Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 81


Tangisan baby twins membuat Yuna dan Barra terpaksa membuka mata. Baru 3 jam tidur tapi si kembar sudah mengajak mereka untuk bergadang.


Jam masih menunjukkan pukul 2 pagi.


"Awas Mas,," Yuna berusaha menyingkirkan tangan besar Barra yang melingkar erat di pinggangnya.


"Kenapa mereka bengun lagi malam-malam begini." Gumam Barra dengan suara serak. Kesadarannya bahkan belum terkumpul sepenuhnya.


Dia bergeser, memberikan ruang pada Yuna agar bisa turun dari ranjang.


"Mungkin haus, atau popoknya sudah penuh." Sahut Yuna sembari beranjak menghampiri ranjang baby twins.


"Pindahkan kesini saja Yuna," Pinta Barra.


Yuna menurut karna Kenzie dan Kinara sama-sama menangis dan dia tidak mungkin bisa menenangkan mereka berdua sendirian.


Dia mengambil Kinara lebih dulu dan memberikannya pada Barra setelah mengecek diapersnya.


Barra langsung mengubah posisi dengan duduk di ranjang sembari memangku Kinara.


"Aku bikin susu dulu ya," Yuna juga meletakkan Kenzie di atas ranjang mereka, kemudian pergi membuat susu untuk twins.


"Kalian haus ya.?" Barra mulai mengajak kedua bicara. Tangis Kenzie dan Kinara mulai mereda.


"Sebentar ya, Mama lagi buatin susunya." Barra mencium twins bergantian.


Kerepotan seperti ini mungkin tidak akan pernah terulang lagi bersama twins dan Yuna.


Tidak akan bisa bangun tengah malam untuk mengurus mereka bersama-sama.


Jika di tanya bagaimana perasaannya saat ini di detik-detik terakhir kebersamaannya dengan Yuna dan baby twins, tentu saja Barra akan menjawab hancur dan menyakitkan.


Apa yang dia perlihatkan saat ini hanya kepalsuan belaka, di balik kehancuran hatinya karna harus melepaskan dia anaknya serta Yuna.


Baru saja beberapa bulan merasakan bahagia dengan hadirnya anak dalam hidupnya, kini harus rela berpisah.


Seandainya bisa memutar waktu, lebih baik tidak ada pernikahan daripada harus mengorbankan anak-anak yang tidak bersalah dan tidak tau apapun dengan permasalahan orang tuanya.


Cinta yang berlebihan menuntunnya dalam kehancuran.


Logikanya seolah tertutup hingga menuruti ide gila itu yang pada akhirnya hanya meninggalkan luka di hati semua orang.


Penyesalan memang selalu datang terlambat.


"Ya ampun Mas Barra.!" Teriak Yuna. Dia berlari cepat ke arah ranjang dan menangkap Kenzie yang nyaris jatuh dari ranjang. Jika terlambat sedikit saja, entah apa jadinya tubuh mungil yang jatuh dari ketinggian.


Barra yang baru menyadari hal itu hanya bengong dengan raut wajah pucat karna syok. Dia hampir melihat Kenzie terjun bebas dari ranjang yang tinggi.


"Maaf,," Ucap Barra lemah.


Yuna hanya diam, dia sedang memeluk Kenzie dengan nafas yang tersenggal. Dua botol susu yang dia bawa sampai di jatuhkan begitu saja karna buru-buru menangkap Kenzie.


"Bagaimana kalau tadi aku terlambat datang,," Gumam Yuna dengan suara yang bergetar. Dia tidak bisa membayangkan putranya terluka.


"Lain kali lebih fokus lagi jika mengawasi mereka." Tegur Yuna lirih.


"Aku minta maaf,," Barra terlihat sangat menyesal karna sudah ceroboh. Dia hampir saja membuat putranya celaka.


Yuna mengambil botol susu yang tadi jatuh. Dia memberikannya satu untuk Kinara yang masih berada dalam pangkuan Barra.


...*****...


Hari ini terakhir bagi keluarga kecil itu menghabiskan waktu di Paris. Nanti malam mereka sudah harus terbang ke Jakarta.


1 minggu terasa sangat singkat untuk mengukir kenangan indah bersama keluarga kecilnya.


Rasanya belum puas menghabiskan waktu yang indah ini bersama-sama.


Masih banyak kebahagiaan yang ingin Barra rasakan bersama kedua anaknya dan juga Yuna.


Sejak pagi mereka melakukan aktifitas seperti biasa, hanya saja kali ini lebih fokus untuk berbelanja. Barra mengajak Yuna membeli keperluan baby twins serta membeli oleh-oleh untuk mereka yang ada di ruko.


"Aku boleh ambil baju dan sepatu untuk Kevin.?" Tanya Yuna. Kali ini dia berani meminta pada Barra untuk pertama kalinya. Walaupun apa yang dia minta bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk keponakan Barra.


Selama ini Sisil sering memberikan barang dan baju brand ternama untuk baby twins, sedangkan Yuna hanya bisa memberi Kevin baju dengan brand yang masih bisa di jangkau oleh kantongnya.


Barra menoleh, tersenyum teduh pada Yuna.


"Tantu saja, ambil berapapun yang kamu mau." Sahut Barra sembari mengusap pucuk kepala Yuna.


"Makasih."


Yuna langsung memilih beberapa baju untuk baby twins dan Kevin. Setelah itu, Barra juga mengajak Yuna untuk memilih tas sepatu.


Selama ini Yuna belum pernah meminta barang apapun darinya. Dulu seteiap kali pergi ke pusat perbelanjaan, Yuna selalu menolak jika ditawari untuk belanja.


"Ambil berapapun yang kamu mau, selama ini aku belum pernah membelikan barang untukmu kan."a


"Semua barang-barang itu nggak membuat aku bahagia, jadi cukup 1 saja." Sahut Yuna dengan senyum tipis. Dia langsung mengambil tas warna mocca.


"Terimakasih, aku akan simpan tas ini baik-baik. Mungkin suatu saat bisa di pakai Ara kalau dia besar nanti." Yuna menunduk, menatap Ara yang tertidur pulas doli stroller.


Senyum tipis yang terbit di bibir Yuna begitu menyayat hati. Mulai berkaca-kaca memandangi wajah polos Ara dan Kenzie.


Dua bayi tak berdosa itu akan menjadi korban keegoisan orang tuanya.


Yuna sadar dia egois, tidak memberikan baby twins kesempatan untuk bisa lebih lama lagi berkumpul dengan kedua orang tua kandungnya.


Namun dia tidak punya pilihan lain. Bertahan hanya akan membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan.


...*****...


"Yuna,," Panggil Barra. Dia meraih tangan Yuna dan menggenggamnya.


Saat ini mereka sudah berada di pesawat.


Yuna menoleh dengan tatapan datar. Tidak ada respon saat Barra menggenggam tangannya.


"Kamu dan baby twins sangat berarti untuk hidupku."


"Aku menyesal sudah membuat kekacauan ini dan mengorbankan kebahagiaan kalian."


"Seandainya pernikahan itu tidak ada, mungkin kehidupan kamu tidak akan sulit dan menyedihkan seperti ini."


Barra menatap iba pada Yuna. Dia akan membuat Yuna menjadi single parent dengan dua orang anak.


"Aku juga selalu berfikir seperti itu, harusnya aku menjual diri daripada harus menjadi orang ke tiga."


"Aku bahkan membenci diriku sendiri, benar-benar memuakkan menjadi orang ketiga." Yuna tersenyum kecut.


"Tapi lihat mereka,," Yuna menatap Zie dan Ara yang sibuk mengoceh sembari memegang makanan.


"Setidaknya mereka bisa menjadi penyemangat dan sumber kekuatanku untuk melanjutkan hidup."


Yuna menyeka bibir Ara dari sisa makanan.


"Aku hanya takut mereka akan membenciku jika suatu saat mereka tau bahwa ibunya menjadi orang ketiga."


"Hadir di antara dua orang yang saling mencintai."


Senyum Yuna semakin mengembang, tentu saja senyum yang memilukan.


"Kenapa berfikir sejauh itu, mereka tidak akan pernah membenci orang tuanya sendiri." Sanggah Barra. Menurutnya ketakutan Yuna terlalu berlebihan.


"Semoga saja begitu." Sahut Yuna lirih.


...*****...


Pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Jakarta pukul 1 siang. Barra sudah menyuruh supir untuk menjemputnya tepat waktu.


Begitu keluar, mereka langsung bergegas pergi ke mobil.


"Akhirnya selesai juga." Ucap Yuna lega. Setelah ini dia akan memulai hidup baru tanpa Barra di sisinya.


Mungkin akan terasa berat, tapi itu hanya di awal saja.


"Sebahagia itu akan bercerai denganku.?" Barra menoleh dengan tatapan sendu.


Yuna yang tidak sadar mengatakan itu, langsung gugup dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Barra.


"Bu,,bukan begitu maksudku, aku senang saja karna bisa kembali ke Jakarta." Sahut Yuna. Barra habya diam saja dan langsung mengalihkan pandangan pada Kinara yang duduk di pangkuannya.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan ruko setelah menempuh perjalanan 30 menit.


Mobil mewah yang terparkir di depan ruko membuat Yuna dan Barra menatap heran. Mereka tidak tau siapa pemilik mobil itu.


"Ada siapa.?" Tanya Barra pada Yuna.


Yuna tentu saja langsung menggelengkan kepala karna tidak tau.


"Bukan mobil Mba Cindy.?" Yuna balik bertanya.


"Bukan." Jawab Barra cepat. Dia dan Cindy memang memiliki beberapa mobil, tapi tidak memiliki mobil seperti itu.


Dia lalu mengajak Yuna untuk segera masuk kedalam. Semabari menggendong babybtwins.


Sementara itu, barang-barang mereka sedang di keluarkan dari bagasi oleh supir.


...***...


...Jangan lupa vote...