
Cindy menyambut dan memperlakukan Yuna dengan baik. Mengajaknya masuk untuk meneruskan obrolan di dalam.
Sementara itu, Barra beranjak ke ruang kerjanya. Dia 0amit karna tidak mau mengacaukan obrolan mereka. Dia mempercayakan Cindy untuk bisa menyakinkan Yuna agar tidak meminta berpisah dengannya.
Setelah memikirkan matang-matang, Barra setuju untuk menuruti permintaan Cindy, yaitu memiliki dua istri. Semua ini dia lakukan demi anak-anaknya. Barra ingin memperlakukan kedua anaknya dengan adil meski nantinya mereka akan tinggal terpisah.
Karna pada kenyataannya, Barra tidak bisa merelakan atau melupakan salah satu anaknya. Dan dia juga tidak sampai hati kalau harus mengambil keduanya dari Yuna.
Jalan satu-satunya agar dia tidak kehilangan salah satu anaknya adalah dengan mempertahankan pernikahan bersama Yuna.
"Soal surat perjanjian itu, kamu pasti kecewa dengan Barra,," Ujar Cindy dengan rasa bersalah. Dia tidak pernah menginginkan Barra melakukan perjanjian menyakitkan seperti itu dengan istri keduanya.
"Kecewa.?" Ulang Yuna dengan senyum yang terukir di bibirnya. Awalnya dia ingin bersikap biasa karna melihat sikap baik Cindy padanya, tapi entah kenapa dia tidak bisa melakukannya.
"Kenapa aku harus kecewa.? Mas Barra sudah sangat baik padaku, Mba Cindy pasti sudah tau semuanya bukan.?" Tanya Yuna. Dia memuji kebaikan Barra namun terkesan untuk menyudutkannya.
"Yuna, aku nggak pernah meminta Barra untuk membuat surat perjanjian."
"Aku ikhlas Barra menikah lagi memiliki dua istri."
"Aku nggak bisa memberikan apa yang sudah kamu berikan pada Barra."
"Anak-anak ini,,," Cindy mengusap lembut perut Yuna. Perut yang terlihat masih rata tapi ternyata sudah cukup besar saat di sentuh.
"Setiap istri akan merasa sempurna jika sudah memberikan keturunan untuk suaminya, tapi aku,,," Cindy tersenyum getir. Hatinya hancur karna merasa dirinya tidak sempurna. Dia merasa gagal menjadi istri yang baik untuk Barra, padahal tujuan pernikahan bukan hanya soal mendapatkan keturunan saja.
Cindy terlalu meragukan kemampuannya sendiri untuk memberikan kebahagiaan pada Barra, sedangkan selama ini Barra selalu merasa bahagia bersamanya meski tanpa hadirnya buah hati di tengah-tengah mereka.
"Aku nggak bisa memberikan keturunan untuk Barra." Sambungnya dengan suara tercekat.
Yuna terdiam, sebagai sesama perempuan dia bisa merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Cindy. Namun kesedihan Cindy tidak sebanding dengan kesedihan yang akan Yuna rasakan beberapa bulan lagi.
Cindy termasuk wanita paling beruntung di dunia ini meski di takdirkan tidak bisa memiliki keturunan. Dia memiliki suami yang begitu mencintainya bahkan rela menyakiti perempuan lagi demi Cindy.
Melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan anak yang akan dia klaim sebagai anak Cindy.
Kurang beruntung apa lagi menjadi Cindy.?
"Tapi aku dan salah satu anakku yang dikorbankan untuk kebahagiaan kalian." Yuna mengukir senyum kecut.
"Mas Barra akan mengambil salah satu dari mereka dan akan menjadikannya sebagai anak Mba Cindy."
"Dengan memberikan semua yang aku butuhkan, Mas Barra membuat aku merasa berhutang budi dan terpaksa harus merelakan salah satunya."
"Semua ini seperti lelucon. Dimana perasaan seorang ibu sedang dipermainkan."
Lagi-lagi Yuna mengukir senyum. Sungguh hatinya seakan dihancurkan oleh keegoisan mereka.
Barra membuatnya seperti wanita yang lebih memilih harta dibanding dengan darah dagingnya sendiri.
"Aku benar-benar minta maaf."
"Kalau saja aku tau Barra membuat perjanjian itu, pasti aku akan melarangnya."
"Sejak awal aku memintanya untuk mencari istri kedua yang bisa melengkapi kebahagiaannya, bukan mencari seseorang yang mau memberikan anaknya."
"Aku ikhlas Yuna, aku ikhlas kamu menjadi maduku."
"Demi Barra, demi anak-anak kalian. Aku mohon tetaplah menjadi bagian hidupnya." Pintanya memohon.
"Aku sama sekali tidak keberatan untuk berbagi suami," Cindy menggenggam tangan Yuna dan menatapnya penuh harap.
Meski tidak mudah menjalaninya, namun ini sudah menjadi keputusan Cindy. Mungkin memang harus seperti ini caranya memberikan kebahagiaan untuk suaminya.
"Apa Mba Cindy yakin.?" Yuna menatap tak percaya. Rasanya tidak mungkin ada seorang istri yang rela berbagi suami, bahkan dia sendiri yang memintanya.
Yuna hanya bisa tertawa dalam hati, menertawakan semua sandiwara konyol ini. Entah ada tujuan apa dibalik semua ini. Yang jelas Yuna tidak bisa percaya begitu saja dengan pasangan suami istri yang menurutnya sudah kehilangan akal sehat.
"Aku tidak akan menyuruh Barra menikah lagi kalau tidak yakin."
"Untuk itu aku mohon, jangan akhiri pernikahan kalian. Aku pastikan Barra akan berlalu adil sama kamu." Ucap Cindy yakin. Dia yang akan menjamin itu semua demi kebahagiaan bersama.
Raut wajah dan sorot mata Yuna seketika berubah sendu.
"Aku nggak tau harus bahagia atau terharu. Bagaimana bisa Mba Cindy berbaik hati berbagi suami denganku."
"Aku sangat kagum dengan kebesaran hati kamu Mba,,"
"Semoga Mas Barra benar-benar bisa berbuat adil dan nggak akan berubah suatu saat nanti."
"Karna hanya Tuhan yang bisa membolak-balikan hati manusia." Yuna mengukir senyum lebar.
"Mba,,," Yuna menepuk pelan bahu Cindy lantaran diam saja dan terlihat melamun.
"Mba Cindy baik-baik saja.?" Yuna tersenyum tulus.
"Kalau kamu keberatan salah satu dari mereka di rawat sama aku, aku akan meminta Barra untuk tidak melakukannya."
"Walaupun resikonya besar karna Barra sudah terlanjur memberitahu kedua orang tuanya jika aku sedang hamil."
"Mereka sangat bahagia mendengar kehamilan palsuku karna sudah lebih dari 4 tahun mereka telah menunggu kabar ini."
"Tapi aku merasa bersalah karna sudah membohongi mereka." Mata Cindy berkaca-kaca.
Kalau saja boleh memilih, tentu dia ingin bisa hamil dan melahirkan sungguhan agar tidak perlu melakukan semua ini.
"Jangan khawatir, aku nggak keberatan."
"Seperti Mba Cindy yang rela berkorban demi Mas Barra, aku juga akan berkorban untuknya." Ucap Yuna santai.
"Bukankah seperti itu tugas seorang istri.?" Tanya Yuna antusias.
Cindy mengangguk pelan.
"Iya tentu saja." Ucapnya.
"Kamu inginkan minum sesuatu.? Biar aku ambilkan."
"Aku juga membuat kue tadi pagi, kamu harus mencobanya." Cindy mengulas senyum bahagia dan beranjak menuju ke dapur.
Yuna hanya diam dan terus memperhatikan Cindy hingga wanita itu menghilang dari pandangannya.
Cindy kembali dengan membawa oren jus dan kue buatannya.
"Terimakasih, maaf jadi merepotkan." Ucap Yuna.
"Jangan sungkan, anggap saja sedang di rumah kakak kamu sendiri."
"Ayo cobain, Barra sangat suka kue ini." Tuturnya.
"Oh ya.?" Yuna terlihat kaget mendengarnya.
"Apa aku harus belajar sama Mba Cindy untuk membuat kue ini.?"
"Aku nggak tau makanan kesukaan Mas Barra, tapi dia selalu makan semua makanan yang aku sediakan untuknya." Tutur Yuna. Dia meneguk oren jus, lalu mengambil potongan kue buatan Cindy.
"Boleh, kamu bisa datang kapan saja. Aku akan mengajarimu." Sahut Cindy.
Yuna tersenyum kagum.
"Wah,, Mba Cindy serius.?" Tanya Yuna. Cindy menganggukan kepalanya.
"Aku jadi semangat untuk belajar membuat kue."
"Kuenya enak, pantas saja Mas Barra menyukainya." Puji Yuna. Dia benar-benar melahap sepotong kue di tangannya.
...****...
"Kalau begitu aku pulang dulu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di rumah." Ucap Yuna. Dia melirik arlojinya yang sudah menunjukan pukul 3 lewat.
"Mba Cindy nggak usah khawatir, aku akan tetap memberikan salah satu anak ini untuk kalian."
"Jadi Mba Cindy masih bisa berpura-pura hamil di depan kedua orang tua Mas Barra."
Yuna beranjak dari duduknya.
"Tunggu dulu, aku panggilkan Barra."
Cindy akan pergi ke ruang kerja Barra namun Yuna menahannya.
"Nggak perlu Mba, aku bisa pulang sendiri."
"Aku nggak mau menganggu waktu kalian berdua. Bukannya sejak kemarin harusnya Mas Barra pulang kesini.?"
"Tapi dia malah pulang ke tempatku."
"Oh ya, tadi pagi Mas Barra demam. Tapi aku sudah memberinya obat."
"Sepertinya dia kangen sama Mba Cindy, karna tiba-tiba minta aku menyuapinya." Tutur Yuna. Dia sedikit terkekeh geli.
"Padahal sebelumnya selalu makan sendiri."
"Aku permisi Mba,," Yuna beranjak pergi, meninggalkan Cindy yang mematung di depan pintu ruang kerja Barra.
...****...
nih othor udah double up, tapi kalian harus vote yaðŸ¤