas pelukan Yuna dengan mendekapnya erat.


"Sudah jangan menangis, ayo pulang,,," Barra melepaskan paksa pelukan Yuna dan kembali menghapus air matanya dengan kedua tangan. Dia menangkup wajah Yuna dan menatapnya lekat.


"Tidak akan terjadi apapun selama aku disini." Ujar Chandra menyakinkan Yuna.


Yuna mengangguk percaya, dia yakin Chandra akan melindunginya dan twins jika Barra berbuat sesuatu.


Keduanya lalu menuju ke mobil dan bergegas pulang.


Sepanjang perjalanan, Yuna hanya diam dengan tatapan yang menerawang. Dia masih syok dan tidak percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh Barra padanya.


Tak habis pikir Barra akan melakukan hal seburuk itu padanya.