Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 83


"Mam, tolong biarkan biarkan aku keluar." Pinta Cindy memohon. Dia ingin menemui Barra yang sejak pukul 3 sore datang ke rumah orang tua Mami Eva.


"Mami tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan laki-laki itu.!"


"Turuti perkataan Mami kali saja.! Lepaskan dia, kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dan bertanggungjawab."


Bukan laki-laki yang hanya bisa menyakiti perasaan kamu saja.!" Geram Eva. Amarahnya kembali memuncak jika mengingat bagaimana Barra menyakiti putrinya dengan menikahi wanita lain hingga memiliki 2 orang anak.


Pergi berlibur, menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya, sedangkan Cindy begitu menyedihkan seorang diri di apartemen.


"Apa kamu tidak lihat bagaimana mereka berdua begitu bahagia setelah berlibur ke Paris.?!"


"Apa kamu masih yakin kalau Barra mencintai kamu dan membutuhkan kamu setelah mendapatkan segalanya dari jal-l*ng itu.?!"


"Kamu lihat sendiri Barra tidak bisa meninggalkan wanita murahan itu dan anak-anak.!"


"Lalu untuk apa kamu masih mau bertahan.? Untuk menunjukkan kalau kamu tidak bisa memberikan apapun pada Barra.?!"


Eva semakin menaikan nada bicarannya. Kesabarannya sudah habis menghadapi dan memikirkan kehidupan putrinya yang begitu menyedihkan.


"Jangan bicara seperti itu Mam, Yuna tidak seburuk yang Mami kira."


"Dia wanita baik-baik." Ujar Cindy. Dia membela Yuna lantaran sadar bahwa Yuna tidak bersalah dalam hal ini. Kehadiran Yuna dalam rumah tangganya dengan Barra akibat permintaannya sendiri, bukan permintaan Barra ataupun Yuna.


Meski sudah berulang kali menjelaskan hal itu, tapi sang Mami tidak mau tau dan tetap menyalahkan Yuna serta Barra.


"Mana ada wanita baik-baik yang mau menikah dengan laki-laki yang sudah beristri.?!" Cibir Eva.


"Wanita yang mau menjadi istri kedua hanya wanita murahan yang hanya mengincar harta.!"


"Cukup Mam.! Mami sudah keterlaluan." Tegur Cindy.


"Aku yang bersalah dalam hal ini, berhenti menyalahkan orang lain."


"Kalau aku tidak mengancam Barra, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi." Mata Cindy mulai berkaca-kaca. Semua kekacauan ini terjadi akibat ulahnya sendiri, tapi orang lain yang harus di sudutkan.


"Kalau Mami mau marah dan menghina, aku orang pantas mendapatkan semua itu karna akar permasalahan ini berasal dari diriku sendiri."


"Aku selalu berfikir Barra tidak bahagia karna kami tak kunjung memiliki anak, walaupun Barra selalu mengatakan dia bahagia."


"Barra bahkan mau menerima kekuranganku, tapi aku tidak mensyukuri semua itu."


"Aku sendiri yang sudah menghancurkan pernikahan kami, aku sendiri yang sudah menciptakan luka ini."


Tangis Cindy pecah tanpa suara. Dia bergegas menaiki tangga dengan berderai air mata.


Semuanya hancur, kebahagiaannya lenyap. Dunia tak lagi seterang dulu. Kian redup dan mulai menggelap.


Penyesalanpun tidak ada gunanya saat ini. Semuanya sudah terjadi. Semua ini sudah menjadi resiko atas pilihan hidupnya sendiri.


...****...


Barra kembali ke apartemen pukul 11 malam.


Sejak tadi siang sudah berusaha untuk berbicara dengan Cindy dan Mami Eva, tapi tidak di beri akses untuk masuk kedalam rumah orang tua Mami Eva.


Padahal Barra sudah menunggu di luar gerbang sejak pukul 3 sore. Ponsel Cindy juga tidak bisa di hubungi.


Apa yang tengah dia hadapi saat ini, membuat Barra tidak bisa lagi berpikir jernih.


Dering ponsel membuat Barra buru-buru merogoh saku celananya. Dia berharap Cindy yang menghubunginya. Namun setelah melihat nama yang tertera, Barra langsung kembali lesu.


"Halo Mom, ada apa.?"


"Besok jam 10, kamu harus datang ke rumah.! Mom juga sudah mengundang Yuna dan Cindy untuk datang."


"Kamu selesaikan masalah ini secepatnya di depan Mom dan Dad.!" Seru Sonya dengan nada tinggi. Sambungan telfonnya bahkan langsung di matikan tanpa memberikan kesempatan pada Barra untuk bicara.


Barra semakin terlihat frustasi, meletakan kasar ponselnya di atas meja dan meremas kuat rambutnya.


"Aaarrggghhhh,,,,!!" Teriak Barra.


Vas bunga di atas meja menarik perhatiannya, Barra mengambil vas itu dan membantingnya ke tembok.


"Craakkkkk..!!"


Hancur tak tersisa menjadi serpihan-serpihan kecil.


Seperti itulah gambaran hati Barra saat ini.


Apa yang berusaha dia pertahankan dengan menggenggamnya erat, pada akhirnya akan lepas dari genggamannya.


Semua orang sudah berkumpul di kediaman rumah Sonya dan Hendra. Rumah yang baru 9 bulan lalu mereka tempati, tiba-tiba menjadi ramai. Tidak seperti biasanya yang sepi dan hanya ada mereka berdua serta beberapa asisten rumah tangga.


Tepat di ruang keluarga, semua orang berkumpul disana. Yuna dengan Mama Rena, Cindy dan Mami Eva, serta Barra dan tentunya Sonya dan Hendra.


Sedangkan baby twins di ungsikan di lantai dua, dijaga oleh Sisil dan asisten rumah tangga.


"Terimakasih sudah bersedia untuk datang." Ucap Hendra.


"Atas nama putra Kami, Saya dan Sonya meminta maaf pada kalian." Tanpa merendahkan diri sendiri yang tidak melakukan kesalahan, Hendra meminta maaf atas nama putranya yang telah membuat permasalahan ini semakin tidak terkontrol.


"Dad, aku,,,


"Daddy belum selesai bicara.!" Potong Hendra dengan tatapan tajam.


Barra kembali diam. Dia sangat malu dan merasa bersalah pada kedua orang tuanya karna harus meminta maaf atas kesalahan yang tidak mereka buat.


"Jika kami tau sejak awal tentang niat putra kami untuk menikah lagi, tentu saja kami orang pertama yang akan membatalkan pernikahan itu.!" Tegas Hendra.


Cindy yang mendengar itu hanya bisa menundukkan kepala. Dia semakin merasa bersalah.


Kedua mertuanya saja tidak mendukung Barra untuk menikah lagi, tapi dia sebagai istri Barra justru memaksanya untuk menikah lagi.


"Memang menjalani 2 atau 3 pernikahan sekaligus tidak di larang, tapi kami menentang keras hal itu jika pada akhirnya hanya akan saling melukai."


"Dan seperti inilah contohnya.!" Seru Hendra. Tatapan tajamnya di arahkan pada putranya.


Dia dan Sonya sangat kecewa pada Barra. Sejak dulu selalu di didik untuk menghargai wanita dan tidak boleh menyakiti perasaan wanita, tapi sekarang Barra menghancurkan hati seorang wanita yang sangat berharga.


"Itu karna putra kalian terlalu serakah.!" Seru Eva geram.


"Eva.! Jangan hanya menyudutkan putraku.!" Balas Sonya tak terima. Walaupu dia juga kecewa pada Barra, tapi Sonya tidak terima jika Evan hanya menyalahkan putranya. Sedangkan pernikahan kedua Barra terjadi atas permintaan Cindy.


"Lalu harus menyudutkan siapa.? Wanita itu.?" Eva menunjuk Yuna yang sejak tadi diam dengan kepala tertunduk.


"Cukup Eva.!. Apa kamu tidak puas sudah menghinanya.?" Sindir Sonya. Dia menatap Eva tak habis pikir. Status sosial dan pendidikannya yang tinggi, bisa mengeluarkan hinaan kotor dari mulutnya.


"Jadi wanita itu mengadu padamu.?" Tanya Eva dengan senyum kecut. Yuna yang awalnya cuek, kini menatap tajam pada Eva. Ucapan Eva sama sekali tidak benar, Yuna bahkan tidak tau bagaimana Mom Sonya mengetahui semua itu.


"Kamu tidak berhak menghina ibu dari kedua cucuku.! Dia wanita baik- baik." Geram Sonya. Padahal dia sudah berusaha untuk menahan diri agar tetap bersikap tenang meski sudah tau kelakuan buruk Eva pada Yuna.


Selama ini Mom Sonya berkomunikasi baik dengan Nitha, dan dari Nitha lah Mom Sonya mengetahui semua itu.


"Kamu lebih membelanya karna dia sudah memberikanmu cucu.? Dibanding dengan Cindy yang sudah bertahun-tahun mengurus putramu dengan baik.!" Seru Eva dengan sorot mata penuh kekesalan. Dia merasa putrinya tidak diharapkan dan dihargai keberadaannya oleh Sonya.


"Aku hanya membela orang yang seharusnya tidak diperlakukan buruk oleh kamu." Sahut Sonya.


"Sudah, hentikan.!" Tegur Hendra.


"Jangan membuat permasalahan ini semakin melebar.!"


"Saya memanggil kalian untuk menyelesaikan masalah ini, bukan untuk memperkeruh masalah."


"Semua keputusan ini kita serakah pada mereka bertiga.! Biarkan mereka yang menentukan keputusan masing-masing." Tutur Hendra.


"Kita tidak boleh ikut campur dan harus menerima keputusan mereka." Hendra mengatakan itu untuk orang tua Yuna dan Cindy, termasuk untuk dia sendiri dan Sonya.


"Saya tidak akan membiarkan Cindy bertahan dengan Barra.! Saya akan mengajukan gugatan ke pengadilan.!" Ujar Eva cepat.


"Eva, kamu tidak dengat kalau keputusan ada di tangan anak-anak.?! Jadi biarkan Cindy yang menentukan.!" Tegur Sonya kesal. Besannya itu terlalu banyak bicara dan menyudutkan banyak orang.


"Barra.! Bagaimana keputusan kamu.?!" Tanya Hendra tegas.


Pertanyaan itu membuat Barra langsung menata6 Cindy dan Yuna bergantian.


"Aku tidak bisa melepaskan mereka." Ucap Barra sungguh-sungguh.


Jawaban Barra membuat Eva tertawa sinis.


"Kamu lihat sendiri bagaimana sikap serakah putramu.?!" Ujarnya pada Sonya.


"Putraku tidak serakah, dia hanya berusaha untuk bertanggungjawab atas keputusan yang dia ambil dan untuk mempertahankan orang-orang yang dia cintai." Sahut Sonya. Nada bicaranya pelan tapi penuh penakanan.


"Jangan banyak berdebat.! Biarkan masalah ini cepat selesai.!" Lagi-lagi Hendra harus menegur Sonya dan Eva untuk kesekian kalinya.


...****...


...Jangan lupa vote, vote lagi, vote terus, 🤣...