Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 77


Cindy menatap arloji di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dia menatap koper besar miliknya yang masih tergeletak di sisi sofa ruang tamu.


Harusnya dia sudah datang ke rumah Grandma sesuai permintaan Maminya. Tapi sampai detik ini, dia memilih tetap tinggal di apartemen.


Hatinya tak cukup kuat untuk pergi meninggalkan Barra.


Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya laki-laki pertama yang mengukir indahnya cinta dalam hatinya hingga merasa dirinya sangat berharga.


Lebih dari 8 tahun menghabiskan waktu bersama Barra, tentu bukan hal yang mudah jika tiba-tiba hidupnya harus tanpa laki-laki itu.


Barra satu-satunya orang yang menjadi tempatnya menggantungkan harapan akan kehidupan indah ini.


Melepaskan Barra sama saja menghancurkan dirinya sendiri dan harapannya.


Cindy lebih memilih bertahan, menjalani sulitnya hidup yang dia ciptakan sendiri.


Dia sudah berjanji untuk berdamai dengan keadaan, menerima Yuna dengan baik dan menghilangkan perasaan iri yang sempat ada di hatinya.


Mungkin memang keputusan berbagi adalah pilihan tepat, setidaknya Barra tidak melupakan dirinya. Cinta dan perhatian Barra masih ada untuknya meski tidak sebanyak dulu karna kini harus di bagi.


Cindy beranjak dari duduknya saat bel apartemennya berbunyi. Dia sudah menduga jika itu adalah Maminya.


Entah sudah berapa puluh kali sang Mami menelfonnya, Cindy hanya menatap ponsel itu di atas meja saat berdering.


"Mam,,," Suara Cindy terdengar lemah.


"Masih berani memanggilku Mam.?!" Eva langsung meluapkan kekesalannya. Wajahnya benar-benar menahan amarah. Dia sudah menunggu putrinya datang untuk hidup bersama di luar negeri, tapi memilih bertahan dengan laki-laki yang sudah menyakitinya.


Laki-laki yang dulu berjanji akan mencintai dan membahagiakan putrinya, tapi kini membawa duri dalam pernikahan mereka dengan menghadirkan wanita lain.


Sebagai seorang ibu, Eva tentu saja menyesal telah menikahkan putrinya dengan Barra.


"Aku tidak bisa meninggalkan dia Mam,," Cindy meneteskan air matanya. Dia tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi sulit ini.


"Jadi kamu lebih memilih laki-laki itu daripada Mami yang telah mengandung dan melahirkan mu.?!" Suara Eva meninggi. Dia kecewa pada putrinya yang lebih memilih Barra, di banding dengan ibunya sendiri yang telah mengorbankan hidup dan matinya untuk Cindy saat melahirkannya.


"Bukan seperti itu Mam, tentu saja Mami sangat sangat berharga untukku."


"Tapi Mami dan Barra bukan pilihan, kalian sama-sama berarti dan aku sangat membutuhkan kalian." Air mata Cindy semakin mengalir deras. Hatinya semakin rapuh.


Dia tidak mau meninggalkan Barra, tapi juga tidak tega melukai perasaan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


"Mami tidak mau tau, kamu harus kembali ke New York.!" Tegas Eva tak mau di bantah.


"Lupakan laki-laki brengs*k itu.! Kamu bisa memulai hidup baru, menjalani profesi yang kamu impikan sejak dulu.!"


"Masih banyak laki-laki baik di luar sana yang akan mencintai dan menerima kekurangan kamu."


Eva berusaha keras untuk membujuk putrinya. Dia tidak bisa melihat putrinya hidup menderita dengan laki-laki yang salah.


"Maaf Mam, tapi aku tidak bisa pergi." Ucap Cindy tanpa mengurangi rasa sayangnya terhadap Eva.


Eva tersenyum miris. Hatinya hancur. Anak kandungnya sendiri lebih memilih orang lain yang baru hadir dalam hidupnya, di banding dengan dirinya telah merawat dan membesarkan Cindy sejak lahir.


"Kamu akan memutus hubungan seorang anak dan ibu.?! " Eva menatap dalam. Sorot matanya penuh dengan kekecewaan.


"Tidak Mam, tidak mungkin aku akan memutus hubungan darah." Cindy menggeleng cepat.


"Kalau begitu ikut Mami sekarang juga.! Lupakan Barra.!"


Cindy terdiam, dia tidak bisa menjawabnya. Sungguh pilihan yang amat berat.


*****


"Yuna, bangun,," Barra memegangi wajah Yuna, dia mengusap lembut pipinya untuk membangunkan Yuna.


"Emm,,," Yuna hanya menggeliat. Seharian berkeliling dengan baby twins membuatnya lelah.


"Kenzie menangis, aku sudah membuatkan susu tapi dia menolak."


"Sudah aku gendong tapi masih menangis. Di beri makanan juga sama saja."


"Mungkin dia mau minum asi, ayo bangun,,," Ucap Barra lembut. Dia masih mengusap-usap pipi Yuna dan sedikit menggoyangnya pelan.


"Mungkin pokoknya penuh,," Tutur Yuna. Dia seperti enggan untuk beranjak, dan terlihat masih mengantuk hingga tak kunjung membuka mata.


"Aku bahkan sudah menggantinya karna dia pup." Sahut Barra.


"Hah.?!" Yuna langsung bangun. Penuturan Barra membuatnya kaget, pasalnya selama ini Barra paling tidak bisa menggantikan popok twins kalau mereka pup.


Pernah waktu itu tidak sengaja membuka popok Kinara karna terlihat sudah penuh, ternyata Kinara pup. Dan hal itu membuat Barra langsung mual, bahkan seharian enggan untuk makan.


"Kenapa terkejut seperti itu.?" Tanya Barra. Dia mengomentari ekspresi wajah bengong Yuna.


"Nggak mual, hanya muntah." Sahut Barra dengan sedikit menahan kesal.


"Puffhht,,," Yuna hampir tertawa, tapi mengunci rapat-rapat bibirnya.


Dia percaya dengan ucapan Barra karna saat ini wajah Barra sangat pucat. Entah berapa banyak isi perut yang dia muntahkan.


"Tuukkk.!"


Barra mengetuk kening Yuna.


"Berani sekali menertawakanku." Tegur Barra kesal.


"Percaya diri sekali, memangnya siapa yang ketawa." Yuna langsung turun dari ranjang dan bergegas menghampiri Kenzie. Sementara itu, Kinara sedang sibuk sendiri bermain dengan mainannya di bawah.


"Serius sekali anak cantik Papa,," Barra turun dari ranjang dan duduk di bawah menghampiri Kinara.


Dia mencubit gemas pipi chubby Kinara.


"Pa,,"


"Pa,," Ujar Kinara sembari menggoyang-goyangkan mainan di tangannya tepat di depan wajah Barra.


"Bicara apa kamu,, lucu sekali." Barra semakin menatap gemas.


"Ya ampun, kenapa Mas Barra nggak peka.?" Sambil menggendong Kenzie, Yuna berjalan ke arah sofa.


"Nggak peka apanya.?" Barra menatap bingung.


"Ara itu bilang Papa.! Masa gitu aja nggak tau." Suara Yuna sedikit meninggi.


Dia gemas sendiri dengan ekspresi Barra yang biasa saja saat Kinara memanggilnya Papa. Rupanya karna Barra tidak mengerti.


"Oh ya,,? Kamu serius dia bilang Papa.?" Barra menatap tak percaya. Jika itu benar, artinya Kinara sudah memanggilnya Papa sejak kemarin malam saat mengajaknya bergadang.


"Untuk apa aku bohong,," Sahut Yuna. Dia duduk membelakangi Barra dan mulai memberikan asi untuk Kenzie.


Barra tersenyum hari menatap putrinya. Rupanya putrinya sudah mulai bisa bicara. Tidak terasa anak-anaknya tumbuh dengan cepat.


Selama ini Barra tidak terlalu mengikuti perkembangan mereka dengan baik karna sibuk bekerja dan harus membagi waktu untuk mereka serta Cindy.


Barra hanya full bersama baby twins saat hari sabtu atau minggu saja. Selebihnya hanya pagi sebelum berangkat ke kantor dan sore setelah pulang dari kantor.


...****...


Tepat 4 hari berada di Paris. Yuna sudah mulai enjoy menikmati liburan bersama keluarga kecilnya. Barra yang selalu sigap dan antusias menyiapkan kebutuhan serta membatunya mengurus baby twins, sedikit mencairkan sikap dingin Yuna terhadap Barra.


Dia ingin lebih berdamai dengan keadaan dan tidak terlalu menonjolkan ketidak sukaannya terhadap Barra.


Meski begitu, keputusannya tidak akan bisa di ganggu gugat. Perceraian yang dia inginkan sejak dulu selalu di nanti setelah pulang dari Paris.


Yuna sudah tidak sabar membuka lembaran baru, menjalani hidup tanpa harus ada beban yang mengganggu hati di pikirannya.


Lepas hubungan dari Barra dan Cindy akan membuatnya merasa jauh lebih baik.


Pagi itu Yuna bangun lebih awal, dia mengecek ke ranjang babu twins lebih dulu memastikan keduanya. Rupanya mereka masih terlelap seperti Papanya.


Yuna beranjak ke kamar mandi. Dia harus mandi dulu, setelah itu baru memandikan si kembar.


"Kamu mau mandi.?" Suara Barra mengagetkan Yuna. Dia melonjak kaget dan reflek berbalik badan sembari berteriak.


"Ya ampun.! Kenapa harus membuatku kaget." Protes Yuna kesal. Tiba-tiba saja Barra sudah ada di belakangnya saat dia akan membuka pintu kamar mandi.


Barra hanya tersenyum tipis.


"Ayo mandi,," Barra menggandeng tangan Yuna dan menariknya masuk ke dalam.


"Ehh,, Mana bisa begini." Yuna melotot kaget, terlebih saat Barra menutup pintu.


"Tentu saja bisa, kecuali kalau kita sudah bukan suami istri lagi."


"Jangan menolak permintaan suami,," Bisikan Barra. Tangan nakalnya sudah merambat kemana-mana, menggerayangi pundak dan bagian tubuh belakang Yuna.


"Mas.! Aku nggak mau.!" Pekik Yuna kesal.


"Nggak ada dosa kalau memper-k*s* istri sendiri kan.?" Goda Barra dengan mengedipkan sebelah matanya.


Yuna menggelengkan kepala untuk menolak saat tangan Barra mulai masuk ke dalam bajunya.


"Mas Barra stop.!" Teriak Yuna. Dia mendorong kuat dada bidang Barra, namun pelukan Barra terlalu erat hingga dia tidak bisa melepaskan diri.