Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 138


Di sinilah pasangan pengantin baru itu berada. Duduk di tepi pantai dengan beralaskan pasir putih, menatap gelapnya panti di depan mata. Hanya terdengar suara deru ombak yang menenangkan.


"Pernikahan ini memang demi kebahagiaan anak-anak, tapi berusahalah untuk memulainya dari awal karna kamu juga harus bahagia." Tutur Barra lirih.


"Sesuatu yang di awali dengan keterpaksaan tak akan membuat kita bahagia." Ujarnya lagi. Tentu saja Barra sangat hati-hati dalam berbicara agar tidak menyakiti perasaan Yuna.


"Aku mengerti, itu juga yang dulu Mas Barra rasakan bukan.?" Tanyanya. Yuna hanya melirik sekilas, lalu kembali meluruskan pandangan.


"Bukan hanya tidak bahagia, tapi menciptakan penyesalan." Sambungnya.


"Tapi satu hal yang harus Mas Barra ingat, kita tidak bisa memaksakan cinta kan.?"


"Aku yakin Mas Barra tau betul bagaimana rasanya berada di posisi seperti itu."


Kata demi kata keluar dari mulut Yuna hingga kembali mengingatkan Barra dengan masa lalu mereka.


"Aku tidak akan memaksa, tapi hanya memintamu memulai dari awal." Ucap Barra dengan suara yang terdengar berat.


"Aku akan melakukannya, tapi itu tidak mudah dan aku butuh waktu." Jawab Yuna.


Bukankah tidak mudah mencintai seseorang di saat hati kita di penuhi oleh orang lain. Memang butuh waktu untuk menerima kehadirannya, tak mudah seperti membalikkan telapak tangan.


"Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba." Kata Barra tulus. Dia meraih tangan Yuna dan menggenggamnya. Yuna hanya menatap tangannya yang di genggam oleh Barra tanpa memberikan penolakan.


Barra mengajak Yuna kembali ke resort lantaran sudah semakin larut dan udara yang semakin dingin.


Di saat pasangan pengantin pada umumnya akan melewati malam pertama mereka dengan adegan manis, Barra dan Yuna justru melewatkannya begitu saja. Mereka langsung tidur setelah kembali dari pantai. Tak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Dan hal itu juga terjadi pada saat pernikahan mereka yang pertama.


...*****...


Sudah 4 hari berlalu sejak mereka berada di Bali. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga, bahkan hampir tak pernah pergi berduaan. Terakhir kali hanya saat pergi ke pantai malam itu.


Dan kini hanya ada mereka berdua di resort, karna semua keluarga sudah meninggalkan resort pukul 7 malam tadi. Keduanya bahkan sempat mengantar mereka ke bandara.


Yuna terbangun tengah malam, tangan besar yang melingkar di perutnya membuat Yuna kesulitan untuk bergerak.


Dia memindahkan pelan tangan Barra, kemudian turun dari ranjang.


"Mau kemana.?" Suara serak Barra menghentikan langkah Yuna yang baru bergeser 2 langkah saat turun dari ranjang. Dia menoleh, menatap Barra yang belum membuka mata sepenuhnya.


"Ambil minum,," Jawab Yuna. Dia terpaksa harus keluar dari kamar karna air minum di kamar sudah habis dan dia lupa membawanya saat akan tidur tadi.


"Tunggu disini saja, biar aku yang ambilkan,," Barra turun dari ranjang.


"Tidak usah, aku akan ambil sendiri. Mas Barra tidur saja." Tolak Yuna.


"Sudah tunggu saja di sini,," Barra menggandeng tangan Yuna, membawa ke sisi ranjang dan mendudukannya di sana. Dia lalu bergegas keluar kamar untuk mengambil air minum.


Yuna menatap punggung lebar Barra yang baru saja menghilang di balik pintu. Dia sadar akan ketulusan dan kebaikan Barra padanya, namun cinta tak bisa di paksakan. Bukan salahnya jika sulit untuk mencintai Barra. Tapi tak menutup kemungkinan rasa itu akan hadir seiring berjalannya waktu. Walaupun mungkin tak akan bisa menghilangkan Chandra dari hatinya. Laki-laki akan selalu memiliki tempat di hati Yuna.


"Makasih,,," Ucap Yuna sembari mengambil air minum itu dari tangan Barra. Barra menganggukkan kepala, dia naik ke atas ranjang dan kembali berbaring di sana.


"Bangunkan aku saja kalau kamu butuh sesuatu,," Tuturnya dengan mata yang terpejam.


"Hemm,," Yuna menganggukkan, menatap Barra yang sudah memejamkan mata.


Dia ikut berbaring setelah selesai minum, berbaring membelakangi Barra. Tak lama tangan besar itu mendekapnya seperti tadi, melingkar erat di perut Yuna. Dia hanya menunduk, menatap tangan Barra di perutnya.


Merasa tidak ada penolakan, Barra sengaja bergeser agar semakin menempel pada punggung Yuna. Barra memeluk Yuna dengan perasaan yang nyaman.


Yuna memejamkan mata, dan membiarkan Barra memeluknya.


20 menit berlalu, Yuna yang baru akan memejamkan matanya tiba-tiba terlihat gelisah. Beberapa kali menggerakkan tubuhnya walaupun masih dalam dekapan Barra.


Otaknya tidak bisa lagi berfikir jernih. Sesuatu dalam tubuhnya bergejolak, membuat suhu tubuhnya terasa meningkat hingga Yuna tampak kegerahan.


Cukup lama berada dalam posisinya, Yuna akhirnya bangun dan duduk di sisi ranjang. Wajahnya mulai terlihat memerah karna menahan sesuatu yang tiba-tiba menguasai dirinya. Hal ini pernah dia rasakan beberapa minggu yang lalu saat berada di apartemen Barra.


"Kamu kenapa.?" Barra jadi ikut bangun dan duduk di samping Yuna. Wanita itu menoleh, Barra bisa melihat dengan jelas jika sorot mata Yuna di penuhi gairah.


Yuna tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala. Tidak mungkin jika mengatakan pada Barra apa yang dia rasakan saat ini.


Yuna terlihat susah payah menahannya, bahkan sampai menggigit bibir bawahnya. Rasanya ingin meminta Barra menyentuhnya namun hatinya selalu menolak. Hal itu membuat Yuna harus berperang dengan dirinya sendiri.


"Masih malam sebaiknya tidur lagi." Barra membaringkan Yuna di ranjang tanpa ada penolakan darinya. Setelah itu, Barra juga ikut berbaring. Memeluk tubuh Yuna yang tak bisa diam karna terlihat semakin gelisah. Terus bergerak meski lebih sering menggerakkan tubuh bagian bawahnya.


"Apa kamu tidak rindu dengan permainan panas kita dulu.?" Tanya Barra lirih.


"Aku bahkan masih mengingatnya sampai sekarang." Tuturnya. Perlahan tangannya mulai bergerak naik ke atas, berhenti tepat di benda kenyal milik Yuna. Tak ada penolakan, Yuna hanya diam saja, walaupun melihat sendiri saat tangan Barra mulai merayap naik ke tubuh bagian atasnya.


Barra hanya meletakkan tangannya saja di sana tanpa melakukan apapun. Dia semakin bergeser maju, membuat tubuhnya dan Yuna menempel tanpa jarak.


"Kita sudah menikah sekarang. Sudah 4 hari yang lalu tapi tidak pernah melakukannya."


"Apa kamu tidak menginginkannya.?" Tanya Barra. Dia terus berbicara walaupun sebenarnya tak berharap Yuna menanggapi ucapannya itu.


"Kita sama-sama pernah merasakan hal itu."


"Belasan tahun aku sendiri dan tidak pernah melakukannya dengan wanita manapun. Begitu juga dengan kamu."


"Kita sama-sama masih membutuhkannya,"


Tak di pungkiri, hal itu akan tetap menjadi kebutuhan yang harus di penuhi sekalipun jarang di lakukan. Tapi paling tidak harus dilakukan setiap bulannya walaupun hanya 1 kali bagi seseorang orang yang dulu sudah pernah menikah. Sedangkan Barra sudah terlalu lama menahan diri. Meski sering melakukannya sendiri, tetap saja tak sama saat melakukannya dengan wanita.


"Tak usah memikirkan cinta jika kita ingin melakukannya, karna bukan cinta yang akan memuaskan hasrat kita." Ujarnya lagi.


Yuna masih belum merespon, sedangkan bira-hinya mulai tidak bisa di tahan lagi.