
Cindy bangun dari ranjang. Dia baru saja tidur 1 jam yang lalu tapi sudah kembali membuka matanya lantaran tidak bisa tidur dengan tenang.
Dia duduk di sisi ranjang, menatap jam yang masih menunjukkan pukul 2 dini hari.
1 jam lalu masih membaca pesan dari Barra yang menyuruhnya untuk tidur. Cindy sudah mencoba untuk memejamkan mata, berusaha mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Namun sulit untuk dilakukan.
Banyak yang dia pikirkan hingga membuatnya tidak bisa tidur.
Lebih dari 1 tahun telah berbagi suami, waktu menjadi terasa lamban berjalan.
1 tahun lebih berbagi suami dan 4 tahun menjadi istri Barra satu-satunya, Cindy merasa perjalanan 1 tahun itu jauh lebih lama dibanding dengan waktu 4 tahun.
Tujuannya memang tercapai, dia sudah melihat Barra bahagia dengan hadirnya baby twins. Namun kebahagiaan Barra telah di tukar dengan kebahagiaannya.
Dia hanya manusia biasa. Seorang wanita dengan hati yang mudah rapuh.
Ketidak sempurnaan salah satu penyebab yang membuat hatinya selalu rapuh.
Meski ikut senang dan bahagia atas kebahagiaannya Barra bersama Yuna dan kedua anaknya, namun selalu terselip kepedihan dan rasa iri di dalamnya.
Iri karna tidak bisa memberikan semua itu untuk Barra. Iri karna wanita lain yang bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
Wanita yang baru di temui oleh Barra menjelang pernikahan.
Sedangkan dia yang sudah bertahun-tahun hidup bersama Barra, tidak diberi kesempatan untuk menyempurnakan kebahagiaan suaminya.
"Tinggalkan Barra.! Dia hanya bisa menyakitimu.!"
Kata-kata itu terus berputar-putar di kepalanya.
"Kalau Mami tidak mencari tau kehidupan kamu setelah pindah ke Indonesia, pasti kamu akan terus menyembunyikan semua ini kan.?!"
Cindy mengingat raut wajah Mami nya yang saat itu menahan tangis dan kemarahan besar.
Sorot matanya dipenuhi kekecewaan dan sakit yang mendalam. Tau bahwa putrinya harus berbagi suami selama lebih dari 1 tahun untuk kebahagiaan Barra.
"Aku minta maaf Mam, tapi aku tidak keberatan harus berbagi suami."
Cindy tidak mau mendengarkan permintaan orang tuanya. Karna semua ini berawal dari dirinya sendiri yang memaksa Barra untuk menikah lagi.
"Tidak keberatan kamu bilang.?!"
"Lihat betapa menyedihkannya putriku ini.?!!"
Suara Eva menggema di ruang tamu 7 jam yang lalu. Wajahnya memerah, mengukir senyum menyayat hati melihat putrinya.
Menatap dari ujung kaki hingga kepala.
Tubuhnya semakin kurus, kebahagiaan yang dulu terpancar di wajahnya sudah meredup.
Cindy bagaikan seonggok daging tanpa jiwa.
Sorot matanya penuh dengan kesedihan.
Saat itu Cindy hanya bisa tertunduk. Menyembunyikan air matanya yang tidak bisa ia bendung lagi.
"Kita hanya manusia biasa Cindy.! Jangan melakukan hal diluar kemampuan kita."
"Mami tau seperti apa perasaan kamu yang sebenarnya."
Eva menggeleng tak habis pikir. Entah bagaimana jalan pikiran Cindy yang rela untuk di madu.
"Mam, semua ini bukan keinginan Barra. Aku sendiri yang menyuruhnya untuk menikah lagi."
"Mami sudah tau kalau aku tidak bisa,,,
"Kamu masih mau membela laki-laki breng$3k itu.?!"
Eva menatap geram.
"Kalau dia suami yang baik, harusnya bisa menolak sekalipun kamu sendiri yang memintanya untuk menikah lagi.!"
"Mami menyesal telah merestui kalian.!"
Eva beranjak dari duduknya dan mengambil tas miliknya di atas meja.
"Mam, ini bukan Barra. Aku,,,,
"Mami tunggu jam 5 sore di rumah Grandma.!"
"Kalau kamu masih mau jadi anak Mami, datang tepat waktu.!"
Ujar Eva dengan nada ancaman. Dia lalu bergegas pergi dari apartemen Cindy.
"Apa yang harus aku lakukan." Cindy menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia menangis mengingat kejadian itu.
Meraih ponsel di atas nakas, Cindy membuka chat dari Barra. Dia membaca ulang semua kata - kata manis dan perhatian Barra padanya.
Meninggalkan Barra nyatanya tak semudah yang pernah ia ucapkan beberapa waktu lalu.
...*****...
Saat ini mereka berempat sedang melakukan sesi foto keluarga dengan membayar fotografer di sana.
Barra menggendong Kinara, sedangkan Yuna menghentikan si tampan Kenzie.
Mereka menjadikan menara Eiffel sebagai background untuk mengabadikan momen yang baru pertama kali mereka lakukan.
"Senyum yang lebar, kita harus kelihatan bahagia di foto. Jangan sampai nanti Kenzie dan Ara tanya kenapa wajah kamu cemberut saat di foto." Ujar Barra.
"Iya, iya,, aku tau." Yuna menjawab kesal. Dia kemudian mengikuti apa yang diperintahkan oleh Barra. Melakukan sesi pemotretan yang terlihat sangat romantis dan bahagia.
"Sudah banyak foto berempat, bagaimana kalau foto berdua.?" Tawar Barra sedikit merayu.
"Kita juga harus punya kenangan kan.? Setidaknya nanti aku punya foto berdua dengan mantan istri." Barra terkekeh. Tawa yang terdengar ringan, namun ekspresi wajahnya terlihat memilukan.
"Sini, letakkan mereka di stroller." Barra meletakkan Kinara, lalu mengambil Kenzie dari gendongan Yuna untuk di letakan di stroller itu juga.
Barra kemudian menyuruh fotografer itu untuk memotretnya dengan Yuna.
"Maaf, aku hanya ingin membuat foto yang romantis." Bisik Barra. Tangannya memeluk erat pinggang Yuna dengan posisi berhadapan.
"Kalungkan tangan kamu di leherku." Pintar Barra. Yuna yang tidak mau berdebat, bergegas menuruti perintah Barra.
Semakin cepat sesi foto berakhir, maka akan lebih baik.
Mereka melakukan foto dengan berbagai gaya, tentunya atas permintaan Barra.
Mulai dari menggendong Yuna, mencium kening Yuna, memeluk dari depan, dari belakang, dan terakhir berlutut dengan menyodorkan buket bunga pada Yuna.
Semua keindahan dan kebahagiaan itu hanya bisa dilihat dari foto. Karna pada kenyataannya, semua itu palsu untuk Yuna.
...*****...
Mereka kembali ke hotel setelah makan siang. Ternyata cukup melelahkan pergi bersama dua balita dengan masing-masing mengurusi satu anak.
Tenaga cepat terkuras. Belum lagi saat salah satu di antara mereka rewel atau pup.
Barra tidak mau mengambil resiko, jadi memilih untuk kembali ke hotel agar Yuna juga bisa istirahat. Baru kemudian melanjutkan perjalanan lagi untuk mengelilingi kota Paris.
"Mereka sudah pulas, kenapa masih di tungguin.?" Tiba-tiba Barra memeluk Yuna dari belakang.
"Mas.!" Tegur Yuna. Dia terlihat tidak nyaman dengan ulah Barra.
"Sebaiknya kita juga istirahat, nanti sore kita pergi lagi."
"Pemandangan kota Paris di malam hari jauh lebih indah, kamu harus menikmatinya."
Barra menggiring Yuna ke ranjang.
"Terakhir hampir 8 bulan yang lalu kan.? Kamu nggak mau merasakannya lagi.?" Bisik Barra. Yu a langsung berbalik badan, kedua matanya melotot pada Barra.
"Jangan macam-macam Mas." Tegurnya sembari mendorong dada Barra agar membuat jarak dengannya.
"Tapi aku masih punya hak, kamu juga masih punya kewajiban untuk melakukannya."
"Kenapa nggak mau.?" Raut wajah Barra terlihat kecewa.
"Kamu takut hamil lagi.?" Tebaknya. Yuna hanya diam saja.
"Alat pengaman dijual bebas, aku bisa membelinya kalau kamu takut hamil."
"Maaf Mas, aku nggak bisa." Yuna berbalik badan membelakangi Barra.
Ini salah satu hal yang wajib dia hindari dengan Barra. Walaupun tau dia salah karna tidak mau memberikan haknya pada Barra, tapi semua ini demi kesehatan hati dan perasaannya.
Yuna tidak mau melakukan hal yang lebih intim lagi dari sekedar berpelukan.
"Tapi aku masih punya hak untuk memintanya, Yuna,,"
"Kamu juga wajib menurutinya."
Barra masih berusaha untuk membujuk Yuna agar mau melakukan pergulatan panas yang sudah lama tidak mereka lakukan.
"Beberapa hari lagi kita akan bercerai, jadi untuk apa melakukannya." Sahut Yuna.
"Untuk meninggalkan kenangan indah yang akan sulit untuk di lupakan." Barra mendekat dan memeluk Yuna dari belakang.
"Sayangnya aku lebih tertarik untuk menghapus semua kenangan kita."
"Karna sama sekali tidak ada yang indah." Yuna tersenyum kecut.
Dia tidak ada niatan untuk mengenang masa lalu setelah berpisah dengan Barra. Apa yang dia rasakan terlalu menyakitkan untuk di kenang.
Menghapus dan melupakan semua itu jauh lebih baik untuk kesehatan mentalnya.
Pelukan Barra mengendur, perlahan dia mulai menjauh dan menjaga jarak dengan Yuna.
"Maafkan aku," Ucap Barra lemah. Dia tidak punya harapan untuk memperlakukan Yuna dengan semestinya. Tidak seperti dulu, memperlakukan Yuna tanpa perasaan karna terpaksa.