
Acara pernikahan itu di tutup dengan makan siang di tempat yang sama. Semua orang tampak sangat bahagia, merasa lega karna apa yang diharapkan selama ini oleh mereka akhirnya terwujud.
Namun lain halnya dengan Yuna yang sejak awal memang biasa saja dengan pernikahannya kali ini.
Belum lagi memikirkan Brian yang lebih banyak diam melamun, sesekali ikut tersenyum saat semua orang tertawa.
Yuna mengkhawatirkan putra bungsunya itu. Seharusnya Brian ikut tertawa bahagia seperti kedua kakaknya, karna dari awal Brian juga menginginkan pernikahannya ini. Namun faktanya justru terlihat murung begitu menyaksikan pernikahan orang tuanya.
Brian tiba-tiba beranjak dari duduknya, pamit pada semua orang untuk pergi ke toilet. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Yuna juga ikut beranjak dari duduknya setelah Brian berjalan menjauh.
"Aku juga ma ke toilet sebentar,," Yuna pamit pada Barra yang duduk di sampingnya. Laki-laki itu reflek berdiri untuk mengantar Yuna dan memegangi gaunnya.
"Biar aku bantu,," Barra mencoba memegang bagian bawah gaun yang sedang di naikkan oleh Yuna.
"Tidak usah Mas, aku bisa memegangnya. Mas Barra lanjutkan saja makannya. Aku segera kembali." Ujarnya sambil menepis pelan tangan Barra. Dia lalu beranjak dari sana untuk menyusul Brian. Ada hal yang harus dia tanyakan pada putranya itu. Yuna ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada putranya hingga dia terlihat tak bersemangat dan menyembunyikannya sesuatu.
Yuna berjalan cepat menuju resort yang di tempati oleh Brian karna tadi masih sempat melihatnya masuk ke sana.
Saat masuk ke dalam kamar Brian, putranya itu justru tengah duduk di sisi ranjang dengan tatapan mata yang terlihat menyimpan beban.
Langkah kaki Yuna membuat Brian menoleh ke arah pintu yang tadi tidak di tutup rapat olehnya.
Brian sedikit kaget dengan kedatangan Yuna, senyum di bibirnya tiba-tiba merekah, seolah berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya.
"Mah, ada apa.?" Tanyanya. Brian akan berdiri, namun Yuna menahan pundaknya dan ikut duduk di sebelah Brian.
"Jangan menyembunyikan sesuatu dari Mama." Pinta Yuna sendu. Ibu mana yang bisa tenang melihat anaknya terlihat sedih. Sejak tadi dia terus memikirkannya.
Brian menggelengkan kepala untuk menyangkal.
"Aku tidak menyembunyikan apapun dari Mama." Sahutnya.
"Lalu kenapa kamu terlihat tidak bahagia dengan pernikahan Mama.?" Tanyanya lembut.
"Jujur saja, jangan menyimpannya sendirian." Bujuk Yuna.
"Siapa bilang aku tidak bahagia.? Aku bahagia melihat Mama dan Papa Barra bersatu, karna itu impian aku dan Kak twins."
Yuna tak percaya begitu saja dengan jawaban Brian. Dia yakin ada hal yang disembunyikan oleh putranya dan tak ingin mengatakannya pada siapapun.
"Tapi sorot mata dan ekspresi wajah kamu tidak bisa dibohongi."
"Kamu salah jika menyembunyikan sesuatu dari Mama, karna insting seorang ibu cukup kuat." Tutur Yuna. Dia lalu meraih tangan Brian dan menatapnya lekat dengan tatapan teduh,
"Mama tidak menginginkan apapun selain kebahagiaan kamu dan Kakak twins. Kalian satu-satunya sumber kebahagiaan Mama saat ini." Ungkap Yuna. Matanya berkaca-kaca, dia hanya menginginkan kebahagiaan anak-anak, tak akan meminta apapun lagi saat ini.
"Kalau kamu sedih seperti ini, bagaimana Mama bisa bahagia.?" Tanyanya dengan dana bicara yang mengiris hati.
Tiba-tiba Brian memeluk Yuna, mendekapnya erat sembari memejamkan mata. Dia terlihat ingin menumpahkan air matanya, namun enggan membuat sang Mama semakin sedih dengan melihatnya menangis.
"Papi,, Papi bilang dia rindu dan pulang menemui kita untuk berkumpul bersama lagi." Tutur Brian dengan suara tercekat. Akhirnya dia mengatakan apa yang sudah membuatnya terlihat sedih.
Yuna terdiam, dia ingat dengan penuturan Brian 1 beberapa hari yang lalu saat Brian memimpikan Chandra. Rupanya Chandra tak hanya bilang merindukan mereka, pantas saja saat itu Brian terlihat sangat sedih.
Brian pasti berfikir kalau Papinya tidak rela jika Mamanya menikah lagi dan dia memilki Papa baru.
"Jangan sedih, Papi pasti ikut bahagia jika kita bahagia." Ujar Yuna sembari mengusap punggung Brian. Dia hanya pura-pura tenang dan tegar di depan Brian, padahal saat ini hatinya sangat sakit.
...*****...
Yuna dan Barra sudah tinggal berdua dalam satu resort. Mama Rena pindah ke resort yang di tempati oleh Barra sebelumnya.
Tentu saja mereka membiarkan pasangan pengantin baru itu untuk memiliki privasi selama berduaan. Tak hanya itu, mereka juga ingin membuat Yuna dan Barra menjadi semakin dekat agar tak lagi terlihat canggung.
Begitu masuk ke dalam kamar, Yuna langsung bergegas ke kamar mandi. Gaun pengantin yang ia kenakan tadi, sudah di lepas dengan meminta bantuan Mama Rena. Yuna enggan mengulang adegan kesulitan melepaskan gaun pengantin untuk ke tiga kalinya.
Barra duduk di sisi ranjang, dia baru saja memindahkan kopernya dari resort sebelumnya ke resort yang di tempati Yuna.
Suara gemercik air di kamar mandi, mengingatkan Barra akan percintaannya dengan Yuna belasan tahun lalu.
Ingatan itu tak memudar karna terlalu indah untuk di lupakan.
Perlahan mulai menarik nafas dalam. Kini tak akan mudah untuk mengulang percintaan itu. Dia butuh waktu untuk mendapatkan hati Yuna agar bisa menerimanya, sebelum akhirnya bisa menyentuh Yuna.
Barra tak mau memaksa, karna hal itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Kalaupun Yuna mau melakukannya, sudah pasti Yuna akan tanpa perasaan dan mungkin hanya sekedar untuk melakukan kewajibannya.
Dia juga tak mau Yuna mengingat Chandra saat sedang berada di atas ranjang dengannya.
"Airnya sudah aku siapin kalau mau berendam,," Suara lembut Yuna memecahkan lamunan Barra. Rupanya cukup lama dia melamun.
Barra menatap Yuna dari ujung kepala sampai kaki.
Tubuh langsingnya di balut handuk kimono sebatas lutut berwarna putih. Rambut panjangnya masih setengah basah di biarkan terurai. Yuna berjalan menuju ruang ganti dan hanya melirik Barra sekilas saat bicara dengannya.
"Makasih,," Ucap Barra. Setidaknya Yuna masih peduli padanya dengan menyiapkan air untuk mandi.
Yuna tampak mengangguk pelan, lalu menghilang di balik ruang ganti.
Saat jam makan malam, kedua keluar resort untuk bergabung di resort Mom Sonya karna di sana sudah di siapkan makan malam.
Kedatangan pasutri baru itu tentu saja menarik perhatian semua orang. Mereka justru yang terlihat antusias, sedangkan kedua pengantin itu tampak kalem saja.
"Malam Mah, Pah,,," Seru Kinara pada kedua orang tuanya. Dia terlihat masih happy dengan semangat tinggi setelah Barra dan Yuna bersatu.
"Malam sayang,," Sahut Yuna pelan. Sementara itu, Barra mengulas senyum tipis pada ketiga anaknya.
"Duduk di sini,," Barra menarik kursi untuk Yuna dan menyuruhnya untuk duduk. Perhatian kecil itu mengundang senyum Sisil yang terlihat baper dengan mereka.
"Makasih,," Ucap Yuna lirih.
Barra mengangguk, dia lalu duduk di samping Yuna.
Beberapa kali Barra kedapatan mengambilkan makanan untuk Yuna tanpa di minta. Dia selalu mengatakan agar Yuna makan lebih banyak. Tapi tetap dengan memberikan makan yang sehat untuknya.
Sisil terus memperhatikan interaksi keduanya. Yuna terlalu pasif, sedangkan Barra berusaha untuk menarik perhatian Yuna dengan mengajaknya bicara ataupun memberikan perhatian kecil padanya.
Acara makan malam sudah usai. Mereka sempat mengobrol sebelum akhirnya resort itu sepi dan hanya menyisakan Mama Rena, Mom Sonya serta Dad Hendra.
Sedangkan yang lain pergi untuk jalan-jalan. Lebih tepatnya Sisil dan Nicho mengajak semua anak-anak untuk ikut dengannya. Keduanya melakukan hal itu agar anak-anak tidak mengganggu Barra dan Yuna.