
Siang itu di kediaman Yuna cukup ramai dengan kedatangan asisten pribadi dan sekretaris Chandra, serta kuasa hukum pribadinya.
Mereka bertiga datang untuk menyerahkan apa yang telah di amanatkan oleh Chandra 1 bulan sebelum kepergiannya.
"Tuan Chandra sudah memindahkan semua aset dan kekayaannya atas nama Brian, Nyonya Yuna dan Kenzie serta Kinara." Ucap kuasa hukum Chandra sambil menyodorkan berkas dalam map hitam pada Yuna.
"50 persen saham perusahaan akan diberikan pada Brian setelah dia berusia 19 tahun."
"20 persen untuk Kenzie dan Kinara."
"30 persen untuk Anda, Nyonya,," Tuturnya dengan jelas.
"3 apartemen akan diberikan untuk anak-anak." Tambahnya lagi.
"Untuk saat ini, Nyonya Yuna yang berhak memegang dan mengurus semua aset milik anak-anak."
Yuna hanya diam, dia mendengarkan dengan baik apa yang di ucapkan oleh kuasa hukum Chandra. Tapi pikirannya tidak bisa merespon hal itu. Hatinya semakin sakit mengetahui Chandra sudah menyiapkan semua ini sebelum dia pergi untuk selamanya.
"Pak Chandra juga sudah menyiapkan beberapa pengacara jika suatu saat ada yang ingin menggugat aset milik kalian." Ucap asisten pribadi Chandra.
Air mata Yuna perlahan membasahi pipi. Chandra telah meninggalkan banyak harta untuknya dan juga anak-anak, bahkan hidupnya akan terjamin sampai anak-anak dewasa dan mengelola perusahaan itu.
Namun jika Yuna boleh memilih, dia ingin menukar semua harta itu dengan suaminya. Chandra lebih berharga dari apapun.
"Maaf, Nyonya bisa menandatangani pernyataan Pak Chandra di sini." Sekretaris itu menunjuk bagian yang harus di bubuhkan tanda tangan Yuna. Dia juga menyodorkan bolpoin pada Yuna.
Ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Yuna.
"Terimakasih." Ucapnya. Yuna hanya mengangguk lemah.
Dadanya benar-benar sesak, rasanya ingin menjerit sekencang mungkin untuk mengeluarkan rasa sesak di dadanya.
...****...
Dengan memakai dress panjang berwarna hitam, Yuna menelusuri jalan setapak menuju makan Chandra. Udara di sore hari cukup sejuk dengan angin yang berhembus teratur.
Dia mendekap buket bunga sembari berjalan tertunduk.
Yuna menghentikan langkah, menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Manik matanya menatap batu nisan milik suaminya.
Yuna perlahan berlutut dan duduk dengan kaki yang dilipat kebelakang. Tangannya mengusap lembut batu nisan itu dengan mata yang sudah mengembun.
"Selamat sore sayang," Ucap Yuna sembari mengulas senyum tipis yang mengiris hati.
"Aku datang lagi hari ini." Tuturnya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Ungkapnya dengan air mata yang mulai menetes. Yuna meletakkan buket bunga di atas makan Chandra.
"Biasanya kamu yang selalu mengatakannya lebih dulu, tapi sekarang aku yang akan selalu mengatakannya. Sejak hari itu, kini dan seterusnya, meski aku tau kamu tidak akan membalas ucapanku."
Yuna tersenyum lebar namun tangisnya semakin pecah. Dia ingat kenangan indah bersamanya Chandra, namun sangat sakit karna tidak bisa mengulang semua kenangan itu lagi.
"Apa aku salah jika belum bisa menerima kepergianmu.?" Tanya Yuna. Dia sedang membayangkan di hadapannya ada Chandra.
"6 bulan ini terasa sangat berat untuk dilalui." Tuturnya.
Sudah 6 bulan berlalu sejak kepergian Chandra, Yuna masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Setiap hari dia selalu mengunjungi makam Chandra dan berbicara sendiri di sana.
Kehilangan Chandra menjadi pukulan terberat untuknya. Raganya seolah tanpa jiwa.
Merasa tanpa arah dan terombang-ambing menjalani kehidupan yang fana ini.
Memang kita tidak bisa mencegah perpisahan karna sebuah kematian. Jika bukan kita yang di tinggalkan, maka kita yang akan meninggalkan.
"Begitu juga denganku, bagaimana caranya kerinduan ini akan terobati tanpa bisa melihat kehadiranmu."
Yuna menarik nafas dalam, dia menghapus air matanya dan mengulas senyum lebar.
"Aku akan menjaga cinta ini sampai kita bertemu kembali." Ucapnya.
Seperti halnya Chandra yang mencintainya hingga akhir hayatnya, Yuna juga ingin melakukan hal yang sama untuk membuktikan ketulusan cintanya pada Chandra.
...*****...
"Pleaseee,, Kak Yuna sama Brian ikut saja." Sisil sampai merengek pada mantan Kakak iparnya agar mau ikut berlibur ke Paris.
Sudah lebih dari 1 minggu yang lalu Sisil membujuk Yuna agar mau ikut menemani twins, karna semua keluarga besar Barra akan pergi berlibur ke Paris.
"Tante Rena juga setuju untuk ikut, yah ikut yah.?" Sisil terus membujuk Yuna sampai menggoyangkan lengannya. Dia seperti anak kecil yang merengek pada ibunya, padahal sudah berkepala 3.
"Prisilla maaf, aku belum bisa ikut kali ini." Tolak Yuna halus. Dia selalu menolak tapi tidak mengatakan alasannya pada Sisil.
Mereka akan berlibur selama 2 minggu di Paris, dan Yuna memikirkan selama 2 minggu itu tidak akan bisa mengunjungi makam Chandra lagi.
"Kak, aku tau Kakak masih sangat sedih dan terpukul. Tapi Kak Yuna tidak bisa seperti ini terus, aku yakin Kak Chandra akan sedih melihat Kak Yuna seperti ini. Kak Yuna juga harus bisa bahagia lagi, demi twins dan Brian. Hidup ini terus berjalan, sedangkan Kak Chandra sudah tenang dan bahagia di surga." Tutur Sisil dengan menatap sendu ke arah Yuna. Dia bahkan sampai menggenggam erat tangan Yuna.
"Kak Chandra pasti ingin melihat Kakak bahagia, bisa tersenyum lagi seperti dulu." Ucapnya lagi.
"Sudah Prisilla, jangan memaksa." Tegur Barra.
Sebenarnya Barra malas mengajak Sisil ke rumah Yuna, tapi adiknya itu terus memintanya untuk mengantar ke rumah Yuna. Dan sudah di duga akan seperti ini jadinya. Sisil pasti tidak akan berhenti membujuk sampai Yuna setuju dengan keinginannya. Adiknya itu memang sedikit pemaksa.
"Aku tidak memaksa, Oppa. Zie dan Ara juga pasti akan senang kalau Kak Yuna dan Brian ikut menemani mereka." Sangkal Sisil.
"Baiklah,," Akhirnya Yuna menuruti permintaan Sisil.
"Aahh akhirnya Kakak ipar mau ikut juga." Seru Sisil dengan senyum lebar, dia langsung memeluk Yuna.
Melihat Sisil yang begitu senang, Yuna jadi ikut tersenyum, meskipun senyum itu sangat tipis.
Sejak kepergian Chandra, senyum yang terukir di bibir Yuna tak lagi sama seperti dulu. Setiap guratan senyum yang terukir di bibirnya, masih mengandung kesedihan yang mendalam.
"Oppa,, ayo pesankan tiket juga untuk Kak Yuna dan Brian." Pinta Sisil pada Barra yang sejak tadi lebih banyak diam menyimak obrolannya dengan Yuna.
"Sudah." Jawab Barra singkat.
"Jadi Oppa sudah memesan tiket untuk kak Yuna sejak awal.?"
Barra hanya menjawab dengan anggukan. Dia memang memesankan tiket untuk semua orang, termasuk Yuna, Brian dan Mama Rena. Walaupun belum pasti mereka akan ikut atau tidak.
"Ya ampun sweet sekali duren yang satu ini." Goda Sisil. Sampai sekarang dia masih saja meledek kakaknya yang tidak bisa move on dari Yuna.
"Duren apa.?" Yuna menatap Sisil dengan dahi berkerut. Ekspresi wajah Yuna yang terlihat kebingungan, menarik perhatian Barra untuk menatapnya lekat.
"Kak Yuna tidak tau istilah duren.?" Tanya Sisil. Yuna menggeleng cepat.
"Sini biar aku bisikin." Kata Sisil sembari mengulum senyum dan melirik sekilas pada Barra.
Laki-laki itu langsung melotot tajam pada adiknya meski tidak di hiraukan.
"Duren itu duda keren,," Bisik Sisil
"Tapi sayangnya duda keren gagal move on." Bisiknya lagi. Seketika Yuna langsung menatap ke arah Barra. Menatap dengan pandangan datar.
Walaupun saat ini Barra juga sedang menatap ke arahnya.