Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 50


"Oiya,, kebetulan sekali kita bertemu disini. Aku mau meminta pendapat Mas Barra soal baju yang aku beli." Yuna meraih paper bag miliknya dan terlihat antusias akan menunjukkan isinya pada Barra.


"Tadinya aku mau telfon Mas Barra dah minta pendapat sebelum membelinya, tapi aku takut mengganggu kalau menelfon." Tuturnya sembari merogoh isi paper bag.


"Aku beli ini." Yuna mengeluarkan lingerie dari dalam paper bag dan memperlihatkannya di depan Barra. Kain tipis itu membuat kedua mata Barra membulat sempurna, dia kaget melihat Yuna membeli baju haram itu.


Tentu saja kaget karna belakangan ini dia dan Yuna tidak pernah melakukan hal yang menjurus ke arah ranjang. Barra bahkan belum berfikir untuk menyentuh Yuna lagi lantaran takut Yuna akan menolaknya.


Karna sebelum Yuna menyetujui untuk bertahan, Yuna melarangnya untuk menyentuhnya lagi.


Kini Yuna justru membeli baju itu, Barra berfikir Yuna sudah benar-benar siap menjalani perannya sebagai istri yang sesungguhnya.


"Bagaimana menurut kamu Mas.? Mas Barra suka warnanya atau nggak.?" Tanya Yuna. Dia terlihat antusias menunggu jawaban dari Barra.


"Aku nggak tau warna kesukaan Mas Barra, jadi aku beli 5 model dengan warna yang berbeda. Semoga ada warna yang Mas Barra suka." Tuturnya. Yuna terus menyerocos, tidak terlalu ambil pusing dengan Barra yang terus diam dan terlihat syok karna disodorkan lingerie itu.


"Warna apa saja nggak masalah, tapi kamu yakin mau pakai itu.?" Barra menatap tak yakin. Rasanya tidak mungkin Yuna berani memakai lingerie seksi itu di depannya, sedangkan selama menyentuh Yuna, wanita itu selalu malu - malu dan memalingkan wajah meski lampu di matikan.


"Sebenernya malu, tapi aku coba membiasakan diri."


"Bukankah ini salah satu bentuk untuk menyenangkan suami.?" Ucap Yuna.


"Ekhemm,,,"


Kedatangan Cindy membuat obrolan Barra dan Yuna berakhir.


"Mba,," Yuna menatap Cindy dan tersenyum kikuk lantaran Cindy terus melihat lingerie yang ada di tangannya.


"A,,aaku sedang meminta pendapat Mas Barra." Katanya sembari memasukan kembali lingerie itu kedalam paper bag.


Cindy menatap datar, lalu duduk di kursinya.


"Kamu beli lingerie.?" Tanya Cindy.


Yuna mengangguk ragu, tapi tidak mungkin bilang tidak karna Cindy sudah terlanjur melihatnya.


"Barra paling suka warna hitam dan merah,," Tuturnya santai.


Ucapan Cindy membuat Barra menatap tak suka padanya.


"Cindy,,," Tegur Barra. Dia tidak nyaman mendengar pembahasan seperti ini di depan kedua istrinya. Selain akan menimbulkan pemikiran yang tidak-tidak, Barra juga takut hal seperti ini akan menimbulkan kecemburuan di hati mereka berdua.


"Wahh makananku sudah datang." Yuna menyambut kedatangan pelayan yang membawakan makanan dan minuman miliknya.


Pelayan itu datang di waktu yang tepat, obrolan tabu mereka jadi berakhir begitu saja.


"Silahkan,," Ucap pelayan ramah.


"Terimakasih Mba,"


Tanpa menunggu lama, Yuna langsung meneguk oren jus untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering sejak masuk ke restoran.


"Maaf aku makan dulu." Ucapnya.


Barra dan Cindy hanya mengangguk.


Yuna memotong dan melahap daging itu dengan penuh penghayatan, terlihat penuh tenang namun sangat santai. Meski sedang didepan suami dan istri pertamanya, hal itu tak membuat Yuna merasa canggung. Dia terus makan tanpa bersuara dan hanya fokus menatap makanannya.


Meja yang dia tempati jadi hening, padahal sebelum dia duduk di sana, canda tawa penuh kebahagiaan terus berlangsung.


"Maaf jadi menganggu quality time kalian." Ucap Yuna setelah memakan potongan daging terkahir.


"Nggak masalah," Sahut Cindy.


"Kita mau pergi ke pantai setelah ini, apa kamu ikut.?" Cindy terlihat santai saja mengajak madunya untuk ikut bersama mereka, padahal rencananya mereka berdua akan menginap semalam di resort.


Yuna diam sejenak, terlihat sedang mempertimbangkan tawaran Cindy.


"Terimakasih tawarannya, mungkin lain saja kita pergi bersama." Tolak Yuna halus. Dia tersenyum lebar pada Cindy.


"Aku harus pulang sekarang, berkeliling mall sedikit membuatku lelah. Perutku juga mulai nggak nyaman, sepertinya baby twins harus istirahat." Yuna beranjak dari duduknya. Mengambil semua paper bag miliknya, kemudian mengulurkan tangannya pada Barra.


"Aku pulang dulu Mas,," Pamitnya. Barra sedikit ragu menerima uluran tangan Yuna, hingga butuh beberapa detik Yuna baru bira meraih tangan Barra dan mencium punggung tangannya.


"Aku pulang Mba, makasih sudah di temani makan." Kini Yuna berdiri di samping Cindy dan pamit padanya. Keduanya berpelukan sekilas.


"Kamu yakin mau pulang sendiri.?" Cindy terlihat khawatir.


"Kita antar Yuna dulu sebelum ke pantai." Ujar Barra. Dia langsung beranjak dari kursi.


"Have fun yah,,, aku duluan,," Yuna berjalan cepat meninggalkan meja mereka dan keluar dari restoran itu.


"Kamu tunggu dulu disini, aku akan mengantar Yuna sampai ke depan." Ujar Barra. Nyatanya dia tidak tenang kalau tidak mengantar Yuna dan melihat Yuna benar-benar pulang menggunakan taksi.


"Aku tunggu di basemen saja sayang, jadi kamu isa langsung ke mobil setelah mengantar Yuna." Jawab Cindy. Barra mengangguk setuju, setelah itu segera menyusul Yuna dengan langkah cepat karna takut tertinggal jauh.


Cindy juga keluar dari restoran dengan barang belanjaan di tangannya. Dia sempat menghentikan langkah, melihat Barra yang berhasil menyusul Yuna. Dia menatap mereka berdua dari kejauhan.


"Apa aku benar-benar bisa ikhlas.?" Gumam Cindy lirih. Dia berharap keputusannya tidak akan salah dan tidak akan membuatnya menyesal. Ini adalah bentuk dari ketulusan cintanya terhadap Barra. Sekalipun dengan cara berbagi suami.


...****...


"Mas Barra, kenapa menyusul.?" Yuna sedikit kaget melihat Barra yang tiba-tiba berjalan di sampingnya dan merangkul pundaknya.


"Aku antar kamu ke depan." Jawabannya.


"Sini biar aku bawakan." Paper bag di tangan Yuna langsung berpindah ke tangan Barra.


Yuna terlihat melempar senyum tipis padanya.


"Makasih."


Barra mengangguk pelan.


"Maaf sudah mengganggu waktu kalian, tadinya aku ingin pindah restoran setelah melihat kalian, tapi mereka ingin makan bersama ayahnya." Yuna menatap ke perutnya dan mengusapnya pelan.


"Oiya, dimana Mba Cindy.?" Yuna menengok kebelakang, namun tidak melihat keberadaan Cindy. Posisinya saat ini juga sudah jauh dari restoran tadi.


"Dia menunggu di mobil." Jawaban Barra hanya di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Yuna.


"Eumm,, soal baju itu." Ucap Yuna ragu dengan tatapan sendu ke arah paper bag di tangan Barra.


"Aku akan membuangnya kalau Mas Barra nggak suka. Keliatannya Mas Barra nggak nyaman aku beli baju itu." Tuturnya. Yuna sempat mengamati raut wajah Barra saat dia menunjukkan lingerie itu padanya. Sedikitpun tidak terlihat senang melihat istri yang sedang berusaha untuk menyenangkan suaminya.


"Kapan aku bilang nggak suka.?" Tanya Barra


"Itu cuma perasaan kamu saja." Dia menyangkal tuduhan Yuna.


"Jangan di buang, aku mau lihat kamu pakai baju itu."


Ucapan Barra membuat Yuna melongo, antara kaget tapi juga terlihat senang.


"Benarkah.?" Tanya Yuna.


Barra mengangguk cepat.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memakainya kalau Mas Barra pulang." Ucapnya antusias dengan ekspresi wajah yang terlihat menggemaskan. Wajah wanita berusia 25 tahun itu seperti remaja yang berusia belasan tahun, namun sikapnya cukup dewasa menurut Barra. Hanya saja akhir-akhir ini jadi sedikit terlihat manja padanya.


"Itu mobilnya,,* Yuna menunjuk mobil yang baru saja masuk ke area mall.


Barra menunggu sampai mobil itu benar-benar berhenti di depan mereka. Begitu berhenti, Barra langsung membukakan pintu belakang untuk Yuna.


"Makasih Mas,," Yuna reflek memeluk Barra sebelum masuk ke dalam mobil.


"Ehh,,," Dia langsung melepaskan pelukannya saat sadar dirinya sedang berada di tempat umum.


"Maaf." Ucapnya.


Barra hanya mengulas senyum, gemas sendiri dengan tingkah Yuna.


"Baik-baik di dalam." Barra mengusap perut Yuna dan bicara dengan baby twins, setelah itu beralih menatap Yuna.


"Hubungi aku kalau sudah sampai." Pintanya. Yuna mengangguk patuh, kemudian masuk kedalam mobil.


"Tolong hati-hati, jangan ngebut." Ujar Barra pada supir taksi itu.


Dia masih berdiri di sana sampai mobil yang di tumpangi Yuna tidak terlihat lagi.


"Sayang, ayo,," Cindy menepuk pundak Barra.


"Kamu disini.?" Barra terlihat kaget melihat Cindy ada di sana.


"Bukannya kamu mau menunggu di,,,


"Aku nggak berani, di sana sepi." Jawab Cindy. Dia lantas menggandeng tangan Barra dan mengajaknya pergi.