
1 tahun berlalu, waktu yang cukup lama itu tak memberikan banyak perubahan dalam kehidupan mereka. Barra masih terjebak dalam lingkaran pernikahan itu meski telah usai.
Dia selalu rutin menemui dua anaknya, tak jarang menghabiskan waktu seharian penuh di rumah Yuna saat weekend.
Kembalinya Cindy 5 bulan lalu, tak mempengaruhi sedikitpun pada aktivitas Barra untuk menemui anaknya. Cindy selalu membebaskan Barra untuk datang menemui twins, bahkan tak jarang dia akan ikut dan bermain bersama twins.
Keduanya mungkin masih berada dalam lingkaran yang rumit itu, merasakan dampak yang memang tidak mudah untuk dijalani. Setiap harinya selalu di hantui penyesalan dan rasa bersalah. Merasa bagaimana gelisah hidup dalam permasalahan yang mereka ciptakan sendiri.
Sedangkan Yuna, sejak awal dia sudah mengikhlaskan semuanya. Menerima takdirnya yang memang sudah digariskan untuk seperti ini. Bertahan hidup demi kedua anaknya.
Dia sudah berada pada lembaran hidup baru sejak resmi berpisah dengan Barra.
Bahkan kini kehidupannya jauh lebih bahagia karna bisa menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Sesuai dengan keinginannya tanpa merasa terbebani.
"Mama,,," Ara merengek sembari berjalan menghampiri Yuna yang tengah memoleskan make up tipis di wajahnya. Sore ini dia harus bertemu dengan klien yang mau bekerjasama dengannya.
"Hay sayang,,, sudah bosan mainnya.?" Yuna langsung menghentikan kegiatannya dan menggendong Ara. Mendudukkan Ara dalam pangkuannya. Sedangkan Zie masih asik bermain sendiri dengan banyaknya mainan yang selalu di bawakan oleh Barra setiap minggunya.
"Papa,,," Gumam Ara. Dia menatap sendu pada Yuna.
"Ara kangen sama Papa.?" Tanya Yuna. Dia mengusap pipi chubby putrinya.
"Papa,,," Lagi-lagi Ara memanggil Barra. Sepertinya memang bayi cantik itu merindukan Papanya setelah hampir 3 minggu Barra tidak datang ke rumah.
Ara memang paling dekat dan lengket dengan Barra. Setiap kali Barra datang, maka gadis mungil itu akan langsung menghambur ke pelukan Barra dan selalu menangis setiap Barra akan meninggalkan rumah.
Yuna tidak bisa berbuat apapun saat ini, karna dia tau kalau Barra masih berada di luar negeri bersama Cindy.
Sejauh ini, Yuna juga tidak pernah berkomunikasi dengan Barra lewat telfon. KarnanYuna menghindari hal itu agar tidak terjadi kesalahan paham antara dia dan Cindy.
Jika Barra ingin mengetahui kabar anak-anak atau ingin melihat mereka dengan sambungan telfon, Barra selalu menghubungi Mama Rena atau pengasuh twins.
Dan sudah lebih dari 7 kali Barra menelfon untuk sekedar berbicara dan melihat kegiatan twins selama dia berada di luar negeri.
Tapi meskipun begitu, nyatanya Ara masih saja mencari keberadaan Barra.
"Kita panggil Oma dulu yah, minta Oma telfon Papa." Ujar Yuna. Dia beranjak dari duduknya sembari menggendong Ara, lalu mengajak Zie untuk ikut keluar dari kamar.
Yuna menghampiri Mama Rena yang sedang merapikan taman belakang.
"Mah,, aku harus pergi sekarang." Tutur Yuna.
Mama Rena menoleh, buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan mencuci tangan.
"Ya sudah berangkat saja."
"Biar Zie sama Ara disini dulu. Bu Minah sedang keluar." Mama Rena menghampiri kedua cucunya, menurunkan Ara dari gendongan Yuna dan mendudukkannya di bangku taman.
"Tapi Ara panggil Papanya terus. Sepertinya kangen."
"Tolong telfonin Mas Barra kalau dia nggak sibuk Mah, biar Ara bisa lihat Papanya."
Tutur Yuna.
"Papa,, Papa,," Suara Zie dan Ara membuat mereka langsung menatap twins.
Tatapan mata keduanya berbinar saat mendengar Yuna menyuruh Mama Rena untuk menelfon Barra. Dua balita itu sudah mengerti akan hal itu.
"Mama lihat sendiri kan. Mereka langsung senang mendengar akan menelpon Papanya." Yuna tersenyum tipis, lalu mengusap pucuk kepala Ara dan Zie bergantian.
"Nanti telfon sama Papa ya, sekarang Mama pergi dulu."
Yuna meminta Ara dan Zie untuk mencium tangannya.
"Anak pintar." Puji Yuna dengan senyum yang mengembang.
"Sudah kamu berangkat saja, biar mereka jalan sendiri ke dalam." Mama Rena mencegah Yuna yang akan menggendong Zie.
"Makasih Mah, Yuna pergi dulu." Yuna mencium punggung tangan Mama Rena dan bergegas pergi. Namun sebelumnya sudah menciumi pipi twins berulang kali.
...****...
"Papa,, Papa,,," Seru twins tangan tawa kecil di bibir mereka. Keduanya terlihat bahagia menatap wajah Papanya dalam layar ponsel yang diletakkan di atas meja ruang keluarga.
Tangan mungil keduanya berusaha untuk meraih ponsel itu, namun Mama Rena melarangnya agar Barra bisa melihat jelas kedua wajah anaknya.
"Halo sayang,, Zie sama Ara sedang apa.? Kangen Papa ya.?" Wajah Barra tak kalah berbinar dari twins.
"Sayang, aku juga mau lihat mereka." Suara Cindy terdengar antusias dari seberang sana. Tak lama wajahnya muncul di layar ponsel Mama Rena dan langsung menyapa twins.
"Halo duo gembul,,," Sapa Cindy sembari melambaikan tangannya pada twins.
"Mommy,, Mommy,,,"
"Iya ini Mommy,,," Seru Cindy. Wajahnya berbinar mendengar Ara memanggilnya.
"Mommy kangen, nanti kita jalan-jalan lagi ya. Tunggu Mommy sama Papa pulang." Tutur Cindy.
"Bu Rena sehat.?" Tanya Cindy pada Mama Rena yang hanya terlihat tangannya saja. Sibuk mencegah tangan twins yang ingin meraih ponsel terus.
"Sehat nak. Kamu bagaimana.? Apa sudah ada kemajuan.?" Mama Rena mulai menunjukan wajahnya di layar ponsel agar bisa bertatap muka dengan Cindy.
Cindy mengulas senyum tipis yang terlihat menyayat hati. Mama Rena sudah menebak akan mendapatkan kabar seperti sebelumnya. Pasti tidak apa perubahan yang berarti dalam proses penyembuhan Itu.
"Masih sama seperti sebelumnya." Jawab Cindy lemah.
"Jangan putus asa, Ibu yakin kamu kuat dan bisa melawan sakitnya."
"Ibu hanya bisa berdo'a untuk kesembuhan kamu." Ucap Mama Rena tulus. Bagaimanapun permasalahan yang pernah terjadi di antara Cindy dan Yuna, hingga mbuat kehidupan Yuna seperti ini, tak lantas membuat Mama Rena menaruh benci terhadap Cindy maupun Barra.
Terlebih Cindy dan Barra benar-benar tulus ingin memperbaiki hubungannya dengan Yuna agar bisa bersama-sama membesarkan twins.
Cindy bahkan berulang kali meminta Yuna untuk kembali pada Barra, meski permintaannya itu di tolak mentah-mentah oleh Yuna.
Hal itu yang akhirnya membuat Mama Rena jadi dekat dengan Cindy dan Barra. Masih menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga, bahkan menganggap seperti anak sendiri.
"Makasih Bu,," Cindy tersenyum haru.
Kepedulian Mama Rena dan sikap baiknya, semakin membuat Cindy merasa bersalah atas kehidupan mereka saat ini.
"Yuna sedang apa Bu.?" Tanya Cindy. Dia selalu menanyakan Yuna setiap kali sedang menelfon dengan twins, meski sudah tau kalau Yuna tidak akan pernah muncul dalam layar ponselnya.
"Yuna pergi nak, sedang bertemu klien di luar."
Cindy mengangguk paham. Yuna memang semakin sibuk akhir-akhir ini. Bahkan saat beberapa kali datang ke rumahnya, Yuna tidak ada di rumah.
Barra kembali berbicara dengan twins, walaupun twins belum bisa menanggapi ucapan Barra dengan baik.
"Papa,, sini,," Ujar Ara. Suaranya yang tidak terlalu jelas, terdengar menggemaskan.
"Iya sayang, nanti Papa kesitu."
"Ara dan Zie jangan rewel ya, harus nurut sama Oma." Ucap Barra lembut. Ara dan Zie menganggukkan kepalanya.
"Sudah dulu Mah, saya harus mengantar Cindy ke rumah sakit." Pamit Barra. Walaupun sebenarnya dia masih rindu dengan twins.
Barra mematikan sambungan telfonnya setelah pamit juga pada twins. Mereka bahkan sampai merengek karna tidak bisa lagi bicara dengan Papanya.