
Yuna kebingungan melihat Barra yang masih berada di dalam kamar. Dia jadi ragu untuk menyusui Kinara lagi. Setelah 1 bulan lebih tidak tinggal dan berinteraksi secara fisik dengan Barra, Yuna merasa risih malu memperlihatkan bagian tubuhnya yang tersembunyi. Hubungan yang menurut Yuna sudah renggang itu juga menjadi salah satu alasan kenapa tadi dia sangat kaget melihat Barra masuk kedalam kamar.
Yuna ingin menjaga jarak dengan Barra, namun laki-laki itu justru bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
"Kenapa.?" Barra bertanya dengan santainya. Dia bahkan melepaskan jaket dan menggantungnya. Barra terlihat sangat nyaman di dalam kamar ini dan seolah merasa bahwa kamar ini juga miliknya.
"Sebaiknya Mas Barra tunggu di bawah. Aku akan turun kalau sudah selesai memberi asi untuk Kinara." Yuna meminta Barra untuk keluar dari kamar. Barra menautkan alisnya, sedikit heran dengan permintaan Yuna. Dia sama sekali tidak merasa kalau Yuna ingin menjaga jarak dengannya, salah satunya agar tidak berduaan di dalam kamar. meskipun ada Kinara.
"Aku mau lihat putriku, kenapa harus tunggu di bawah.?" Barra justru mendekat dan ikut duduk di sisi ranjang. Tangannya langsung mengusap pipi Kinara.
Tangis Kinara semakin keras dengan wajah yang bergerak kesana kemari seperti mencari sesuatu. Mulutnya juga terus terbuka.
"Dia haus Yuna,," Ucapan Barra menyadarkan Yuna dari lamunan. Seketika panik karna tangis Kinara pecah.
"Kalau nggak mau keluar, sebaiknya duduk menghadap ke dinding atau aku dan Kinara yang akan turun.!" Pinta Yuna dengan sedikit ancaman.
"Iya, iya,, aku nggak akan liat." Barra menurut dan langsung membelakangi Yuna. Begitu juga dengan Yuna yang ikut merubah posisi hingga keduanya saling membelakangi.
Kinara langsung berhenti menangis setelah Yuna memberikan asi lagi padanya.
"Masih lama.?" Tanya Barra setelah kurang dari 5 menit membiarkan Yuna menyusui Kinara.
"Aku kan sudah suruh Mas Barra tunggu di bawah.!" Ketus Yuna.
"Mas Barra pikir menyusui itu nggak makan waktu." Ucapnya lagi. Kepulan asap seperti keluar dari kepala Yuna. Kesal karna mendengar pertanyaan Barra.
Jika meminum asi langsung dari sumbernya, Yuna memang bisa membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk menyusui Kinara. Bahkan membutuhkan waktu lebih lama dari itu jika menyusui Kenzie.
"Memangnya berapa lama.? Tapi Kenzie bisa menghabiskan asi dengan cepat." Tanya Barra lembut. Meski Yuna selalu menanggapinya dengan ketus, Barra terlihat santai saja.
"Itu karna menggunakan botol. Beda cerita kalau langsung dari sumbernya.!" Sahut Yuna berapi-api. Entah kenapa dia tidak bisa sabar berbicara dengan Barra, rasanya ingin marah-marah padanya.
"Dari sumbernya bagaimana.?" Tanya Barra. Suaranya jelas sekali sedang menahan tawa. Yuna sadar kalau Barra sedang berniat untuk menggodanya. Yuna juga baru sadar kalau di salah bicara hingga membuat Barra jadi berfikir aneh-aneh.
"Pikir saja sendiri." Jawab Yuna ketus.
Terdengar suara kekehan Barra. Dia gemas sendiri memperdebatkan hal sepele itu dengan Yuna.
"Kamu pasti cape kalau harus mengurus Kenzie dan Kinara, bagaimana kalau menggunakan bantuan baby sitter.?" Tawar Barra. Dia berbicara dengan hati-hati dan sedikit memohon agar Yuna setuju dengan tawarannya.
"Kalau ada yang bantu mengurus baby twins, kamu juga masih bisa menghandle usaha kamu." Ucapnya lagi.
"Nggak perlu, aku dan Mama masih bisa mengurus mereka." Sahut Yuna cepat.
"Jangan mengandalkan Mama kamu, dia pasti cape kalau harus setiap hari ikut mengurus baby twins."
"Aku lihat Mama juga masih membantu pekerjaan kamu. Bagaimana kalau nanti kelelahan dan kondisi kesehatannya menurun.?"
Tapi jika saat ini menyewa baby sitter, Yuna rasa tidak sanggup untuk membayarnya. Dia bahkan sedang berusaha keras untuk membuat keuangannya stabil agar bisa menggaji Nitha dan Farah secara full. Karna sejak 3 bulan yang lalu, Yuna hanya bisa membayar gaji mereka sebesar 50 persen. Karna saat itu Yuna ingin segera mengembalikan semua uang Barra.
Untung saja Nitha dan Farah tidak keberatan.
"Apa lagi yang kamu pikirkan.?" Tanya Barra lirih. Dia memegang pundak Yuna dan mengusapnya pelan. Yuna reflek maju hingga tangan Barra lepas dari pundaknya. Barra menatap tangannya, penolakan dari Yuna membuat raut wajahnya berubah sendu. Dia sudah berusaha untuk bersikap adil, bicara sebaik mungkin dengan Yuna dan memikirkan apa yang terbaik untuk Yuna serta baby twins. Tapi Yuna tetap dingin. Istri keduanya itu memang terlihat sudah memantapkan pilihannya untuk berpisah hingga berusaha untuk menjaga jarak.
"Akan aku pertimbangkan, mungkin nanti 2 atau 3 bulan ke depan." Jawab Yuna. Mungkin saat itu keuangannya sudah stabil dan bisa membayar 1 baby sitter untuk membantu mengurus baby twins.
"Kenapa harus selama itu.? Besok saja kita cari baby sitter, kamu bisa memilih sendiri mana yang menurut kamu bisa mengurus bayi dengan baik."
Barra mengalihkan pikirannya dengan menyahuti ucapan Yuna. Karna sejauh ini dia belum menemukan cara bagaimana membuat Yuna tetap bertahan di sampingnya.
Sekalipun Yuna terus bersikap dingin dan menjaga jarak dengannya, Barra memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Dia akan tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang suami.
"Aku ke bawah dulu, bajuku masih ada di mobil." Barra beranjak, berjalan lurus keluar dari kamar. Dia tidak berani menoleh pada Yuna karna takut membuat Yuna marah.
...*****...
Yuna keluar dari dari kamar setelah selesai menyusui Kinara. Langkahnya terhenti di depan tangga saat melihat Barra naik dengan membawa koper kecil di tangannya.
"Mas Barra mau tinggal disini.?" Tanya Yuna dengan tatapan dingin.
"Kita masih suami istri kan.?" Barra balik bertanya.
"3 hari ke depan aku akan tinggal bersama kalian." Tuturnya dengan senyum tipis. Tatapan Barra juga teduh dan raut wajah yang terlihat memelas.
Yuna menarik nafas dalam. Bukan keadaan seperti ini yang dia inginkan. Sekalipun Barra memang baik dan terlihat serius mempertahankan rumah tangga mereka, namun Yuna tidak mau menjalani pernikahan seperti ini. Lebih baik hidup sendiri daripada harus berbagi suami dengan menjadi yang kedua. Lagipula hatinya sudah mati, sedikitpun tidak tertarik pada Barra sejak rasa yang menyakitkan itu datang dan menghancurkan seluruh hatinya.
"Aku mohon jangan menyiksaku secara perlahan.!" Tegas Yuna penuh penekanan.
"Harus berapa kali aku bilang, aku nggak mau melanjutkan pernikahan ini." Air mata Yuna perlahan mengalir.
"Mas Barra setuju untuk menceraikanku jika aku sudah menemukan orang yang tepat, itu hanya alibi saja.!" Seru Yuna.
"Karna Mas Barra tau aku nggak akan dekat dengan siapapun.!" Tuduhnya geram.
Barra mendekat, meletakkan koper yang dia pegang dan berlutut di kaki Yuna.
"Maaf,,," Ucap Barra. Suaranya terdengar berat dan memohon.
"Bagaimana bisa aku melepaskan kalian. Kamu dan anak-anak kita sangat berarti untukku." Suara bergetar menahan tangis.
"Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, beri aku kesempatan untuk membahagiakan kalian." Pintanya sungguh-sungguh.
Yuna hanya menatap kebawah dengan tatapan datar. Apa yang dilakukan Barra saat ini sama sekali tidak membuatnya tersentuh. Perasaannya tetap sama.